Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 17 Fasilitas yang Tidak Pernah Mati
Arunika merasakan bulu kuduknya meremang.
"Maksudmu..."
Adrian mengangkat pandangan.
"Orang yang mengirim pesan tadi mungkin tidak pernah meninggalkan tempat ini."
Semua orang terdiam Raka segera memeriksa sekeliling.
"Di mana?"
Adrian tidak menjawab Tatapannya bergerak perlahan melewati gudang.
Dinding.
Kamera.
Lampu.
Atap.
Kemudian berhenti pada sebuah titik di sudut ruangan.Sebuah kamera kecil Lampunya menyala, Adrian tersenyum tipis.
"Ketemu."
Raka langsung memberi isyarat kepada Unit Delta Namun sebelum mereka sempat bergerak Suara dari pengeras suara kembali terdengar.
Kali ini jauh lebih jelas.
"Selamat malam, Adrian."
Adrian menatap kamera Arunika langsung berdiri di belakangnya, Suara itu melanjutkan.
"Kau memang selalu sulit diprediksi."
Adrian tidak menjawab.
"Jadi kami harus mengubah rencana."
Raka mengangkat senjatanya, tetapi Adrian mengangkat tangan, memberi tanda agar semua tetap tenang.
Kemudian suara itu berkata:
"Kalau kau ingin Arunika tetap aman..."
Hening sejenak.
"...datang ke tempat yang akan kami kirimkan."
Adrian menyipitkan mata.
"Sendirian."
Raka langsung menggeleng.
"Direktur, jangan."
Namun Adrian hanya menatap kamera Suara itu tertawa pelan.
"Dan kali ini, jangan bawa Raka."
Mata Raka melebar Adrian tetap diam, Kemudian pesan terakhir muncul di layar ponsel Raka. Sebuah koordinat.
Dan tepat di bawahnya terdapat satu kalimat:
Kau punya tiga puluh menit sebelum kami mengubah target.
Arunika menatap Adrian.
"Jangan pergi."
Adrian perlahan menoleh kepadanya. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah dinginnya sedikit runtuh. Namun sebelum ia sempat menjawab, ponsel Raka kembali berbunyi.
TING!
Raka melihat layar Wajahnya seketika berubah.
"Direktur..."
Adrian menatapnya.
"Apa lagi?"
Raka mengangkat kepala.
"Koordinat itu..."
Ia berhenti.
"Berada di tempat yang sudah lama tidak digunakan."
"Tempat apa?"
Raka menelan ludah.
"Bekas fasilitas milik perusahaan Anda."
Adrian membeku Arunika menatapnya.
"Adrian... kau mengenal tempat itu?"
Adrian tidak langsung menjawab Tatapannya kembali tertuju pada koordinat di layar. Kemudian perlahan ia berkata,
"Ya."
Raka menunggu.
Adrian mengepalkan tangan.
"Karena tempat itu seharusnya sudah dihancurkan tujuh tahun lalu."
Kalimat itu membuat suasana gudang kembali sunyi, Arunika menatap Adrian dengan dahi berkerut.
"Tujuh tahun lalu?"
Adrian tidak menjawab Raka justru terlihat semakin serius.
"Direktur, fasilitas apa itu?"
"Tempat penelitian."
"Penelitian apa?"
Adrian menoleh kepadanya.
"Hal yang tidak perlu kau ketahui."
Raka terdiam Namun dari ekspresinya, jelas bahwa jawaban itu sama sekali tidak membuatnya tenang.
Arunika maju selangkah.
"Kalau tempat itu sudah dihancurkan, kenapa koordinatnya masih aktif?"
Adrian menatap layar ponsel Raka Itulah pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.
Seseorang mengetahui fasilitas tersebut, Seseorang memiliki akses ke sistem lama.
Dan yang paling mengganggu...Seseorang tahu bahwa Adrian masih mengingat tempat itu.
Adrian mengambil ponsel Raka Ia memperbesar koordinat tersebut.
"Jam berapa pesan ini masuk?"
"Kurang dari dua menit lalu."
"Dan sumbernya?"
"Sudah kami lacak."
Raka berhenti.
Adrian mengangkat mata.
"Hasilnya?"
"Server berpindah tiga kali dalam waktu kurang dari sepuluh detik."
Adrian tersenyum tipis.
"Berarti mereka memang menunggu kita melacaknya."
Arunika merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Jadi ini jebakan?"
"Jelas."
"Kalau begitu jangan pergi."
Adrian menatapnya.
"Justru karena itu aku harus pergi."
"Adrian."
Nada suara Arunika terdengar lebih tegas.
"Kamu sendiri bilang tempat itu seharusnya sudah dihancurkan. Kalau seseorang sengaja mengirim kamu ke sana, berarti mereka tahu sesuatu tentang masa lalu kamu."
Adrian diam.
Arunika melanjutkan.
"Dan mereka menggunakan aku sebagai alasan supaya kamu datang."
Raka menatap Adrian Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara, Kemudian Adrian menyerahkan kembali ponsel itu.
"Raka."
"Ya."
