Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Bayang dari Padang Abu
Bau kopi pahit yang direbus terlalu lama menyebar dari dapur ketika Arden turun pagi itu, menyusup ke tangga sebelum ia bahkan mencapai anak tangga terakhir. Rambutnya masih basah dari air yang ia percikkan ke wajah untuk mengusir sisa kantuk semalam, tetesan dingin masih menempel di tengkuknya, menyusup ke kerah baju. Ia sudah berpakaian rapi, pedang tersampir di punggung, siap menepati janjinya pada Corym.
Brann sudah menunggu di meja panjang, tidak sendirian. Buku tua bersampul kulit retak itu terbuka di hadapannya, halaman yang sama yang ia temukan semalam, ditandai dengan seutas benang merah tipis terselip di antara halaman-halaman. Di sampingnya, cangkir kopi yang sudah dingin, tidak tersentuh sejak Brann menuangkannya beberapa jam lalu, lapisan tipis mulai terbentuk di permukaannya.
"Kau belum tidur," kata Arden, bukan pertanyaan, melihat kantung gelap di bawah mata Brann, kulit di sekitarnya kendur karena kelelahan.
"Aku tidur dua jam," kata Brann, suaranya serak. "Cukup untuk mimpi buruk, tidak cukup untuk merasa segar. Duduklah. Ini penting."
Ada sesuatu di nada suaranya, kesungguhan yang jarang menyertai Brann di pagi hari, yang membuat Arden menunda niatnya menuju pintu. Ia menarik kursi, kayunya berderit menahan bobotnya, dan satu per satu, anggota lain mulai turun mengikuti aroma kopi, sampai seluruh meja terisi.
Corym menggosok matanya dengan buku jari, masih setengah mengenakan baju luar, satu tali di pinggangnya belum terikat sempurna. Ilena membawa prisma yang belum sempat ia simpan sejak semalam, tergenggam di tangan kanannya seperti benda yang tidak pernah lepas dari sisinya. Petra duduk dengan lengan masih dibalut, gerakannya lebih hati-hati dari biasanya saat menarik kursi dengan tangan yang sehat. Ilsa bersandar di kusen pintu dapur alih-alih duduk, lengan bersilang, matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti di Arden. Tomas dan Halden mengambil tempat di ujung meja tanpa banyak bicara. Doran masuk terakhir dengan Ashe bertengger di bahunya, familiarnya mengibaskan sayap sekali sebelum melipatnya rapat. Sister Yuna duduk tenang di dekat Petra, seolah masih menjaga, meski tangannya kini terlipat di pangkuan alih-alih menyentuh luka siapa pun.
"Semalam," kata Brann, "aku menemukan sesuatu di catatan Ashcloak. Simbol di kerah jubah mereka." Ia memutar buku itu, mendorongnya ke tengah meja agar semua bisa melihat, jarinya tetap menahan halaman itu agar tidak terbalik. "Ini identik dengan ilustrasi di buku ini. Sebuah peristiwa bernama Keruntuhan Abu."
...----------------...
Ilena mencondongkan tubuh, membandingkan sketsa Brann dengan ilustrasi tua itu, jarinya menelusuri lekukan simbol tanpa menyentuh kertas rapuh itu langsung, hanya melayang beberapa milimeter di atasnya.
"Ceritakan," kata Arden.
Brann menarik napas panjang, dadanya mengembang lalu turun perlahan, dan untuk sesaat, sesuatu di wajahnya berubah. Kelucuan yang biasa menjadi topeng sehari-harinya mengendur, digantikan oleh kesungguhan seorang cendekiawan yang jarang ditunjukkannya di luar ruang kerjanya sendiri, alisnya turun, bibirnya terkatup rapat sebelum kembali terbuka.
"Seratus lima puluh tahun lalu," katanya, "di sebuah wilayah jauh dari Aldenmere, ada sebuah Menara lain. Bukan Verlanth. Menara yang jauh lebih tua, kurang dikenal, di tepi sebuah kerajaan kecil yang sekarang tidak ada lagi namanya di peta mana pun."
Ia membalik halaman, kertas tua itu berbunyi kering saat terlipat, menunjukkan ilustrasi lain: sebuah kota yang digambar dengan detail rumit, menara-menara batu, ladang subur, sungai yang berkelok di antara bukit, orang-orang kecil digambar beraktivitas di jalan-jalan sempit, tenang dan tidak curiga pada apa pun.
