"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17 -Bali
Satu minggu kemudian...
Hari ini adalah hari keberangkatan Alyssa dan Adrian ke Bali. Sesuai janji Adrian, pria itu akan merayakan hari jadi pernikahan mereka di sana.
Alyssa mematung di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia bingung harus merasa bahagia atau bagaimana. Semua manisnya rencana ini terasa semu dan hampa baginya. Terlebih, sepanjang satu minggu belakangan ini, ia justru selalu menghabiskan waktu keluar berdua bersama Arden setiap kali Adrian disibukkan oleh pekerjaan—dan pesan-pesan dari Hanum.
Alyssa melirik layar ponsel di meja rias, berharap ada satu saja pesan masuk dari Arden. Namun, nihil. Tidak ada notifikasi sama sekali dari pria muda itu.
"Huh... Di saat aku ingin menyerah, kenapa semuanya justru makin rumit seperti ini?" gumam Alyssa lirih. Ia menarik napas panjang lalu beranjak keluar kamar karena Adrian pasti sudah menunggunya.
Baru saja melangkah ke koridor, Alyssa berpapasan dengan Arden yang baru keluar dari kamarnya. Pria itu tampak acuh, tak mengucapkan sepatah kata pun dan melengos pergi begitu saja melewati Alyssa.
"Arden..." Panggilan Alyssa tertahan di tenggorokan. Tangannya yang sempat terangkat untuk menahan lengan Arden perlahan kembali turun.
Dengan perasaan yang mendadak berat, Alyssa mengekor Arden turun ke lantai dasar. Di ruang tengah, Bagas dan Maya—ibu mertuanya—sudah menunggu. Wajah Maya tampak begitu antusias menyambut perjalanan anak dan menantunya.
"Alyssa, semoga sepulang dari Bali nanti membawa kabar baik, ya!" bisik Maya hangat sembari memeluk erat sang menantu.
Alyssa hanya bisa mengulas senyum tipis yang dipaksakan. Matanya kini mencuri pandang ke arah Arden yang tampak duduk santai di sofa ruang tengah, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Sudah siap?" suara Adrian membuyarkan lamunan Alyssa. Pria itu baru saja selesai menaruh koper terakhir ke dalam bagasi mobil.
"Iya, Mas," jawab Alyssa pelan. Ia lalu menatap ibu mertuanya. "Mama, Papa, aku pergi dulu, ya."
Adrian pun melakukan hal yang sama, berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Iya, hati-hati ya, Nak. Jangan pikirkan apa-apa di sana, bersenang-senanglah!" pesan Maya hangat, yang dijawab anggukan penuh rasa sungkan dari Alyssa.
Adrian kemudian memeluk sang ayah, Bagas.
"Jangan terlalu cuek sama Alyssa, Dri. Nanti kamu menyesal," bisik Bagas pelan namun penuh penekanan di telinga putra sulungnya.
"Iya, Pa," balas Adrian singkat. Tatapannya sempat jatuh pada sang adik yang masih duduk membisu di sofa. Namun, Adrian sama sekali tak berniat menghampiri atau berpamitan pada adiknya itu.
"Ayo," ajak Adrian sembari merangkul tipis bahu Alyssa yang sejujurnya masih sibuk menatap Arden dari kejauhan.
Arden hanya mematung menatap kepergian sang kakak dan kakak iparnya dari balik jendela. Begitu mobil Adrian melaju keluar dari halaman, pria muda itu menghembuskan napasnya pelan. Rasanya sungguh tak enak mendiamkan Alyssa seperti tadi, namun ia harus tetap bersikap dingin di depan orang tuanya agar tidak ada curiga.
Suasana tropis nan hangat menyambut kedatangan mereka saat menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai, Bali. Bagi Alyssa, ini bukan kali pertama ia berada di Pulau Dewata. Sebelum menikah dengan Adrian empat tahun lalu, Alyssa sempat bekerja di sini selama beberapa tahun. Bali menyimpan banyak kenangan masa lalunya yang manis dan bebas—sangat kontras dengan hidupnya yang penuh kekangan sekarang.
Mobil jemputan dari hotel yang dipesan oleh Maya sudah menunggu di area penjemputan. Mereka pun langsung menaiki mobil tersebut menuju hotel tempat mereka menginap.
Namun, di sepanjang perjalanan menyusuri jalanan Bali, pandangan Alyssa tak lepas dari ponselnya. Sejak mendarat tadi, perasaannya gelisah. Tidak ada satu pun pesan dari Arden.
"Apa Arden marah? Karena aku mengiyakan liburan ke Bali bersama Mas Adrian?" batin Alyssa cemas.
