Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Berduaan Dengannya
Rania segera merapikan kotak obat yang berada di atas meja.
Ia kemudian menatap wanita yang masih berdiri di dekat pintu.
"Silakan duduk, Nona Mona."
Mona mengamati Rania beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, "Kau belum pulang?"
Gerakan tangan Rania berhenti. Ia menutup kotak obat tersebut dan menggeleng pelan. "Aku memang tidak berniat pulang malam ini."
Mona mengernyit. "Maksudmu?"
Rania menegakkan tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan mata Mona. "Kalau kau ingin tahu alasannya, tanyakan saja kepada Brian."
Rania mengangkat bahu. "Dia yang akan menjelaskannya kepadamu."
Mona tampak tidak puas dengan jawaban tersebut. "Di mana Brian?"
"Dia sedang berada di kamar," jawab Rania.
Mona langsung berbalik. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia meninggalkan Rania dan berjalan menuju bagian dalam rumah.
Rania hanya menatap punggung wanita itu. Kemudian ia menghela napas. "Kenapa semua orang selalu datang dan pergi sesuka hati?"
Rania kembali membawa kotak obatnya menuju ruang kerja. Ia berniat melanjutkan pekerjaannya.
Namun tanpa sepengetahuannya, sebuah kejadian lain sedang berlangsung di ruangan dapur.
Daffa berdiri di dapur.
Kemeja putihnya telah ia lepaskan. Hanya celana panjang hitam yang masih melekat di tubuhnya.
Ia baru saja hendak mengambil air, lalu tiba-tiba ada seseorang memeluknya dari belakang.
Daffa membeku.
"Kau kenapa membiarkan mantan istrimu berlama-lama di rumah ini, Brian?"
Suara wanita itu terdengar tepat di belakangnya.
Daffa perlahan menoleh.
Mona masih memeluk tubuhnya.
Namun ketika wanita itu memutar tubuh Daffa agar menghadap kepadanya...
Matanya langsung membesar. "Siapa kau?!"
Daffa menyeringai tipis.
Mona buru-buru melepaskan tangannya. "Kau..." Tatapan mereka bertemu. "Daffa."
Daffa mengangkat alis. "Jadi kau mengenalku."
Mona mundur setengah langkah. Jelas ia tahu Daffa, nama yang menggemparkan media beberapa waktu lalu.
"Aku kira kau Brian," ucap Mona.
Daffa mengambil kemeja putihnya yang tergeletak di atas meja. Ia mengenakannya dengan santai, lalu berjalan melewati Mona.
Namun sebelum benar-benar pergi, Daffa berhenti. Ia menoleh sedikit. "Sebaiknya kau bantu calon suamimu di kamar."
Mona mengerutkan kening.
Daffa melanjutkan dengan nada dingin. "Dan katakan kepadanya..." Tatapannya menajam. "Jangan lagi mengganggu Rania."
Setelah mengatakan itu, Daffa pergi begitu saja.
Mona hanya berdiri terpaku. "Dasar..." Ia segera berbalik dan mencari Brian.
Tidak lama kemudian, Mona menemukan Brian di kamar lantai satu.
Pria itu sedang duduk di sisi jendela.
Angin malam menerpa wajahnya, membuat rambutnya bergerak perlahan.
"Brian."
Brian menoleh. Mona berjalan mendekat. "Kenapa ada Daffa di rumah ini?"
Brian tidak langsung menjawab. Ia justru meraih kemeja putihnya yang berada di samping tubuhnya, kemudian mulai mengancingkan beberapa kancing.
Mona segera membantunya.
"Sudah." Brian menahan tangannya. "Kau seharusnya pulang dan beristirahat."
"Tidak." Mona menatapnya.
Brian menghela napas. "Mona."
"Aku tidak mau pulang." Tolak Mona.
Tatapan Brian menjadi dingin. "Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku kepadamu."
Brian berdiri perlahan. "Tapi jika kau terus mengganggu kehidupanku, aku akan meninggalkanmu."
Mona membeku. "Tapi, Brian..." Saranya terdengar bergetar. "Aku yang menyelamatkan nyawamu."
Brian terdiam. Ia mengembuskan napas panjang tanpa menoleh kepadanya.
"Kalau begitu, berhentilah mengusikku," ucap Brian.
Mona menggigit bibirnya.
Brian akhirnya menatapnya. "Aku sudah berjanji kepada keluargamu bahwa aku akan menikahimu." Tatapannya tegas. "Itu sudah cukup, Mona."
Mona tidak mampu menjawab.
Brian kemudian mengambil ponselnya, ia menghubungi seseorang.
