"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Lepaskan Aku
Damar membawa Alya keluar dari area gudang tanpa menyentuhnya.
Itu bagian paling menyakitkan.
Dia berjalan di sampingnya, cukup dekat untuk menangkap jika dia jatuh, tapi tidak memegang. Mungkin karena Alya mundur tadi. Mungkin karena dia tidak ingin memaksanya.
Raka dibawa Rendra ke pos komando untuk dimintai keterangan.
Alya tidak tahu apa yang Raka katakan.
Dia tidak peduli.
Atau dia berusaha tidak peduli.
Di pos kesehatan, Rina ingin mendekat, tapi Damar menggeleng pelan. Rina berhenti dengan wajah khawatir.
Alya duduk di kursi ruang periksa. Tangannya dingin. Pakaiannya lembap oleh hujan. Di kepalanya, semua suara bertumpuk.
Harun dan Ratna bukan orang tua kandungmu.
Kamu anak keluarga Karsa.
Kalau Damar tahu, dia akan memilih hukum.
Damar berdiri di depannya.
"Aku perlu tahu apa yang dia katakan."
Alya menatap lantai.
"Tidak ada."
"Alya."
"Dia bicara omong kosong."
"Pintu dikunci."
"Saya tahu."
"Kamu gemetar."
"Karena saya marah."
"Kamu takut."
Alya mengangkat wajah.
"Kenapa Anda selalu merasa bisa membaca saya?"
Damar terdiam.
Kalimat itu terlalu tajam, tapi Alya tidak menariknya.
Jika dia membiarkan Damar mendekat sekarang, dia akan hancur di hadapannya. Lalu dia akan menceritakan semua. Lalu Damar akan mencari bukti. Lalu mungkin Raka benar.
Mungkin Damar akan menatapnya berbeda.
Seperti dulu.
Seperti malam pertama.
Perempuan yang datang membawa masalah.
Perempuan dari keluarga yang salah.
"Aku tidak ingin menebak," kata Damar pelan. "Makanya aku bertanya."
Alya tertawa tanpa suara.
Terlambat.
Kebaikan Damar datang di saat yang salah. Atau mungkin kebenaran datang terlalu cepat.
"Saya lelah."
"Kita bisa bicara setelah kamu tenang."
"Tidak."
Damar menegang.
Alya berdiri.
"Saya ingin kembali ke Jakarta."
"Apa?"
"Besok."
"Karena Raka?"
"Karena saya perlu."
"Perlu apa?"
"Menjauh."
Damar menatapnya seolah dia baru saja menginjak tanah retak.
"Dari siapa?"
Alya tidak menjawab.
"Dari aku?"
Dia menutup mata.
Damar melangkah mendekat, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
"Alya, jangan lakukan ini. Jangan menutup pintu tanpa memberitahuku apa yang ada di belakangnya."
Kalimat itu hampir membuatnya menyerah.
Hampir.
Tapi ingatan tentang dokumen dan nama Karsa menahan tenggorokannya.
"Bukankah Anda dulu yang mengajari saya cara menutup pintu?"
Wajah Damar memucat.
Alya membenci dirinya sendiri karena mengatakan itu.
Namun dia perlu membuat jarak.
Jarak adalah satu-satunya hal yang bisa melindungi Damar jika semua ini benar.
Damar menarik napas pelan.
"Kalau ini tentang aku dulu, hukum aku. Marahi aku. Tapi jangan memakai Raka sebagai alasan untuk pergi."
"Ini bukan tentang Raka."
"Lalu tentang apa?"
Alya menatapnya.
Katakan.
Bilang saja.
Saya mungkin bukan anak keluarga Prameswari.
Saya mungkin terhubung dengan jaringan kriminal yang selama ini Anda kejar.
Saya takut Anda akan membenci saya lagi.
Tidak ada satu pun yang keluar.
Yang keluar justru kalimat paling kejam yang bisa dia pilih.
"Saya tidak ingin hidup seperti ini."
Damar diam.
"Seperti apa?"
"Terikat."
Mata Damar berubah.
Alya terus, karena jika berhenti sekarang dia tidak akan sanggup melanjutkan.
"Pernikahan ini sejak awal salah. Kita hanya memaksa diri percaya bahwa luka lama bisa diperbaiki karena beberapa hari terakhir terasa baik."
"Beberapa hari?"
Suara Damar rendah.
"Alya, kamu pikir semua yang terjadi hanya beberapa hari yang terasa baik?"
"Saya pikir kita terlalu lelah. Terlalu sering hampir kehilangan. Orang bisa salah membaca perasaan dalam situasi seperti itu."
"Aku tidak salah membaca."
"Saya mungkin iya."
Damar seperti tertampar.
Bagus.
Sakitlah.
Bencilah saya.
Lebih mudah begitu.
"Kamu tidak serius," katanya.
"Saya serius."
"Lihat aku saat mengatakannya."
Alya memaksa dirinya menatap Damar.
Matanya panas, tapi dia tidak boleh menangis.
"Lepaskan saya."
Ruangan itu hening.
Rina yang berdiri di luar pintu menutup mulutnya. Joko menariknya menjauh pelan.
Damar menatap Alya seolah tidak mengenalnya.
"Apa maksudmu?"
"Saya ingin kita mengurus perpisahan secara resmi."
Kata perpisahan membuat wajah Damar mengeras.
"Kamu meminta cerai?"
Alya menggenggam ujung bajunya di belakang tubuh agar Damar tidak melihat tangannya gemetar.
"Iya."
Damar tertawa sekali.
Tawa itu tidak punya suara bahagia.
"Semalam kamu menciumku."
Alya hampir runtuh.
