NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Seminggu kemudian, suasana bengkel terasa berbeda. Tak ada obrolan ringan, tak ada candaan dari para teknisi. Semua orang bekerja lebih pelan dari biasanya.

Di atas meja hanya ada satu benda: silinder hitam sepanjang lengan yang selama ini selalu disimpan di dalam lemari besi—Inti Resonansi.

Profesor Surya berdiri di depannya beberapa saat, seolah sedang memastikan dirinya sendiri.

"Lima kali pengecekan," ucapnya.

Ardi mengangguk. "Sudah."

"Suhu?"

"Normal."

"Struktur?"

"Normal."

"Medan internal?"

"Stabil."

Profesor mengangguk pelan. "Baik."

Zain datang membawa dua kantong gorengan. "Wah... sepi amat."

Tak ada yang menjawab. Baru saat itulah ia melihat silinder hitam di atas meja.

"Oh... yang ini."

Ardi menerima gorengan sambil tersenyum tipis. "Hari ini hari penting."

"Pantesan," Zain ikut menurunkan nada suaranya.

Entah kenapa, melihat semua orang begitu serius membuatnya ikut menjaga sikap.

Profesor mengenakan sarung tangan putih. Ia mengangkat Inti Resonansi dengan kedua tangan—pelan, sangat pelan, tanpa ada gerakan yang sia-sia.

Mereka berjalan menuju motor. Di bawah jok, sudah tersedia ruang kosong yang dibuat khusus beberapa minggu lalu.

"Pas," gumam Zain.

Memang pas, seolah ruang itu memang diciptakan khusus untuk benda tersebut.

Profesor menurunkan silinder itu perlahan.

*Klik...*

Bunyi pengunci terdengar pelan. Ardi segera menyambungkan tiga konektor, dan lampu indikator langsung menyala hijau.

"Terbaca," lapornya.

Profesor mengembuskan napas lega. "Tidak ada penolakan."

"Penolakan?" tanya Zain.

Profesor tersenyum. "Kadang dua komponen yang bagus belum tentu mau bekerja bersama."

"Oh... kayak orang kerja kelompok."

Ardi tertawa kecil. "Analogi yang lumayan."

Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair.

Setelah semua konektor terpasang, Profesor tidak langsung menyalakan sistem. Sebaliknya, ia justru memeriksa baut satu per satu, memeriksa kabel, lalu mengulanginya lagi.

"Prof," kata Ardi. "Sudah tiga kali."

"Empat kali juga tidak apa-apa," jawab Profesor tenang.

Zain tersenyum sendiri. Kini ia paham bahwa kesabaran Profesor bukan karena lambat, melainkan karena tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.

Sore menjelang dan semua pemeriksaan selesai. Profesor berdiri di depan motor.

"Hari ini... kita tidak melakukan uji coba."

Zain mengernyit. "Lho? Bukannya Intinya sudah dipasang?"

"Benar."

"Lalu kenapa?"

Profesor menatap motor itu lama. "Karena mulai hari ini... kesalahan kecil tidak lagi berarti baut yang longgar. Bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar."

Ia menutup kembali bodi motor hingga semua komponen tersembunyi. Dari luar, kendaraan itu tetap terlihat seperti motor matik biasa. Tak ada lampu aneh, tak ada antena, tak ada perangkat mencolok.

Zain bahkan sempat terkekeh. "Kalau dipakai mengantar penumpang... enggak bakal ada yang sadar."

"Itulah tujuannya," jawab Profesor.

Saat semua hendak pulang, Ardi menerima pesan di ponselnya. Wajahnya langsung berubah serius.

"Prof."

"Ada apa?"

"Pihak yayasan. Mereka ingin melihat perkembangan proyek minggu depan."

Ruangan kembali sunyi. Profesor perlahan melepas kacamatanya.

"Akhirnya..." gumamnya.

Sudah hampir tiga puluh tahun ia bekerja dalam bayang-bayang. Namun kini, orang-orang yang membiayai penelitiannya mulai ingin melihat hasil nyata.

