NovelToon NovelToon
The Extra Who Changed Fate

The Extra Who Changed Fate

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.

Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.

Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.

Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.

Namun kali ini, takdir berubah.

Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.

Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Sore itu, setelah rapat OSIS selesai lebih awal dari biasanya, Rean berjalan menyusuri koridor menuju gerbang sekolah, berniat menunggu jemputan seperti biasa. Namun langkahnya terhenti ketika suara familiar memanggil dari belakang.

"Rean, tunggu!"

Elora berlari kecil menghampirinya, napasnya sedikit terengah. "Kebetulan banget, aku juga baru selesai kegiatan klub. Kamu udah dijemput?"

"Belum, biasanya masih agak lama," jawab Rean.

"Kalau gitu, aku temenin nunggu, ya," Elora langsung duduk di bangku taman dekat gerbang tanpa menunggu persetujuan, seolah keputusan itu sudah final sejak awal.

Rean tidak keberatan, duduk di sebelahnya sambil menikmati suasana sore yang tenang. Halaman sekolah sudah mulai sepi, hanya tersisa beberapa siswa yang masih menunggu jemputan atau menyelesaikan kegiatan ekstrakurikuler terakhir.

"Belakangan ini kita jarang ngobrol santai kayak gini," Elora memulai, mencoba terdengar santai meski sebenarnya sudah lama merindukan momen semacam ini.

"Iya, maaf, ya," Rean tersenyum minta maaf. "Jadwal OSIS emang lumayan padat, apalagi sekarang lagi persiapan acara amal."

"Nggak apa-apa, kok," Elora menggeleng cepat. "Aku ngerti kamu sibuk. Cuma... kadang aku kangen waktu kita masih sering ke klub sastra bareng."

Kata "kangen" itu terucap begitu saja, membuat pipi Elora sedikit merona menyadari betapa jujurnya ia baru saja mengungkapkan perasaan itu.

"Aku juga kangen," jawab Rean tulus, sama sekali tidak menangkap nada khusus di balik kalimat itu. "Nanti kalau acara amal udah selesai, aku pasti lebih sering main ke sana lagi."

Elora tersenyum kecil, menahan diri untuk tidak terlalu berharap lebih dari jawaban sederhana itu. Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati semilir angin sore yang membelai dedaunan di sekitar taman.

"Rean," katanya lagi, mencoba memulai topik baru, "kalau nanti liburan semester, kamu ada rencana apa?"

"Belum tahu," Rean menggeleng. "Mungkin cuma di rumah aja, baca buku, atau jalan-jalan sama Kakak."

"Kalau gitu," Elora mengumpulkan keberanian, "mau nggak, kapan-kapan liburan kita jalan bareng? Cuma kita berdua."

Rean menoleh, matanya berbinar antusias. "Boleh banget! Ke mana enaknya?"

"Terserah kamu," jawab Elora cepat, jantungnya berdebar kencang menunggu respons lebih lanjut.

"Aku belum pernah ke banyak tempat," aku Rean jujur. "Jadi terserah kamu aja yang pilih, aku pasti seneng ke mana pun."

Jawaban itu, meski terdengar polos dan sederhana bagi Rean sendiri, membuat Elora merasa hangat luar biasa — sebuah kepercayaan penuh yang diberikan Rean padanya, meski ia tahu betul Rean sama sekali tidak menyadari maksud lebih dalam di balik ajakan itu.

Tidak lama kemudian, mobil jemputan Rean akhirnya tiba di depan gerbang. Ia berdiri, merapikan tasnya sebelum berpamitan.

"Makasih udah nemenin nunggu," katanya, tersenyum tulus. "Sampai ketemu besok."

"Sampai ketemu," Elora melambaikan tangan, memperhatikan mobil itu menjauh hingga menghilang di ujung jalan.

Ia duduk sendirian sejenak di bangku taman, menatap langit sore yang mulai berubah warna, dadanya masih dipenuhi kehangatan dari percakapan singkat namun berarti itu. Rencana jalan-jalan berdua yang baru saja disepakati, meski sederhana, terasa seperti langkah kecil namun penting menuju sesuatu yang selama ini ia harapkan diam-diam.

