Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3 Telepon mama yang tidak di sambut
"Katakanlah bu. Kami sudah tidak sabar." Ujar Ana kembali.
Kepala Hrd hanya bisa menghela nafas. Dia tidak berani menyinggung Ana.
"Baiklah orang yang lulus adalah Ana Collins dan Lily Colins."
Raut wajah Ana seketika berubah masam.
"Kenapa dia lulus juga?"Gumam Ana sedikit kesal.
Sementara peserta yang lain tidak bisa menahan raut wajah kekecewaan mereka. Meski begitu, tidak ada yang berani protes.
Mereka hanya bisa menerima kekalahan.
"Kali ini kamu hanya beruntung."Sindir Ana.
Dia mendekati sepupunya.
Lily mengabaikan ucapan Ana. Dia tidak ingin lagi berdebat.
"Meski kamu lulus. Belum tentu kamu akan menjadi sekertaris utama. Posisi itu akan menjadi milikku."Ujar Ana kembali.
"Kenapa kamu begitu percaya diri? Kita belum tahu hasilnya. Apa kamu sedang takut kalah dengan ku?"
Tangan Ana mengepal kuat.
"Kamu..."
Lily berjalan pergi meninggalkan Ana sebelum sepupunya itu bereaksi.
"Dasar menyebalkan. Awas saja kamu Lily. Kamu selalu saja mengacau suasana hatiku."
Ana mendengus kesal meninggalkan ruangan itu. Dia meninggalkan perusahaan Morley.
Ana masuk ke dalam mobilnya. Baru saja hendak meninggalkan perusahaan. Netranya langsung terpaku pada Lily yang sedang berdiri di depan perusahaan.
"Apa yang kamu lakukan di sini Lily?"
"Itu bukan urusan mu."
Ana tertawa kecil.
"Kamu tahu inilah perbedaan kita."Ujar Ana.
Lily hanya diam. Dia tidak menanggapi ucapan Ana. Berdebat dengan Ana tidak akan menyelesaikan masalahnya.
Dari dulu Ana tidak pernah menyukainya. Hubungan mereka berdua tidak pernah akur.
Ana sama sekali tidak pernah menyukai Lily. Dia selalu menganggap Lily adalah saingannya.
Mobil taksi berhenti di depan mereka. Lily masuk begitu saja tanpa menghiraukan Ana.
"Dasar miskin."Gumam Ana dengan nada merendahkan.
Selama ini, Ana hidup dengan bergelimang harta. Sementara Lily dan ibunya hidup dengan serba kekurangan.
Tentu saja hal itu terjadi sebelum bertemu dengan Eldrick. Hal itulah yang membuat Lily ingin bekerja keras dan berdiri sendiri tanpa bantuan suaminya.
Lily menoleh ke belakang memandang ke arah Ana dengan mobil mewahnya. Lily hanya tersenyum kecil.
"Kamu selalu hidup dengan mewah Ana. Bisakah kamu tidak mengusik ketenangan ku? Akan lebih baik jika kamu membiarkan ku berjuang sendiri."Batin Lily.
Di dalam ruangannya. Eldrick melihat semuanya melalui cctv yang tersambung.
"Nyonya terlihat kasihan. Sepupunya itu selalu menganggunya tuan. Bahkan saat mereka kuliah."Ujar sang sekertaris.
"Will! Cari tahu latar belakang Ana. Meski dia sepupu Lily. Tapi hubungan mereka berdua sama sekali tidak akrab. Dia begitu sombong dan angkuh."
"Baik tuan."
Drt...
Ponsel Eldrick berbunyi.
Nama mamahnya tertera di layar ponselnya. Melihat nama mamanya. Eldrick menghela nafas panjang.
"Hallo mah."
"Datang ke mansion malam ini. Ada pembicaraan penting yang harus di bicarakan. Ingat Eldrick!Jangan sampai kamu tidak datang. Nenek tidak akan senang."
"Baik mah."
Eldrick kembali menghela nafas panjang.
Malam harinya.
Felix kembali ke mansion.
Lily menyambutnya dengan gembira. Tapi detik berikutnya dia menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi kepada suaminya.
"Ada apa sayang?"
"Malam ini, aku akan ke mansion mamah. Mungkin aku tidak pulang."
"Lalu kenapa kamu tidak semangat sayang?"
"Aku sudah tahu apa yang akan mereka katakan sayang. "
Lily hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku akan membersihkan dulu."
