Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama saya tidak pernah di sebut
Alya bangun jam enam pagi, bukan karena alarm, tapi karena posisi tidurnya di sofa membuat lehernya kaku sejak jam empat. Ia duduk, menatap ruang tamu Dimas yang masih berantakan—print-out data klien tersebar di lantai, dua laptop mati layarnya, dan Rani yang masih tidur meringkuk di sofa seberang dengan jaket Dimas menyelimutinya.
Dimas duduk di kursi meja makan, tidak tidur sama sekali, ponsel masih di tangannya.
"Kamu nggak tidur?" tanya Alya, suaranya serak.
"Sempet mikir," jawab Dimas, tidak langsung menatapnya. "Soal pesan Bu Sinta semalam."
Alya berjalan ke arahnya, duduk di kursi seberang. "Grup investasi yang katanya pernah kerja bareng Alinea?"
Dimas mengangguk, menyodorkan ponselnya, layar masih menampilkan pesan Sinta yang belum dibalas.
Alya membaca pesan itu perlahan, dan Dimas memperhatikan sesuatu berubah di wajahnya—bukan kaget seperti semalam ketika nama Studio Ruma disebut, tapi sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, seperti orang yang mendengar nama tempat yang sudah lama sekali ingin ia lupakan.
"PT Vertex Kapital Nusantara," gumam Alya, mengulang nama itu pelan-pelan.
"Kamu kenal?"
Alya tidak menjawab langsung. Ia berdiri, berjalan ke jendela, punggungnya menghadap Dimas—posisi yang baru sekali dua kali Dimas lihat, biasanya waktu Alya sedang menghitung sesuatu yang tak ingin ia hitung.
"Sebelum Alinea," katanya akhirnya, "sebelum Studio Ruma juga sebenernya, aku pernah kerja tiga tahun di agensi kreatif namanya Werkstatt. Kamu belum pernah denger, karena aku emang nggak pernah cerita."
Dimas diam, menunggu.
"Werkstatt itu didanai grup investasi bernama Vertex Group—belum ada embel-embel Kapital Nusantara waktu itu, cuma Vertex aja. Aku salah satu art director termuda mereka waktu umur dua puluh tiga. Kedengarannya keren, kan?" Ada nada pahit di suaranya yang tidak biasa Dimas dengar. "Tapi cara mereka kerja itu—setiap ide yang aku buat, hak ciptanya otomatis punya perusahaan, bukan punya aku. Setiap klien yang aku bangun hubungannya dari nol, begitu klien itu besar, mereka pindahin ke senior lain yang 'lebih pantas pegang akun besar'. Aku cuma alat buat cari klien baru, terus dibuang begitu klien itu udah gede."
"Itu kenapa kamu keluar?"
"Itu kenapa aku keluar dengan cara yang nggak baik," koreksi Alya, menoleh sedikit. "Aku ambil tiga desain yang sebenernya aku yang bikin—cuma nyimpen portofolio sendiri, bukan buat dijual ulang. Tapi mereka nuduh aku curi aset perusahaan. Hampir dituntut, sampai akhirnya settlement diem-diem: aku keluar tanpa referensi, tanpa pesangon, dan tanda tangan NDA yang bahkan sampai sekarang aku nggak yakin masih berlaku atau nggak."
Dimas merasakan sesuatu mengeras di dadanya, campuran marah yang bukan miliknya untuk dirasakan dan rasa bersalah karena baru tahu ini setelah enam bulan dekat dengan Alya.
"Itu kenapa kamu nggak pernah mau kerja sama investor gede," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Aku kira itu cuma soal independensi kreatif."
"Itu juga soal itu," kata Alya. "Tapi lebih ke—aku nggak percaya lagi sama orang yang nawarin modal gede sambil senyum manis. Vertex Capital yang sekarang deketin klien-klien kita, kalau bener anak perusahaan grup yang sama, itu bukan kebetulan, Dimas. Mereka tau siapa aku. Dan kalau mereka tau siapa aku, mereka juga tau cara paling nyakitin buat hancurin Alinea—bukan cuma rebut klien satu-satu, tapi buktiin ke semua orang bahwa aku emang nggak pernah bisa bangun sesuatu yang bertahan."
Rani terbangun di sofa, mendengar potongan terakhir kalimat itu, tapi memilih diam, pura-pura masih setengah tidur—kebiasaan yang sudah ia pelajari cepat sejak magang di studio ini: tahu kapan harus mendengar dan kapan harus berpura-pura tidak mendengar.
Dimas mendekat, tidak menyentuh Alya, hanya berdiri cukup dekat supaya suaranya tak perlu keras.
"Aku nggak akan bilang 'itu masa lalu, udah lewat'," katanya, "karena aku tau itu bohong kalau diomongin ke orang yang masih ngerasain efeknya sekarang. Tapi aku juga nggak akan biarin mereka menang cuma karena mereka tau cerita lama kamu yang paling nyakitin."
Alya menoleh penuh, matanya sedikit berkaca meski suaranya masih terkontrol. "Gimana caranya, Dimas? Mereka punya modal sepuluh kali lipat kita. Mereka punya tim legal yang bisa gilas kita kalau kita macem-macem."
"Mereka punya modal," kata Dimas. "Tapi mereka nggak punya apa yang bikin Ruang Gaya, Baswara, dan Kanaya tetep milih kita sejauh ini—hubungan yang dibangun bertahun-tahun, bukan angka di proposal. Kita nggak perlu ngalahin mereka pake senjata mereka. Kita cuma perlu pastiin klien-klien kita inget kenapa mereka mulai kerja sama sama kita dari awal."
Ponsel Alya bergetar di meja, memutus momen itu. Nama yang muncul di layar membuat Alya menarik napas sebelum mengangkatnya.
"Pak Broto," katanya, menatap Dimas sekilas sebelum menekan tombol jawab. "Pagi-pagi gini nelpon. Nggak biasa."
Ia menempelkan ponsel ke telinga. "Pak Broto, selamat pagi—"
Dimas memperhatikan wajah Alya berubah dalam hitungan detik, dari waspada jadi sesuatu yang lebih sulit dibaca—bukan lega, bukan juga kaget biasa.
"Bapak yakin?" tanya Alya, suaranya menurun. "Vertex udah kirim kontrak penawaran resmi ke Studio Ruma dari kemarin sore?"
Dimas dan Rani—yang sekarang sudah duduk tegak di sofa, pura-pura tidurnya sudah tak berguna lagi—sama-sama menatap Alya, menunggu.
Alya mendengarkan sebentar lagi, lalu matanya sedikit melebar, seperti mendengar sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
"Nama siapa yang tanda tangan di kontrak penawaran itu, Pak?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
Jeda panjang di ujung telepon.
Alya menutup matanya sebentar sebelum bicara lagi. "Terima kasih udah kasih tau saya duluan, Pak Broto. Saya... saya perlu waktu buat proses ini dulu."
Ia menutup telepon, tangannya sedikit gemetar meletakkan ponsel di meja.
"Alya," kata Dimas, "siapa?"
Alya menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak Dimas mengenalnya, ia melihat sesuatu yang belum pernah muncul di wajah Alya sebelumnya—bukan takut karena bisnis, tapi takut karena sesuatu yang jauh lebih personal.
"Nama yang tanda tangan di kontrak penawaran Vertex ke Pak Broto," katanya pelan, "itu Reza adiwangsa."
Dimas menunggu, karena nama itu tidak berarti apa-apa baginya.
"Reza," ulang Alya, "itu Direktur Kreatif werkstatt dulu. Orang yang sama yang ngajuin tuntutan ke aku waktu aku keluar."