NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Belajar Melupakan

Tiga hari telah berlalu sejak pesta ulang tahun Ravian.

Tiga hari sejak Naira mengetahui bahwa pria yang selama bertahun-tahun memenuhi hatinya ternyata telah memilih perempuan lain.

Dan selama tiga hari itu pula, Naira melakukan satu hal yang paling sulit dalam hidupnya, berpura-pura baik-baik saja.

"Naira, sarapannya sudah siap!" Suara ibunya terdengar dari lantai bawah.

"Iya, Bu!" Naira menjawab sambil masih menatap layar laptop di depannya.

Di atas meja berserakan kertas gambar, pensil warna, penghapus, dan beberapa potongan kain. Sudah hampir dua jam ia duduk di sana.

Sejak pagi, Naira memutuskan untuk tidak memikirkan Ravian.

Ia akan mengurus hidupnya sendiri.

Ia akan mengejar impiannya.

Dan yang paling penting, ia tidak akan menangis hanya karena seorang laki-laki.

Naira menatap gambar gaun yang baru saja selesai dibuatnya. Sebuah gaun panjang dengan potongan sederhana, namun elegan. Ia tersenyum kecil.

"Ini lebih penting," ucapnya kepada dirinya sendiri. "Karierku lebih penting."

Ia kembali menatap gambar tersebut. Sejak kecil, dunia fashion selalu membuatnya jatuh cinta.

Ia suka memperhatikan bagaimana selembar kain bisa berubah menjadi sesuatu yang begitu indah.

Ia suka menggambar bentuk pakaian bahkan ketika teman-teman sebayanya sibuk bermain.

Ravian adalah orang yang selalu mendukung impiannya. Dulu.

Naira menggeleng cepat. Tidak. Ia tidak boleh memikirkan Ravian lagi. Ia menutup laptop lalu berdiri.

"Mulai hari ini, aku benar-benar akan melupakannya." Naira mengangkat tangan seperti sedang membuat sumpah.

"Tidak ada Ravian." Ia mengangkat satu jari. "Tidak ada menangis." Jari kedua ikut terangkat.

"Dan tidak mengintip media sosial lagi." Jari ketiga terangkat.

Naira mengangguk mantap. "Bagus."

Ia mengambil ponselnya. Layar menyala. Satu notifikasi muncul.

Instagram.

Naira menatapnya selama beberapa detik. Tangannya bergerak membuka aplikasi, lalu ia langsung menutupnya kembali.

"Tidak!" Ia meletakkan ponsel di meja sambil menggelengkan kepala. "Astaga, baru tiga hari sudah hampir gagal."

Naira menghela napas panjang. Lalu terdengar suara ibunya lagi.

"Naira! Kalau kamu tidak turun sekarang, sarapanmu Ibu habiskan!"

Naira langsung berlari keluar kamar. "Jangan dihabiskan, Bu.."

*************

Setelah sarapan, Naira bersiap pergi. Hari ini ia memiliki janji dengan seorang pemilik butik kecil di pusat kota. Ia ingin menunjukkan beberapa desain yang sudah dibuatnya.

Bukan pekerjaan besar. Bahkan mungkin hanya pekerjaan sambilan. Namun bagi Naira, kesempatan sekecil apa pun tetap berharga.

Ia keluar dari rumah sambil membawa map besar berisi sketsa. Di depan pagar, ia menghentikan sebuah taksi.

"Ke Jalan Arjuna ya, Pak."

Sopir taksi mengangguk. Naira duduk di kursi belakang dan memandang keluar jendela. Kota terlihat sibuk.

Orang-orang berjalan terburu-buru. Kendaraan memenuhi jalan. Naira menarik napas panjang. Hari baru. Kehidupan baru.

Ia membuka map dan memeriksa sketsanya sekali lagi. "Semoga berhasil."

Butik tempat Naira melamar pekerjaan ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Bangunannya tiga lantai dengan kaca besar di bagian depan. Beberapa manekin berdiri di balik jendela, mengenakan gaun-gaun cantik. Naira berdiri di depan pintu sambil menatap kagum.

"Suatu hari nanti aku akan punya tempat seperti ini," gumamnya sambil tersenyum, lalu melangkah masuk.

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun menyambutnya. "Kamu Naira?"

"Iya, Bu."

"Saya Dinda." Mereka berjabat tangan. "Silakan duduk, Naira."

Naira membuka map dan mengeluarkan beberapa desain. Dinda memperhatikan satu per satu. Awalnya ekspresinya biasa saja, namun semakin lama, matanya semakin tertarik.

"Kamu belajar desain secara formal?"

"Saya kuliah desain fashion, Bu."

"Sudah pernah bekerja?"

"Belum. Tapi saya pernah menerima pesanan desain dari beberapa teman."

Dinda kembali melihat sketsa di tangannya. "Kamu punya bakat, Naira."

Mata Naira langsung berbinar. "Benarkah bu?"

"Benar. Tapi bakat saja tidak cukup Naira."

Naira mengangguk. "Iya bu. Saya tahu."

"Kamu harus mau belajar dari bawah."

"Saya mau, bu."

"Termasuk membersihkan meja kerja, mengatur kain, membuat pola, dan pekerjaan kecil lainnya?" tanya bu Dinda.

Naira tersenyum. "Saya tidak masalah, bu."

Dinda tersenyum tipis. "Baik. Datanglah Senin depan."

Naira terdiam beberapa detik. "Berarti saya diterima, bu?"