"Lantai Tersegel di Menara itu pecah," lanjutnya, "tanpa peringatan. Tidak ada catatan soal siapa yang membukanya, atau apa yang memicunya. Yang tercatat hanya akibatnya."
Ia membalik halaman lagi. Ilustrasi berikutnya jauh berbeda dari yang pertama, kota yang sama, tapi kali ini menara-menaranya runtuh, ladang-ladangnya menghitam, dan bentuk-bentuk yang tidak sepenuhnya manusia maupun binatang bergerak di antara reruntuhan, digambar dengan tinta yang lebih gelap, lebih kasar, goresan pensilnya lebih tebal dan tergesa, seolah penulis aslinya bergegas menuangkan apa yang ia dengar sebelum ingatannya sendiri terlalu ngeri untuk melanjutkannya.
"Anima yang meluap dari lantai itu," kata Brann, "bercampur dengan makhluk-makhluk yang seharusnya tidak pernah menyentuh dunia ini. Kerajaan kecil itu hancur dalam hitungan hari. Bukan berminggu-minggu, bukan berbulan-bulan. Hari."
Ruangan hening. Petra menggenggam cangkirnya lebih erat, buku jarinya memutih, uap kopi yang mengepul di depannya sudah lama tidak disentuh, sudah berhenti mengepul sama sekali.
"Wilayah itu sekarang disebut Padang Abu," lanjut Brann. "Tandus. Tidak ada yang tumbuh di sana lagi, bahkan setelah seratus lima puluh tahun. Sejak Keruntuhan Abu, seluruh kerajaan dan Guild di benua ini sepakat pada satu kebijakan, tanpa pengecualian: Lantai Tersegel disegel selamanya. Tidak pernah dibuka lagi, apa pun alasannya."
"Dan simbol itu," kata Corym, suaranya rendah, matanya masih menatap gambar reruntuhan itu, "berhubungan dengan peristiwa ini bagaimana?"
Brann menutup buku itu perlahan, jarinya masih menahan sampulnya sesaat sebelum benar-benar melepaskannya. "Aku tidak tahu pasti. Tapi simbol ini muncul di catatan-catatan tua yang membahas keluarga-keluarga yang selamat dari Keruntuhan Abu, mereka yang kehilangan tanah, kehilangan rumah, kehilangan segalanya karena kebijakan itu. Dugaanku, kalau memang dugaan ini benar, orang-orang yang kita hadapi di Hollowreach adalah keturunan mereka."
...----------------...
Ilsa akhirnya melangkah dari kusen pintu, mendekati meja untuk pertama kalinya sejak turun, kursi kosong di sebelah Petra ditariknya perlahan. "Kalau desa sekecil Hollowreach saja mereka serang," katanya, duduk, "bayangkan apa yang akan mereka lakukan kalau benar-benar sampai ke Menara Verlanth."
"Itu asumsi yang terlalu jauh," kata Corym, meski nada suaranya sendiri tidak sepenuhnya menolak kemungkinan itu.
"Aku tidak yakin itu asumsi," kata Brann. Ia membuka buku itu sekali lagi, kali ini ke halaman lain, sebuah peta tua benua yang digambar dengan tinta yang jauh lebih rapi dari ilustrasi-ilustrasi sebelumnya, garis-garis perbatasan kerajaan yang sudah lama berubah bentuk. "Hollowreach berada di jalur yang menghubungkan Padang Abu dengan Aldenmere, kalau jalur perjalanan darat paling langsung diikuti. Mereka tidak menyerang secara acak. Mereka bergerak menuju sesuatu, dan Hollowreach kebetulan berada di antara."
"Menuju Menara Verlanth," kata Tomas, pelan, seolah baru menyadari sesuatu.
"Menuju Menara Verlanth," ulang Brann.
"Kenapa keturunan korban akan menyerang desa yang tidak ada hubungannya dengan mereka?" tanya Petra, suaranya masih sedikit serak, matanya menatap Brann dengan alis berkerut.
