Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERPAKSA JUJUR
Luna menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30.
Dari kejauhan terdengar suara deru mesin mobil yang meraung-raung, semakin lama semakin mendekat.
Tanpa sadar, senyum tipis muncul di sudut bibir Luna.
“Itu Bandung, ya?” seru Luna kepada Boril dan Dola.
Boril dan Dola yang melihat senyum Luna langsung saling berpandangan. Mereka tidak mengatakan apa-apa, hanya ikut tersenyum kecil.
Beberapa saat kemudian, sebuah Lamborghini berwarna kuning menepi dan berhenti di depan basecamp.
Seorang wanita berpenampilan modis dan anggun keluar dari mobil tersebut. Langkahnya penuh percaya diri. Kacamata hitam bertengger di wajahnya, sementara ekspresinya terlihat jauh dari kata tenang.
Rosa membuka pintu basecamp dan langsung berteriak.
“Boril! Dola! Mana perempuan itu?”
Boril dan Dola terkejut. Mereka langsung bangkit dan mencoba menghadang Rosa yang datang dengan emosi.
Namun Rosa sudah lebih dulu melihat Luna.
Dia langsung menunjuk ke arahnya.
Senyum Luna yang tadinya mulai berkembang perlahan hilang. Wajahnya memerah.
“Dasar lu pelakor!” bentak Rosa. “Gue tahu niat licik lu! Lu pura-pura ngajarin anak-anak, tapi niat lu sebenarnya cuma mau deketin Bandung, kan?”
Luna masih diam.
Namun entah kenapa, kali ini dia tidak merasa ingin menangis.
Justru ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya berani menghadapi Rosa.
Mungkin karena untuk pertama kalinya Luna merasa bahwa tuduhan itu tidak sepenuhnya salah.
Dia memang ingin dekat dengan Bandung.
“Gue tahu lu udah punya tunangan,” lanjut Rosa. “Jadi gue minta lu jangan ganggu Bandung lagi!”
Dola dan Boril buru-buru mencoba menengahi.
Mereka tahu betul bagaimana lembutnya Luna. Mereka sering melihat Luna mudah tersentuh dan gampang meneteskan air mata.
“Sudah, Kak Rosa,” kata Dola. “Sudah. Ini semua cuma salah paham.”
“Lu nggak usah ikut-ikutan!” Rosa menatap Dola tajam. “Ini urusan orang dewasa!”
Dola mencoba memegang tangan Rosa.
“Dola, ngapain lu pegang-pegang tangan gue? Lepasin!”
“Tenang dulu, Kak.”
“Lepasin! Mau gue cakar-cakar lu juga?”
Rosa kembali menunjuk Luna.
“Pelakor yang sok imut!”
Entah dari mana keberanian itu muncul, Luna tiba-tiba berdiri.
Dia berjalan mendekati Rosa, lalu memegang kedua pundak wanita itu.
“Rossa, sekarang lu dengerin gue.”
Boril dan Dola langsung terdiam.
“Dari awal gue memang sudah suka sama Bandung,” kata Luna, suaranya bergetar tetapi jelas. “Tapi gue nggak pernah memonopoli dia.”
Rosa terdiam.
“Kalau sekarang gue dekat sama anak-anak, sama Boril dan kawan-kawan, itu karena gue merasa nyaman sama mereka.”
Rosa menyipitkan matanya.
“Nah, jadi sekarang lu ngaku, kan? Kalau emang lu itu pelakor?”
Luna justru tersenyum.
“Rosa, coba deh lu ngomong baik-baik sama Bandung.”
Rosa hendak menyela, tetapi Luna melanjutkan.
“Kalau memang lu suka sama dia, jalanin hubungan yang baik sama Bandung. Kalau Bandung memang menerima lu sebagai kekasih, apalagi sebagai pendamping hidupnya, gue nggak keberatan mundur.”
Luna menarik napas.
“Tapi kalau memang Bandung nggak punya perasaan apa-apa sama lu, maka gue juga punya hak buat maju.”
Wajah Rosa semakin merah.
Dia meronta-ronta dari pegangan Dola.
“Lepasin gue!”
Melihat Dola mulai kewalahan menahan Rosa, Boril segera mengambil ponselnya dan menelepon Bandung.
Beberapa saat kemudian telepon diangkat.
Bandung sedang dalam perjalanan menuju basecamp.
“Ada apa, Boril? Lu telepon gue?”
“Kakak ipar berantem sama Luna, Bang! Kita nggak bisa ngendalikan keadaan. Tolong Abang buruan pulang!”
