NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Mas Duda

Kepincut Cinta Mas Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Bad Boy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AzZura02

Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.

Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.

Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.

Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 - Bayangan

Sheyra terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang berbunyi. Ia menguap dan mencoba meraih alarm yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Setelah alarm di tangannya, ia langsung mematikannya.

Sheyra membenamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut. Tubuhnya terasa sangat lelah dan masih mengantuk. Kemarin malam ia baru saja sampai di rumah setelah liburan di luar kota bersama keluarganya. Liburan yang berakhir menyenangkan namun juga melelahkan.

“Shey, udah bangun belum? Katanya ada kuliah di jam 9?” terdengar ketukan pintu diiringi suara Bundanya dari luar kamar Sheyra.

“Iya Bun. Udah bangun kok.” jawab Sheyra malas. Ia menguap beberapa kali. Kemudian ia membuka selimut yang menghalangi wajahnya lalu mengucek matanya beberapa kali dengan tujuan menghilangkan rasa kantuknya.

“Cepetan siap-siap. Nanti telat loh.” seru Bundanya mengingatkan.

“Iya Bunda!” jawab Sheyra.

Sheyra mengambil segelas air putih yang ada di atas meja lalu meneguknya sampai habis. Beberapa detik kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Selang beberapa menit, setelah selesai mandi Sheyra langsung bersiap untuk pergi ke kampus. Ia menyisir rambut panjangnya, memakai parfum dan memasukkan semua buku serta alat tulis yang ia perlukan ke dalam tas.

Setelah persiapan Sheyra sudah selesai semuanya, ia langsung bergegas turun ke bawah dan duduk di meja makan. Di atas meja, Bundanya sudah menyiapkan makanan favorit Sheyra yaitu soto banjar.

“Wah, kelihatan enak banget Bun.” puji Sheyra setelah melihat penampilan soto buatan Bundanya yang sangat menggiurkan.

Bunda Sheyra tersenyum mendengar pujian dari Sheyra. “Cepet makan deh.” katanya sembari mempersilahkan Sheyra untuk menyantap masakannya.

Sheyra memakan soto banjar itu dengan lahap. Ia sangat menyukai rasanya. Beberapa kali ia menggoyangkan kepalanya tanda bahwa ia sangat menyukai masakan tersebut.

“Shey, kalau masih capek nanti Bunda bilangin ke Tante supaya kamu libur beberapa hari dulu ga datang ke daycare.” ujar Bunda Sheyra khawatir mengingat kemarin mereka berdua habis perjalanan jauh ke luar kota. Menurut Bundanya, tentu Sheyra butuh beberapa hari untuk istirahat.

Sheyra diam sejenak dan terlihat berpikir. “Sepertinya begitu Bun. Badan Shey kerasa capek banget.” keluh Sheyra.

Bunda Sheyra mengangguk paham. “Yaudah kalo gitu nanti setelah kuliah langsung pulang aja ya. Gak perlu pergi ke daycare.”

Sheyra langsung mengiyakan, “Tapi kemarin seru banget. Padahal Baru kemarin ketemu Papa. Eh sekarang Shey udah kangen lagi.” kata Sheyra sedih.

“Sabar ya Nak. Nanti kalau dinas Papamu udah selesai pasti kita bisa kumpul lagi di sini.” Bunda Sheyra memberi pengertian.

“Iya Bun.” jawab Sheyra sambil menikmati makanan di depannya. Sheyra tiba-tiba membayangkan keseruan liburan kemarin bersama keluarganya. Saat itu keluarganya memutuskan untuk pergi ke taman bermain yang berada di kaki gunung. Ia dan keluarganya mencoba banyak permainan dengan seru. Pulangnya mereka memutuskan untuk ke wisata petik strawberry sambil menikmati pemandangan pegunungan yang begitu indah. Sheyra ingin melakukan liburan seperti ini lagi lain kali.

“Eh ini Papa video call. Sapa Papa Nak. Pamitan gih sebelum berangkat ke kampus.” kata Bunda Sheyra sembari mengarahkan kamera ponselnya ke Sheyra.

Sheyra terlihat sumringah ketika melihat Papanya. “Papa! Baik-baik ya di sana. Shey udah kangen lagi.” ujar Sheyra sambil melambaikan tangannya.

Papa Sheyra terlihat berkaca-kaca, “Shey dan Mama juga baik-baik ya di sana. Tunggu Papa pulang ya Nak.”

Sheyra mengangguk mengiyakan, “Shey mau berangkat ke kampus dulu ya Papa.” pamit Sheyra.

“Iya, hati-hati di jalan. Belajar yang rajin ya Shey.” jawab Papa Sheyra.

Sheyra segera mengambil tasnya lalu beranjak dari meja makan. Ia meraih tangan Bundanya untuk salim. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya Sheyra langsung bergegas pergi ke kampus.

***

Setelah mengantarkan Lyra ke daycare, Alvaro kembali pulang ke rumahnya untuk bersih-bersih dan bersiap untuk berangkat ke kampus di jam setengah 9 pagi. Sekarang jam masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi sehingga masih ada waktu untuk Alvaro bersih-bersih. Ia membersihkan lantai rumahnya menggunakan vacuum cleaner. Kemudian mencuci piring kotor yang ada di dapur.

