Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Debat Kecil
Laluna segera menarik Rina untuk menjauh dari suami kontraknya itu, mereka menuju ke ruang depan. Laluna segera terduduk di sofa, sedangkan Rina masih berdiri menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Siapa pria itu?"
Namun, belum sempat Laluna menjawab. Jordi yang mendengar ada kebisingan segera keluar dari kamar lain yang membuat Rina tambah terkejut.
"Lo abis ngapain sama dua cowo dirumah lo Lun? Lo gila ya? Kalau wartawan tahu gimana?" Rina menepuk jidatnya.
Laluna yang ditatap hanya menatapnya santai, ia segera menarik Rina untuk duduk dan menenangkan dirinya.
"Ini tuh cerita panjang banget Rin," ujarnya.
Laluna menatap ke arah Nathan yang masih berdiri di depan pintu, dengan gerakan tangannya ia meminta agar pria itu mendekat ke arahnya.
"Kalian berdua duduk," perintahnya kepada Nathan dan Jordi yang langsung menurutinya.
Rina memperhatikan keduanya secara bergantian. Tatapannya berhenti lebih lama pada Nathan. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya merasa tidak asing.
"Kamu..." Rina menunjuk Nathan pelan. "Jangan bilang..."
Nathan hanya menatap wanita itu dengan ekspresi datar. Kepalanya yang masih terasa pusing membuatnya tidak mau memikirkan hal hal lain.
"Laluna, jangan bilang pria ini adalah..." Rina menelan salivanya. "Nathan Adikara?"
Laluna terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. Mata Rina langsung membulat sempurna.
"Nathan Adikara? Pengusaha muda kaya raya itu? Bagaimana bisa kamu kenal dengan dirinya?" tanyanya, histeris.
Laluna yang melihat Rina malah kagum ke suami kontraknya itu hanya mendengus.
"Ga usah alah gitu deh, dia suami kontrakku," ujar Luna, santai.
Mendengar ucapan itu Rina benar benar terkejut, ia tidak menyangka Laluna sudha move on dari Kevin dan bahkan ia sudah menikah dengan pria yang sangat dikagumi oleh banyak wanita. Bagaimana tidak? Otot yang besar dengan perut delapan kotaknya, wajah yang tampan dan yang paling penting adalah kekayaan yang bahwa sepuluh turunan pun tidak akan habis.
"Gila, ini sungguh gila. Kenapa kamu tidak cerita kepadaku, kalau kamu sudha menikah dengan pria se sempurna Nathan?" ujarnya, menatap Nathan dengan kagum.
Nathan yang dipuji Rina hanya tersenyum tipis, namun saat ia menoleh ke arah Laluna. Gadis itu malah menatapnya tajam.
" Tidak usah kepedean seperti itu, Rina hanya memuji biasa," ujarnya, kesal.
Entah kenapa Laluna merasa kesal sata suami kontraknya itu dipuji oleh wanita lain. Padahal dirinya yakin bahwa ia tidak akan memiliki perasaan untuk pria itu, bahkan di kontrak pun pria itu sendiri yang tidak mau ada perasaan di hubungan kontrak ini.
Nathan menatap Laluna beberapa detik setelah mendengar ucapannya. Ada sedikit perubahan dalam ekspresinya, seolah ia menyadari sesuatu dari nada suara wanita itu.
Namun, pria itu tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan tenang. Rina yang melihat reaksi keduanya langsung mengangkat alisnya.
"Tunggu..." Rina menunjuk mereka bergantian. "Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh di antara kalian?"
Laluna langsung mengalihkan pandangan.
"Aneh apanya?Tidak ada yang aneh disini."
"Ya aneh. Kamu barusan kelihatan kesal waktu aku memuji dia. Bukankah semua orang akan kagum dengan suami kontrakmu itu."
"Aku kesal karena kamu terlalu heboh. Dia tidak sesempurna itu untuk dipuji seperti itu,"kesalnya.
"Benarkah?" Rina menyipitkan mata curiga. "Atau jangan-jangan..."
"Jangan berpikir macam-macam," potong Laluna cepat.
Jordi yang duduk tidak jauh dari mereka hanya diam, tetapi sudut bibirnya hampir terangkat melihat tingkah tuannya dan istri dari tuannya. Ia sudah cukup lama mengenal Nathan, dan baru kali ini ia melihat tuannya menunjukkan reaksi berbeda terhadap seorang wanita.
