Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Acara pembukaan sudah berakhir, beberapa dosen kembali ke ruangannya. T&T kembali ke belakang panggung. Di sana Al sedang duduk di kursi empuk sambil memakan cookies yang dia sukai. Sementara itu tim nya memanggil Rin.
Tak lama mereka datang membawa Rin yang sedikit merengut atas permintaan konyol Al. Mengganti perbannya! Job desk Rin bertambah satu.
Rin jongkok di kaki Al yang kaki celananya sudah naik memperlihatkan rembesan darah yang sudah mengering.
"Kayak gini gue juga nih yang ngerjain?" Rin melepaskan kain kasa pelan-pelan.
"Hmmmm... Gue nggak mau yang lain," ucap Al memakan cookies-nya.
"Tolong ya Rin, cuma kamu yang bisa ngobatin Al," ucap Bima pelan. Rin hanya mengangguk. Al memperhatikan wajah Rin yang terlihat capek, keringatnya membasahi sedikit keningnya. Tapi selebihnya dia melakukan semuanya dengan perasaan senang.
Setelah perban di buka, lukanya sudah mulai mengering. Rin bersihkan lagi pakai cairan pembersih luka lalu menotolkan obat. Kali ini tidak perlu ditutup kain kasa.
"Jangan diturunin dulu sampai obatnya kering," ucap Rin setelah membereskan luka Al.
"Thanks ya," senyum Al membuat rasa lelah Rin berkurang sedikit.
"Gimana perform malam ini? Bisa tampil dengan kaki begini?" tanya Rin.
"Kayaknya bisa," jawab Al.
"Kalo nggak bisa jangan dipaksain!" ucap Rin sambil menutup kotak P3K.
Vivian masuk ke ruangan sambil tersenyum dan menyenggol Rin yang masih jongkok hingga hampir membuat kepala Rin terbentur meja. Untuk Al menahan dengan tangannya. Hingga yang terbentur hanya kepala dan tangan Al.
"Lo gimana sih?" Al menaikkan nadanya ke Vivian.
"Ma... Maaf. Gue... Gue nggak lihat dia di...situ!" Vivian dengan drama hampir menangis membuat Rin jadi tak enak.
"Nggak apa-apa kak, nggak ada yang luka ini. Ayo duduk yang santai kak. Kalau ada perlu apa-apa, ada panitia di depan. Permisi!" Rin berjalan keluar diikuti Jonas.
"Lu ngapain keluar?" tanya Rin.
"Pengap gue di dalam. Ada tempat sepi yang aman nggak? Gue mau istirahat bentar sebelum kita pulang buat persiapan nanti malam," pinta Jonas.
"Ada sih, rooftop. Mau?" tawar Rin. Jonas mengangguk.
"Eeh ambilin cookies punya gue! Gue makan diatas aja, sekalian minumnya," Jonas berkata sambil tersenyum. Rin berbalik mengambil pesanan Jonas.
Keduanya berjalan ke rooftop, Rin meraih kursi plastik dan memberikannya ke Jonas. Mereka duduk bersebelahan.
"Enak juga yang ini, baru ya?" tanya Jonas. Rin mengangguk.
"Ara yang buat, gue bantu panggang aja," ucap Rin.
Hening sebentar, Jonas menatap langit lalu memakan cookiesnya lagi. Mencari kata-kata yang tepat.
"Kak, lo tau nggak kenapa bang Al nanyain cookies?"
"Karna cookies gue paling enak," jawab Rin.
"Lo sama begonya dengan bang Al!" Jonas kesel. Menutup toples cookiesnya, brak!. Lalu membuka minuman botol dan menenggaknya dalam tiga tegukan besar.
"Cookies itu alasan bang Al buat bisa ketemu elu. Dia kalo kangen bilangnya laper. Kalo cemburu dianya jadi rese banget! Sampe sini lo paham kan gimana bang Al?" tanya Jonas.
Rin menunduk tak mau terbuai harapan dari Jonas. Jarinya memainkan ujung knot depan kemejanya.
"Gue nggak mau terlalu berharap Nas. Kan lo tau banyak orang yang berharap Al dan Vivian balikan lagi. Dosen-dosen aja tadi bisik-bisik kalo mereka emang cocok. Gue siapa? Gue cuma panitia yang kebetulan ada di acara reuni mereka!" suara Rin pelan kebawa angin.
"Kak..." Jonas menghela napas, suaranya melunak. "Orang-orang mau liat bang Al dan Vivian balik lagi karena mereka cuma lihat di foto. Mereka nggak lihat gimana dulu bang Al jatuh terpuruk karena Vivian,"
Rin mendongak menatap Jonas yang serius.
"Maksud lo..."
"Dulu Vivian ninggalin bang Al disaat bang Al jatuh terpuruk. Band kami belum jadi apa-apa dan masih merintis. Dan Vivian udah jauh diatas kami. Dia lebih terkenal. Dan itu semua dengan mengandalkan kelemahan bang Al,"
"Gue nggak ngerti..."
"Lo tau kenapa bang Al nggak mau ke rumah sakit? Dulu band kami merintis dari bawah. Bang Al yang fokus nyelesein lagu-lagunya sampai asam lambungnya akut parah dan dirawat di rumah sakit. Dan lo tau apa yang dilakuin Vivian? Di rumah sakit bukannya nenangin bang Al, dia malah videoin bang Al yang lagi sekarat. Dia up di sosmed. Dan bang Al dapat hujatan, karena dikira bang Al dikira pengguna narkoba. Sampai-sampai band kami dihujat semua orang. Bahkan Vivian nggak ada klarifikasi apapun soal itu!"
Rin masih mendengarkan. Kaget dengan kenyataan bahwa Vivian seperti itu.
"Dan puncaknya, waktu band kami tampil dengan keadaan bang Al yang masih sakit. Di saat itu band kami gagal. Gue mikirnya band kami tamat saat itu. Tapi bang Al pertahanin kami semua. Momen yang nggak akan gue lupa. Dan sayangnya Vivian datang, bilang putus. Hanya karena band kami kalah dalam pertandingan ditambah bang Al yang sakit-sakitan. Bang Al mohon-mohon untuk nggak ninggalin dia. Tapi Vivian pergi gitu aja. Kalo lo jadi abang Al gimana? " tanya Jonas.
Rin menatap lapangan di bawah sana yang penuh dengan mahasiswa.
"Apa iya dia begitu?"
"Terserah elo kak mau percaya atau nggak. Gue kebawah dulu. Udah waktunya istirahat! Jangan kasih tau kalau gue ceritain ini semua. Ini kita berdua aja," ucap Jonas. Rin mengangguk dan ikut turun bersama Jonas.
Saat sampai di bawah, Al berdiri menunggu Rin dan Jonas turun.
"Bang... Kok lo tau kita di sini?" tanya Jonas.
"Semenit lagi kalo kalian nggak turun, gue susul! Ayo!" Al menarik tangan Rin ke belakang panggung. Ruangan T&T.
"Ngapain ke atas dengan Jonas?" Al menginterogasi.
"Nyari angin," jawab Rin.
"ikut ke kantor ya..." pinta Al. Rin tersenyum.
"Nggak bisa Al, gue panitia disini. Lo istirahat aja di kantor ya. Nanti malam lo mau tampil, gimana kaki lo?" tanya Rin.
"Nggak begitu sakit, berkat elo," ucap Al lembut.
"Basi lo bang!" Jonas tiba-tiba masuk. Al hanya menatap Jonas dengan pandangan dingin.
"Aku pulang dulu, nanti malam aku mau ngomong penting. Berdua!" bisik Al di telinga Rin.
"Waaah progress jauh!"
"Bang, lo bilang apa sampe muka kak Rin merah?"
"cepet bang! Sebelum kak Rin digandeng orang!"
"Brisik! Pulang!" ucap Al saat Jonas dan Arza melihat bagaimana interaksi Al yang lembut ke Rin.
Rin melihat Al berjalan keluar dengan kedua telinga memerah.
"Inget pesen gue! Bang Al itu gengsian. Nggak ada salahnya lo mancing dikit-dikit!" bisik Jonas.
"Apaan sih!" Rin menunduk dengan wajah kembali memerah.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok