ZONA DEWASA‼️Harap bijak dalam memilih bacaan!!
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Luna mendengus kasar saat berdiri di depan cermin toilet. Kemeja putihnya tak hanya kotor dan lengket akibat insiden jus alpukat di kantin barusan, tetapi juga tambah basah kuyup karena ia coba membersihkannya dengan air. Nodanya justru makin melebar.
"Sialan..." umpat Luna pelan seraya menepuk-nepuk kain basah itu dengan kesal.
Gara-gara dua pria kakak beradik—Moreno dan Adrian—hidupnya di kampus maupun di luar sekarang benar-benar jauh dari kata tenang. Pikiran konyol bahkan sempat melintas di benaknya: "Mungkin sebaiknya gue kabur aja sekalian ke luar negeri biar bebas dari mereka berdua."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu toilet memecahkan lamunannya.
"Masuk aja, Dit! Enggak dikunci kok," seru Luna, mengira Dita yang datang.
Pintu toilet terdorong terbuka. Namun, saat Luna menoleh, matanya membelalak sempurna.
Bukannya Dita, melainkan sosok tegap Moreno yang melangkah santai memasuki area toilet wanita.
"Lo?! Mau apa lo ke sini?!" seru Luna panik, matanya bergerak liar ke arah pintu.
"Ini toilet cewek, Reno!"
"Berisik lo." potong Moreno datar.
Tanpa aba-aba, Moreno melemparkan sebuah kemeja bersih ke arah Luna.
"Pake itu."
Dengan refleks, Luna menangkap kemeja oversize berwarna gelap tersebut. Saat menyadari aroma maskulin yang sangat khas menempel di kainnya, Luna langsung mengernyit.
"Ini kan kemeja lo! Gue enggak mau pakai baju lo!"
Moreno melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Luna sempat menghindar, jarinya terulur dan...
Cetak!
Moreno menyentil dahi Luna cukup keras.
"Awh! Sakit, Reno!" meringis Luna seraya memegangi dahinya yang memerah.
"Enggak usah banyak protes," ucap Moreno dengan nada menekan.
"Dari pada lo pakai kemeja basah ceplak-ceplok gitu, mau mamerin tubuh lo ke cowok se-kampus?"
Luna menelan ludah, melirik kemejanya yang memang agak menerawang karena basah. Akhirnya ia pasrah dan mengalah.
"Ya udah... tapi lo keluar dulu! Gue mau ganti baju."
Bukannya berbalik pergi, Moreno justru mengukir senyum miring yang menyebalkan. Ia menyandarkan punggungnya di pintu toilet, melipat kedua tangannya di dada.
"Ganti di sini. Sekarang. Di depan gue."
"Reno! Lo gila ya?!" protes Luna dengan wajah memerah padam. "Gue nggak mau!!"
Moreno memajukan kepalanya sedikit, menatap Luna dengan sorot mata abu-abu yang dalam dan nakal.
"Enggak usah sok suci di depan gue,," bisik Moreno rendah, nada suaranya sarat akan intimidasi yang menggoda.
"Lupa lo sama apa yang kita lakuin di meja makan tadi pagi, hm?"
Luna mendesah berat. Bule sinting di hadapannya ini selalu saja punya cara konyol untuk mematahkan setiap argumennya.
Merasa sudah terdesak dan terintimidasi oleh tatapan Moreno, rasa canggung Luna seketika menguap begitu saja, berganti dengan kekesalan yang membakar keberaniannya. Ia menatap Moreno dengan pandangan menantang.
"Oke. Jadi lo cuma mau liat body gue, kan?" cetus Luna tajam.
Tanpa membuang waktu lagi, dengan gerakan santai dan berani, Luna membuka kancing kemejanya satu per satu. Bagian atas tubuhnya yang kini hanya terbalut bra kembali terekspos bebas di depan mata Moreno. Tanpa ragu, Luna langsung menyambar dan mengenakan kemeja kebesaran milik Moreno, menutupi kembali tubuhnya.
