NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 TEROR YANG MULAI MERAYAP

Setelah insiden Harumi yang histeris dan dialog penuh penyesalan antara Zaki dan Yuda di pelataran rumah sakit siang itu, waktu seolah berjalan tanpa kompromi.

Kesepakatan antara Zaki dan Yuda—untuk menanggalkan ego dan bekerja sama mencari jalan keluar dari kutukan ini—nyatanya bukanlah jaminan bahwa keadaan akan segera membaik.

.....

Seminggu telah berlalu sejak tragedi berdarah di atas panggung Candi Prambanan.

.....

Tujuh hari yang terasa seperti tujuh tahun bagi Yuda.

.....

Meskipun Haruma telah siuman dan secara fisik mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, suasana di sekitar mereka semakin pekat oleh kabut keputusasaan.

Harumi mengurung diri di kamarnya.

Sesuai dengan status bebas bersyaratnya, gadis itu hanya keluar rumah dua kali seminggu bersama Zaki untuk menjalani wajib lapor di markas kepolisian.

Ia menolak bertemu siapa pun, termasuk Yuda.

Trauma yang dirasakannya terlalu dalam; ia terlalu takut jika sewaktu-waktu entitas bergaun merah itu kembali mengambil alih kesadarannya dan melukai orang-orang yang ia cintai.

Bagi Yuda, hari-harinya berubah menjadi rentetan mimpi buruk yang menginvasi dunia nyata.

.....

Siang itu, matahari bersinar terik memanggang aspal kota Yogyakarta, namun hawa di dalam kamar kos Yuda terasa lembap dan pengap.

Ia baru saja kembali dari kampus setelah menyerahkan revisi tugas akhirnya dengan pikiran yang kosong. Langkahnya terseret saat ia masuk ke kamar mandi kosnya yang berukuran kecil.

Yuda meletakkan tangannya di tepi wastafel keramik yang mulai menguning. Ia menatap wajahnya di cermin. Kantung matanya menghitam pekat, pipinya tirus, dan rambutnya berantakan. Ia terlihat seperti orang asing bagi dirinya sendiri.

Ia memutar keran air.

Syuuur...

Air dingin mengalir jernih.

Yuda menangkupkan kedua tangannya, menampung air, lalu membasuhnya ke wajah. Sensasi dingin itu sedikit menyegarkan pikirannya yang penat. Ia meraup air untuk kedua kalinya, mengusapkannya ke rambut dan tengkuknya.

Namun, saat ia menunduk untuk membasuh wajahnya yang ketiga kali, indra penciumannya mendadak diserang oleh aroma yang sangat familiar dan memuakkan.

Bau anyir besi tua yang bercampur dengan karat.

Yuda membuka matanya.

Apa yang ia lihat di wastafel membuatnya tersentak mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar mandi.

Air jernih yang tadi mengalir dari keran itu telah berubah warna menjadi merah pekat. Kental dan berbau anyir.

Genangan air di wastafel berubah menjadi kubangan darah segar yang terus meluap.

Bukan hanya itu, saat Yuda menunduk menatap tangannya, telapak tangannya tertutup oleh noda darah yang sama pekatnya.

"Astaga!" umpat Yuda, napasnya memburu.

Ia menggosokkan tangannya dengan kasar, namun noda merah itu menolak untuk hilang. Darah itu seakan meresap dari dalam pori-porinya sendiri, membawanya kembali ke memori mengerikan saat ia menekan perut Haruma yang robek malam itu.

Suara monitor jantung yang menjerit panjang kembali bergaung di telinganya.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT

"Ini halusinasi! Ini cuma halusinasi!" Yuda memejamkan mata rapat-rapat, memukul-mukul kepalanya sendiri untuk mengusir kengerian itu.

Ia menarik napas dalam-dalam, mensugesti dirinya sendiri berulang kali bahwa ia berada di kamar kosnya yang aman.

Dengan dada yang masih naik-turun dengan cepat, Yuda memberanikan diri membuka mata.