"Siapkan kendaraan."
Raka langsung menggeleng.
"Direktur..."
"Siapkan."
"Tapi pesan mereka jelas. Anda diminta datang sendirian."
Adrian menatapnya dingin.
"Aku tahu."
"Kalau begitu..."
"Aku pergi sendiri."
Arunika langsung memotong.
"Tidak."
Adrian menoleh, Arunika berdiri tepat di depannya.
"Aku ikut."
"Tidak."
"Kamu bahkan belum mendengar alasanku."
"Aku tidak perlu."
"Kalau mereka memang mengincarku, lebih baik aku tahu apa yang mereka inginkan."
"Justru itu alasan kau tidak ikut."
Arunika menatap Adrian beberapa saat.
"Kalau begitu aku akan menyusul."
Adrian menghela napas pelan.
"Arunika, aku tidak ingin kamu terluka."
"Aku tidak bercanda."
Tatapan keduanya bertemu.
Raka yang berdiri di samping mereka hanya bisa mengusap wajahnya, Ia sudah tahu percakapan ini tidak akan berakhir mudah.
Adrian akhirnya berbalik.
"Raka."
"Ya?"
"Pastikan dia tidak keluar dari gudang."
Arunika langsung menatap Raka.
"Raka."
Raka mengangkat kedua tangannya.
"Jangan lihat saya nona. Saya cuma menjalankan perintah."
Adrian berjalan menuju pintu Namun sebelum keluar, ia berhenti. Tanpa menoleh ia berkata,
"Dan jangan ikuti aku."
Pintu tertutup, Arunika terdiam Beberapa detik kemudian ia menoleh kepada Raka.
"Dia benar-benar menyuruhmu menjagaku?"
Raka menghela napas.
"Kurang lebih."
"Kalau begitu kita punya masalah."
Raka mengangkat alis.
"Masalah apa?"
Arunika mengambil jaketnya.
"Aku tidak berniat menurut."
Dua puluh menit kemudian Sebuah SUV hitam melaju meninggalkan kawasan gudang, Adrian duduk sendirian di kursi belakang.
Tidak ada Raka.
Tidak ada Unit Delta.
Hanya dirinya.
Ponselnya berada di tangannya Koordinat masih terbuka, Jalan yang dilalui semakin sepi.
Bangunan-bangunan kota perlahan menghilang, digantikan kawasan industri tua yang sudah lama tidak digunakan.
Adrian menatap keluar jendela Ingatan lama mulai muncul. Sebuah gedung beton, Lorong panjang, Pintu baja, Lampu putih yang tidak pernah padam.
Dan suara seseorang yang sudah tujuh tahun tidak pernah ia dengar lagi, Adrian memejamkan mata.
"Jangan kembali ke sana."
Itu adalah kalimat terakhir yang pernah dikatakan seseorang kepadanya tujuh tahun lalu.
Seseorang yang kemudian dinyatakan hilang, Adrian membuka mata. Kendaraan berhenti.
Sopir menoleh.
"Pak, kita sudah sampai."
Adrian melihat ke depan, Di balik pagar tua berdiri sebuah bangunan besar yang hampir seluruhnya tertutup tumbuhan liar.
Papan nama di atas gerbang sudah rusak, Namun Adrian masih bisa membaca beberapa huruf.
FASILITAS
Sisanya tertutup karat, Adrian turun Ia berdiri di depan gerbang.
Tujuh tahun.
Tempat ini seharusnya tidak ada lagi, Namun sekarang...Lampu di salah satu lantai menyala, Adrian mengangkat pandangan.
Ponselnya berbunyi.
TING!
Sebuah pesan masuk.
Jangan berhenti di luar.
Adrian menatap layar Pesan berikutnya muncul.
Kami sedang melihatmu.
Adrian perlahan mengangkat kepala Tatapannya menyapu bangunan, Tidak ada siapa-siapa.
Ia tersenyum tipis.
"Kalau begitu berhenti bersembunyi."
Tidak ada jawaban, Kemudian pintu gerbang tua itu terbuka sendiri.
Kreeeek...
Adrian tidak bergerak selama beberapa detik.
Lalu ia masuk. Di jalan sekitar dua ratus meter dari sana, sebuah kendaraan berhenti tanpa lampu.
Raka menurunkan teropong kecil dari wajahnya.
"Dia sudah masuk."
Arunika yang duduk di sampingnya langsung melihat ke depan.
"Bagus."
Raka menoleh.
"Bagus dari mana nona?"
Arunika tidak menjawab. Di belakang mereka, tiga kendaraan lain terparkir dalam posisi tersembunyi.
Unit Delta sudah menyebar, Salah satu anggota mendekat melalui radio.
"Delta Satu ke Raka. Posisi perimeter aman."
"Delta Dua."
"Siap."
"Pantau seluruh sisi timur. Jangan masuk sebelum saya perintahkan."
"Dimengerti."
Arunika menatap Raka.
"Adrian akan marah."
Raka mendengus.
"Kalau kita selamat dari malam ini, saya rasa saya akan lebih khawatir soal itu nona."