Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Antara Gengsi dan Perhatian
Arka berdiri terdiam di depan meja kerjanya, menyilangkan tangan di dada. Pandangannya tidak teralih dari sofa.
Naya bergerak kecil dalam tidurnya, mengerutkan dahi sejenak sebelum akhirnya kembali bernapas teratur, semakin melesat masuk ke dalam jas Arka yang kini membalut tubuhnya.
Bocah?
Kata-kata Doni masih terngiang di telinganya, memicu desakan jengkel yang tak beralasan.
Arka mendengus pelan, menarik kursi kerjanya dan duduk di sana. Ia meraih pena, membuka map berkas yang ditinggalkan Doni, dan berusaha memfokuskan pikiran pada deretan angka serta klausul hukum di hadapannya.
Namun, hanya butuh waktu tiga menit sampai fokusnya buyar total. Setiap kali ujung penanya menyentuh kertas, pikirannya justru memutar ulang bayangan paha mulus Naya di bawah terpaan sinar matahari sore tadi. Gejolak aneh itu kembali merayap naik, membuat tenggorokannya terasa kering.
“Ck,” Arka bergumam gusar. Ia membanting pelan penanya ke atas meja, melonggarkan ikatan dasinya lebih lebar, lalu meraih gelas air putih di sampingnya dan meminumnya hingga tandas.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul lima sore.
Tanpa sadar, ia berdiri, melangkah pelan mendekati sofa. Langkah kakinya begitu hati-hati, seolah takut memecahkan keheningan yang menyelimuti Naya.
Ia lalu berlutut dengan satu kaki di samping sofa, menyejajarkan posisinya dengan wajah Naya yang sedang tertidur. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas bulu mata Naya yang lentik, hidungnya yang kecil, serta bibirnya yang sedikit terbuka. Wajah itu tampak begitu tenang, bersih dari segala kepura-puraan dan dinamika rumit yang biasa Arka hadapi di dunia bisnis.
Arka mengulurkan tangannya secara refleks. Ujung jarinya melayang di udara, ragu-ragu selama beberapa detik, sebelum akhirnya menyapu pelan helai rambut Naya yang menutupi pipinya.
Sentuhan itu membuat Naya sedikit menggeliat. Kelopak matanya bergerak-gerak pelan sampai perlahan-lahan terbuka.
Mata jernih Naya yang masih tertutup kabut kantuk beradu langsung dengan tatapan tajam dan dalam milik Arka yang berada tepat di atasnya.
Selama beberapa detik, Naya termangu. Pikiran yang belum sepenuhnya sadar membuatnya kebingungan mendapati wajah sang CEO berada begitu dekat dengannya.
“Pak... Arka?” suara Naya terdengar serak khas orang bangun tidur.
Arka dengan cepat menarik tangannya kembali, berdiri tegap membelakangi sofa, berusaha secepat mungkin memasang topeng dinginnya.
“Kamu sudah bangun?” tanya Arka datar, membalikkan badan ke arah meja kerja.
“Tidurmu nyenyak sekali sampai tidak terdengar ada orang yang masuk.”
Naya mengedipkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Saat mencoba untuk duduk, ia menyadari ada beban hangat di atas tubuhnya. Sebuah jas hitam milik Arka menyelimuti bagian depan tubuhnya hingga ke kaki.
Seketika memory sebelum ia tertidur berputar di kepalanya, serta fakta bahwa posisi tidurnya tadi mungkin kurang rapi. Dengan cepat ia meraba gaunnya di bawah jas dan menyadari bagian bawah gaunnya sempat tersingkap.
Wajah Naya seketika memerah padam. Rasa malu menjalar cepat hingga ke ujung telinganya.
“Ini... jas Pak Arka?” tanya Naya pelan, suaranya mencicit. Ia memeluk jas itu erat-erat untuk menutupi tubuhnya.
Arka tidak menoleh, berpura-pura sibuk membalik lembaran berkas legal. “AC ruangan ini terlalu dingin. Saya tidak mau kamu sakit dan merepotkan saya nanti.”
Naya menggigit bibir bawahnya, menunduk dalam-dalam. “Maaf... Saya ketiduran. Padahal cuma mau merem sebentar...”
“Tidak apa-apa,” sahut Arka singkat. Ia memegang penanya lagi, membubuhkan tanda tangan dengan gerakan cepat dan mantap.
“Rapikan dirimu. Kita pulang sekarang. Rapat saya sudah selesai.”
Naya buru-buru berdiri, melipat jas Arka dengan rapi meskipun tangannya sedikit gemetar karena canggung.
“Baik, Pak.”
Arka meliriknya dari sudut mata. Melihat kepolosan dan rasa malu yang terpancar jelas dari raut wajah Naya membuat bibirnya tanpa sadar tertarik tipis membentuk senyuman tipis yang sangat samar. Senyuman yang langsung menghilang begitu Naya mendongak menatapnya.
“Jasnya biar saya bawa, Pak,” ujar Naya pelan sambil menyodorkan lipatan jas itu.
“Pakai saja,” potong Arka santai sambil merapikan meja kerjanya. “Udara di luar mulai dingin.”
Ia berjalan mendahului Naya menuju pintu, tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia memegang gagang pintu, lalu menoleh sedikit ke belakang, menatap Naya dengan kilatan aneh di matanya.
“Dan satu lagi, Naya...” suara Arka merendah, terdengar berat dan dalam.
Naya mendongak, “Ya, Pak?”
