NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 _Di Antara Rak Buku

BAB 6_Di Antara Rak Buku

Sinar matahari sore menembus celah-celah jendela kaca patri SMA Ozawa School, membias menjadi berkas cahaya keemasan yang menimpa lorong-lorong sunyi Perpustakaan Utama.

Tempat ini—sebuah bangunan tiga lantai bergaya victorian yang megah dengan ribuan jilid buku bernilai fantastis—adalah satu-satunya sudut sekolah yang jarang terjamah oleh riuh pikuk perundungan para murid elit.

Lea melangkah perlahan di antara deretan rak kayu jati yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Aroma kertas tua, kulit buku, dan lilin pelapis kayu menyeruak tenang di indra penciumannya.

Ia membutuhkan tempat ini. Bukan sekadar untuk menenangkan diri dari tatapan menghakimi anak-anak kelas 11, melainkan untuk menyusun strategi jangka panjang. Lea menarik sebuah buku tebal mengenai `Tata Kelola Beasiswa dan Hukum Pendidikan` dari rak, lalu berjalan menuju area meja baca tersembunyi di pojok perpustakaan.

Namun, saat Lea memutar sudut rak terakhir, langkahnya terhenti.

Di sana, di meja kayu panjang yang diterangi lampu baca bergaya kuno, duduk seorang siswa berseragam amat rapi. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan bias cahaya dari lembaran dokumen di hadapannya.

`Gavin Adhitama.`

Ketua OSIS itu tidak menunjukkan riak terkejut. Seolah-olah ia memang sudah memperkirakan bahwa tempat inilah yang akan dituju oleh Lea setelah insiden yang meledak di aula olahraga satu jam yang lalu.

`"Buku tentang Regulasi Hukum Beasiswa?"` suara Gavin terdengar pelan, halus, namun memecah keheningan perpustakaan dengan sangat presisi. Pandangannya perlahan terangkat dari dokumen, mengunci judul buku tebal yang berada di genggaman Lea. `"Langkah yang sangat teratur untuk seseorang yang baru saja hampir dikeluarkan dari sekolah."`

Lea tidak berkedip. Ia menarik kursi di hadapan Gavin secara anggun, meletakkan buku tebal itu ke atas meja marmer tanpa menimbulkan suara keras.

`"Seorang korban harus tahu hak hukumnya, Ketua OSIS,"` jawab Lea datar, menatap pin emas OSIS yang tersemat rapi di blazer Gavin. `"Apalagi saat dia berhadapan dengan orang-orang yang merasa hukum sekolah bisa dibeli dengan nama keluarga."`

Gavin mengamati raut wajah Lea dari balik kaca matanya. Tatapan matanya yang dingin dan analitis mencoba mencari celah, keraguan, atau kebohongan dari siswi di hadapannya.

`"Kamu baru saja menginjak surat rekomendasi yayasan dan menepis tangan Teo Ozawa di depan gengnya,"` bisik Gavin, merendahkan suaranya agar tidak mengganggu keheningan perpustakaan. `"Rekaman aksimu di aula sudah menjadi pembicaraan hangat di grup internal kelas 12. Teo sangat murka, Alia."`

Lea menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap Gavin seolah informasi itu hanyalah angin lalu.

`"Lalu? Apakah Ketua OSIS datang ke sini untuk memintaku meminta maaf pada Teo?"` tanya Lea dingin.

`"Tidak,"` jawab Gavin cepat. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap Lea dengan intonasi yang lebih serius. `"Aku ke sini untuk mengingatkanmu. Teo bukan tipe pria yang akan membiarkan harga dirinya diinjak. Setelah apa yang kamu lakukan di aula, dia tidak akan lagi memakai cara-cara anak sekolah untuk menjatuhkanmu."`

Lea mengukir senyuman tipis yang sangat tenang—sebuah senyuman yang membuat Gavin mendadak mengerutkan dahi.

`"Biarkan dia mencoba, Gavin,"` bisik Lea penuh percaya diri. `"Teo terbiasa menang karena semua orang di sekolah ini gemetar setiap kali dia menyebut nama keluarganya. Sayangnya, ketakutan itu sudah tidak berlaku lagi padaku."`

Gavin terdiam beberapa saat, tertegun melihat perubahan drastis pada siswi yang dulu selalu menunduk saat berpapasan dengannya. Ia mencoba mencari sisa-sisa kepanikan Alia yang dulu, namun yang ada di hadapannya saat ini hanyalah sosok yang tangguh dan tak tersentuh.

`"Kamu benar-benar sudah berubah total, Alia,"` gumam Gavin pelan, merapikan kacamata di hidungnya. `"Dua minggu tidak masuk sekolah ternyata sanggup mengubah seorang siswi penakut menjadi seseorang yang sangat berbahaya."`

`Bagus,` batin Lea dalam hati. `Dia benar-benar percaya aku adalah Alia yang sedang berubah keras.`

`"Manusia beradaptasi saat mereka sadar tidak ada pahlawan yang akan menolong mereka, Gavin,"` balas Lea dengan nada menyindir yang halus.

Lea lalu membuka buku hukum di hadapannya, membalik halaman demi halaman dengan tenang, mengisyaratkan bahwa percakapan mereka telah selesai.

Gavin menatap Lea beberapa detik lagi sebelum akhirnya menghela napas pendek. Ia membereskan berkas-berkasnya, lalu berdiri dari kursi. Sebelum melangkah pergi, Gavin menunduk dan berbisik di samping meja Lea:

`"Jika Teo bertindak terlalu jauh di luar aturan sekolah... pintu ruang OSIS selalu terbuka untukmu. Aku tidak suka melihat Teo menyalahgunakan kekuasaannya."`

`"Terima kasih atas tawaranmu, Ketua OSIS,"` jawab Lea tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. `"Tapi aku bisa membereskan urusanku sendiri."`

Gavin berlalu meninggalkan pojok perpustakaan.

Begitu langkah kaki Gavin menghilang di balik deretan rak, Lea menghentikan gerakan jemarinya di atas halaman buku. Ia menghembuskan napas pelan, mengukir senyum puas.

`Penyamaran aman. Gavin termakan aktingnya, dan Teo kini makin tenggelam dalam amarahnya sendiri. Sekarang, saatnya menyiapkan kejutan berikutnya untuk sang tiran sekolah.`

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!