NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bayangan Dari Hutan Belantara

Tiga tahun berlalu bagaikan embusan angin yang tak terasa, namun bagi Bukit Tanpa Nama, waktu itu cukup untuk mengubah gersang menjadi kehidupan. Tanah retak kini tertutup lumut zamrud tebal; akar-akar pohon tua yang pernah kering kerontang mengalirkan getah kehidupan ke setiap jengkal tanah. Udara di puncak bukit tidak lagi sekadar sejuk—ia tajam, menusuk kulit bak jarum es halus, membawa aroma logam murni yang menjernihkan pikiran sekaligus membangunkan kewaspadaan.

Di tengah hamparan rumput perak yang berkilau diterpa angin pagi, seorang bocah duduk bersila.

Arlen kini berusia sepuluh tahun. Tubuhnya tumbuh sepadan, ramping dengan postur tegak yang terbentuk dari ribuan jam latihan menahan tekanan energi dingin. Wajahnya mulai kehilangan bulatan masa kanak-kanak; rahangnya menajam, dan kulitnya memiliki pucat alami yang kontras dengan rambut hitamnya yang diikat sederhana menggunakan tali kulit. Matanya tenang seperti permukaan danau beku dingin dan dalam, sulit ditebak, dan menyimpan ketajaman yang tidak wajar untuk anak seusianya. Garis wajahnya seolah menjanjikan bahwa kelak ia akan tumbuh menjadi sosok yang anggun namun mengintimidasi.

Lapisan tunik linen abu-abu kusam longgar menutupi tubuhnya, dilapisi rompi kulit tipis tanpa lengan agar gerakan tetap leluasa saat berlatih. Kain tebal membungkus telapak kaki, diikat tali anyaman, membiarkan sensasi langsung dari tanah meresap masuk. Tak ada hiasan, tak ada warna mencolok. Penampilannya tampak menyatu dengan bukit: sederhana, keras, tegas dan berbahaya jika diremehkan.

Di samping, Penjaga berbaring dengan kepala menempel di tanah. Serigala kelabu itu kini berukuran dua kali lipat lebih besar dari tiga tahun lalu, bulu leher berdiri kaku bak surai singa. Napas teratur, menyatu dengan ritme napas Arlen.

Kelopak mata terpejam. Fokus bukan pada dunia luar, melainkan badai berkecamuk di dalam dada. Aura Perunggu yang dulu berat dan lambat kini telah dimurnikan. Kekuatannya tidak lagi mengalir seperti lumpur, melainkan aliran air sungai bawah tanah dingin deras. Energi dingin inti bukit menyerbu masuk lewat pori-pori kulit, bertabrakan dengan panas alami tubuh, menciptakan gesekan menyakitkan namun diperlukan.

 Krakk -----Retak.

Suara halus terdengar di dalam kesadarannya. Bukan suara fisik, melainkan batas jiwa mulai retak. Cahaya samar perak bocor keluar dari kulit, berpendar lemah di antara lipatan kain. Ambang pintu Tingkat Tiga terbuka. Di tingkat ini, aura tidak lagi hanya melapisi tubuh, tetapi mulai menyatu dengan daging dan tulang, mengubah manusia biasa menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan elemen itu sendiri.

Keringat dingin menetes dari pelipisnya, dan segera membeku jadi butiran es kecil sebelum jatuh ke tanah. Rasa sakit hebat, seolah-olah setiap urat nadi ditarik paksa melebar, namun Arlen tidak bergeming. Bocah itu mendorong lebih jauh, memaksa energi dingin menembus lapisan terakhir pertahanan tubuh.

Tiba-tiba, Penjaga mengangkat kepala. Telinganya berkedut, menangkap getaran bukan berasal dari angin tapi dari kedalaman hutan energi yang dingin, gelap dan kacau.

Kelopak mata Arlen terbuka . Kilau perak di iris mata nya berputar perlahan sebelum tenggelam kembali ke kedalaman hitam gelap. Gangguan terasa jelas. Bukan lagi rasa penasaran atau pengintaian jarak jauh seperti tiga tahun lalu. Kali ini, kehadiran berat, menekan udara sekitar kaki bukit hingga burung-burung kecil terbang panik meninggalkan dahan.