Nathan yang biasanya tidak peduli dengan apa pun, sekarang justru memperhatikan ekspresi Laluna. Merasa bahwa gadis itu tengah cemburu membuatnya merasa senang.
"Saya tidak merasa masalah jika dipuji, saya sangat suka dipuji, apalagi dipuji seorang wanita," ujar Nathan tiba-tiba.
Laluna langsung menoleh ke arahnya.
"Tentu saja. Kamu kan mata keranjang, pasti sebelum menikah kamu juga meminta cewe lain untuk menikah denganmu." Laluna memutar bola matanya malas.
Nathan mengangkat alis. "Saya tidak seperti itu."
"Tapi kamu seperti itu," tegasnya.
Senyum tipis terukir di wajah Nathan. Untuk pertama kalinya, ia melihat istri kontraknya itu merasa cemburu dengan wanita lain.
"Kamu cemburu?" tanyanya, tiba tiba.
Laluna yang tengah minum langsung tersedak, ia menyemburkan airnya yang membuat semua orang tertawa.
"Aku tidak cemburu, hanya.. hanya saja aku tidak suka melihat kamu dipuji," jelasnya.
Nathan menatap Laluna yang masih berusaha menutupi wajah malunya. Wanita itu terlihat begitu gugup setiap kali dirinya membahas sesuatu yang berkaitan dengan perasaan.
"Kamu tidak suka melihat saya dipuji?" ulang Nathan, sengaja menekankan kalimat itu.
Laluna terdiam. Ia baru sadar bahwa ucapannya barusan terdengar sangat mencurigakan.
"Bukan begitu maksudku," sanggahnya cepat. "Aku hanya merasa aneh saja. Biasanya kamu menyebalkan dan sangat menyebalkan, tapi tiba-tiba ada wanita yang memujimu seperti kamu pria paling sempurna di dunia."
Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Laluna dengan senyum tipis.
"Jadi menurutmu saya tidak sempurna?"
"Tentu saja tidak."
"Padahal banyak wanita yang berpikir sebaliknya."
Laluna mendengus pelan. "Mereka mungkin belum mengenal sifat aslimu."
Jordi yang mendengar itu hampir tertawa. Berani sekali Nona Laluna berbicara seperti itu kepada Nathan. Jika orang lain mengatakan hal yang sama, mungkin mereka sudah tidak berani muncul lagi di hadapan tuannya. Namun Nathan hanya diam. Tidak marah seperti biasanya. Justru ia terlihat menikmati perdebatan kecil itu.
"Apa kamu selalu berpikir buruk tentangku?" tanyanya.
Laluna menatapnya sebentar. "Tidak selalu."
"Berarti ada saatnya kamu berpikir baik tentangku?"
Pertanyaan itu membuat Laluna kembali terdiam. Ia tidak bisa menyangkal bahwa Nathan memang tidak seburuk yang ia pikirkan dulu. Pria itu memang dingin, arogan, dan terkadang menyebalkan, tetapi di balik semua itu, ia juga beberapa kali membantunya tanpa meminta imbalan.
"Aku tidak tahu." Laluna segera berlari ke arah kamar meninggalkan orang orang disana, ia sangat sangat malu saat berdebat dengan Nathan.
Laluna segera melangkah ke dalam toilet, ia harus bersih bersih untuk berangkat ke lokasi syuting. Namun, saat ia baru saja masuk ke dalam, ia segera menyenderkan punggungnya di belakang pintu. Tangan kecilnya menempel di dadanya.
"Kenapa jantungku berdegup kencang sekali?" gumamnya.
Namun, Laluna tidak mau memikirkan yang tidak tidak ia segera membersihkan dirinya. Setelah berlalu selama lima belas menit. Laluna segera keluar dengan dress berwarna pink yang cukup menawan, ia memakai jepit bunga berwarna pink di rambutnya yang menambah kesan imut gadis itu.
Laluna segera melangkah ke arah luar, baru saja ia keluar semua mata tertuju kepadanya. Nathan yang tengah memakan cemilan di hadapannya terdiam, ia benar benar melihat wajah cantik Laluna. Walau gadis itu tidak memakai makeup seperti biasanya, gadis itu masih tampak cantik dan memukau.
"Ayo Rina, kita berangkat," ujarnya, yang membuyarkan pikiran Nathan.