Ia menatap wastafel. Air yang mengalir dari keran kembali jernih. Genangan darah itu lenyap. Tangannya bersih tanpa noda kemerahan sedikit pun. Bau anyir darah itu juga menguap, digantikan oleh aroma sabun cuci tangan murahan.

Yuda merosot jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin. Ia memeluk lututnya, mengusap wajahnya yang basah oleh air dan keringat dingin. Ini bukan pertama kalinya ia mengalami halusinasi semacam ini.

Dalam tiga hari terakhir, teror visual itu terus menghantuinya. Ia melihat darah di gagang pintu, ia mencium bau kemenyan saat sedang makan di kantin, dan setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat sosok Harumi yang tersenyum menyeringai dengan pisau pusaka di tangannya.

"Gue bisa gila... kalau terus-terusan begini, gue bisa gila," bisik Yuda putus asa. Entitas dari Prambanan itu tidak hanya mengincar keluarga sang "Tulang Wangi".

Iblis itu dengan sengaja menyiksa mental Yuda, perlahan-lahan mengikis kewarasannya karena telah berani mencampuri urusannya.

.....

Di belahan kampus yang berbeda, kondisi Dion tak jauh lebih baik.

Sebagai sutradara Teater Arya Sena, rasa bersalah karena telah memilih lakon Roro Jonggrang dan memaksakan ikut lomba pementasan di pelataran Candi Prambanan menggerogoti jiwanya.

Ia tidak bisa berkonsentrasi pada kuliahnya.

Dan juga, seluruh kegiatan teater dibekukan tanpa batas waktu oleh pihak rektorat pasca insiden penusukan yang menggemparkan itu.

Menjelang sore hari, Dion sedang duduk sendirian di dalam ruang sekretariat Teater Arya Sena. Ruangan yang biasanya riuh oleh canda tawa mahasiswa itu kini kosong melompong. Hanya ada suara derau AC tua dan tumpukan naskah yang berantakan di atas meja.

Dion sedang berusaha membereskan beberapa dokumen administrasi teater untuk diserahkan ke pihak kampus. Ia memilah-milah kertas laporan dengan tatapan kosong.

Pikirannya melayang pada obrolan terakhirnya dengan Yuda soal hilangnya arsip tahun 1992 di perpustakaan. Misteri itu belum juga terpecahkan.

Tiba-tiba...

KREEEEK

Suara derit lantai kayu yang terinjak memecah kesunyian ruangan.

Dion menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh perlahan ke arah pintu masuk sekretariat. Pintu itu sedikit terbuka, namun tidak ada siapa-siapa di sana.

"Fahri? Lo di luar?" panggil Dion dengan suara yang sedikit bergetar.

Tidak ada jawaban.

Dion menelan ludah. Hawa dingin tiba-tiba berembus dari arah pintu, membawa serta aroma melati yang sudah membusuk.

Sring... Sring...

Suara gemerincing logam yang beradu terdengar samar dari arah ruang ganti properti yang berada di bagian belakang sekretariat. Ruangan itu gelap karena lampunya sengaja dimatikan untuk menghemat listrik.

Dion bangkit dari kursinya. Ia meraih sebuah cutter dari atas meja sebagai senjata pertahanan diri. Meskipun logikanya mengatakan bahwa cutter tak akan berguna melawan hantu, insting manusianya menolak untuk maju dengan tangan kosong.

"Siapa di sana?!" seru Dion, melangkah mendekati ruang ganti dengan hati-hati.

Ia berdiri di ambang pintu ruang ganti yang gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya dari luar yang menembus masuk, menciptakan bayangan-bayangan panjang dari rak-rak besi tempat penyimpanan kostum.

Mata Dion memicing, mencoba menyesuaikan diri dengan kegelapan.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Di antara deretan kostum prajurit keraton yang tergantung, berdirilah sebuah siluet hitam yang sangat pekat. Siluet itu menyerupai seorang wanita tinggi dengan rambut panjang yang awut-awutan.

Sosok itu berdiri membelakangi Dion, mengenakan selendang merah yang ujungnya melayang-layang meskipun tidak ada embusan angin di ruangan itu.

"S-siapa kau..." Dion mundur satu langkah, tangannya yang memegang cutter gemetar hebat.

Siluet itu tidak menjawab.

Perlahan, kepalanya berputar ke belakang hingga menatap lurus ke arah Dion.

KREK... KREK...

Bunyi patahan tulang leher bergema mengerikan.

Wajah sosok itu tertutup rambut, namun dari sela-selanya, Dion bisa melihat sepasang bola mata putih yang tidak memiliki pupil sama sekali. Wajah itu tersenyum menyeringai, memamerkan deretan gigi yang menghitam dan berlumuran darah kental.

"Bukan hanya mereka..." Suara bisikan serak itu bergema di telinga Dion, terdengar seperti suara puluhan orang yang berbisik bersamaan. "Kau yang membuka naskah itu... Kau yang memanggil kami... Kau juga harus membayar..."

Dion berteriak tertahan.

Ia memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga keluar dari ruang ganti, meninggalkan cutter-nya yang terjatuh ke lantai.

Ia menabrak meja, menyenggol kursi hingga terjatuh, dan menghambur keluar dari ruang sekretariat tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Ia berlari menyusuri lorong kampus yang mulai sepi di sore hari, terus berlari hingga ia mencapai area parkiran motor dengan napas terengah-engah dan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.

Di area parkiran, ia melihat Yuda yang sedang duduk di atas jok motornya, menatap kosong ke arah langit sore. Yuda baru saja tiba dari tempat kosnya setelah mengalami halusinasi darah di wastafel.

Dion menghampiri Yuda dengan napas memburu. "Yud! Yud!"

Yuda menoleh, matanya masih menyiratkan kelelahan yang luar biasa. "Yon? Lo kenapa? Muka lo pucat banget."

"Gue lihat bayangan itu lagi, Yud," bisik Dion dengan suara bergetar, mencengkeram lengan Yuda. "Di ruang ganti teater. Sosok perempuan itu... dia ngomong ke gue. Dia bilang gue juga harus bayar karena udah ngebuka naskah itu. Gue mulai gila, Yud! Halusinasi ini makin parah!"

Mendengar itu, rahang Yuda mengeras. Ia sadar, teror ini tidak akan berhenti dengan sendirinya. Ia dan Dion tidak bisa terus-terusan menjadi bulan-bulanan entitas iblis itu.

Jika mereka terus diam, halusinasi ini perlahan-lahan akan menghancurkan pikiran mereka, membuat mereka gila, atau lebih buruk lagi, membuat mereka mencelakai diri mereka sendiri.

"Kita nggak gila, Yon. Ini bukan cuma halusinasi. Iblis itu sengaja neror kita buat ngeruntuhin mental kita," desis Yuda, menepis tangan Dion dan berdiri dengan sorot mata yang menyala oleh kemarahan. "Kalau catatan tahun 1992 sengaja dihilangkan, kita nggak butuh kertas. Kita butuh orang yang hidup di zaman itu."

"Maksud lo?" Dion mengerutkan kening.

"Kita cari juru kunci atau sesepuh asli dari sekitar Prambanan. Seseorang yang tahu persis tentang kekuatan apa yang mengikat Candi itu, dan kenapa kutukan itu kembali bangkit!" ucap Yuda mantap. Keputusasaan di matanya telah berganti menjadi tekad membara.

"Bapak kos lo kan orang Klaten asli, Yon. Lo pernah cerita kalau dia suka bahas hal-hal mistis tentang candi. Kita temuin dia sekarang. Kita harus cari informasi soal orang pintar yang bisa bantu kita mutusin kutukan ini, sebelum makhluk itu bener-bener ngebunuh Haruma dan ngebawa jiwa Harumi selamanya!"

Dion mengangguk cepat.

Rasa takutnya sedikit mereda digantikan oleh harapan baru.

Kedua pemuda itu segera menyalakan motor mereka, melesat membelah jalanan kota Yogyakarta menjelang magrib, meninggalkan bayang-bayang kegelapan yang terus mengintai dari balik bangunan kampus tua itu.

Perburuan mereka mencari penawar kutukan, baru saja menapaki babak yang baru.

1
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!