Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang Yang Mempunyai Kesadaran
“Pedang itu punya kesadaran?” Kato terdiam kaku seperti tak percaya perkataan Akira.
“Hehehe! Bagaimana kau tau?”
Suara dari pedang terdengar namun Akira tidak menyadarinya bahwa yang bisa mendengarnya hanya dia, sedangkan yang lain tidak, membuat mereka yang melihat Akira kebingungan.
“Itu tidak penting, tadi, kau berniat menghabisi Lumina ya?!” Akira dengan tatapan tajam menatap pedang di tangannya.
Lumina yang berada di sebelah Akira terdiam kaku mendengar perkataan Akira.
“Apa... maksudnya?”
“Tanpa seizinmu, Pedang ini menyerap daya hidup yang kamu punya karena kamu hanya punya sedikit mana,” jawab Akira yang masih menatap ke arah pedang ditangannya.
“Baru pertama kali aku merasakan hal lain selain mana, rasanya... aku mau menyerapnya lagi.”
“Padahal aku harus tenang… tapi, saat dia bilang begitu—”
GREP!
Akira memiringkan pedang yang dipegangnya dan memegang gagang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang bilah pedang yang tajam.
Yang lain hanya menatap ke arah Akira dengan bingung, karena mereka tidak tau apa yang sedang Akira coba lakukan.
“Hmm? Kau mau apa— Aghh!! apa yang kau lakukan?!”
Akira mencoba mematahkan pedang itu hanya dengan kedua tangannya, yang mengakibatkan tangan kirinya yang sedang memegang bilah pedang terluka hingga darah terus mengalir.
“Kakak?! Apa yang kakak lakukan?!”
“Akira!”
Dengan panik Nako dan Lumina yang sedang disebelah Akira mencoba untuk menghentikan Akira, namun dipikirannya saat ini ia tidak memikirkan apapun kecuali menghancurkan pedang ditangannya, selain itu, tatapannya benar benar kosong seolah bukan dirinya yang biasanya.
“Kau!! Percuma saja!! Kau kira aku pedang lemah!!”
TRAK!
“Hah?!”
Pedang itu sedikit menunjukan retakan ketika di tekuk terus menerus oleh Akira, bersamaan dengan terus keluarnya darah dari tangan Akira.
“Be-berhenti tu-tunggu dulu!”
TRAK!
“Ba-baik lah aku minta maaf!! Aku akan jadi pedang mu!! atau apapun itu!!”
[Skill Mental Stability:Aktif]
“Hah?” Akira melihat tangan kirinya yang memegang bilah pedang mengeluarkan banyak darah yang terus mengalir.
“Apa yang kulakukan?”
Akira pun melepaskan bilah pedang dan melihat sekitarnya.
“Kakak! jangan bikin panik, apa yang kakak lakukan?!” ucap Nako sambil memegang tangan kanan Akira.
“Ta-tangan mu berdarah banyak.” Lumina memegang tangan Kiri Akira yang penuh darah.
“Ohh, tenang saja, biar kusembuhkan sendiri.”
[Skill Heal:Aktif]
Perlahan goresan luka besar di tangan Akira menutup menyisakan bekas darahnya.
“Nako apa kau bisa memunculkan sesuatu untuk mengelap darah Akira?”
“Ah iya, bisa.” Sebuah handuk muncul di udara dan jatuh di tangan Lumina,
Dengan cepat Lumina mengelap Semua darah yang ada di tangan Akira.
“Terimakasih.” ucap Akira.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau mengagetkanku.” ucap Kato.
“Anda sampai sedikit meretakkan pedang itu, sebenarnya, apa maksud pedang ini punya kesadaran? tanya Amamiya.
“Benar, apa yang kamu lakukan?” tanya Lumina.
Akira yang kebingungan dengan tingkah laku yang lain, membuatnya bertanya,
“Apa kalian tidak mendengar pedang ini berbicara?”
Amamiya dan Kato saling menatap seolah bingung dengan apa yang dikatakan Akira, begitu juga Nako dan Lumina.