Dari arah hutan lebat timur, kabut hitam pekat merayap naik, melawan arus angin segar bukit. Kabut tidak menyebar alami; ia bergerak bertujuan, bak ular mencari mangsa. Di Balik kepulan asap gelap, terdengar suara dahan patah dan desisan rendah membuat bulu kuduk berdiri.

Penghalang batu pertama sisi timur berbunyi krak, retakan halus menjalar di permukaan.

Arlen menghela napas panjang, melepaskan sisa ketegangan bahu. Terobosan Tingkat ke tiga harus di tunda , seperti nya dia sudah mencapai batas kesabaran nya.

"Penjaga," ucap bocah itu, suaranya datar namun menggema aneh di udara dingin. "Mereka tidak lagi menunggu di balik pohon."

Serigala raksasa berdiri, mengeluarkan geraman rendah menggetarkan tanah bawah kaki Arlen. Mata kuning emas menatap tajam ke arah kabut hitam, siap menerjang apa pun yang berani menginjakkan kaki di tanah suci.

Arlen bangkit berdiri. Kain pembungkus kaki menyentuh tanah subur ringan. Dia Tidak mengambil senjata, karena bagi seseorang yang menyatu dengan energi tempat itu, seluruh bukit adalah senjatanya. Tatapannya mengarah langsung ke dalam kegelapan yang mendekat, bukan dengan rasa takut, melainkan ketenangan pemangsa yang akhirnya menemukan buruannya.

Ujian sesungguhnya baru saja dimulai.

Malam itu bulan bersinar terang, namun separuh permukaannya tertutup oleh awan kelabu yang menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas tanah bukit hitam. Arlen memilih tidak pulang ke rumah. Tubuh tegap berusia sepuluh tahun itu duduk diam di puncak bukit dengan matanya yang terpejam. Meskipun demikian, kesadaran batinnya terbentang luas hingga ke batas hutan belantara. Di samping Arlen, Penjaga berbaring dengan telinga yang selalu tegak, bersiap bangkit kapan saja jika bahaya mendekat.

Sejak malam itu, makhluk kegelapan tidak lagi hanya mengintai dari jauh. Keberadaannya terasa semakin dekat dan berani, seolah-olah sedang menguji ketahanan sang penguasa baru di bukit itu.

Tiba-tiba arah angin berubah, membawa bau tanah basah, daun busuk, serta aroma tajam menyerupai karat logam. Arlen membuka matanya perlahan saat seberkas cahaya perak menembus celah pepohonan tua di pinggir wilayah. 

Dari balik kegelapan lorong hutan, sesosok monster akhirnya muncul. Ukurannya jauh lebih besar daripada Penjaga, hampir setara dengan kuda dewasa, dengan seluruh tubuh yang tertutup bulu lebat kelabu gelap yang menyatu sempurna bersama bayangan malam. Sepasang mata merah darah milik makhluk itu menatap lurus ke arah Arlen. Setiap langkah kakinya meninggalkan bekas cakar yang dalam, sementara kabut hitam tipis yang melayang di sekeliling tubuhnya perlahan membuat rumput yang disentuh menjadi layu. Itulah Serigala Bayangan yang tertulis di buku kuno milik Elena.

Makhluk itu berhenti tepat sepuluh langkah di hadapan Arlen. Kepalanya terangkat tinggi sebelum melepaskan raungan pendek yang menggetarkan permukaan bukit hingga terasa ke dalam tulang.

 Suara itu bukan sekadar ancaman, melainkan sebuah tantangan mutlak untuk merebut energi murni yang mengalir di dalam bukit. Penjaga segera bangkit berdiri dengan geraman dalam di tenggorokannya. Bulu punggung serigala kelabu itu meremang kokoh saat melangkah maju untuk menghadang, meskipun ukuran tubuhnya terlihat jauh lebih kecil dibandingkan sang lawan.

"Tetaplah di sini," bisik Arlen pada Penjaga.

Arlen berdiri tegak lalu melangkah maju melewati serigala kelabu tersebut, berdiri sendirian menghadapi monster raksasa di depannya. "Ini urusanku. Makhluk ini datang mencari kekuatan, bukan mencari hewan untuk dilawan."