"Aku tidak tahu jawabannya," kata Brann, jujur. "Tapi kupikir, kalau seseorang tumbuh besar dengan cerita soal bagaimana dunia kehilangan segalanya karena satu Lantai Tersegel dibiarkan begitu saja, mungkin mereka tidak percaya lagi pada kebijakan 'segel selamanya' itu. Mungkin mereka percaya sebaliknya."
Ilena, yang sejak tadi diam menatap ilustrasi kedua, akhirnya mengangkat kepala, matanya berkedip dua kali seolah baru keluar dari konsentrasi yang dalam. Prismanya masih tergenggam di tangannya, tidak menyala, hanya dipegang seperti jangkar.
"Kata-kata terakhirnya," katanya, pelan.
Semua mata beralih padanya, sendok yang tadinya mengaduk kopi berhenti di tengah gerakan, seseorang menahan napas.
"Lantai itu tidak akan diam selamanya," ulangnya, lebih pelan lagi, setiap kata keluar seperti diucapkan dengan hati-hati, takut memecahkan sesuatu yang rapuh. "Kalau mereka percaya Lantai Tersegel bisa meledak sendiri, seperti yang terjadi seratus lima puluh tahun lalu, tidak peduli disentuh atau tidak..."
"Mereka mungkin berpikir membukanya secara terkendali lebih aman daripada membiarkannya meledak sendiri," kata Corym, menyelesaikan kalimat itu, suaranya berat mengucapkan kesimpulan itu, tangannya terkepal di atas meja.
"Dan Lantai Tersegel di Menara Verlanth," kata Ilena, matanya bergerak ke arah Arden sekarang, "adalah yang paling dekat dengan mereka."
Keheningan yang menyusul lebih berat dari sebelumnya, hanya diselingi derak kayu perapian yang mulai menyala di sudut ruangan, seseorang menyalakannya tanpa disadari siapa pun sejak tadi. Arden merasakan sesuatu mengencang di dadanya, bukan Anima kali ini, hanya beban dari setiap potongan yang mulai tersambung satu sama lain: fragmen yang bereaksi hanya terhadap dirinya, altar tersembunyi yang memicu keruntuhan, ambush yang jauh lebih terorganisir dari perampok biasa, dan sekarang, sebuah nama untuk apa yang mungkin sedang mereka hadapi.
"Kalau ini benar," kata Halden, suaranya tenang meski beratnya jelas terasa, "kita tidak lagi menghadapi kelompok penyerang biasa. Kita menghadapi orang-orang yang percaya mereka menyelamatkan dunia dengan melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan Aldenmere."
"Itu lebih berbahaya daripada perampok mana pun," kata Tomas, jarinya mengetuk meja pelan, satu ketukan untuk setiap kata. "Orang yang mengejar kekayaan bisa dinegosiasikan. Orang yang percaya mereka benar, tidak."
Doran mengelus bulu Ashe pelan, familiarnya mendengkur rendah di bahunya, seolah merasakan ketegangan yang menyebar di sekitar meja, sayapnya sedikit terbuka lalu terlipat kembali. "Apa yang kita lakukan sekarang?"
Semua mata beralih pada Arden, satu per satu, seperti gelombang kecil yang bergerak mengelilingi meja panjang itu.
Ilena meletakkan prismanya di atas meja, cahayanya masih padam, tapi jarinya membuka kunci kecil di sisinya, memutar sebuah roda logam tipis sampai serangkaian angka kecil muncul di permukaan kaca. "Aku sudah membandingkan data yang kukumpulkan sejak Menara Verlanth," katanya, "lonjakan Anima ambient di sekitar altar, residu di ruang tersembunyi tempat kita menemukan fragmen, bahkan konsentrasi udara yang terasa 'salah' saat kita pertama masuk. Semuanya konsisten dengan satu pola: sesuatu di lantai itu sedang aktif, bukan diam seperti seharusnya sebuah lantai yang sudah dieksplorasi puluhan kali sebelumnya."
"Aktif sejak kapan?" tanya Corym.
"Aku tidak tahu pasti," kata Ilena, "tapi berdasarkan seberapa pekat residunya, sudah berlangsung lama. Mungkin bertahun-tahun. Kita hanya kebetulan menjadi yang pertama mencatatnya secara rinci."
Petra menggeser cangkirnya menjauh, tidak lagi berminat menyentuhnya. "Jadi bukan kita yang memicunya."
