NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guru Privat

"Kak, please jangan gila!" cicit Clyrine panik setengah mati. Gadis itu langsung melompat mengejar langkah lebar Damien, mencengkeram lengan kemeja pria itu dengan kedua tangannya.

"Gue mohon banget, itu cuma candaan! Kalau Daddy tahu, bisa-bisa gue dikurung di kamar setahun penuh!"

Damien menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu utama. Ia menoleh ke bawah, menatap wajah Clyrine yang sudah pucat pasi ketakutan. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum kemenangan melihat seberapa besar pengaruh ancamannya barusan terhadap gadis itu.

"Makanya, mulutnya dikondisikan," bisik Damien dengan suara rendah penuh peringatan. "Anggap saja ini pelajaran berharga buat lo supaya nggak sembarangan menantang batas."

Sebelum Clyrine sempat memohon lagi, pintu utama bergeser terbuka dari dalam. Seorang pelayan paruh baya menyambut mereka dengan kening berkerut heran.

"Eh, Tuan Damien? Ada yang tertinggal, atau...?"

"Saya mau bertemu dengan Tuan Charles dan Nyonya Runica," potong Damien formal namun tegas, melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun.

Clyrine menepuk jidatnya sendiri dalam hati. Beneran nekat ni orang! Dengan langkah gontai dan jantung berdegup kencang seperti hendak copot, Clyrine terpaksa mengekor di belakang Damien, pasrah menanti malapetaka apa yang akan menimpanya malam ini.

Langkah kaki mereka membawa keduanya langsung ke ruang keluarga yang luas dan mewah. Di sana, Charles Rexander tengah duduk di sofa panjang sambil membaca dokumen kantor, sementara Runica menemani Claire yang sedang merapikan buku-buku sekolahnya di dekat meja lampu.

Kehadiran Damien yang tiba-tiba bersama Clyrine membuat ketiga orang di ruangan itu menoleh serentak.

"Damien?" Charles meletakkan dokumen di tangannya, menaikkan sebelah alis dengan ekspresi terkejut bercampur heran. Pria paruh baya itu berdiri menyambut tamu istimewanya. "Ada apa malam-malam begini kembali ke rumah saya? Apa ada masalah dengan Alaric?"

Claire, yang melihat kedatangan Damien, langsung merapikan rambutnya dan tersenyum manis. Namun, senyum itu seketika memudar saat melihat Damien datang bersama Clyrine.

Damien melangkah tenang dengan postur tubuh tegap dan wibawa yang mendominasi ruangan. Ia membungkuk sedikit memberi hormat sopan kepada Charles dan Runica.

"Selamat malam, Om Charles, Tante Runica," sapa Damien dengan suara baritonnya yang tenang.

"Maaf mengganggu waktu istirahat malam keluarga Anda. Kedatangan saya kemari bukan karena Alaric, melainkan ada urusan pribadi yang ingin saya sampaikan langsung kepada Om dan Tante."

Charles mengerutkan kening, melirik sekilas ke arah Clyrine yang berdiri gelisah di belakang punggung Damien. "Urusan pribadi? Silakan duduk dulu, Damien. Ada apa?"

Damien duduk di sofa seberang Charles, sementara Clyrine memilih berdiri kaku di dekat pilar ruangan, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Gadis itu sudah membayangkan Damien akan membuka percakapan dengan kalimat: 'Om, putri Om tadi ngajak saya ciuman.'

Pikiran itu membuat Clyrine ingin pingsan seketika

.

"Begini, Om," ucap Damien memulai dengan nada serius yang membuat suasana ruangan mendadak terasa senyap. "Beberapa hari belakangan, saya sempat membantu Clyrine menyelesaikan beberapa masalah di sekolahnya. Dari obrolan kami, saya melihat anak ini punya potensi besar secara akademis, tapi terhalang oleh cara belajar yang salah dan lingkungan yang kurang kondusif."

Charles tertegun mendengar penilaian blak-blakan itu. Ia menatap putri bungsunya sekilas dengan pandangan menyelidik. "Clyrine? Anak itu bahkan jarang membuka buku pelajarannya di rumah."

"Karena selama ini tidak ada yang mengarahkannya dengan benar, Om," sanggah Damien halus namun tegas. "Karena itulah, malam ini saya datang untuk meminta izin secara formal kepada Om Charles dan Tante Runica."

Runica yang sejak tadi menyimak akhirnya ikut bersuara, menatap Damien dengan senyum hangat. "Izin untuk apa, Nak Damien?"

"Saya ingin mendaftarkan diri secara resmi sebagai tutor privat Clyrine," kata Damien tanpa keraguan sedikit pun, melirik sekilas ke arah Clyrine yang kini membelalakkan matanya lebar-lebar. "Mulai minggu depan, setiap hari Kamis dan Minggu, saya akan datang ke rumah ini untuk membimbing pelajarannya, memastikan nilai-nilainya naik, dan menjaganya agar tetap fokus."

Suasana ruang keluarga mendadak hening total.

Charles terdiam cukup lama, meneliti keseriusan di wajah Damien. Sebagai seorang pebisnis ulung, Charles sangat menghargai ketegasan, percaya diri, dan aura kepemimpinan yang dipancarkan oleh Damien. Terlebih lagi, Damien adalah sahabat Alaric—orang luar terpercaya yang memiliki rekam jejak bersih.