"Halo, Tuan." Suara Rio terdengar dari seberang.
"Rio, antarkan Mona pulang," titah Brian.
Mona langsung mendengus. "Brian!"
Namun Brian tidak menghiraukannya. Tidak lama kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.
Beberapa saat setelah itu—
Tok... tok... tok...
Ketukan terdengar dari pintu.
Rio berdiri di ambang pintu. "Nona Mona."
Mona menatap Brian sekali lagi. Namun pria itu sama sekali tidak menoleh kepadanya.
Rio mempersilakannya keluar. "Silakan, Nona. Saya akan mengantar Anda pulang."
Mona mengepalkan tangannya. Ia ingin menolak. Namun ia tahu, jika terus menentang Brian, kedua orang tuanya pasti akan mengetahui hal tersebut.
Dengan kesal, Mona menghentakkan kakinya. "Argh" gerutunya, Ia akhirnya berjalan keluar.
Klik! Pintu kamar tertutup.
Brian mengembuskan napas panjang. Tangannya perlahan menyentuh dua benda yang melingkar di jarinya.
Cincin pernikahannya dengan Rania. Dan cincin pertunangannya dengan Mona.
Tatapannya terpaku pada kedua cincin tersebut.
Beberapa detik kemudian, Brian mengambil ponselnya, ia menghubungi Rania...
Sementara itu, di dapur...
Rania sedang mengobati kembali luka di telapak tangan Daffa.
Keduanya duduk berhadapan. Ponsel Rania yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Rania melirik sekilas. Nama Brian muncul di layar. Namun ia tidak mengangkatnya.
Daffa memperhatikan hal tersebut. "Kenapa tidak diangkat?"
"Aku sedang mengobati lukamu," jawab Rania.
Daffa menyeringai tipis. "Begitu ya."
Rania kembali fokus membersihkan luka di tangannya.
"Rania."
"Hm?"
"Tadi ada seorang wanita."
Rania berhenti sejenak.
"Siapa dia?" Tanya Daffa.
"Mona," jawab Rania.
Daffa mengangkat alis. "Siapa Mona?"
"Tunangannya Brian," jawab Rania.
Daffa terkekeh kecil. "Kau serius?"
Rania mengangguk, tangannya kembali bekerja membalut luka Daffa.
"Brian sudah bertunangan dengan Mona." Rania mengikat ujung perban. "Dan kau juga akan menikahi Meyra."
Daffa diam.
Rania menatapnya. "Bisakah kalian berhenti mengejarku?" Suaranya terdengar lelah. "Hiduplah dengan damai di jalan kalian masing-masing."
Rahang Daffa mengeras. "Hidupku akan damai setelah berhasil menjadikanmu istriku, Rania." Tangannya mengepal di sisi tubuh. Di dalam saku celananya, botol kecil berisi serbuk yang telah ia siapkan masih tersimpan.
Rania tidak mengetahui apa pun. Ia justru kembali menekan di sisi bagian luka di telapak tangan Daffa, hanya memberi pijatan agar urat saraf Daffa rileks.
Daffa meringis. Rania segera mengurangi tekanannya.
"Kau sudah makan?" Tanya Daffa.
Rania mengangguk. "Sudah."
Rania menatapnya. "Bagaimana kau bisa tahu aku berada di sini?"
Tatapan Daffa turun kepada jemari Rania yang sedang merapihkan perban ke dalam kotak obat.
"Aku selalu tahu." Jawaban singkat Daffa membuat Rania terdiam.
Rania meletakkan tangan Daffa di atas meja, "lukamu sudah aku obati, jangan dulu terkena air," ucap Rania.
Kemudian ia menyentuh punggung tangannya perlahan. "Daffa."
"Hm?"
"Aku akan pindah ke rumah ini," ucap Rania.
Daffa langsung mengernyit. "Kenapa?"
"Ini rumah pemberian Kakek Barra untukku." Rania menarik napas. "Aku ingin tinggal di sini."
Daffa langsung menggeleng. "Tidak."
Rania menatapnya. "Kau tidak boleh tinggal di sini." Nada suara Daffa mulai terdengar tegas. "Kau harus pulang, Rania."
Tangannya tiba-tiba menggenggam tangan Rania. "Pulang ke sisiku."
Rania terdiam.
Tatapan Daffa tidak pernah lepas dari wajahnya.
Sementara itu, ponsel Rania kembali bergetar.
Nama Brian masih terpampang di layarnya. Namun tidak ada yang tahu...
Apa yang akan terjadi jika Rania akhirnya mengangkat panggilan tersebut?
Bersambung...