Tiba-tiba sekelebat ingatan masa lalu muncul di kepala Alvaro saat ia menatap dapur untuk beberapa menit.

Alvaro memeluk Silva dari belakang sehingga membuat gadis itu terkejut. Menyadari keberadaan suaminya, Silva tersenyum malu. Namun ia tidak sekalipun menghentikan aktivitas memasaknya. Hari ini ia memasak sup daging, makanan kesukaan Alvaro.

Alvaro meniup telinga Silva dengan usil dan membuat Silva merasa kegelian. Ia membisikkan kata di telinga Silva, “Sayangku masak apa hari ini?”

Silva berusaha melepaskan pelukan erat Alvaro dari tubuhnya kemudian ia membalikkan badan agar dirinya dan Alvaro saling berhadapan. “Aku lagi masak makanan kesukaan Mas. Jadi jangan ganggu ya.” katanya sembari tersenyum memperingatkan.

“Padahal kamu gak perlu memasak seperti ini sayang. Kamu seharusnya diam saja karena lagi hamil. Supaya engga capek.” nasehat Alvaro.

“Aku bosan Mas kalau diam aja. Aku suka memasak seperti ini. Lagipula anak kita akan merasa senang kalo diajak memasak Bundanya.” jawab Silva sambil tertawa kecil lalu ia mengelus perutnya.

Saat itu kandungan Silva baru berusia 4 bulan. Tidak perlu menunggu waktu lama bagi mereka untuk memiliki keturunan. Dikarenakan 2 bulan setelah pernikahan, Silva langsung hamil. Sebuah kebahagiaan besar akan hadir di antara mereka sehingga membuat Silva dan Alvaro merasa sangat senang.

“Padahal kamu lebih enak.” canda Alvaro lalu memeluk istrinya dengan erat. Keduanya tertawa bersama.

Alvaro terlihat sendu ketika ia sadar kini semua itu hanyalah kenangan. Di dapur ini, tidak ada lagi sosok Silva. Alvaro merasakan nyeri di dadanya. Rasa sakit karena rindu kembali merasuki dirinya.

Alvaro segera mengalihkan pikirannya ke arah lain. Ia menjauh dari dapur dan pergi ke ruang keluarga. Di sana tergantung foto Lyra yang sedang tersenyum bahagia. Alvaro merasa tenang ketika melihat foto tersebut.

“Tidak. Gue gak boleh down. Demi Lyra. Demi Lyra.” gumam Alvaro meyakinkan dirinya sendiri.

Alvaro terduduk di kursi ruang tamu. Ia menutup matanya dengan lengan. Rumah ini besar, tapi entah mengapa ia merasa hampa dan kesepian. Tidak ada Mama di sisinya dan tidak ada Silva. Ia sendirian sekarang. Satu-satunya yang membuatnya bertahan hanyalah Lyra.

Dari jauh lubuk hatinya, Alvaro merasa hidupnya sungguh melelahkan. Mengerjakan semuanya sendirian, membuatnya cepat lelah. Sebenarnya ia sanggup memperkerjakan baby sitter untuk menjaga Lyra ataupun asisten rumah tangga untuk membantunya membereskan pekerjaan rumah. Namun, in this economy ketika ia merasa masih sanggup mengerjakan semua itu lebih baik ia mengerjakannya sendiri. Uangnya lebih baik ditabung untuk masa depan Lyra.

Tiba-tiba handphone Alvaro berbunyi. Ia segera mengambilnya dari saku dan menerima telepon panggilan tersebut. ”Halo.” ujarnya.

“Al, nanti setelah pulang kuliah ke cafe kan?” tanya seseorang dari seberang sana.

Orang itu adalah Paman Alvaro. Alvaro langsung menjawab, “Iya Om. Nanti Al ke sana.”

“Ah iya. Minta tolong ya nanti kalo ke sini om mau nitip beliin gula soalnya stocknya hampir habis nih.”

“Oke Om.” kata Alvaro lalu kemudian ia menutup telepon tersebut. Setidaknya di dunia ini Alvaro tidak benar-benar sendirian. Ia masih memiliki keluarga. Om Radit, Kakak dari mendiang Mamanya. Selama ini keluarga Om Radit sangat baik kepada Alvaro sampai menawarkan agar Alvaro bekerja membantu di cafenya. Untuk jam kerjanya, Alvaro diberikan kuasa untuk menentukan sesuai keinginan sendiri mengingat Alvaro juga sibuk berkuliah.

Mendengar tawaran tersebut, Alvaro langsung mengiyakan. Menurutnya lumayan gajinya bisa membantunya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Di samping itu, ia juga bisa memiliki pengalaman. Selain bekerja di cafe, Alvaro juga mengambil freelance yang selalu ia kerjakan di malam hari ketika waktunya sudah senggang.

Gaji dari freelance juga lumayan banyak karena ia memiliki beberapa klien dari negara lain yang akan membayarnya dengan dollar. Semua penghasilan dari part time dan freelance cukup untuk menghidupi dirinya sendiri dan Lyra. Bahkan ia juga bisa menabung untuk masa depan Lyra nantinya.

^^^Bersambung…^^^

1
Cici Sri Yunita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!