Di sudut lain, Claire mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Rasa cemburu dan amarah bergemuruh hebat di dadanya. Kenapa? Kenapa harus Damien yang menawarkan diri jadi tutor privat Clyrine?!

"Kamu serius ingin meluangkan waktu sibukmu buat mengajar anak ini, Damien?" tanya Charles memastikan.

"Sangat serius, Om," jawab Damien mantap. "Saya tidak akan menawarkan diri jika saya tidak sanggup memegang komitmen."

Charles menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman persetujuan yang sangat jarang ia berikan. "Baiklah kalau begitu. Kalau kamu bersedia repot-repot membimbingnya, saya tidak punya alasan untuk menolak. Manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, Clyrine. Jangan Malu-malui Damien."

"B-baik, Dad..." cicit Clyrine kaget, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Damien berdiri, menjabat tangan Charles dengan mantap. "Terima kasih atas izinnya, Om, Tante. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu karena sudah terlalu malam."

Sebelum melangkah keluar, Damien sempat melirik ke arah Clyrine yang masih berdiri terpaku. Di balik tatapan datarnya, tersirat secercah kilat geli yang hanya bisa ditangkap oleh gadis itu—sebuah kemenangan kecil karena berhasil mengerjainya habis-habisan malam ini.

Sepeninggal Damien yang melangkah pulang keluar dari rumah, suasana ruang keluarga masih menyisakan ketegangan tipis. Charles Rexander melipat kedua tangannya di atas dada, menatap tajam putri bungsunya yang masih berdiri kaku di dekat pilar.

"Kamu serius dengan semua ini, Clyrine?" tanya Charles sekali lagi, memastikan tidak ada main-main di balik keputusan putrinya.

Clyrine menarik napas dalam-dalam, lalu menegakkan dagunya dengan penuh keyakinan. "Iya, Dad. Aku serius," jawabnya mantap, berusaha menutupi sisa-sisa rasa gugup akibat ulah Damien di gerbang tadi.

Charles menatap lurus ke mata bungsunya selama beberapa detik. Ada sorot keterkejutan yang samar di wajah pria paruh baya itu—sebuah kilat tekad yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada diri Clyrine. Charles lantas mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

"Bagus kalau begitu," ujar Charles tegas. "Sesuai janji Daddy waktu itu... kalau kamu benar-benar bisa membuktikan perubahanmu, serius belajar, dan lulus sekolah dengan nilai yang bagus serta membanggakan, Daddy bakal kasih kamu hadiah."

Clyrine tertegun sejenak sebelum seulas senyum tulus merekah di bibirnya. Selama belasan tahun hidup di bawah bayang-bayang saudaranya, kata-kata itu adalah bentuk pengakuan pertama yang paling berharga dari sang ayah.

"Oke, Dad!" jawab Clyrine penuh semangat. "Aku bakal buktikan."

Tanpa membuang waktu lagi dan menghindari tatapan tajam Claire yang kian menusuk dari sudut ruangan, Clyrine berpamitan sopan kepada kedua orang tuanya lalu berbalik melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Brak!

Pintu kamar di sebelah kamar Clyrine tertutup dengan suara bantingan yang cukup keras.

Di dalam kamarnya yang bernuansa pastel elegan, Claire Elowen Rexander berdiri mematung di dekat dinding pembatas kamar. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap nyeri di telapak tangan.

Ia mendengar semuanya. Setiap kata yang terucap di ruang keluarga tadi terdengar jelas di telinganya yang menempel di dinding.

Damien Vance—pria berwibawa, dingin, dan paling sulit disentuh yang selama ini ia incar setengah mati—malah datang sendiri ke rumah mereka hanya untuk menawarkan diri menjadi tutor privat Clyrine.

Dan yang lebih membuat dada Claire sesak, Charles—ayah angkatnya—bahkan memberikan lampu hijau sekaligus menjanjikan hadiah jika Clyrine berhasil berubah dan lulus dengan gemilang.

"Sialan..." bisik Claire penuh kebencian, air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. "Sialan, sialan, sialan!"

Sebagai seorang anak tiri di keluarga Rexander, Claire tahu betul posisi tipis yang ia pijak. Sejak kecil, ia harus selalu tampil sempurna, menjadi juara kelas, dan menuruti setiap kemauan Charles dan Runica agar keberadaannya diakui dan disejajarkan dengan darah daging keluarga itu. Ia tidak boleh sedikit pun tersaingi.

Namun sekarang, Clyrine—si pembuat onar yang bodoh dan selalu membuat masalah—tiba-tiba mendapatkan perlindungan penuh dari Damien, mendapatkan pujian dari daddynya, dan bersiap merebut segalanya.

Claire menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin rias dengan sorot mata penuh dendam membara.

"Lo pikir lo bisa menang dariku, Clyrine?" gumam Claire tajam, suaranya bergetar hebat menahan amarah. "Kalau lo kira Damien bakal bikin lo hebat, lo salah besar. Gue bakal hancurkan rencana kalian sebelum semuanya dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!