"Itu kesalahan."
"Jangan."
"Itu terjadi karena situasi."
"Alya, jangan gunakan kata-kataku yang dulu untuk melukaiku sekarang."
Air mata nyaris jatuh.
Dia menahannya.
"Bukankah efektif?"
Damar mundur setengah langkah.
Untuk pertama kalinya sejak Alya mengenalnya, Damar terlihat benar-benar terluka tanpa mampu menyembunyikannya.
"Kenapa?"
Satu kata itu lebih sulit dijawab daripada semua amarahnya.
Alya tidak menjawab.
Damar mendekat lagi, tapi kali ini matanya merah.
"Kalau aku salah, katakan. Kalau Raka mengancammu, katakan. Kalau ada sesuatu yang membuatmu takut, katakan. Aku tidak akan langsung memutuskan kamu salah. Aku sudah janji."
Janji itu.
Tiga kata baik di mobil.
Terlalu baru.
Terlalu rapuh.
Tidak cukup untuk melawan kemungkinan bahwa darahnya sendiri adalah bahaya.
"Tidak ada yang perlu dikatakan."
"Alya."
"Saya tidak pernah benar-benar cocok dengan hidup Anda."
"Itu bohong."
"Keluarga Anda, satuan Anda, masa lalu Anda, semuanya terlalu besar. Saya lelah mengejar tempat di dalamnya."
"Aku memberimu tempat."
"Terlambat."
Damar terdiam.
Alya melihat kalimat itu menghantam tepat ke bagian yang paling dia takuti.
Terlambat.
Dia ingin meminta maaf.
Tidak boleh.
Damar menatapnya lama.
"Apakah kamu pernah menyukaiku?"
Pertanyaan itu pelan.
Nyaris hancur.
Alya merasa dadanya robek.
Jawaban jujurnya berdiri tepat di lidah.
Pernah.
Masih.
Mungkin terlalu banyak.
Tapi dia berkata, "Saya tidak tahu."
Damar menutup mata sebentar.
"Itu jawaban pengecut."
"Mungkin."
"Alya, aku mengenalmu cukup untuk tahu kamu sedang berbohong."
"Anda tidak mengenal saya."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Terlalu benar.
Damar membuka mata.
Alya menyadari kesalahannya.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada."
"Apa yang dikatakan Raka?"
"Saya bilang tidak ada!"
Suaranya pecah.
Damar diam.
Alya menarik napas, mencoba kembali dingin.
"Saya akan mengajukan cuti dan pulang ke Jakarta. Setelah itu kita bicarakan prosesnya dengan keluarga."
"Aku tidak setuju."
"Perceraian tidak membutuhkan persetujuan hati Anda. Hukum punya jalannya."
"Kamu bicara seperti dokter membaca prosedur."
"Mungkin itu yang paling mudah."
Damar menatapnya, lalu mengangguk pelan.
"Baik."
Jawaban itu membuat Alya takut.
"Baik?"
"Pulanglah kalau kamu perlu. Tapi aku tidak akan menganggap permintaan cerai ini selesai sampai kamu mengatakan alasan sebenarnya."
"Tidak ada alasan lain."
"Ada."
Dia melangkah ke pintu.
"Dan aku akan menemukannya."
Damar keluar.
Alya berdiri sendirian di ruang periksa.
Begitu pintu tertutup, lututnya kehilangan tenaga. Dia jatuh duduk di kursi, menutup mulut dengan tangan, menahan tangis yang akhirnya pecah tanpa suara.
Di luar pos, Damar berjalan ke ruang komando dengan wajah beku.
Rendra berdiri begitu melihatnya.
"Dan?"
"Raka di mana?"
"Di ruang pemeriksaan."
"Jaga dia. Jangan biarkan pergi."
"Siap. Ada apa?"
Damar berhenti.
Matanya gelap.
"Cari tahu semua tentang Raka Wicaksana. Keluarga, pekerjaan, yayasan, koneksi logistik, semuanya."
Rendra mengangguk.
"Dan?"
"Dan cari nama Karsa."
Rendra mengerutkan kening.
"Karsa?"
Damar menatap hujan di luar.
"Aku tidak tahu itu apa. Tapi Alya mendengarnya malam ini."
Dia mengepalkan tangan.
"Dan sejak itu dia berusaha membuatku membencinya."
Rendra diam cukup lama. Suara hujan memenuhi ruang kecil itu, menampar seng atap seperti seseorang yang tidak sabar.
"Kalau nama itu berhubungan dengan jaringan lama di pelabuhan," katanya akhirnya, "kita harus hati-hati. Banyak orang di sini punya utang budi, utang uang, atau utang takut."
Damar menoleh. "Kau pernah dengar?"
"Belum jelas. Tapi waktu aku masih di intel teritorial, ada laporan tentang kelompok yang tidak memakai nama resmi. Mereka bergerak lewat yayasan, gudang bantuan, pengiriman obat, kadang lewat keluarga terpandang."
Damar merasa sesuatu dalam dadanya turun berat.
Obat.
Gudang.
Bantuan.
Raka datang lewat jalur yang terlalu bersih.
"Mulai dari riwayatnya," kata Damar. "Kampus, rumah sakit, yayasan yang pernah dia pakai. Cari juga Siska."
Rendra mengangkat alis. "Siska?"
"Dia selalu muncul sebelum pintu terbuka untuk orang lain."
Malam itu, Damar tidak pulang. Ia duduk di ruang komando sampai subuh, memandangi satu pesan yang tidak jadi ia kirim.
Alya, aku tidak akan pergi.
Ia menghapusnya.
Belum saatnya bicara.
Sekarang saatnya mencari bukti.