"Bukan," kata Ilena, "kita hanya kebetulan berdiri di tempat yang salah, pada waktu yang salah, membawa alat yang cukup peka untuk mencatatnya."
Kata-kata itu menggantung di udara lebih lama dari yang diinginkan siapa pun. Api di perapian berderak sekali, melempar bayangan panjang ke seberang lantai kayu, dan untuk sesaat tidak ada yang bicara, hanya suara napas dan gesekan kursi yang sesekali bergeser.
"Kalau memang sudah bertahun-tahun aktif," kata Petra akhirnya, suaranya kecil, "kenapa baru sekarang semuanya mulai bergerak sekaligus? Ashcloak, altar, Hollowreach, semuanya dalam waktu yang hampir bersamaan."
Tidak ada yang langsung menjawab. Ilena menatap prismanya lagi, seolah berharap alat itu bisa memberi jawaban yang belum sanggup ia ucapkan sendiri, sementara Brann menggaruk belakang lehernya, jelas tidak punya teori yang cukup matang untuk dibagikan.
"Mungkin," kata Arden pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun di meja itu, "sesuatu baru saja terganggu."
Tidak ada yang bertanya lebih jauh apa yang ia maksud, tapi beberapa pasang mata bergerak sekilas ke arah tasnya, tempat Fragmen Inti Verlanth masih tersimpan sejak mereka kembali dari Menara Verlanth.
Halden menghela napas panjang, menepuk meja sekali dengan telapak tangannya, tanda bahwa diskusi ini sudah cukup untuk membentuk sebuah keputusan.
...----------------...
Arden menatap buku terbuka di tengah meja, ilustrasi kota yang runtuh masih terpampang di sana, tintanya sudah memudar tapi kengeriannya masih terasa nyata bahkan setelah seratus lima puluh tahun. Ia menghela napas, dadanya turun perlahan sebelum ia mengangkat kepala.
"Pertama," katanya akhirnya, "aku perlu menghadap Guildmaster Orin, seperti janjiku. Guild perlu tahu soal simbol ini, soal dugaan Brann. Kalau memang ada kelompok yang berniat membuka Lantai Tersegel Menara Verlanth, itu bukan sesuatu yang bisa kita tangani sendirian."
"Kau baru mau memberi tahu mereka sekarang?" tanya Ilsa, dari kusen pintu, tidak menuduh, hanya mengonfirmasi, satu alis terangkat.
"Aku tahu aku sudah menunda," kata Arden, tidak membela diri, menatap balik ke arahnya tanpa berkedip. "Tapi sekarang kita punya sesuatu yang lebih dari sekadar laporan insiden. Kita punya alasan nyata kenapa mereka perlu waspada."
Corym mengangguk, setuju, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya lega, jari-jarinya masih mengetuk meja dua kali sebelum berhenti.
"Brann," lanjut Arden, "aku ingin kau ikut menghadap bersamaku. Kau yang menemukan ini, kau yang bisa menjelaskan detailnya jauh lebih baik dariku."
"Tentu," kata Brann, mengangguk cepat, kepalanya terangguk dua kali berturut-turut, jelas sedikit terkejut tapi tidak keberatan, jarinya sudah merapikan buku itu ke dalam tasnya.
"Ilena," kata Arden, menoleh padanya, "aku juga ingin kau ikut. Bawa data yang kau kumpulkan soal Fragmen Inti Verlanth. Kalau kita akan jujur soal semuanya pada Guild, lebih baik kita jujur sepenuhnya, bukan setengah-setengah."
Ilena menatapnya lama, kejutan yang tulus terlihat di matanya, kelopaknya membuka sedikit lebih lebar dari biasa, sebelum akhirnya mengangguk, bahunya sedikit turun, sesuatu yang menyerupai kelegaan.
"Aku akan siap dalam beberapa menit," katanya, sudah berdiri, kursi berderit di belakangnya.
Meja mulai bergerak, kursi-kursi didorong mundur satu demi satu, Petra berdiri dibantu Yuna yang menopang siku sehatnya, Doran mengembalikan Ashe ke kandangnya di belakang, persiapan-persiapan kecil yang biasa mengiringi keputusan besar sebuah pagi, langkah kaki dan gesekan kain terdengar dari berbagai penjuru ruangan.