“Tidak, kami tidak dengar apapun,” jawab Kato sambil menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja mereka tidak bisa dengar, karena aku tidak mengizinkannya.” Pedang di tangan Akira kembali berbicara membuat perhatian Akira terfokus padanya.
“Hi!!! Jangan retakan aku lagi, aku kan sudah minta maaf.”
“Iya, tapi bagaimana aku bisa mendengar suaramu?”
“Mana kutahu.”
Ding...
[Karena Hak keuntungan dari Otoritas Raja Pahlawan, anda dapat mendengarnya, sosok pedang yang mempunyai sebuah Otoritas]
[Pedang itu memiliki otoritas Raja Pedang, hanya saja kekuatannya masih tersegel]
“Pedang ini? Raja?” Akira teringat akan sesuatu ketika mendengar kata Raja.
“Raja Pahlawan, Raja Iblis, Raja Sihir, Raja Pedang, sebenarnya, apa maksud semua ini…”
Ding...
[Mencoba menjawab…]
[Gagal!]
[Mencoba Ulang…]
[Dunia ini ##### #### #### #### ##### anda #### ##### #### #### Raja #### ##### #### Waktu #### #### ####]
"A-apa ini?!"
[Anda mendapatkan pesan dari #####]
[Pesan:Belum waktunya kau tau, jika waktunya sudah tiba, kau harus bersiap]
Akira menelan ludah dan sedikit berkeringat menatap sistem dihadapannya.
“Apa maksudnya? Bersiap? Siapa sebenarnya #####?”
“Kakak?” ucap Nako yang suaranya terdengar khawatir dan masih memegang tangan Akira sambil menatap matanya.
Akira yang sedang terjun kedalam pikirannya kembali sadar setelah mendengar Nako, dia menatap Nako dan berkata,
“Ah maaf, aku hanya lagi kepikiran sesuatu, lalu—” Akira yang sebelumnya menatap ke arah Nako, melihat ke arah Kato dan Amamiya yang ada dihadapannya.
“Aku akan menerima pedang ini, terimakasih banyak.”
“Tidak masalah, tapi jika kau kurang puas bilang saja,” ucap Kato.
“Ya, tentu.”
“Satu hal terakhir, mengenai surat izin masuk Dungeon yang sebelumnya kau minta untuk anak-anak, aku ingin kau bantu mengurusnya besok, apa bisa?”
“Ya, tidak masalah.”
“Kalau begitu kami berdua pamit dulu, terimakasih atas waktunya.” Kato dan Amamiya segera berdiri dari sofa dan pergi keluar.
“Hei Kakak, Maksud pedangnya berbicara gimana?” tanya Nako.
“Seperti yang kubilang.”
“Memangnya pedang itu bicara apa sampai Kakak terlihat marah?”
“Ya…” Akira menatap pedang di tangannya dengan datar.
Pedang yang dipegang Akira seolah berkeringat karena ditatap Akira.
“Bukan apa-apa, tapi gara-gara aku, sepertinya pedang ini jadi retak.”
“Itu bukan masalah asal aku bisa menyerap mana,” ucap Pedang ditangannya.
Mendengar perkataan pedang itu, Akira berpikir sejenak lalu berkata,
“Kalau begitu, seraplah manaku.”
“Gak bisa.”
“Kenapa?”
“Kau tadi meretakkan ku dengan melapisi mana mu pada tangan, aku mencoba menyerapnya tapi gak bisa.”
Ding...
[Benar yang dikatakan pedang tersebut, Karena bagi yang memiliki otoritas Raja, memiliki mana yang berbeda, sehingga saling menolak]
“Daya hidup juga boleh kok—”
Akira menatap tajam pedang itu begitu mendengar pedang itu ingin menyerap daya hidup Lumina lagi.
“Bu-bukan begitu maksudku, cukup menyerap sedikit tidak akan berpengaruh apapun padanya, lagipula dia punya daya hidup yang besar.”
Mendegar hal itu Akira masih Ragu, lalu ia menatap ke arah Nako.