Seminggu kemudian, bengkel bawah tanah tampak lebih rapi dari biasanya. Tak ada kabel berserakan, dan semua peralatan disusun kembali ke tempatnya.

Motor Zain berdiri di tengah ruangan. Sekilas tak ada yang istimewa—bahkan bodinya sudah terpasang utuh, membuat tak seorang pun akan mengira ada teknologi eksperimen tersembunyi di dalamnya.

"Jangan gugup," ucap Profesor Surya.

"Saya enggak gugup," jawab Zain.

"Lalu kenapa dari tadi mondar-mandir terus?"

Zain baru sadar ia memang berjalan bolak-balik. Ia terkekeh kecil. "Soalnya penasaran."

Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan tiga orang keluar. Dua pria berjas dan seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun berambut disanggul rapi dengan tatapan tajam.

Semua peneliti langsung berdiri. "Selamat pagi, Bu Maya," sapa Ardi.

Wanita itu mengangguk singkat. "Pagi."

Matanya langsung mencari Profesor Surya. "Sudah lama."

"Sudah lama," balas Profesor sambil tersenyum tipis. Jelas mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun.

Bu Maya berjalan mengelilingi bengkel sebelum tatapannya berhenti pada motor Zain. "Ini?"

"Prototipe terbaru," jawab Profesor.

Wanita itu tampak heran. "Motor?"

"Iya."

"Saya kira kendaraan khusus."

Profesor menggeleng. "Justru kendaraan biasa jauh lebih sesuai."

Bu Maya tidak berkomentar. Ia hanya mengamati motor itu beberapa detik lalu menoleh kepada Zain. "Kamu pemiliknya?"

"Iya."

"Namamu?"

"Zain."

"Kamu tahu motor ini akan dipakai untuk apa?"

Zain melirik Profesor sekilas lalu menjawab jujur, "Belum sepenuhnya. Saya cuma bantu merakit."

Bu Maya mengangguk pelan. Jawaban itu rupanya cukup memuaskan.

...

Mereka berpindah ke ruang rapat. Di layar besar terpampang grafik perkembangan proyek: perubahan desain, peningkatan efisiensi, dan stabilitas sistem. Tak satu pun menjanjikan keberhasilan, yang ada hanyalah data murni.

Bu Maya mendengarkan tanpa memotong. Baru setelah presentasi selesai, ia bertanya, "Berapa persen kemungkinan berhasil?"

Ruangan langsung hening. Semua mata tertuju kepada Profesor.

Profesor menatap grafik beberapa saat sebelum menjawab, "Saya tidak tahu."

Tak ada yang bereaksi.

"Kalau saya mengatakan delapan puluh persen, itu bohong," lanjut Profesor. "Kalau saya mengatakan lima puluh persen, itu juga hanya tebakan. Sains tidak bekerja dengan angka harapan. Sains bekerja dengan pembuktian."

Bu Maya memandang Profesor cukup lama lalu tersenyum tipis. "Itu sebabnya saya masih mendanai penelitian ini."

Ardi terlihat mengembuskan napas lega. Rupanya ia sempat khawatir.

Sebelum pulang, Bu Maya kembali menghampiri motor Zain. Ia mengusap pelan bodi depannya. "Lindungi kendaraan ini. Bukan karena mahal, tapi karena waktu yang dihabiskan untuk membuatnya tidak bisa diganti."

Zain mengangguk mantap. "Saya mengerti."

Setelah rombongan pergi, suasana bengkel kembali santai. Salah satu teknisi langsung merebahkan diri di kursi. "Baru kali ini saya lebih capek presentasi daripada memasang baut."

Semua orang tertawa, bahkan Profesor ikut tersenyum.

Namun senyum itu tidak bertahan lama. Ia menatap kalender yang tergantung di dinding, tempat sebuah lingkaran merah mengelilingi tanggal yang jatuh dua minggu lagi.

Ardi mengikuti arah pandangannya. "Jadi... dua minggu?"

Profesor mengangguk pelan. "Dua minggu lagi, kita mulai pengujian energi penuh."

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!