*Pelan-pelan,* pikirnya sambil tersenyum sendiri, mengingat kembali ekspresi antusias Rean tadi. *Aku akan terus berjalan sepelan ini, asal akhirnya bisa sampai ke hatinya.*

----

Menjelang hari pelaksanaan acara amal tahunan sekolah, ruang OSIS dipenuhi tumpukan proposal, daftar donatur, dan berbagai perlengkapan yang harus dipersiapkan dengan teliti. Sebagian besar anggota sudah pulang menjelang malam, menyisakan hanya beberapa orang yang masih bertahan menyelesaikan tugas-tugas terakhir.

Rean duduk di salah satu meja, sibuk menyusun daftar stan donasi yang akan berpartisipasi, sementara Kieran di meja seberang memeriksa ulang anggaran acara secara detail.

"Kamu nggak perlu lembur juga, kok," kata Kieran, memperhatikan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Bagianmu udah cukup untuk hari ini."

"Aku mau selesaikan sekalian," jawab Rean, tetap fokus pada daftar di depannya. "Biar besok nggak terlalu terburu-buru."

Kieran tidak membantah lebih jauh, membiarkan Rean melanjutkan pekerjaannya sambil kembali fokus pada anggarannya sendiri. Suasana ruangan hening, hanya diisi suara pena menggores kertas dan sesekali dentingan laptop yang digunakan Sophia sebelum akhirnya pulang lebih dulu bersama anggota lain.

"Rean," Kieran akhirnya membuka suara setelah beberapa menit hening, nadanya sedikit ragu. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Boleh," jawab Rean, mengangkat kepala dari kertasnya.

"Kenapa kamu selalu semangat banget ikut kegiatan sekolah? Bahkan hal-hal kecil yang orang lain sering anggap sepele."

Rean terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. "Karena aku dulu nggak pernah punya kesempatan buat ngerasain semua ini," jawabnya jujur. "Jadi sekarang, setiap kegiatan sekecil apa pun, rasanya berharga banget buatku."

Kieran menatapnya lama, mencerna jawaban itu dengan seksama. "Kudengar kamu dulu sering sakit-sakitan sampai homeschooling terus."

"Iya," Rean mengangguk, tidak keberatan membicarakannya. "Penyakitnya cukup parah, dulu. Tapi sekarang aku udah sembuh total, jadi aku pengen manfaatin sebaik mungkin kesempatan kedua ini."

Kesederhanaan dan ketulusan jawaban itu membuat Kieran terdiam sejenak, sesuatu dalam dirinya mulai bergeser perlahan. Selama ini, ia selalu melihat Rean sebagai ancaman — seseorang yang tiba-tiba muncul dan mengambil alih banyak hal yang seharusnya menjadi miliknya. Namun mendengar cerita itu langsung dari sumbernya, ia mulai menyadari betapa dangkalnya cara pandang yang selama ini ia pegang.

"Aku nggak tahu soal itu," akunya pelan. "Maaf kalau selama ini aku... agak berjarak sama kamu."

Rean menggeleng cepat, tersenyum tulus. "Nggak apa-apa, kok. Aku juga ngerti, kamu pasti sibuk banget sama tanggung jawab sebagai ketua OSIS."

Kieran tidak sepenuhnya membenarkan alasan itu dalam hati, tahu betul bahwa jarak yang ia ciptakan selama ini berasal dari sesuatu yang jauh lebih personal dibanding sekadar kesibukan. Namun ia memilih untuk tidak mengungkapkannya, belum siap membuka perasaan yang masih ia perjuangkan sendiri untuk dipahami.

Mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing dalam diam yang kali ini terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya, sesekali bertukar pendapat singkat soal detail acara amal yang harus diselesaikan.

Ketika akhirnya seluruh pekerjaan selesai menjelang pukul sembilan malam, keduanya berjalan bersama menuju gerbang sekolah yang sudah sepi.

"Makasih udah bantu banyak hari ini," kata Kieran, nada suaranya lebih hangat dari biasanya.

"Sama-sama," jawab Rean tulus. "Aku senang, kok, bisa kerja bareng kamu."

Kieran mengangguk, membiarkan kalimat itu menggantung sejenak di udara malam yang sejuk. Ada sesuatu yang mulai berubah dalam dirinya malam itu — bukan penyelesaian penuh atas segala kegelisahan yang selama ini menghantuinya, namun setidaknya sebuah pengakuan kecil bahwa mungkin, selama ini, ia telah salah menilai sosok yang selalu ia anggap sebagai ancaman terbesarnya.

Namun perasaan cemburu yang lebih dalam terkait Elora tetap tertinggal, tersembunyi rapat di sudut hatinya — sebuah bara kecil yang belum sepenuhnya padam, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyala.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!