Serigala Bayangan menurunkan kepala, menatap Arlen yang berdiri berani di hadapannya dengan pandangan heran sekaligus tertarik. Sang monster melangkah maju selangkah lagi, hingga embusan napas beratnya yang panas terasa langsung di kulit wajah Arlen.

"Kau datang dari jauh karena merasakan perubahan energi di tempat ini," ucap Arlen lantang, suaranya yang tenang membelah keheningan malam dengan tegas. "Tempat ini sudah memiliki penjaga dan pemilik. Kembali ke tempat asalmu, atau kau akan dipaksa pergi."

Monster itu seolah memahami intimidasi tersebut. Sebuah geraman keras keluar dari dalam mulut nya, sebelum tubuh besarnya tiba-tiba melompat maju dengan kecepatan luar biasa. Kabut gelap di sekeliling tubuh sang serigala bergerak lebih cepat, berniat menelan tubuh Arlen sepenuhnya.

Arlen tidak bergerak mundur selangkah pun. Tepat saat terkaman cakar monster itu menyambar, Arlen memutar tubuhnya sedikit ke samping untuk menghindari serangan itu, lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Dari dalam dada Arlen, memancar cahaya keemasan pekat yang berkilau kokoh—Aura tingkat Perunggu yang telah dikumpulkan nya selama ini. 

Arlen mengarahkan aliran energi tersebut keluar hingga membentuk dinding pertahanan tak kasat mata yang sangat keras.

BOOOMMM....!

Serigala Bayangan menabrak dinding energi itu sekuat tenaga hingga membuat tanah di sekitar puncak bukit bergetar hebat. Namun, berbeda dengan dugaan semula, monster itu tidak terpental jauh. 

Makhluk kegelapan tersebut justru langsung mengayunkan cakar kirinya yang besar dalam gerakan berputar.

TING..

Dinding pertahanan Aura Perunggu milik Arlen retak seketika. Hantaman fisik yang masif itu melontarkan tubuh tegap Arlen hingga terseret mundur belasan langkah. 

Belum sempat Arlen memperbaiki posisi berdirinya, Serigala Bayangan kembali melesat, memecah udara malam dengan raungan yang memekakkan telinga.

Pertarungan berskala besar pun pecah di puncak bukit. Monster itu bergerak seperti kilat hitam, menyerang bertubi-tubi tanpa memberikan celah untuk bernapas. 

Arlen terpaksa mengandalkan seluruh refleks fisik dan teknik pedang nya untuk menghindari. Setiap kali cakar monster itu luput dan menghantam tanah, bebatuan bukit di sekitar nya hancur berantakan dan pepohonan kecil tumbang tercabik-cabik. Kabut hitam yang mendidih di sekeliling monster tersebut mulai meluas, menelan wilayah puncak bukit dan mengunci ruang gerak Arlen.

Seiring berjalannya waktu, situasi menjadi semakin buruk. Pertarungan yang menguras fisik ini mulai mengikis stamina tubuh sepuluh tahun milik Arlen. 

Pola serangan Serigala Bayangan semakin ganas, memanfaatkan kabut gelapnya untuk mengepung indra penglihatan.

Brak!

Satu sapuan ekor monster yang dilapisi kabut hitam pekat mengenai lengan Arlen yang mencoba bertahan. Benturan keras itu melempar Arlen hingga menghantam bebatuan besar di tengah bukit. 

Batu tersebut retak, dan Arlen terkulai ke tanah dengan napas memburu. Rasa nyeri yang menusuk menjalar di sekujur tubuhnya, sementara aliran Aura Perunggu di tubuhnya mulai meredup dan tidak stabil.

Serigala Bayangan menyadari korbannya telah terdesak. Sang monster berjalan mendekat secara perlahan, menginjak retakan batu dengan angkuh. Sepasang mata merah darahnya berkilat penuh kemenangan.

 Makhluk itu mendongak ke langit, mengumpulkan seluruh kabut kegelapan di puncak bukit masuk ke dalam mulutnya, memadatkannya menjadi sebuah bola energi hitam pekat yang berderit ngeri. Monster itu siap melepaskan serangan pamungkasnya untuk melenyapkan Arlen dari muka bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!