Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Tanda Lahir
Tepat jam sembilan pagi, Ayuna mengemas barang-barangnya. Hari masih terlalu pagi namun Ayuna sudah bersiap untuk pergi, dan itu membuat teman-temannya berpikir apa yang membuatnya tergesa-gesa dan ingin segera menyudahi pekerjaannya.
"Ayuna, ini kamu mau ke mana?" tanya Mila.
"Em..., anu Mila. Ini aku tadi izin keluar sebentar. Mungkin nanti akan kembali, tapi jika tidak aku akan kembali besok."
"Loh! Memangnya ada apa sih? Kamu mau ke mana? Kamu sudah mendapatkan izin dari pak Iwan?"
Ayuna mendaratkan senyuman tipis. "Aku minta izin langsung sama pak Erlangga."
"Hah?"
Ayuna menepuk pundaknya sebelum memutuskan untuk pergi.
"Sudah ya..., aku pergi dulu. Selamat berjumpa kembali."
Mila dan teman-temannya dalam satu kubikel terbengong menatap punggungnya yang mulai menghilang dibalik pintu. Mereka saling bertanya, tak ada yang tahu kemana perginya Ayuna.
Di lobi Ayuna dihadang oleh Soraya dan juga Iwan. Dua manusia itu selalu ingin dihindarinya, namun takdir berkata lain, seolah-olah dua manusia itu dikirim sebagai jin yang harus mengganggunya.
"Mau ke mana kamu, Ayuna!" Soraya selaku sekertaris utama langsung menghadang dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan yang dipenuhi oleh kebencian.
"Maaf Bu Soraya, saya harus pergi. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk memberikan penjelasan. Nanti setelah saya kembali saya akan jelaskan."
"Memangnya siapa yang sudah beri izin kamu?"
Iwan juga mendekat. "Dia tidak meminta izin padaku. Dia pergi karena kemauannya sendiri. Cepat masuk kembali, atau aku tak segan untuk memberimu hukuman.
Dengan menarik nafasnya Ayuna membantah. "Anda tanya saja pada pak Erlangga. Apakah saya pergi karena keinginan saya sendiri, atau sudah mendapatkan izin dari beliau."
Soraya yang tak suka dengan kedekatan Ayuna dengan Erlangga mengibaskan tangannya sembari berkata. "Halah! Nggak usah bawa-bawa pak Erlangga. Dia nggak mungkin kasih izin kamu buat pergi. Lagian ngapain juga dia peduli sama kamu yang hanya pegawai rendahan. Kau itu nggak sepadan dengan kami. Sebaiknya kau jaga sikap kalau masih ingin bertahan di sini."
Drett... Drett...
Getaran handphone di dalam tasnya terdengar lumayan keras. Ayuna buru-buru mengambilnya dan ternyata Erlangga menghubunginya dengan nomor pribadi. Ya..., pria itu memang memberinya dua nomor dan salah satunya nomor pribadi yang tidak semua orang memilikinya.
("Kamu di mana? Aku sudah ada di depan kantor sipil.")
Dengan cepat Ayuna membalas chat dari Erlangga.
("Ini saya masih ditahan oleh Bu Soraya dan juga pak Iwan, pak. Saya tidak diizinkan pergi, padahal saya sudah jelaskan kalau Bapak sudah izinkan saya.")
("Keterlaluan. Biar aku yang urus. Segeralah kemari.")
Tak lama dari itu handphone Iwan berbunyi. Buru-buru pria itu langsung mengeceknya.
'Pak Erlangga. Tumben beliau menghubungiku. Ada apa ya?'
"Em..., Bu Soraya, tolong cegah Ayuna agar tidak pergi. Aku mau angkat telepon dulu."
"Baik pak Iwan."
Dengan percaya dirinya Iwan menjauh untuk mengangkat panggilan dari Erlangga. Baru saja ditempelkan di telinganya sudah disemprot oleh Erlangga.
("Kamu apain Ayuna?! Dia aku suruh keluar buat menyelesaikan urusan. Kenapa kamu menghalanginya?!")
(Hah?")
Iwan menoleh ke setiap sudut dan tak mendapati keberadaan Erlangga. Tapi dengan jelas pria itu menegurnya.
("Maaf pak, saya nggak tahu kalau Bapak yang mengizinkan Ayuna buat keluar. Tadi saya memang melarangnya. Soalnya dia itu suka bikin rusuh. Kerjanya nggak pernah bener.")
("Jangan suka memfitnah orang kalau nggak ada buktinya. Lagian kamu itu siapa berani-beraninya mengatur. Kalau ingin aman bekerja sama dengan saya sebaiknya jaga sikapmu, atau saya tak segan untuk mencabut jabatanmu sebagai manager.")
