Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Bandara Soekarno-Hatta nampak akan aktivitas yang padat, dengan langkah kaki manusia yang lalu lalang.
Pendingin baru raksasa beradu dengan aroma kopi, bercampur dengan suara monoton dari pengumuman jadwal penerbangan yang menggema lewat pengeras suara.
Banyak pasang mata yang memperhatikan papan digital di sertai penunjuk waktu kedatangan pesawat---seolah menanti kerabat, teman atau rekan kerja yang baru saja mendarat dari berbagai penjuru dunia.
Di tengah aktivitas beberapa orang lalu-lalang itu, Alina berdiri dengan rasa cemas di hatinya.
Tubuhnya mengenakan kaos lengan pendek model crop top warna hijau tua, di padukan dengan celana kulot longgar bahan rayon warna biru tua.
Rambutnya yang hitam panjang nampak terurai lurus.
Aura yang di pancarkan Alina, nampak berkelas khas seorang model papan atas dunia.
Hatinya bergerak dengan gelisah di lantai ubin bandara, dengan badai konfliknya yang teramat menyiksa dengan titah sang ayah tempo hari di ruang tamu mewah beberapa hari lalu.
Mayor Jenderal Fadhil Barenyah, masih bersikeras agar putrinya menikah dengan Mayor Angga.
Alina merasa lelah akan ancaman dan penekanan dari ayahnya, yang akan menghancurkan karier model internasionalnya---pikirannya ketakutan akan memblokir visa milik Robert dengan kekuasaannya.
Kini di bandara Soekarno-Hatta, Alina tengah menunggu kedatangan pujaan hatinya---di latar belakangnya, terlihat sebuah papan penunjuk warna kuning.
"Kedatangan Internasional."
Di belakangnya juga, bersanding dengan pilar-pilar beton megah dan dinding kaca raksasa bandara yang menampilkan siluet pesawat-pesawat terbang di kejauhan.
Tak berapa lama, pintu kaca otomatis kedatangan Internasional perlahan terbuka, terlihat puluhan penumpang warga negara asing baru saja menyelesaikan pemeriksaan dari imigrasi dan bea cukai.
Mata Alina yang gelisah nampak menatap tajam, seolah mencari pujaan hatinya---menyisir kerumunan dengan seksama.
Lalu mata Alina melihat seseorang yang di tunggunya, di antara barisan para pelancong asing yang membawa koper dan membawa tas gemblok backpacker.
Matanya melihat sang kekasih yang rambutnya pirang, melangkah keluar dengan menyeret koper.
Robert tampil dengan kasual, mengenakan kemeja putih bersih dengan bawah kemejanya di biarkan keluar---tak di masukan ke dalam celana, di padukan celana panjang warna hitam.
Manik matanya yang biru nampak melihat Alina di balik pagar pembatas, senyum hangat langsung menyertai di wajah tampannya.
Wajahnya di sertai jambang tipis nan maskulin, tentu tanpa membuang waktu sedetik pun---Robert langsung melangkah ke Alina.
Robert berjalan, melepaskan pegangan kopernya lalu berlari kecil membelah kerumunan pengunjung bandara, lalu menghambur ke pelukan Alina.
"I miss you, honey...," bisik Alina. (Aku merindukanmu, sayang.)
Alina menahan haru sembari menenggelamkan wajahnya cantiknya di ceruk leher Robert, segenap tekanan batin karena ancaman ayahnya hilang seketika tanpa sisa.
Kini, rasa hangat dan damai nampak memenuhi sekujur tubuhnya.
"I Miss you too, baby..." balas Robert lembut dengan aksen bahasa Inggrisnya yang kental dan berat, mengecup puncak kepala Alina dengan penuh kasih sayang yang tulus.
Robert melingkarkan kedua tangan kekarnya di sekeliling tubuh sang kekasih, mendekapnya seolah tak ingin melepaskannya---baginya Alina sekarang adalah dunianya.
Sebuah cinta kembali bersemi di bawah sorot lampu bandara, beberapa pasang mata memang melihat mereka---namun sambil melanjutkan perjalanan.
Mereka kini menyaksikan dua cinta di persatukan, meski banyak halang rintangan terutama dari ayahnya Alina.
Kenapa Jendral Fadhil Barenyah sangat menentang hubungan putrinya dengan pria manapun kecuali kalangan militer, sikapnya yang otoriter ini tak bisa membuatnya sadar---jika suatu hari akan merugikannya.
Padahal jika di lihat lagi, Robert adalah seorang pengusaha real estate berkebangsaan Inggris yang sukses di wilayah Wales, United Kingdom.
Robert terpikat oleh kecantikan Alina yang eksotis, dengan mata sipit dan kulit coklat----saat itu Alina sedang peraga busana di atas panggung victoria secret.
Di balik kekayaannya, Robert menaruh rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa mendalam pada isi kepala Alina.
Bagi pria Inggris ini, Alina adalah wanita yang sangat sempurna antara kecantikan fisik dan otaknya yang cerdas.
Di masa lalu Alina memberikan analisisnya saat di Lombok, pandangan visioner, serta strategi pemasaran yang sangat brilian untuk perkembangan bisnis properti Robert di Inggris.
Selain modeling, Alina juga memiliki pemahaman mengenai arsitektur desain baju yang ramah bagi investor Asia mengenai analisis properti.
Alina adalah wanita yang mandiri dan kuat, seperti didikan anak militer---karirnya yang tangguh di panggung model Internasional membuat Robert jatuh hati padanya.
Setelah pelukan hangat mereka perlahan terlepas, Robert membelai lembut pipi Alina yang kemerahan, menghapus sisa air mata kelegaan di sudut matanya.
"You look so beautiful today." ("Kamu terlihat cantik hari ini,") puji Robert tulus, menatap lekat-lekat mata Alina yang oriental.
"Are you okay? How about your father?" ("Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan ayahmu?") tanya Robert lagi.
Alina menyunggingkan senyumannya, menggelengkan kepalanya seolah tak mau merusak momen bahagia ini.
"I'm fine, Robert. I'm with you now, and that's all that matters to me." ("Aku baik-baik saja, Robert. Aku bersamamu sekarang, dan itu saja yang penting bagiku.")
Alina menggamit mesra lengan kekasihnya, menuntun pria itu keluar bandara menuju area penjemputan taksi sesuai protokol yang ada di Bandara ini.
Robert berencana membuat sebuah misi, agar Alina terbebas dari cengkraman ayahnya.
Alina telah memesan sebuah kamar suite mewah di sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta, jauh dari jangkauan sang ayah ataupun tunangannya.
Di dalam taksi.
Keduanya sudah berada dalam taksi, dan saling bicara romantis.
"We will go straight to the hotel and have a romantic dinner there." ("Kita akan langsung ke hotel dan makan malam romantis disana,") bisik Alina sembari menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Robert.
Robert hanya tersenyum sembari mencium kepala kekasihnya, taksi yang mulai membelah jalanan tol bandara.
"I want to spend the whole night with you, only you." ("Aku ingin menghabiskan sepanjang malam bersamamu, hanya bersamamu.")
Robert tersenyum penuh arti, mendekap bahu Alina semakin erat sembari menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit ibu kota.
Alina tak sadar jika rencananya ini, akan membawa bencana---sebuah bencana yang tak bisa di hindarkan, yakni amukan Jendral Fadhil Barenyah yang mengerikan.
*