Mendengar suara Boril yang panik, Bandung langsung menginjak pedal gas.
Beberapa menit kemudian, Ferrari merah miliknya sudah berhenti di depan basecamp.
Begitu melihat Bandung datang, Luna merasa lega.
Entah kenapa.
Padahal dia sendiri tidak tahu kenapa kehadiran pria itu bisa membuat dadanya terasa sedikit lebih tenang.
Sebaliknya, Rosa justru semakin emosi.
“Bandung! Lu nggak tahu apa? Si pelakor itu udah nantangin gue!”
Bandung masuk dengan santai.
Dia menghampiri Rosa, kemudian merangkul pundaknya. Matanya sempat mengedip ke arah Dola dan Boril, memberi isyarat agar mereka menenangkan keadaan.
“Udahlah,” kata Bandung. “Nggak usah pakai emosi. Semua ini cuma salah paham.”
“Dia udah bilang sendiri kalau dia suka sama lu!” Rosa membalas. “Terus mau ditaruh mana muka gue kalau udah kayak gini?”
Bandung menghela napas.
“Udah sih. Nggak usah ribut. Mending kita beli makan aja, yuk.”
Bandung hendak membawa Rosa keluar.
Namun sebelum mereka pergi, Luna justru menghampiri.
Kali ini suaranya terdengar agak keras meskipun kaki, tangan, bahkan seluruh tubuhnya masih gemetar.
“Tunggu, Bandung.”
Bandung berhenti.
“Karena gue bukan pelakor, gue pengen kita selesain masalah ini.”
Bandung mengedip-ngedipkan mata ke arah Luna. Seolah berharap Luna mau diam dan membiarkan masalah itu selesai begitu saja.
Namun melihat Bandung masih merangkul pundak Rosa, Luna justru semakin kesal.
“Bandung, gue pengen elu lebih tegas lagi.”
Rosa menoleh.
“Rosa bilang gue ini pelakor.”
“Emang lu pelakor!” balas Rosa.
“Rosa!” Bandung memperingatkan.
“Nggak ada pelakor di sini. Juga nggak ada yang pacaran di sini. Kita semua cuma teman.”
Rosa langsung menatap Bandung.
“Lho, kok lu bisa ngomong kita cuma teman?”
Bandung terdiam.
“Selama ini emang lu anggap gue apa?”
Bandung menggaruk-garuk kepalanya.
“Rosa, kita semua ini teman. Udahlah, jangan ribut lagi. Jangan bikin malu dong.”
Bandung kembali merangkul pundak Rosa dan hendak membawanya keluar.
Namun Luna menarik tangan Bandung.
“Bandung.”
Bandung menoleh.
“Lo harus selesaiin masalah ini sekarang juga.”
“Bu Guru...”
“Gue mau tanya.”
Luna menatap Bandung.
“Apa lu suka sama Rosa?”
Untuk pertama kalinya, wajah Bandung terlihat tegang.
Dia kembali menggaruk-garuk kepalanya. Tatapannya berpindah dari Luna ke Rosa.
“Aduh, Bu Guru... jangan bikin masalahnya semakin runyam dong.”
“Justru gue pengen masalah ini selesai, Bandung.”
Luna menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau lo selalu kayak gini terus dan nggak punya ketegasan, gimana masalahnya bisa selesai?”
Rosa yang sejak tadi masih emosi akhirnya mengangguk.
“Bandot tua, menurut gue bener kata Luna. Lu harus bisa jelasin ke kita.”
Bandung menghela napas panjang.
Akhirnya dia duduk di lantai.
Dia menarik tangan Luna dan Rosa agar duduk di dekatnya.
“Oke. Kalau begitu, kalian berdua sekarang duduk di sini.”
Rosa dan Luna duduk di samping Bandung, tetapi di sisi yang berbeda.
Bandung memandang keduanya dengan wajah datar.
“Baiklah. Kalau kalian mau masalah ini selesai, gue butuh bantuan kalian.”
Rosa mengangkat alis.
“Bantuan apa?”
“Jawab semua pertanyaan gue dengan jujur.”
Rosa mendongakkan kepala, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
“Oke.”
Luna hanya menganggukkan kepala.
“Kalau gitu gue mulai dari lu dulu, Rosa.”
“Boleh.”
“Jawab dengan jujur, ya.”
Bandung menatap Rosa.
“Apa yang lu lihat dari gue sampai lu merasa lu punya hak atas gue?”
Rosa terdiam sejenak.