Arden baru saja berdiri, tangannya menyentuh gagang pedang di punggungnya untuk memastikan posisinya benar, ketika suara ketukan terdengar dari pintu depan, cepat dan berulang, jauh lebih terburu-buru dari ketukan biasa, tiga ketukan tajam disusul jeda pendek lalu tiga ketukan lagi.
Ness, yang baru saja masuk dari ruang kerjanya sendiri, bergegas membuka pintu, langkahnya lebih cepat dari biasa.
Utusan berjubah biru tua yang sama, atau mungkin utusan lain dengan seragam yang identik, berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu seolah baru saja berlari sebagian jalan dari Balai Guild, keringat menempel di pelipisnya meski udara pagi masih sejuk.
"Arden Voss," katanya, tidak menunggu diminta, langsung mengeluarkan sepucuk surat kedua dari balik jubahnya, segelnya sama, lilin merah dengan lambang Guild, tapi kali ini terikat dengan pita hitam tipis yang tidak ada pada surat pertama.
"Panggilan kedua dari Guildmaster Orin Vahl," katanya, suaranya lebih tegang dari utusan sebelumnya, jarinya sedikit gemetar menyerahkan surat itu. "Beliau meminta kehadiran Anda segera. Bukan besok. Bukan lusa. Sekarang."
Arden mengambil surat itu, merasakan berat kertas yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini disertai sesuatu yang lebih tajam menusuk di dadanya begitu matanya menangkap pita hitam yang mengikatnya, kulitnya terasa lebih dingin dari suhu ruangan, jauh lebih dingin daripada seharusnya untuk sepotong kertas dan lilin merah biasa.
"Ada apa?" tanya Corym, sudah berdiri di sisinya, suaranya tajam.
Utusan itu menatap sekeliling ruangan sejenak, matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain, seolah mempertimbangkan apakah boleh mengatakan lebih dari yang seharusnya, sebelum akhirnya menjawab, suaranya turun menjadi hampir berbisik, cukup pelan hingga seluruh ruangan harus menahan napas untuk mendengarnya.
"Ada laporan serangan lain," katanya. "Bukan hanya Hollowreach. Guildmaster ingin bicara dengan Anda sebelum kabar ini menyebar ke seluruh kota."
Ruangan yang tadinya penuh gerakan kecil persiapan keberangkatan berhenti seketika. Petra menatap Yuna, mencari sesuatu yang bisa dipegang di wajah pendeta itu, tapi bahkan Yuna, yang biasanya paling tenang di antara mereka semua, tidak menyembunyikan garis tegang di rahangnya. Doran meletakkan tangannya di atas kepala Ashe, entah untuk menenangkan familiarnya atau dirinya sendiri.
"Di mana?" tanya Arden, suaranya datar, tapi jarinya sudah meremas surat itu sedikit terlalu keras, membuat kertasnya berbunyi kusut.
"Aku tidak diberi wewenang untuk mengatakannya di sini," kata utusan itu, matanya sekali lagi menyapu ruangan, "Guildmaster ingin menjelaskannya sendiri. Aku hanya diminta memastikan Anda datang secepat mungkin."
Arden menatap surat di tangannya sekali lagi, pita hitam yang mengikatnya masih terasa seperti benda asing di antara jarinya, sebelum ia melipatnya dan menyelipkannya ke dalam jubah.
"Kita berangkat sekarang," katanya, menoleh pada Brann dan Ilena. "Yang lain, tetap di sini. Kalau ada kabar lebih lanjut, aku akan mengirim pesan secepat mungkin."
Corym melangkah maju satu langkah, tidak untuk mencegahnya, hanya untuk berdiri lebih dekat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan mereka berdua sejak bertahun-tahun lalu, cara diam untuk mengatakan aku ada di sini tanpa perlu mengucapkannya.
Arden mengangguk padanya sekali, singkat, lalu berjalan menuju pintu, diikuti Brann yang masih menyampirkan tasnya, dan Ilena yang sudah menyimpan prismanya kembali ke dalam sakunya, langkah mereka bertiga menggema di lantai kayu markas, meninggalkan sisa rombongan berdiri diam di ruang utama, menatap pintu yang tertutup di belakang mereka, dan surat pertama yang masih tergeletak tak terbaca sepenuhnya di sudut meja panjang.