NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karier Kelima: Sales

Senin pagi, layar holografik itu muncul lagi seperti biasa, tepat saat Reyhan baru selesai mandi dan bersiap menyeduh kopi instannya.

> [SISTEM KARIR MINGGUAN — MINGGU KE-5 DIMULAI.]

> [Karier Anda minggu ini: **SALES**]

> [Penempatan: PT Sinar Abadi Elektronik]

> [Misi: Capai target penjualan minimal Rp500.000.000 dalam 7 hari.]

> [Reward: Negotiation Skill Lv.3 + bonus sesuai performa]

Reyhan membaca angka itu berkali-kali, memastikan matanya tidak salah lihat. "Lima ratus juta? Sistem, ini serius? Minggu lalu aja target saya cuma sepuluh perbaikan motor, sekarang tiba-tiba lompat ke angka segini?"

> [Skala target disesuaikan dengan nilai transaksi rata-rata industri elektronik.]

"Tapi saya belum pernah jualan barang semahal itu sama sekali. Paling banter jualan nasi goreng."

> [Pengalaman sebelumnya dianggap relevan sebagai fondasi.]

Reyhan menghela napas panjang, sudah terbiasa dengan jawaban sistem yang selalu terdengar formal tapi tidak pernah benar-benar menjelaskan apa pun secara detail. Ia bersiap-siap dengan perasaan campur aduk antara gugup dan penasaran, mengenakan kemeja paling rapi yang dia punya di lemari kosnya.

---

Sesampainya di kantor PT Sinar Abadi Elektronik, sebuah gedung tiga lantai dengan lobi yang cukup megah untuk ukuran perusahaan elektronik menengah, Reyhan disambut seorang perempuan di meja resepsionis.

"Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?"

"Pagi, saya Reyhan. Katanya saya ditempatkan di sini mulai hari ini, bagian sales."

Perempuan itu memeriksa data di layar komputernya, sedikit mengernyitkan dahi. "Oh, Anda yang dari program magang darurat itu ya? Sebentar, saya panggilkan Pak Anton, manager sales di sini."

Tidak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan penampilan rapi dan aura tegas mendekat, menjabat tangan Reyhan dengan kuat.

"Anton, manager sales. Anda yang baru?"

"Iya, Pak. Reyhan."

"Pengalaman jualan sebelumnya?"

Reyhan berpikir sejenak, mencoba mencari jawaban yang tidak sepenuhnya bohong. "Pernah jualan makanan, Pak. Skala kecil."

Anton mengangkat alis, terlihat kurang terkesan. "Jualan makanan sama jualan elektronik kelas menengah ke atas itu beda jauh, Mas. Tapi ya udah, kita liat aja kemampuan Anda di lapangan."

---

Anton mengajak Reyhan berkeliling kantor, memperkenalkan produk-produk yang harus dia jual—mulai dari televisi layar besar, kulkas dua pintu, sampai sistem home theater dengan harga yang membuat Reyhan menelan ludah setiap kali mendengar angkanya disebutkan.

"Target Anda minggu ini lumayan tinggi buat orang baru, Mas. Biasanya sales baru dikasih waktu sebulan buat capai target segini," kata Anton, sambil menunjukkan katalog produk.

"Waktu saya cuma seminggu, Pak," jawab Reyhan, mencoba tidak terdengar terlalu panik.

"Seminggu? Wah, itu program magang macam apa sih sampe target segitu ketat. Ya udah, saya kasih Anda daftar klien potensial yang belum sempat kami follow up, coba dari situ dulu."

Seorang sales senior yang sedang duduk di meja sebelah, mendengar percakapan itu, ikut menimpali dengan nada meremehkan. "Target lima ratus juta seminggu? Anak baru mana bisa capai itu. Saya aja yang udah tiga tahun di sini kadang susah nembus target bulanan."

---

Reyhan menoleh ke arah suara itu, menemukan seorang pria berpenampilan necis dengan senyum yang terlihat sedikit meremehkan. Belakangan dia tahu, namanya Rendy, sales terbaik di kantor itu selama dua tahun berturut-turut.

"Saya usahain semampu saya, Mas," jawab Reyhan, mencoba tetap sopan meski merasakan nada sindiran itu.

"Usaha doang nggak cukup di dunia sales, Dek. Butuh insting, koneksi, sama jam terbang. Semua itu nggak bisa didapet dalam semalem."