("J—jangan pak, jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini. Tolong maafkan saya.")
("Cepat kamu temui dia dan biarkan dia keluar. Bilang sama temanmu Soraya, jangan pernah ganggu Ayuna, atau saya juga bakalan kasih tindakan buat kalian.")
("B—baik pak, saya mengerti.")
Setelah Erlangga mematikan sambungannya, buru-buru Iwan menemui Soraya yang tengah menahan Ayuna di lobi.
"Bu Soraya, biarkan Ayuna pergi."
"Loh! Kenapa begitu pak Iwan?"
"Pak Erlangga yang memintanya. Jadi lepaskan dia."
Dengan kasarnya Soraya menghempaskan tangan Ayuna dan langsung meninggalkannya. Dia cemburu dengan perhatian Erlangga yang hanya ditunjukkan pada Ayuna.
Tanpa basa-basi Ayuna langsung melenggang pergi. Di luar sudah ada Sofyan yang tengah menunggunya.
"Nyonya, mari saya antar."
Ayuna berhenti melangkah dengan mengerutkan keningnya. "Tapi pak Sofyan?"
"Saya diminta pak Erlangga untuk menjemput anda."
"Oh..., yaudah kalau gitu."
***
Setibanya di depan kantor sipil, degub jantung Ayuna tak terkendalikan. Perasaannya campur aduk, apalagi pernikahan itu bukan karena keinginannya.
"Mari nyonya, Tuan Erlangga sudah menunggu di dalam."
Ayuna patuh. Dia keluar dari dalam mobil dan mengikuti Sofyan yang berjalan di depannya menuju kantor sipil.
"Tuan, saya sudah membawa nyonya."
Erlangga menoleh pada Ayuna yang berdiri di belakang Sofyan. Dia menatapnya begitu intens dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Gantilah bajumu." Erlangga menyodorkan paperbag pada Ayuna.
"Hah? Kenapa harus ganti pak? Apa pakaian saya nggak sopan?"
Ayuna menelisik pakaian yang dikenakannya, dan menurutnya cukup sopan dan juga rapi.
"Bukan karena kurang sopan, tapi ini acara pernikahan kita. Setidaknya kamu harus mengenakan pakaian baru. Sudahlah, lekas ganti pakaianmu. Ayo aku antarkan."
Ayuna menerima paperbag itu dan mengekori Erlangga yang berjalan menuju ruang ganti yang tersedia di kantor sipil.
"Bapak tunggu di luar saja. Saya bisa sendiri."
Buru-buru Ayuna masuk dan menutup pintunya. Erlangga cukup lega, meskipun pernikahannya terbilang sangat sederhana tanpa sepengetahuan keluarganya. Sengaja ia tidak mengabari keluarganya mengenai pernikahannya. Ia ingin memberikan surprise buat keluarganya yang terus-terusan mendesaknya untuk segera mengakhiri masa lajangnya.
"Ayuna, kau baik-baik saja?"
Sudah hampir sepuluh menit Ayuna tak kunjung keluar dari dalam ruang ganti. Tidak terdengar suaranya membuat Erlangga agak panik.
"Ayuna, bisa dengar aku?"
"I—iya pak, saya mendengarnya."
"Kalau butuh sesuatu jangan sungkan."
Tak lama dari itu pintu terbuka. Ayuna mencondongkan kepalanya keluar.
"Pak, maaf sudah lama menunggu. Tapi ini resletingnya macet."
Erlangga berdecak. "Ck, terus kenapa kamu diam saja?"
"Em..., saya pikir bisa mengatasinya sendiri, tapi agak kesulitan."
"Ya sudah ayo masuk, biar kubantu."
Erlangga masuk ke dalam ruangan ganti dan menutup pintunya kembali.
"Maaf pak, saya kurang sopan. Tidak seharusnya saya~~
"Kita ini bukan lagi orang asing, Ayuna. Sebentar lagi kau akan menyandang status sebagai ~~
Erlangga tercengang kala matanya tertuju pada bahu Ayuna yang terbuka. Dia melihat dengan jelas tanda merah kecil menempel di kulit putihnya.
'tanda lahir?'
Flashback
(Kak Angga lihatlah. Aku memiliki tanda lahir di bahuku. Kelak kalau kita berpisah nanti, kau bisa mencariku dengan mudah, dan kita akan bertemu kembali.)
Nafas Erlangga tersengal. Dengan tangan gemetar dia menarik resletingnya sembari menggumam, 'Luna, aku tidak salah mengenalimu. Kau memang Lunaku, aku berhasil menemukanmu kembali.'