"Baiklah sayang. Aku akan menyiapkan jas yang akan kamu pakai."
"Terimah kasih sayang."
Eldrick tersenyum kecil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka berdua selalu terlihat bahagia meski pernikahan mereka di rahasiakan oleh semua orang termasuk keluarga Morley.
Lily duduk di sofa menunggu suaminya.
Pintu kamar mandi terbuka.
Lily menunggu dengan senyuman.
Eldrick yang melihat hal itu terlihat begitu bahagia. Hal yang sangat ia suka dengan sang istri.
Lily selalu menyambutnya dengan senyuman.
"Apa kamu tidak ingin ke sana?"
"Tidak sayang. Kamu lupa dengan janji kita?"
Lily menatap suaminya.
"Baiklah sayang. Besok hari pertama kamu bekerja?"
"Iya sayang."
"Semangat. Aku berangkat."
"Hati-hati sayang."
Eldrick mengecup kening sang istri.
Dia berjalan melewati kamarnya dan menuruni tangga.
Di depan mansion.
Wil sudah berdiri di sana selama beberapa menit menunggu kedatangan Eldrick.
"Malam tuan."
Wil menunduk memberi hormat.
"Cepatlah. Nanti mamah mengomel lagi."
Eldrick masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Wil membuka pintu mobil untuknya.
"Apa tuan tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya?"
"Tidak, Lily tidak akan setuju. Aku tidak ingin membuatnya kesal. Aku akan menunggu sampai dia setuju."
"Di kantor, sebaiknya tuan jaga sikap. Tuan tidak boleh terus memandangi nyonya. Jika terus seperti ini. Cepat atau lambat nanti bakal ketahuan."
Eldrick mendengus kesal.
"Apa kamu sedang menasehatiku?"
"Bukan seperti itu tuan."
"Ck. Bilang saja."
Wil tersenyum kecil.
"Kita sudah sampai tuan."
Wil bernafas lega ketika mereka sudah tiba di depan mansion kedua orang tua Eldrick.
"Ada mobil lain?"
Eldrick mengikuti arah pandang Will.
"Mungkin ada tamu."
"Saya akan menunggu di luar tuan."
"Terserah kamu."
Eldrick turun dari mobil. Dia melangkah masuk ke dalam mansion. Baru saja tiba di ruang tamu. Netra Eldrick tertuju kepada seorang wanita yang berada di hadapannya.
"Kamu sudah datang sayang."
Mamah Eldrick beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati putranya.
"Mamah kira kamu tidak akan datang sayang." Ujar wanita paruh baya itu.
Di sofa yang lain. Adik Eldrick sedang menahan tawanya.
"Duduklah di dekat ku kak."Ujar Alex.
Pria 23 tahun itu menatap kakaknya dengan tatapan penuh arti. Alex seolah-olah tahu apa yang akan di hadapi kakaknya.
"Dia Eldrick."
"Iya, dia cucuku. Dia CEO di perusahaan Morley. Bukankah kamu baru saja di terima di sana Ana?" Nyonya Morley menoleh kepada Ana.
"Iya nenek. Besok hari pertama saya bekerja."
Nyonya Morley dan Nyonya Colins saling memandang penuh arti. Tatapan itu membuat Eldrick sedikit muak.
Wil hanya tersenyum tipis.
"Itu bagus nak. Kalian bisa saling mengenal lebih jauh."Ujar nyonya Morley.
Tangan Eldrick mengepal kuat. Sementara Ana tersenyum puas.
Mery memegang tangan putranya.
"Jangan menimbulkan masalah nak."Bisik Mery kepada putra pertamanya.
"Jika dia di terima di perusahaan Morley itu artinya dia cukup berbakat."Puji Mery.
"Itu benar sekali."Timpal nyonya Morley yang setuju dengan menantunya.
"Eldrick kami ingin mengatur perjodohan dengan cucu Nyonya Colins. Kamu tahu bagaimana hubungan nenek dengan nyonya Colins."Ujar nyonya Morley menatap Eldrick.
"Itu hubungan nenek. Apa hubungannya dengan ku. Aku tidak menerima perjodohan dengan siapa pun."
Wajah nyonya Morley seketika berubah. Dia merasa di permalukan oleh Eldrick di depan sahabatnya.
"Apa karena wanita rendahan itu?" Nyonya Morley mulai meninggikan suaranya.
Semua orang tampak terkejut.