Dada Alyssa terasa semakin sesak. Ia takut tindakan dan keputusannya untuk tetap pergi ke Bali justru membuat Arden berpikir bahwa ciuman malam itu tidak ada artinya bagi Alyssa. Padahal, hanya Arden satu-satunya pria yang berhasil membuat hatinya kembali bergetar setelah empat tahun mati rasa.
Mobil penjemputan akhirnya berhenti di lobi sebuah resort mewah di kawasan Nusa Dua. Petugas hotel menyambut kedatangan mereka dengan ramah, lalu mengantar Adrian dan Alyssa menuju suite room yang terletak di lantai paling atas dengan pemandangan langsung menghadap samudra.
Begitu pintu suite dibuka, aroma wangi terapi bunga melati dan lavender langsung menyapa indra penciuman mereka.
Di atas meja konsol dekat pintu masuk, berdiri sebuah papan ucapan akrilik cantik bertuliskan:
"Welcome to Bali, Mr. and Mrs. Adrian Narendra. Happy Anniversary!"
Alyssa mematung beberapa detik menatap papan ucapan itu. Nama "Mrs. Adrian Narendra" yang tertera di sana mendadak terasa seperti beban berat yang menjepit dadanya.
Langkah Alyssa tertahan saat memasuki area kamar utama. Maya benar-benar tidak main-main menyiapkan liburan ini. Kamar suite itu didekorasi penuh nuansa bulan madu. Kelopak bunga mawar merah ditabur membentuk hati di atas kasur king size, lengkap dengan sepasang handuk berbentuk angsa yang saling bertautan. Di meja sudut, tersaji dua gelas wine dan sebotol sampanye mahal bertuliskan pesan manis dari sang ibu mertua.
"Mama benar-benar niat sekali," gumam Adrian seraya terkekeh pelan. Ia meletakkan kunci kartu akses kamar di atas meja, lalu berjalan mendekati Alyssa yang masih berdiri kaku di tengah ruangan.
"Kamar yang indah, kan?" tanya Adrian. Pria itu mengikis jarak, membawa kedua tangannya melingkar di pinggang Alyssa dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
Tubuh Alyssa seketika menegak. Sentuhan Adrian yang tiba-tiba ini terasa begitu asing—bahkan memicu rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya.
"Aku... aku mau merapikan baju-baju dulu, Mas," ujar Alyssa beralasan, pelan-pelan melepaskan diri dari dekapan Adrian dan berjalan cepat menuju koper.
Adrian menghembuskan napas panjang menatap punggung istrinya. Sebelum ia sempat melangkah mendekati Alyssa kembali, gawai di saku celananya bergetar hebat.
Nama Hanum tertera jelas di layar ponselnya. Adrian sempat melirik cemas ke arah Alyssa yang sibuk membongkar isi koper, sebelum akhirnya menggeser layar dan mengangkat panggilan tersebut seraya melangkah mendekati balkon kamar.
"Halo," sapa Adrian pelan.
"Adrian, kamu di mana? Kenapa tidak ada di kantor? Padahal ini sudah jam sepuluh lewat!" cerocos Hanum dari seberang telepon tanpa basa-basi.
"Aku di Bali, Num," balas Adrian memilih jujur.
"Bali? Ngapain? Oh... kamu lagi ada dinas luar kota, ya?"
Adrian menghela napas pelan, matanya menatap hamparan laut Nusa Dua yang menderu disapu ombak. "Bukan. Aku dan Alyssa sedang di Bali untuk merayakan hari jadi pernikahan kami."
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari seberang sana. Suara bising napas Hanum teratur namun tertahan, menandakan wanita itu terkejut setengah mati.
"Hanum?" panggil Adrian, nada suaranya berubah khawatir.
"Begitu, ya... Selamat bersenang-senang, Adrian," lirih Hanum dengan nada suara yang bergetar penuh kekecewaan, lalu serta-merta menutup panggilan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban Adrian.
"Hanum? Halo... Hanum!" panggil Adrian panik.
Ia buru-buru mencoba menelepon kembali nomor wanita itu. Namun, suara operator otomatis langsung menyambutnya—nomor Hanum sudah tidak aktif.
Adrian mengepal ponselnya erat-erat, raut wajahnya berubah sangat gelisah. Perasaan bersalah seketika melingkupi dadanya. Pikirannya yang tadinya berniat menikmati liburan romantis bersama Alyssa, kini buyar tak berbekas hanya karena satu panggilan dari Hanum.
Bersambung ...
udah'lh Al., lepasin aja., laki² seperti itu tidak pantas d'tunggu
Aku muak sama Kamuuuu...!!!
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