“Yang jelas, kalau sama gue lu itu selevel.”
Bandung diam.
“Lagian bokap gue juga sudah setuju sama lu. Kita punya banyak kesamaan. Gue punya Lamborghini, lu punya Ferrari. Bokap gue kaya, lu juga punya kekayaan.”
Rosa mengangkat dagunya.
“Jadi menurut gue, lu memang paling pas sama gue.”
Bandung mengangguk kecil.
“Oke.”
Dia kemudian menoleh kepada Luna.
“Sekarang Luna. Coba kasih tahu gue apa yang lu lihat dari gue?”
Luna langsung gugup.
Dia bingung.
Bagaimana mungkin dia menjelaskan sesuatu yang sebenarnya belum dia pahami sendiri?
Dia juga ingin menyembunyikan perasaannya.
Namun kondisi saat itu tidak memberinya banyak pilihan.
Luna memejamkan mata sejenak.
“Gue nggak tahu banyak tentang elu.”
Bandung diam.
“Gue cuma ngerasa elu sederhana.”
Luna membuka matanya.
“Lo bisa memberikan kenyamanan hampir kepada semua orang yang dekat sama lo.”
Dia tersenyum tipis.
“Dan jujur, gue juga nggak melihat mobil Ferrari. Gue nggak melihat kekayaan elu.”
Luna menahan tawanya.
“Yang gue tahu, elu cuma Bandung yang kusut dan nggak pernah mandi.”
Boril dan Dola yang berdiri di pojokan saling melirik.
Bandung menghela napas.
“Masih ada lagi?”
Luna kembali diam.
Wajahnya mulai memerah.
Dengan suara lebih pelan, akhirnya dia berkata,
“Gue merasa nyaman di dekat lo.”
Ruangan mendadak hening.
Wajah Bandung masih datar. Tidak ada ekspresi berlebihan.
Dia menarik napas panjang, kemudian kembali melanjutkan pembicaraan.
“Setelah kejadian ini, gue harap kalian bisa menjadi teman. Atau setidaknya nggak saling memaki dan nggak saling menyakiti.”
Bandung menatap Rosa.
“Rosa, seperti yang lu lihat, gue dan Luna itu cuma teman. Di sisi lain, hubungan kita juga ada kaitannya dengan guru dan wali murid karena Luna adalah guru Oreo. Jadi tolong hargai dia sebagai guru anak gue.”
Kemudian Bandung menoleh kepada Luna.
“Luna, antara gue dan Rosa juga cuma teman. Nggak ada sesuatu yang istimewa.”
Luna terdiam.
Bandung kembali menatap Rosa.
“Dan Rosa, tolong dengar. Selama ini gue nggak pernah banyak ngomong soal tindak-tanduk lu bukan karena ada rasa istimewa di hati gue.”
Rosa mulai menunduk.
“Gue cuma menjaga perasaan lu. Kalau gue bilang kita pacaran, itu jelas nggak mungkin. Tapi kalau gue bilang terus terang kalau lu bukan pacar gue, gue takut anak-anak malah ngeremehin lu.”
Bandung menarik napas.
“Jadi intinya, kita semua cuma teman.”
Rosa tidak menjawab.
Bandung melanjutkan.
“Dan satu lagi, Rosa. Gue ini nggak punya apa-apa.”
Rosa langsung menoleh.
“Ferrari itu kebetulan saja atas nama gue. Bisnis-bisnis lain juga bukan punya gue. Jadi jangan berpikir kalau kita ini sederajat atau sama-sama kaya.”
Rosa terdiam.
“Kalau setelah ini lu masih mau berteman sama gue, datang ke sini, main ke sini, silakan.”
Bandung menunjuk sekeliling basecamp.
“Tapi jangan bikin masalah sama teman-teman gue yang lain.”
Dia tersenyum tipis.
“Lu boleh maki gue. Lu boleh hina gue. Lu boleh manggil gue bandot tua. Tapi tolong hargai semua teman gue yang ada di sini.”
Bandung melirik Luna.
“Termasuk Luna.”
Suasana kembali hening.
Dola dan Boril yang sejak tadi hanya berdiri di pojokan saling berbisik.
“Bikinin kopi aja kali, ya?”
Dola segera bangkit.
Boril membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa hidangan yang masih tersimpan.
Mereka menyuguhkan kopi dan makanan kepada Rosa, Bandung, dan Luna.
Namun anehnya, tidak satu pun dari mereka menyentuh hidangan tersebut.
Mereka hanya duduk diam.
Masing-masing seperti sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.