“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Satu bulan lagi.
Kalimat itu terus terngiang di kepala Tiara sejak pagi. Hanya tersisa satu bulan sebelum dirinya resmi menjadi istri Permana.
Acara akan diadakan secara sederhana. Tidak ada pesta besar. Tidak ada ratusan tamu. Tidak ada kemewahan yang sengaja dipamerkan. Pernikahan Tiara dan Permana akan dilaksanakan sederhana dan tertutup, hanya dihadiri keluarga serta beberapa orang terdekat. Itu adalah kesepakatan mereka.
Tiara juga merasa jauh lebih nyaman dengan konsep tersebut.
Siang itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah bibinya.
Permana turun dari mobil dan berjalan menghampiri pintu.
"Tiara!"
Tiara yang sedang duduk bersama Sinta segera keluar.
"Kau sudah siap?" tanya Permana sambil tersenyum.
Tiara mengangguk.
"Sudah."
Sinta tersenyum melihat keduanya.
"Pergilah. Jangan sampai toko bajunya keburu tutup."
Tiara tertawa kecil.
"Memangnya kita mau beli apa, Bi?"
"Gaun pengantin," jawab Permana.
Mendengar itu, jantung Tiara berdebar.
"Gaun pengantin?"
"Iya. Masa menikah nanti kau pakai baju sehari-hari?"
Tiara tersenyum malu.
Mereka kemudian berangkat.
Tidak lama kemudian, mobil Permana berhenti di depan sebuah butik pengantin yang cukup terkenal. Meskipun pernikahan mereka sederhana, Permana tetap ingin Tiara mendapatkan sesuatu yang istimewa.
Begitu masuk, seorang pelayan menyambut mereka.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"Kami sedang mencari gaun pengantin," jawab Permana.
Pelayan itu tersenyum.
"Untuk Ibu?"
Permana menoleh kepada Tiara.
"Iya. Pilihkan yang paling cantik."
Tiara langsung mencubit lengan Permana pelan.
"Jangan begitu."
"Kenapa? Memang kau tidak cantik?"
Tiara menggeleng sambil tersenyum.
"Sudah, sana duduk. Aku mau memilih."
Tiara mulai melihat beberapa gaun yang terpajang.
Ada gaun putih sederhana dengan renda halus. Ada pula gaun dengan ekor panjang dan hiasan kristal. Namun akhirnya matanya tertuju pada sebuah gaun putih dengan desain elegan dan tidak terlalu berlebihan.
"Yang itu," kata Tiara.
Permana mengangguk.
"Coba."
Tiara masuk ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, tirai terbuka.
Permana yang sedang duduk langsung terdiam.
Tiara berdiri di hadapannya.
Gaun putih itu sederhana, tetapi begitu pas di tubuhnya. Rambut Tiara ditata sederhana, membuat wajahnya terlihat semakin anggun.
Permana bangkit.
"Tiara..."
"Apa?" Tiara bertanya malu.
"Kamu cantik sekali."
Tiara tersenyum.
"Benarkah?"
Permana mengangguk.
"Kalau aku tidak mengenalmu sebelumnya, mungkin aku akan mengira sedang melihat seorang bidadari."
"Berlebihan."
"Aku serius."
Tiara kemudian meminta pelayan mengambilkan ponselnya. Ia ingin mengabadikan momen tersebut.
Beberapa foto diambil.
Tiara melihat hasilnya.
Untuk sesaat, senyumnya menghilang.
Ia teringat masa lalu.
Dulu, ketika menikah dengan Haikal, dirinya juga pernah bermimpi mengenakan gaun pengantin yang indah.
Namun kenyataan jauh berbeda.
Haikal tidak pernah membelikannya gaun.
Jangankan gaun pengantin, untuk menyewa kebaya sederhana saja Tiara harus menggunakan uangnya sendiri.
Saat itu ia tidak pernah mengeluh.
Ia berpikir, pernikahan bukan tentang pakaian.
Yang penting adalah cinta.
Yang penting adalah kesetiaan.
Namun pada akhirnya, justru dirinya yang ditinggalkan.
Air mata Tiara jatuh.
"Kenapa menangis?"
Suara Permana membuat Tiara tersadar.