Moreno menatap setiap inci pergerakan itu, lalu mengukir senyum tipis yang sarat akan kepuasan.
Namun, sebelum Luna sempat merapikan kemeja tersebut, Moreno melangkah maju secara mendadak. Dengan satu dorongan kuat tapi terukur, ia menghimpit tubuh Luna ke dinding toilet yang dingin, mengurung gadis itu di antara kedua lengannya.
Mata Luna membulat sempurna. Wajah Moreno terkunci begitu dekat dengannya, hingga deru napas pria itu terasa berembus di kulitnya dan hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Re-Reno... jangan macam-macam ya! Ini masih di lingkungan kampus!" bisik Luna gugup,
Moreno menyeringai tipis. "Gak akan ada yang berani datang ke toilet ini. Jadi gue bisa lakuin apa aja sama lo di sini."
Jemari kokoh Moreno terulur, menyusuri garis rahang Luna hingga mengusap bibir ranum gadis itu dengan lembut namun menuntut.
"Gue cuma mau ingatin lo satu hal," bisik Moreno rendah, tepat di depan bibir Luna.
"Lo cuma boleh telanjang di depan gue. Jangan pernah sekalipun lo lakuin hal konyol kayak tadi di depan pria lain."
Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Menyadari bahaya jika ia memancing amarah pria ini, Luna mengukir tersenyum canggung seraya menjawab lirih,
"Tentu aja enggak... memangnya gue cewek apaan?"
"Bagus kalau lo tahu diri," bisik Moreno puas.
Dalam hatinya, Luna meringis. Ia sungguh tidak menyangka, selain sinting dan bertindak sewenang-wenang, bule satu ini juga punya tingkat keposesifan yang tak masuk akal. Entah sampai kapan situasi gila ini akan berakhir...
Puas memberikan ancamannya, Moreno melepaskan kuncian tangannya. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah, ia berbalik arah lalu melangkah pergi melintasi pintu toilet, meninggalkan Luna begitu saja.
Luna hanya bisa berdiri mematung, menatap nanar pintu toilet yang kembali tertutup rapat.
Adrian baru saja melangkah keluar dari ruang senat dengan helaan napas berat. Sebagai ketua BEM, menghadiri rapat koordinasi yang membosankan seperti ini sudah menjadi rutinitas wajib yang kerap menguras energinya.
Namun, rasa penat itu mendadak menguap begitu saja. Dari kejauhan koridor, pandangan mata Adrian menangkap sosok gadis yang sejak pagi terus mengusik pikirannya. Luna terlihat berjalan sendirian menuju gedung perpustakaan. Tanpa ragu, Adrian mempercepat langkah kakinya untuk menyusul.
Adrian melangkah masuk ke dalam perpustakaan yang tenang dan sejuk. Ia menyusuri deretan rak tinggi hingga langkahnya terhenti. senyum tipis terbit di bibirnya saat melihat Luna berdiri di balik rak, tampak begitu serius mengamati judul-judul buku di hadapannya.
"Hai Luna?" sapa Adrian pelan, tak ingin mengganggu ketenangan perpustakaan.
Luna tersentak kaget dan refleks menoleh. Saat mendapati sosok Adrian yang berdiri di dekatnya, raut terkejut di wajahnya perlahan mencair menjadi sebuah senyuman tipis.
"Eh, Kak Adrian... ."
"Lagi cari buku apa? Mungkin gue bisa bantu," tawar Adrian ramah.
"Ini, lagi nyari buku manajemen akuntansi edisi terbaru," sahut Luna seraya kembali menatap jajaran rak.
"Kak Adrian lagi cari buku juga?"
Adrian, yang sebenarnya berbohong, menjawab santai,
"Enggak, kebetulan tadi habis balikin buku. Terus pas mau keluar, gue enggak sengaja ngeliat lo masuk ke sini."
Luna hanya mengangguk-angguk paham tanpa curiga.