Anton, yang mendengar pertukaran itu, mencoba menengahi. "Udahlah, Rendy, kasih kesempatan dulu. Siapa tau anak baru ini punya bakat terpendam."

"Terserah Bapak aja," jawab Rendy, kembali fokus ke layar komputernya dengan raut wajah yang jelas tidak terlalu berharap banyak dari rekan kerja barunya itu.

---

Reyhan menerima daftar klien potensial dari Anton, sebuah kertas berisi belasan nama dan nomor telepon calon pembeli yang sebelumnya sempat menunjukkan minat tapi belum ada tindak lanjut serius.

"Ini semua klien yang udah lama nggak di-follow up, Mas. Banyak yang mungkin udah nggak minat lagi, tapi coba aja dulu," jelas Anton.

"Siap, Pak. Saya coba hubungi satu-satu."

Reyhan duduk di meja kerja kecil yang disediakan untuknya, menatap daftar nama itu dengan perasaan campur aduk. Ia mengambil ponselnya, menekan nomor pertama dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Halo, selamat siang, Bapak Herlan? Saya Reyhan dari PT Sinar Abadi Elektronik, mau menawarkan—"

*Tut. Tut. Tut.*

Telepon itu ditutup sepihak sebelum Reyhan sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap layar ponselnya dengan raut wajah kaget, tidak menyangka penolakan bisa datang secepat itu.

---

Percobaan kedua, ketiga, dan keempat berakhir dengan hasil serupa beberapa langsung menutup telepon, beberapa lain menjawab dengan nada ketus menolak sebelum Reyhan sempat menjelaskan produknya secara lengkap.

"Halo, Bu Wati? Saya dari PT Sinar Abadi"

"Maaf, saya lagi sibuk," jawab suara di seberang, langsung terputus tanpa basa-basi lebih lanjut.

Reyhan menghela napas panjang, meletakkan ponselnya sejenak di meja. Rendy, yang duduk tidak jauh darinya, melirik dengan senyum tipis yang sulit ditebak maksudnya—entah mengejek, entah sekadar mengamati.

"Susah ya, Mas?" tanya Rendy, kali ini nadanya sedikit lebih netral dibanding sindiran awal tadi.

"Susah banget, Mas Rendy. Baru empat orang aja udah nolak semua."

"Wajar. Telepon dingin emang paling susah, apalagi buat klien yang udah lama nggak di-follow up, biasanya mereka udah beli produk lain atau emang males diganggu."

"Terus caranya gimana biar nggak ditolak terus?"

Rendy terdiam sejenak, seperti berpikir apakah pantas membagikan rahasianya ke sales baru yang baru datang hari itu. "Coba deh, jangan langsung nawarin produk di kalimat pertama. Tanya dulu kabar mereka, bangun obrolan sebentar, baru masuk ke penawaran pelan-pelan."

---

Reyhan mencatat saran itu dengan cepat, meski dalam hati sedikit terkejut Rendy mau memberi tips meski awalnya terlihat meremehkan.

"Makasih, Mas Rendy."

"Bukan berarti saya baik hati ya," jawab Rendy cepat, seperti tidak ingin terkesan terlalu ramah. "Cuma nggak enak liat orang struggle di depan mata doang."

Reyhan tersenyum kecil mendengar itu, mencoba menerapkan saran Rendy pada percobaan telepon berikutnya. Hasilnya masih belum berhasil menutup penjualan, tapi setidaknya kali ini dia berhasil bertahan lebih lama dalam percakapan sebelum akhirnya ditolak dengan lebih sopan.

Menjelang sore, Reyhan membuka layar holografik sistem sebentar, memastikan tidak ada orang di sekitar meja kerjanya.

> [Progres Misi: Rp0 / Rp500.000.000]

> [Sisa waktu: 6 hari, 20 jam.]

Ia menutup layar itu dengan perasaan berat, menyadari bahwa minggu ini akan jadi salah satu tantangan terberat yang pernah dia hadapi sejak sistem ini pertama kali muncul dalam hidupnya—sebuah dunia sales yang penuh penolakan, jauh berbeda dari kehangatan yang dia rasakan di bengkel Pak Slamet minggu lalu.

---

Menjelang jam pulang kantor, Anton menghampiri meja Reyhan, memeriksa catatan hasil hari pertama dengan raut wajah yang sulit ditebak.

"Gimana, Mas? Ada yang berhasil ditutup?"

"Belum ada yang deal, Pak. Tapi udah mulai dapet feel-nya sedikit, berkat saran dari Mas Rendy."