Tiara cepat-cepat menghapus air matanya.
"Aku bahagia."
Permana mendekat.
"Bahagia?"
Tiara mengangguk.
"Dulu aku pikir aku tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan seperti ini lagi."
Permana menggenggam tangannya.
"Mulai sekarang, jangan pikirkan masa lalu."
Tiara tersenyum.
"Aku tahu."
Kemudian ia membuka WhatsApp dan memposting foto dirinya mengenakan gaun tersebut di status.
Tidak lama kemudian, Permana kembali memujinya.
"Benar-benar cantik."
"Sudah."
"Serius."
"Kalau terus memuji, nanti aku besar kepala."
Permana tertawa.
"Biarkan. Aku justru ingin istriku tahu kalau dia sangat cantik."
Kata "istriku" membuat pipi Tiara memerah.
Setelah memilih gaun, mereka melanjutkan perjalanan menuju toko perhiasan.
Kali ini mereka mencari cincin pernikahan.
Tiara melihat beberapa model.
"Yang ini bagus," katanya sambil menunjuk cincin sederhana.
Permana mengambilnya.
"Coba."
Tiara memasangkan cincin itu ke jarinya.
Permana tersenyum.
"Cocok."
"Jangan mahal-mahal."
"Aku yang bayar."
"Permana..."
"Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu."
Tiara terdiam.
Kalimat sederhana itu kembali membuat dadanya sesak.
Dulu ia menikah dengan seorang pria yang bahkan tidak mau mengeluarkan uang untuk gaun pengantinnya.
Kini, seorang pria yang baru hadir dalam hidupnya justru berusaha memberikan semua yang dulu tidak pernah ia dapatkan.
Setelah cincin selesai dibeli, mereka kembali ke mobil.
Dalam perjalanan, Permana tiba-tiba bertanya.
"Setelah menikah, kamu mau bulan madu ke mana?"
Tiara berpikir sejenak.
"Aku tidak mau pergi ke mana-mana."
Permana meliriknya.
"Kenapa?"
"Aku cuma mau menikmati momen pengantin baru denganmu di rumah."
Permana langsung tersenyum lebar.
"Itu bagus."
Tiara menoleh.
"Kenapa kamu terlihat senang sekali?"
"Aku akan ambil cuti dua minggu."
"Untuk apa?"
"Untuk menikmati waktu bersama istriku."
Tiara tersenyum.
Namun kemudian Permana berkata dengan wajah serius.
"Dan aku minta jatah minimal dua kali sehari."
Tiara langsung membelalakkan mata.
"Permana!"
Lelaki itu tertawa.
"Apa? Aku cuma bicara soal pelukan."
"Kau itu!"
Tiara mencubit lengannya.
"Aduh!"
"Jangan macam-macam."
Permana masih tertawa.
"Baik, baik. Aku tidak akan macam-macam."
Tiara memalingkan wajah sambil menahan malu.
Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa bahagia.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak takut membayangkan masa depan.
Sampai tiba-tiba Permana berkata,
"Oh iya, ada satu hal lagi."
Tiara menoleh.
"Apa?"
"Aku akan mengundang Haikal ke pernikahan kita."
Senyum Tiara seketika menghilang.
"Haikal?"
Permana mengangguk.
"Bagaimana kalau dia membuat keributan?"
"Akan ada penjaga nanti."
Permana tetap tenang.
"Kalau dia macam-macam, tinggal keluarkan saja dari tempat acara."
Tiara terdiam.
Entah mengapa, mendengar nama mantan suaminya membuat perasaannya tidak nyaman.
Ia menatap cincin yang baru dibelinya.
Satu bulan lagi ia akan menikah dengan Permana.
Namun jika Haikal datang...
Apa yang akan terjadi?
Sementara itu, tanpa mereka sadari, di tempat lain Intan baru saja melihat status WhatsApp Tiara.
Foto Tiara dalam gaun pengantin.
Wajahnya terlihat bahagia.
Seseorang menatap foto itu lama sekali.
Lalu tangannya mengepal.
"Kenapa hidupmu selalu beruntung?" Intan mendengus kesal. "Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat pernikahan itu gagal.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Bersambung....