Adrian ikut memiringkan kepalanya, berpura-pura membantunya menyisir deretan buku manajemen. Namun, fokus Adrian perlahan teralih. Matanya memicing memperhatikan kemeja yang dikenakan Luna—sebuah kemeja longgar dengan potongan bahu yang terlalu lebar untuk ukuran tubuh mungil gadis itu. Jelas sekali itu kemeja milik seorang pria.
"Tumben lo pakai kemeja oversize gini?" tanya Adrian penuh selidik, menunjuk pakaian Luna.
Luna sedikit gugup, namun berusaha menutupi kepanikannya dengan tawa kecil.
"Ah, ini... lagi pengen cobain outfit baru aja, Kak. Biar agak beda."
Tepat saat Luna hendak meraih salah satu buku di rak atas, tangannya tak sengaja menyenggol buku lain hingga terjatuh ke lantai.
"Eh—"
Sebelum Luna sempat membungkuk, Adrian sudah menunduk lebih dulu dan mengambilkan buku tersebut. Karena posisi mereka kini berdekatan, embusan angin tipis membawa aroma parfum kemeja Luna tepat ke arah wajah Adrian.
Seketika itu juga, indra penciuman Adrian menangkap aroma yang kuat. Bukan wangi bunga atau buah khas wanita, melainkan aroma parfum maskulin yang begitu kental dan elegan.
Aroma yang teramat familiar di hidungnya.
Dahi Adrian berkerut dalam, rahangnya mengeras seketika. "Aroma ini... ini kan bau parfum yang selalu dipakai Moreno? batinnya tertegun.
"Kenapa baju Luna bisa beraroma parfum Moreno? Atau... Luna sengaja pakai parfum cowok seperti milik saudaranya itu?
Kecurigaan yang membakar dada Adrian kini berputar hebat di kepalanya, menuntut jawaban atas rasa penasarannya.
Adrian menyimpan kembali buku yang sempat jatuh itu ke dalam rak, lalu menyerahkannya pada Luna.
"Makasih ya, Kak," ucap Luna pelan, berusaha bersikap senormal mungkin.
Namun, bukannya melangkah mundur, Adrian justru menatap Luna dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Wangi parfum lo enak. Boleh tahu mereknya apa?"
Jantung Luna berdegup kencang secara mendadak. Ia bisa merasakan aura kecurigaan yang samar tapi begitu kuat dari pertanyaan Adrian. Luna memaksakan senyum tipis.
"Ah...parfum? Gue lupa nama mereknya, Kak. Tadi cuma minta dikit punya teman."
Adrian mengangguk-angguk kecil seraya bergumam pelan, tetapi raut wajahnya menunjukkan ia sama sekali tidak menelan mentah-mentah alasan itu.
"Oh gitu..." gumam Adrian. Pria itu menyandarkan sebelah tangannya di rak buku, memangkas jarak.
"Ngomong-ngomong, lo masih tinggal di kontrakan gang sempit yang waktu itu?"
"I-iya, masih di sana kok," jawab Luna cepat, mencoba mengakhiri topik ini secepat mungkin.
Namun, kebohongan itu menjadi titik batas kesabaran Adrian. Pria itu tahu betul Luna sedang bersandiwara. Tanpa peringatan, tangan Adrian terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Luna cukup kuat, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Kak! Apa-apaan sih?!" ringis Luna berusaha menarik tangannya.
Adrian justru makin mendekatkan wajahnya, menatap lurus ke dalam iris mata Luna. Adrian berkata dengan suara rendah dan setengah berbisik yang seketika mendinginkan suasana perpus.
"Gue tahu lo bohong, Luna," bisik Adrian tajam.
"Sebenarnya... apa yang lagi lo sembunyiin dari gue,,, Luna Damaris... putri tunggal dari Damaris Group."
Deg!!
Napas Luna tercekat seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis.
Wajahnya pucat, bibirnya bergetar menghadapi kenyataan bahwa identitas aslinya yang selama ini ia tutupi rapat-rapat telah terbongkar.
Dengan nada gugup, Luna menatap Adrian tak percaya. "Kak Adrian... lo... lo udah tahu siapa gue sebenarnya?!"