Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
waspada
Mobil ojek berhenti di depan pagar rumah yang megah itu. Aku membayar ongkosnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, lalu melangkah keluar. Angin malam terasa dingin menusuk tulang, kontras dengan panas yang menjalar di dadaku setelah pertemuan dengan Lucas tadi.
Aku menatap rumah besar itu. Lampu teras menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tampak menyeramkan. Sejak menikah, rumah ini bukan lagi tempat berlindung, melainkan sangkar emas yang pengap.
Aku membuka gerbang samping, kunci utamanya terlalu berisik, dan aku menyusup masuk lewat halaman belakang. Hatiku berdebar kencang. Aku berharap semua orang sudah tertidur lelap. Aku hanya ingin naik ke kamar, mengunci pintu, dan mencoba melupakan tatapan tajam Samudra pagi tadi serta kata-kata peringatan Lucas.
Aku melepas sepatuku di dapur agar tidak bersuara, lalu berjalan jinjit menuju tangga utama. Lantai marmer terasa dingin di kakiku yang bertelanjang.
Saat aku melewati ruang tamu yang gelap, tiba-tiba tercium bau menyengat. Bau alkohol bercampur dengan aroma parfum mahal yang biasanya dipakai Samudra.
Jantungku serasa berhenti.
Aku memberhentikan langkah, mencoba mengendap-endap lebih pelan lagi, berharap itu hanya imajinasiku. Tapi saat kakiku menginjak anak tangga pertama...
"Angela..."
Suara itu berat, serak, dan datang dari kegelapan sudut ruang tamu.
Tubuhku kaku. Perlahan, aku menoleh.
Di sofa kulit hitam itu, terlihat sosok Samudra duduk setengah rebah. Kemeja putihnya kusut, dua kancing atas terbuka, dan dasinya longgar tergantung miring. Di tangannya, tergenggam erat sebuah gelas kristal yang masih berisi cairan amber. Wajahnya merah padam, matanya sayu namun menatapku dengan intensitas yang membuat bulu kudukku berdiri.
Dia mabuk. Sangat mabuk.
"P-Pak..." suaraku tercekat. "Maaf, saya... saya baru pulang."
Samudra tidak langsung menjawab. Ia tertawa kecil, suara yang terdengar kering dan tidak menyenangkan. Ia mengangkat gelasnya, menenggak isinya habis dalam satu tarikan napas, lalu membanting gelas itu ke meja kopi.
Krak! Suara kaca pecah terdengar nyaring di keheningan malam.
"Aku tahu kamu baru pulang," gumamnya sambil berusaha bangkit. Gerakannya goyah, tapi ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia menatapku dari atas ke bawah, tatapannya menjelajah tubuhku dengan cara yang membuatku merasa telanjang dan jijik.
"Tadi siang kamu bilang mau ke rumah teman," katanya pelan, setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan yang menakutkan. "Teman siapa, Angela? Teman cafe dulu? Atau teman sekolah yang sudah lama putus kontak?"
Aku mundur selangkah, punggungku menabrak railing tangga. "Teman... teman lama, Pak. Kami cuma ngobrol sebentar."
Bohong. Itu alasan klise. Dan Samudra sepertinya tahu itu.
Ia tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai matanya. Matanya yang merah itu kini terlihat berbahaya. "Ngobrol sebentar sampai jam sembilan malam? Di zaman sekarang, jarang ada perempuan baik-baik yang pulang larut dari 'ngobrol' tanpa kabar."
Napas ku tertahan. Apakah dia mencurigai Lucas? Tidak mungkin. Lucas sangat hati-hati.
"Saya minta maaf, Pak. HP saya mati jadi tidak bisa kabari," bantahku, meski suaraku bergetar hebat.
Samudra kini sudah berada di depanku. Jarak kami hanya selebar lengan. Ia mengulurkan tangan, jari-jarinya yang besar dan kasar hendak menyentuh pipiku. Aku menahan napas, otot-ototku menegang, siap untuk menghindar jika perlu.
"Ibumu sudah tidur," bisiknya, napasnya berbau alkohol tepat di wajahku. "Dia percaya padamu. Dia pikir kamu anak baik-baik." Tangannya berhenti di udara, hanya beberapa sentimeter dari kulitku. "Tapi kamu... kamu punya rahasia, kan? Matamu... matamu selalu mencari jalan keluar."
Tiba-tiba, dari lantai atas, terdengar suara pintu kamar tertutup.
Samudra tersentak. Ia menoleh ke arah tangga, wajahnya berubah dari agresif menjadi sedikit waspada. Sepertinya suara gelas pecah tadi membangunkannya, atau mungkin dia hanya pura-pura tidur.
Samudra mendengus kesal. Ia menurunkan tangannya, lalu menunjuk ke arah kamarku di lantai dua dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Naik," perintahnya pendek. "Jangan pernah terlambat lagi. Jika sekali lagi aku mencium bau kebohongan darimu... aku tidak akan segan-segan menghukummu. Ingat, di rumah ini, akulah aturan."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan goyah menuju ruang kerjanya di lantai dasar, meninggalkan aku yang masih terpaku di anak tangga dengan jantung yang berdegup begitu keras hingga terasa sakit di dada.
Aku tidak berani menunggu lama. Dengan kaki yang masih gemetar, aku segera naik ke lantai dua, masuk ke kamarku, dan mengunci pintu rapat-rapat.
Aku bersandar di balik pintu, menutup mata. Napasku tersengal-sengal.
Tadi... dia hampir menyentuhku.
Dan tatapan itu... itu bukan tatapan seorang ayah tiri. Itu tatapan seorang predator yang sedang mengincar mangsanya.
Aku meremas ujung bajuku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Lucas benar. Samudra bukan orang baik. Dan sekarang, aku terjebak di sini, sendirian, sementara ibu tertidur pulas di kamar sebelah, tidak menyadari bahaya yang mengintai putri tunggalnya.
Ponselku bergetar di saku. Aku mengeluarkannya dengan tangan gemetar. Layarnya menyala terang di kegelapan kamar.
Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Isinya singkat:
[Nomor Asing]: Kunci pintumu. Jangan buka untuk siapa pun kecuali ibumu. - L
Lucas.
Dia tahu. Entah bagaimana caranya, dia tahu situasiku sedang genting.
Aku menatap layar ponsel itu, lalu menatap kunci pintu kamarku. Untuk pertama kalinya, rasa takut terhadap Samudra sedikit tergeser oleh rasa penasaran yang aneh terhadap pria mafia yang mengirim pesan itu.