“Lain kali, kalau mau tidur di tempat umum atau di mana pun... pastikan gaunmu tidak tersingkap.” Arka memberikan jeda sejenak, menatap Naya dari atas ke bawah. “Tidak semua pria seperti saya.”
Tanpa menunggu respon dari Naya yang mendadak membatu dengan wajah yang kian memerah, Arka memutar gagang pintu dan melangkah keluar lebih dulu.
****
Mobil hitam milik Arka bergerak membelah kemacetan sore Jakarta. Di balik kemudi, Doni sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, memperhatikan dua penumpang di kursi belakang yang sama-sama bungkam.
Naya duduk merapat ke jendela, memeluk jas Arka yang kini bertengger rapi di pangkuannya, sementara Arka sibuk menatap ponsel dengan raut wajah serba datar.
Suasana hening itu bertahan sampai mobil akhirnya berhenti mulus di basemen apartemen mewah tempat tinggal Arka, yang kini juga menjadi tempat tinggal Naya sejak pernikahan kontrak mereka diresmikan.
“Pak Doni, terima kasih ya,” ujar Naya pelan sambil merapikan gaunnya dan memeluk jas Arka.
“Sama-sama, Naya. Langsung istirahat ya, jangan dipikirkan kelakuan bos kamu yang suka dingin tiba-tiba itu,” balas Doni ramah sambil mengedipkan sebelah mata.
Naya hanya tersenyum tipis, lalu keluar dari mobil dan melangkah menuju lift khusus penghuni.
Arka yang tadinya mau ikut turun, mendadak menahan langkahnya begitu melihat cengiran jail di wajah Doni melalui kaca spion. Ia lalu berpindah duduk ke kursi penumpang depan di samping Doni.
“Lu gak langsung naik?” tanya Doni santai saat pintu lift basemen tertutup, menyorot sosok Naya yang sudah menghilang di dalamnya.
“Bentar lagi. Gue mau ngomongin soal berkas PT Samudra dulu,” sahut Arka datar, berusaha bersikap profesional.
Doni malah tertawa seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi.
“Alah, ngomongin berkas apa mau melarikan diri dari canggung, Ka? Sumpah ya, akting lu rapi banget di depan bini sendiri, tapi asli kaku banget kayak kanebo kering!”
Arka memijit pangkal hidungnya, mendengus kasar. “Lu bisa diam gak? Naya itu cuma istri kontrak gue, Don. Gak usah berlebihan.”
“Istri kontrak tapi liatnya sampe segitunya?” Doni memutar posisi duduknya menghadap Arka seraya menyeringai lebar.
“Lu pikir gue kagak ngeliat pas gue masuk ruangan lu tadi? Lu berdua jaraknya tinggal beberapa senti doang pas lu megang rambutnya Naya yang lagi tidur di sofa. Lu kata gue buta?”
“Gue cuma mau mindahin rambutnya biar gak nutupin muka. Udah, itu doang,” sahut Arka cepat, menolak tuduhan itu.
“Bohongl! Muka lu tadi udah kayak macan mau nerkam mangsa, tau gak? Khusyu banget merhatinnya,” goda Doni lagi sambil menyenggol lengan Arka.
“Lagian tadi lu sok-sokan bilang 'paha mulus' ke gue pas di ruangan. Sekarang malah salah tingkah sendiri kan lu pas Naya bangun?”
“Doni.” Suara Arka merendah, memberi peringatan tegas.
“Aduh, galak ampuuun!” Doni terkekeh puas.
“Tapi seriusan, Ka, lu kagak usah gengsi gitu lah sama gue. Walaupun status kalian cuma nikah kontrak buat formalitas keluarga lu, tapi kan kalian tinggal satu atap. Lu mau bohongin siapa sih? Dari zaman kita kuliah juga gue tau tipe lu kayak gimana. Naya itu manis, polos lagi.”
Arka melempar pandangannya ke luar jendela basemen yang temaram. Kata-kata Doni merambat masuk ke pikirannya, memperjelas rasa bersalah dan gejolak asing yang tadi sempat ia rasakan.
“Dia itu polos, Don. Terlalu polos buat masuk ke kerumitan hidup gue,” gumam Arka, suaranya mengecil tapi terdengar berat.
“Pernikahan ini cuma diatas kertas. Gue gak mau merusak hidup dia lebih jauh cuma gara-gara dorongan sementara.”
“Tapi perlakuan lu gak menunjukkan kalau ini 'cuma diatas kertas', Bro," tembak Doni tepat sasaran. "Lu ngapain minjemin jas segala coba? Pake ngomong 'udara di luar dingin' lagi. Dih, perhatian banget Bos Arka kita ini sama istri sahnya.”
Arka memutar bola matanya, menyadari kalau berdebat dengan Doni saat ini tidak akan ada habisnya. Ia meraih tas kerjanya dan bersiap membuka pintu mobil.
“Terserah lu mau ngomong apa. Yang penting besok berkas revisi PT Samudra udah ada di meja gue sebelum jam sembilan pagi.”
Doni berdecak pelan sambil menggelengkan kepala melihat Arka yang memilih kabur.
“Elak terus, Bos, elak terus! Ntar kalau bini kontrak lu diambil orang atau lu malah jatuh cinta beneran, baru tahu rasa lu, mewek-mewek di pojokan!”
Arka tidak melayani selorohan itu. Ia menutup pintu mobil dengan dentuman pelan, melangkah mantap menuju lift basemen dengan pikiran yang kini justru makin kalut membayangkan harus berhadapan dengan Naya di dalam apartemen mereka malam ini.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak