NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Jam pelajaran pun berlangsung dengan tenang, selama itu pula Elara hanya diam di tempatnya.

Mata hijau itu tertuju ke depan memperhatikan setiap penjelasan Bu Ratih, tanpa sekalipun mengangkat tangan untuk menjawab atau bertanya.

Sebagian siswa yang sejak tadi masih memperhatikannya mulai meremehkan gadis itu.

Mereka mengira Elara tidak memahami pelajaran yang sedang dijelaskan. Apalagi setelah perkenalannya yang terasa aneh dan menunjukkan dari mana asalnya.

Bisik-bisik mulai kembali terdengar. Pembicaraan yang sebelumnya memuji akan kecantikannya kini perlahan berganti meremehkan.

Elara mendengarnya, namun ia memilih untuk mengabaikan.

Tak lama kemudian, Bu Ratih menuliskan sebuah soal di papan tulis. Soal yang singkat, namun membuat semua siswa yakin jika jawaban soal itu akan menghabiskan setengah dari papan tulis.

“Siapa yang mau mencoba mengerjakan?”

Suasana kelas mendadak hening, hampir semua siswa menunduk menghindari tatapan guru.

Bu Ratih tersenyum tipis. Dari banyaknya siswa di kelas yang menundukkan kepala, hanya satu siswa yang masih dengan tegak menatapnya. Pandangnya langsung tertuju pada gadis bermata hijau itu.

“Kalau begitu… Elara.”

Satu kelas yang semula menunduk seketika mendongak. Puluhan mata langsung tertuju Elara.

“Iya, Bu?”

“Coba kerjakan soal ini!”

“Baik.”

Tanpa ragu, Elara berdiri dari kursinya lalu berjalan ke depan. Namun, tanpa mereka ketahui mata hijau itu sempat menyala terang di sela-sela langkah Elara.

Teman sekelasnya mulai kembali berbisik membicarakannya. Tatapan meremehkan, dan senyum mengejek, mereka yakin Elara pasti akan kesulitan menjawab.

Dan bisikan itu perlahan menghilang saat Elara mulai menulis di papan tanpa kesulitan.

Semakin lama Elara menulis, semakin hening suasana kelas. Mata mereka semua fokus pada jawaban yang baru saja di tulis dengan mata melebar.

"Dia pasti mengarang, kan?"

"Aku yakin begitu."

Setelah Elara selesai, Bu Ratih memperhatikan papan tulis itu, lalu tersenyum.

“Benar.”

Mereka semua langsung terkejut tak percaya. Beberapa siswa yang sebelumnya meremehkan kini diam membisu, merasa malu dengan dirinya sendiri.

Sedangkan Elara hanya mengembalikan spidol dan kembali ke tempat duduknya. Tak ada ekspresi bangga ataupun senang. Seolah menjawab soal itu adalah hal yang biasa.

Bu Ratih kembali melanjutkan pelajaran. Kali ini tidak ada lagi yang diam-diam melirik Elara dengan sinis. Ternyata gadis yang mereka kira hanya mengandalkan wajah cantiknya itu tidak sesederhana yang mereka pikirkan.

Bel istirahat akhirnya berbunyi. Suasana sekolah yang sebelumnya tenang seketika berubah ramai. Para siswa berbondong-bondong keluar kelas menuju kantin atau melakukan kegiatan lain.

Sedangkan Elara masih duduk di tempatnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Jadi, yang dilakukan hanyalah memperhatikan teman-teman sekelasnya yang mulai meninggalkan kelas, mengobrol, tertawa dan berjalan berkelompok.

“Ternyata kita memang harus menjemputnya.”

Suara yang terdengar familiar itu membuat Elara menoleh.

Lionel berdiri di depan pintu kelas sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Dan di sampingnya, Leonard hanya menghela nafas pelan.

Melihat saudara kembar itu, Elara segera berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat dengan tenang.

“Aku tidak tersesat, Lio," ucapnya begitu tiba di depan Lionel dan Leonard.

“Memang tidak. Tapi kamu terlihat seperti anak bebek yang kehilangan induknya."

“Kamu tidak berkenalan dengan teman sekelasmu?” tanya Leonard.

“Apa itu harus?”

“Tentu saja. Kamu harus punya setidaknya satu teman, Elara." sahut Lionel.

Elara tampak berpikir sejenak. “Teman?... Untuk apa?”

“Untuk apa?” Lionel langsung menatapnya tidak percaya.

“Iya. Untuk apa?”

“Karena manusia tidak hidup sendirian,” jawab Leonard dengan tenang.

“Tapi aku sudah biasa sendirian.”

“Dulu mungkin iya. Sekarang tidak.” Leonard menatapnya sekilas. “Belajarlah berinteraksi dengan orang lain supaya kehidupan kamu tidak monoton.”

Elara terdiam. Entah kenapa kalimat itu membuatnya memikirkan sesuatu. “Tapi aku sudah punya kalian.”

Lionel akhirnya mengalah dengan menghela nafasnya. “Sudahlah, ayo ke kantin saja. Aku lapar.”

“Bukannya kamu baru makan?”

“Astaga Elara. Itu sudah lama, sarapan itu tadi pagi sekarang sudah jam sepuluh. Jadi kita perlu mengisi perut lagi,”

“Baru tiga jam yang lalu.”

Lionel menoleh ke arah Leonard yang tengah berusaha menahan tawanya.

Mereka bertiga akhirnya berjalan menyusuri koridor menuju kantin.

Sepanjang perjalanan, Lionel terus mengeluh tentang makanan favoritnya yang mungkin akan habis jika mereka berjalan terlalu lambat.

Leonard hanya sesekali menanggapi.

Sedangkan Elara memilih diam.

Mata gadis itu memperhatikan suasana sekolah yang jauh lebih ramai dibanding pagi tadi. Banyak hal yang masih terasa asing menurutnya.

Namun, entah mengapa kehadiran Leonard dan Lionel membuat tempat itu tidak terlalu sulit untuk dipahami.

Tak lama kemudian, ketiganya menghilang di tikungan koridor. Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata sejak tadi memperhatikan semuanya.

Bianca berdiri tidak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Tatapannya mengikuti sosok Elara hingga benar-benar menghilang dari pandangan.

Ia tidak menyangka jika gadis itu bisa berbaur dengan keluarga Halvar secepat itu. Bahkan Leonard dan Lionel terlihat memperlakukannya seperti keluarga sungguhan.

Perlahan jemarinya menggenggam erat. Entah kenapa pemandangan itu membuatnya tidak nyaman.

Padahal Elara baru datang. Baru satu hari berada di sekolah itu. Tapi keberadaannya sudah berhasil menarik perhatian banyak orang.

Termasuk perhatian Leonard yang selama ini tidak pernah berhasil Bianca dapatkan.

“Elara…” gumamnya tertahan.

“Bi, aku dengar dari teman sekelasnya, gadis itu juga cukup pintar. Baru saja tadi dia dengan mudah menjawab pertanyaan di kelas, sedangkan Siska yang juara satu di kelas itu saja tidak berani menjawab,” ujar Gea yang merupakan teman dekatnya.

Bianca tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah terakhir ia melihat Elara.

“Aku mau bertemu dengan dia.”

Gea langsung menoleh. “Hah?”

Bianca tersenyum tipis. “Aku cuma penasaran. Sebenarnya seperti apa Elara itu.”

“Bianca, kamu gak akan berbuat macam-macam, kan? Ingat, dia adik Leonard.”

Bianca terkekeh pelan. “Tenang saja. Aku tidak bodoh untuk bertindak secara langsung.”

Gea masih terlihat ragu.

Sedangkan Bianca tengah tersenyum penuh akal, membayangkan tindakan apa yang akan ia lakukan untuk mempertahankan posisinya.

“Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat,” ujar Bianca, seolah berusaha meyakinkan Gea.

Gea menghela napas pelan. “Tapi kenapa harus Elara?”

“Karena semua orang sekarang membicarakannya.”

Bianca melirik ke arah Gea. “Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang membuat dia begitu menarik perhatian.”

“Jangan bilang kamu merasa tersaingi.”

Bianca terkekeh kecil. “Tentu saja tidak.”

Meski begitu, senyum di wajahnya perlahan berubah. Ada sedikit rasa tidak suka yang tidak bisa ia sembunyikan.

Sejak Elara datang, perhatian para siswa mulai beralih. Bahkan beberapa siswa yang biasanya selalu menghampirinya kini justru sibuk membicarakan Elara.

“Aku cuma ingin memastikan sesuatu,” ucap Bianca.

“Memastikan apa?”

“Nanti juga kamu akan tahu.”

Gea menghela napas pelan. “Aku tetap merasa ini bukan ide yang bagus.”

Bianca hanya terkekeh. Tatapannya kembali mengarah ke tempat Elara menghilang sebelumnya.

“Tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Setelah mengatakan itu, Bianca berbalik meninggalkan Gea yang masih berdiri dengan wajah penuh keraguan.

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!