Nako yang ditatap hanya bisa memiringkan kepalanya sambil matanya berkedip-kedip.
“Nako, apa kau bisa menyalurkan mana ke pedang ini?”
“Aku? Ya bisa aja sih.”
Akira menatap tajam kembali pedang ditangannya untuk memberinya peringatan sebelum diberi ke Nako.
"A-aku tau kok."
Grep!
“Ohh ringan juga pedang ini, cukup diberi mana kan?” ucap Nako sambil mengayunkan pedangnya.
“Iya, sedikit saja.”
“Baiklah!” Nako memegang pedang itu dengan kedua tangannya, dengan bilah pedang yang mengarah kedepan sedikit ke atas.
FWOSSSHHHH!!
“Eh?”
Cahaya besar keluar dari pedang itu, namun sedikit berbeda dari sebelumnya yang tajam dan rapi, sekarang lebih ke destruktif hingga menghancurkan tembok jauh di depan.
“Lepaskan!” teriak Akira.
“Ah iya.” Nako melepaskan pedang itu dan jatuh di atas meja.
Akira mengambil pedang itu dengan satu tangannya yang memegang erat dan berbicara dengan nada yang berat.
“Apa kau lupa janjimu?” Akira tersenyum tipis dengan mata yang menyipit.
“Hii!!! A-aku tidak melakukan apapun! serius! Anak itu yang ngasih terlalu banyak mana.”
Akira menatap Nako dan berbicara padanya untuk mengonfirmasi hal itu.
“Nako, apa kau benar memberinya sedikit mana?”
“Bener kok, aku memberinya sediki—” Nako tiba tiba berhenti berbicara karena teringat akan sesuatu.
“Kenapa?”
Tatapannya tiba-tiba menghindar sambil menggaruk kepalanya.
“Sepertinya aku sekalian pakai skill ku tadi.”
“Hah?”
“Hehe, aku lupa.” Nako tersenyum dan melihat ke arah Akira.
"Hah... bikin panik saja. Kalau gitu, karena senjatanya sudah bener, apa kau mau mencobanya ulang Lumina?"
"Boleh, jika kamu mengizinkan," jawab Lumina.
"Santai saja, lagian yang menggunakan pedang disini hanya kamu, dan Nako, tolong bereskan kerusakan yang terjadi."
"Baik!"
Setelah Nako membereskan kerusakan di rumah dengan Skillnya, mereka bertiga langsung menuju ke halaman belakang Rumah.
"Apa kau bisa mendengarku?" ucap pedang yang sedang dipegang Lumina.
"Seperti yang dikatakan Akira, ini ada suaranya."
"Lah kok aku gak ada?" tanya Nako.
"Mungkin gak sempat." jawab Akira.
"Maaf aku sebelumnya menyerap tanpa izin, tapi sekarang cobalah sendiri dengan menambahkan daya hidupmu."
"Baiklah akan kucoba."
[Skill Life Energy:Aktif]
SWOOSH!
Pedang yang dipegang Lumina bersinar terang, bilah pedangnya terlihat seperti dilapisi sebuah cahaya.
"Berhasil, oh iya Akira, aku mau mencoba menebas ke arah hutan apa boleh?"
"Tentu."
Mendengar jawaban dari Akira, Lumina segera mengangkat pedangnya ke atas.
SWOOSSHHH!
Cahaya dari pedang tersebut memanjang tinggi tipis namun tajam hingga hampir menyentuh awan.
"Woahh~" Nako menatap ke atas melihat cahaya yang dipancarkan pedang itu.
"Firasatku gak enak..."
WOOSSHHH!
KRAKK!
Angin bertiup kencang saat pedang itu diayunkan dan menghancurkan tanah hingga membentuk seperti jurang di jalur tebasannya yang tidak terlihat ujungnya.
"Bukannya ini... perusakan lingkungan ya." pikir Akira.
"Dengan ini, aku pasti bisa menebasnya," pikir Lumina sambil melihat bekas tebasannya.