Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
BAB 17
CURHAT TENGAH MALAM
`Aku harus cerita sesuatu.`
Pesan Wulan masuk ke grup WhatsApp pada pukul enam sore.
Lani membalas bahwa ia juga punya cerita. Wiwid hanya mengirim lokasi apartemennya dan satu kata: `Sekarang.`
Dua jam kemudian, mereka bertiga duduk di ruang tamu Wiwid. Tidak ada yang menyentuh makanan. Wulan tampak seperti tidak tidur berhari-hari. Lani memakai blus berkerah tinggi meski udara panas. Wiwid sudah menuang anggur, tetapi gelasnya hanya diputar-putar.
"Muka kalian kenapa sama-sama kayak habis lihat hantu?" tanyanya.
"Kamu dulu," kata Lani.
Wiwid meneguk anggur. "Gue mencium Raka."
Wulan hampir menjatuhkan gelas air.
"Raka?" bisiknya. "Keponakanmu?"
"Dia bukan..." Wiwid berhenti, tidak sanggup membuka seluruh perdebatan keluarga malam ini. "Di rumah semua orang tetap menganggap dia keponakan gue. Gue mabuk, nggak pakai lensa, dan mengira dia Alvin."
"Raka tahu kamu salah orang?" tanya Lani.
"Awalnya dia sudah bilang namanya. Gue nggak dengar. Begitu gue panggil Alvin, dia berhenti." Wiwid menutup wajah. "Tapi dia sempat membalas. Dan pagi-pagi gue bangun, dia ada di kasur gue. Pakai pakaian lengkap, di atas selimut. Tetap saja gue mau mati."
Wulan menggenggam tangannya. "Kamu nggak tahu itu dia."
"Dia itu anak yang gue lihat tumbuh. Perempuan macam apa gue?"
Kalimat itu membuat Wulan menangis.
"Aku juga nggak tahu aku ini perempuan macam apa."
Ia bercerita tentang Dimas yang mengundang Bram, botol-botol minuman, dan listrik padam. Tentang sosok di ranjang yang ia kira suaminya. Tentang ciuman yang terasa lebih lembut daripada apa pun yang diterimanya selama bertahun-tahun.
"Aku yang mendekat dulu," katanya terbata. "Pak Bram juga mengira kamar itu untuk dia. Begitu dia dengar aku memanggil Mas, dia berhenti. Tapi aku tetap... aku istri Dimas."
Wiwid bergeser dan memeluknya. "Itu kecelakaan. Kalian berdua salah orang."
"Kalau hanya kecelakaan, kenapa aku masih ingat caranya menaruh piring di depanku?"
Tidak ada yang mampu menjawab.
Lani duduk paling lama dalam diam.
"Sekarang giliran lo," kata Wiwid. "Jangan bilang masalah lo cuma kelas bunga."
Lani mengatupkan tangan. Kemudian, untuk pertama kalinya, ia menceritakan semuanya.
Gunawan yang membayar operasi Papa Lie dan seluruh utang keluarga. Enam bulan sebagai simpanan. Rey yang pulang dengan wajah berdarah, penghinaan, tangan di leher, ciuman paksa, dan foto bahu yang dikirim kepada Lynn. Jamu, kamar tidur, perpisahan, kantor polisi, serta kalimat yang membuatnya terikat: `Aku yang urus kamu.`
Wiwid berdiri sebelum cerita selesai. "Gue bunuh bocah itu."
"Duduk."
"Dia mengambil foto lo! Gue benar, kan? Tangan di screenshot itu tangan lo."
Lani mengangguk. "Rey bilang akan mengurusnya. Aku belum tahu bagaimana."
"Dan sekarang dia tinggal sama lo?"
"Hampir setiap hari."
"Setelah semua itu?" Wulan bertanya lembut, bukan menghakimi.
Lani menunduk. "Malam itu aku minum. Tapi aku tahu siapa dia. Rey bahkan mencoba pergi. Aku yang menariknya kembali."
Ruangan sunyi.
"Aku tidak dipaksa," lanjut Lani. "Aku menginginkannya. Pagi-pagi aku justru takut karena sadar keinginan itu milikku sendiri. Dia anak Pak Gunawan. Lebih muda sepuluh tahun. Dan aku masih belum bisa memisahkan rasa takut dari rasa sayang."
Wiwid duduk kembali. Kemarahannya tidak hilang, tetapi tangannya mencari tangan Lani.
"Kalau dia menyentuh lo tanpa izin lagi, telepon gue. Jam berapa pun."