"Untuk masa percobaan."

Naira langsung berdiri. "Terima kasih, Bu!"

Dinda tertawa. "Kamu bahkan tidak bertanya soal gaji."

Naira ikut tertawa. "Yang penting saya dapat pengalaman, bu."

"Semangatmu bagus."

Naira memasukkan kembali sketsanya ke dalam map. Sebelum pergi, ia sempat menatap deretan gaun yang terpajang di sana. Dadanya terasa hangat.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa benar-benar bahagia. Mungkin memang sudah waktunya ia berhenti mengejar sesuatu yang tidak bisa dimilikinya.

 Mungkin sudah waktunya mengejar sesuatu yang memang bisa ia perjuangkan. Mimpinya.

*************

Sementara itu, di sebuah gedung tinggi tidak jauh dari sana, seorang pria sedang duduk di belakang meja kerjanya.

Mikael Arsen.

Pria itu menatap layar komputer dengan wajah tanpa ekspresi. Di hadapannya ada beberapa dokumen proyek yang belum selesai diperiksa.

Ponselnya berdering. Mikael melirik layar. Nama yang muncul membuatnya menghela napas. Ravian. Ia mengangkat telepon.

"Ada apa Rav?"

"Jam makan siang bro."

Mikael melihat jam. "Terus?"

"Kita makanlah."

"Aku sibuk."

"Kamu selalu sibuk."

"Memang."

Ravian tertawa di seberang sana. "Kamu masih sama seperti dulu."

"Dan kamu juga sama, masih suka mengganggu."

Ravian tertawa.

"Sepuluh menit saja, Ok?"

Mikael diam. "Kalau aku tidak datang?"

"Aku yang datang ke kantor kamu."

Mikael langsung menutup mata dan menarik napas dalam dalam. "Baiklah."

"Bagus. Aku tunggu." ujar Ravian mantap.

Telepon berakhir. Mikael berdiri dari kursinya. Ia mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi. Sebelum keluar, ia menatap pantulan dirinya di kaca.

"Sepuluh menit," gumamnya. "Tidak akan lebih."

************

Sebuah restoran kecil di pusat kota menjadi tempat pertemuan mereka. Ravian sudah duduk ketika Mikael datang.

"Kamu terlambat." protes Ravian.

"Hanya empat menit." jawab Mikael datar.

"Empat menit tetap terlambat."

Mikael duduk di hadapannya. "Jadi?"

Ravian menyerahkan menu. "Makan dulu."

Mikael mengambilnya dengan malas. "Kamu yang mengajak."

"Iya. Jangan kuatir."

Mereka memesan makanan. Beberapa saat kemudian, Ravian mulai bercerita tentang proyek baru mereka.

Mikael mendengarkan sambil sesekali memberikan komentar. Sampai Ravian tiba-tiba berkata,

"Ngomong-ngomong, aku mau minta bantuanmu."

Mikael langsung menatapnya. "Kalau soal uang, jawabannya tidak."

Ravian tertawa. "Bukanlah."

"Kalau soal pekerjaan, aku pertimbangkan."

"Aku ingin kamu bertemu seseorang."

Mikael mengangkat alis. "Siapa?"

"Desainer muda."

Mikael meletakkan gelasnya. "Untuk apa?"

"Dia punya bakat. Aku pikir mungkin kita bisa memberinya kesempatan."

Mikael menghela napas. "Ravian, perusahaan kita bukan tempat amal."

"Aku tahu."

"Kalau memang berbakat, suruh dia kirim portofolio."

"Sudah."

Mikael menatap Ravian. "Dan?"

Ravian tersenyum. "Karyanya bagus."

Mikael mengambil gelasnya lagi. "Kalau begitu biarkan bagian HR yang mengurus."

"Aku ingin kamu melihatnya sendiri."

"Kenapa?"

Ravian diam sebentar. "Karena aku mengenalnya."

Mikael menatap sahabatnya. "Kamu mengenalnya?"

"Iya."

"Seberapa kenal?"

Ravian tersenyum kecil. "Sudah cukup lama."

Mikael menyipitkan mata. "Perempuan?"

Ravian tertawa. "Iya."

Mikael menggeleng. "Nah. Sekarang aku tahu kenapa kamu tiba-tiba peduli."

Ravian tertawa lebih keras. "Bukan begitu El."

"Terus bagaimana?"

"Dia hanya teman dekat saja."

Mikael tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Namun beberapa menit kemudian, ia menyadari satu hal, Ravian terlihat jauh lebih bahagia ketika membicarakan perempuan itu.

************

Sore harinya, Naira pulang dengan langkah ringan. Di tangannya ada sebuah amplop berisi surat penerimaan kerja.

Ia tidak bisa berhenti tersenyum. Begitu masuk rumah, ibunya langsung bertanya.

"Bagaimana Nai?"

Naira mengangkat amplop itu tinggi-tinggi. "Aku diterima, bu!"

Ibunya memeluknya. "Syukurlah Nai. Ibu ikut senang."

Naira tertawa. "Ibu tahu tidak? Aku akan mulai Senin depan."

"Bagus. Kamu memang harus mengejar cita-citamu."

Naira mengangguk. Ia menatap surat itu sekali lagi. Hari ini ia mendapatkan pekerjaan. Hari ini ia memilih dirinya sendiri.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ia mulai percaya bahwa hidupnya akan baik-baik saja tanpa Ravian.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!