Anton mengangguk-angguk. "Wajar kok hari pertama belum closing. Yang penting jangan patah semangat. Coba besok mulai dateng langsung ke calon klien, kadang telepon doang emang kurang efektif buat produk semahal ini."

"Siap, Pak. Saya coba besok."

"Btw, daftar klien yang saya kasih tadi, ada beberapa yang emang levelnya korporat, bukan perorangan. Biasanya mereka lebih terbuka kalo didatengin langsung sama presentasi yang niat, dibanding cuma telepon doang."

Reyhan mencatat informasi itu, mulai menyusun strategi baru untuk hari berikutnya. "Makasih infonya, Pak Anton."

---

Sebelum pulang, Reyhan sempat berpapasan lagi dengan Rendy di area parkir, keduanya kebetulan berjalan ke arah yang sama menuju halte bus terdekat.

"Mas Rendy naik bus juga?" tanya Reyhan, sedikit kaget melihat sales terbaik kantor itu tidak menggunakan mobil pribadi.

"Iya, lagi nabung buat DP rumah, jadi belum beli mobil dulu," jawab Rendy santai, tidak terlihat malu mengakuinya.

"Oh, gitu ya, Mas."

"Kenapa, kaget saya nggak sombong-sombong amat?" tanya Rendy, sedikit menyindir tapi dengan nada yang lebih ringan dari tadi pagi.

"Enggak, Mas, cuma nggak nyangka aja," jawab Reyhan jujur.

Mereka berjalan bersama dalam diam sejenak, sebelum Rendy kembali bicara. "Besok, kalo mau, saya bisa temenin Mas ke salah satu klien korporat yang lagi saya follow up juga. Sekalian liat gimana caranya presentasi yang bener."

"Serius, Mas? Boleh banget!"

"Ya, anggap aja balas budi karena udah nemenin saya nunggu bus," canda Rendy, membuat Reyhan tertawa kecil mendengar alasan yang terdengar asal itu.

Reyhan pulang malam itu dengan sedikit harapan baru, menyadari bahwa meski hari pertama penuh penolakan, setidaknya dia mulai menemukan seseorang di tempat kerja barunya yang bersedia membimbingnya, meski dengan caranya sendiri yang agak dingin di awal, mengingatkannya pada Yanto di bengkel minggu lalu yang juga butuh waktu sebelum akhirnya membuka diri.

---

Sesampainya di kos, Reyhan membuka buku catatan kecilnya, menuliskan poin-poin penting dari hari pertama yang penuh pelajaran itu teknik membuka percakapan yang lebih santai, pentingnya presentasi langsung dibanding sekadar telepon, dan satu hal lagi yang dia catat khusus: *jangan menilai orang dari kesan pertama, kadang yang terlihat sinis justru yang paling tulus membantu.*

Ia merebahkan diri di kasur, memikirkan kembali seluruh percakapan hari itu mulai dari sambutan skeptis Anton, sindiran awal Rendy, sampai tawaran tak terduga untuk ikut presentasi besok. Dunia sales ini jelas jauh lebih keras dibanding bengkel motor atau gerobak nasi goreng, tapi entah kenapa, di balik semua penolakan yang dia terima sepanjang hari, ada semacam tantangan tersembunyi yang justru membuatnya penasaran untuk terus mencoba.

Sebelum benar-benar tertidur, ia membuka layar holografik sistem sekali lagi, sekadar memastikan progresnya belum berubah dari angka nol besar tadi sore.

> [Progres Misi: Rp0 / Rp500.000.000]

> [Sisa waktu: 6 hari, 15 jam.]

"Besok harus lebih baik," gumamnya pelan sebelum akhirnya memejamkan mata, bertekad untuk memanfaatkan kesempatan belajar langsung dari Rendy semaksimal mungkin di hari kedua.

1
Wega Luna
jadi ingat di jaman lulus SMA cari kerja susah ditolak Mulu,,, akhirnya setahun kemudian dapat pekerjaan jadi mandor sekarang naik jadi sekertaris pribadi boss,🤭🤭🤭, terimakasih kak author,tapi realita cari kerja GK jauh jauh dari apa yg dinovel, apalagi sales, harus pandai ngomong , cari peluang,tau kondisi barang dan pinter nyari solusi,💪💪💪untuk pencari rezeki semangat selalu
Wega Luna
next update nya Thor,,,💪
Wega Luna: amin , semoga kak author juga dilancarkan rejeki nya dan sehat sehat selalu
total 4 replies
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!