"Aku juga sudah punya kontak pengelola apartemen dan petugas keamanan," kata Lani. "Akses tamunya dicabut. Dia sekarang harus minta izin."
"Bagus. Soal foto, jangan cuma percaya dia akan mengurus." Wiwid mengambil ponsel. "Simpan tangkapan layar, tanggal, dan semua pesan. Kalau muncul lagi, kita minta take down dan cari sumbernya."
Lani mengangguk. "Aku akan minta Rey menghapus foto asli di depanku."
Wulan memandang Wiwid. "Kalau Raka datang lagi?"
Wiwid mengangkat apel yang belum ada saat itu seolah membayangkannya. "Gue sudah ambil kunci cadangan. Dia nggak boleh masuk."
"Tapi kamu takut karena dia memaksa atau karena perasaanmu sendiri?"
Pertanyaan Wulan membuat Wiwid diam.
"Dia nggak memaksa setelah tahu gue salah orang," jawabnya akhirnya. "Itu justru masalahnya. Gue nggak bisa membencinya dengan alasan yang gampang."
Lani beralih kepada Wulan. "Kamu bagaimana?"
"Aku akan menghindari Pak Bram."
"Dan Dimas?"
"Aku tetap istrinya. Aku akan memperbaiki rumah tanggaku."
Wiwid menghela napas. "Memperbaiki bukan berarti lo sendirian menambal semua lubang sementara Dimas terus merusak."
"Aku tahu." Wulan menatap jemarinya. "Tapi aku perlu mencoba sekali lagi supaya apa pun pilihanku nanti bukan cuma karena satu malam dengan laki-laki lain."
Tidak ada yang membantah. Itu bukan keputusan sempurna, tetapi keputusan Wulan sendiri.
"Kalau Dimas tahu..." Wulan mulai.
"Dia nggak akan tahu dari kita," kata Wiwid. "Tapi lo juga jangan biarkan rasa bersalah membuat lo menerima semua perlakuan buruk di rumah."
Lani mengangguk. "Kita perlu aturan."
"Aturan apa?" tanya Wulan.
"Tidak ada yang saling menghakimi. Tapi kalau salah satu dari kita dalam bahaya, dua lainnya boleh ikut campur."
"Dan nggak boleh hilang tanpa kabar," tambah Wiwid. "Lani, terutama lo."
"Setuju."
Wulan menyeka air mata. "Kalau kami membuat keputusan buruk?"
Lani memegang kedua tangannya. "Kita bilang itu buruk kalau memang buruk. Tapi kita tetap datang."
Mereka menyimpan alamat terbaru, nomor keamanan gedung, dan satu kata sandi darurat di grup. Jika salah satu hanya mengirim kata `payung`, dua lainnya harus menelepon. Jika tidak dijawab dalam sepuluh menit, mereka datang atau menghubungi orang terdekat.
"Kedengarannya dramatis," kata Wulan.
"Hidup kita sudah dramatis," balas Wiwid. "Setidaknya sekarang dramanya punya prosedur."
Mereka menangis, lalu tertawa karena ketiganya terlihat sama menyedihkan. Wiwid memanaskan mi. Wulan akhirnya memakan dua suap. Lani membuka kerah blus dan bernapas lebih lepas.
Menjelang pukul tiga, mereka menggelar selimut di ruang tamu seperti masa kuliah. Tidak satu pun masalah selesai. Namun rahasia yang dibagi bertiga tidak lagi terasa seperti batu yang harus dipikul sendirian.
"Jadi kita bertiga jatuh di malam yang sama?" gumam Wiwid.
"Jangan sebut jatuh," kata Wulan. "Terdengar seperti kita bisa bangun dan selesai."
"Benar juga."
Ponsel mereka menyala hampir bersamaan.
Layar Lani dipenuhi pesan Rey.
`Di mana?`
`Aku jemput.`
`Lani, jawab.`
Di ponsel Wulan muncul nomor baru dengan foto logo Nusantara Interactive.
`Selamat malam. Saya Bram. Apakah saya boleh bicara?`
Wiwid tidak mendapat pesan. Namun ketika membuka pintu untuk mengambil pesanan makanan, ia menemukan satu apel merah diletakkan di atas keset.
Tidak ada catatan.
Ia tetap tahu siapa yang meninggalkannya.
Tiga perempuan saling menunjukkan layar.
Wiwid tertawa getir. "Kayaknya kita nggak bisa pura-pura malam itu nggak pernah terjadi."
Di luar jendela, langit mulai memucat.
Tidak satu pun dari mereka berhasil melarikan diri.