Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Lingkaran Dalam
"Bro, kamu dapat dari mana bidadari ini?"
Eric Halim baru duduk tiga detik ketika kalimat itu keluar.
Darren menatap sahabatnya dari seberang meja. "Jangan lihat istriku."
Keira hampir tersedak es teh.
Lola menepuk punggungnya sambil tertawa. "Kei, suamimu ternyata bisa cemburu juga."
"Dia bukan cemburu," kata Rangga. "Wajahnya memang selalu seperti orang yang mau menyita wilayah."
"Pak Polisi, jangan fitnah teman sendiri," balas Lola.
"Saya menyampaikan hasil pengamatan."
"Pengamatanmu buruk."
Satu minggu berlalu sejak malam di hotel. Vania telah diizinkan pulang setelah pemeriksaan awal, tetapi wajib memenuhi panggilan lanjutan. Hasil laboratorium dan pemeriksaan data komunikasi belum lengkap. Keira kecewa, namun ia sudah memahami satu hal: proses hukum tidak bergerak secepat kemarahan.
Hari ini Darren mengajaknya keluar bukan untuk membahas perkara.
Tempat yang dipilih adalah kafe olahraga dengan ruang privat di lantai dua. Ada meja biliar, sofa lebar, dan jendela menghadap jalan. Darren sudah mengirim foto ruangan serta daftar tamu sebelum mereka berangkat. Keira tahu letak pintu keluar, tetapi tidak harus duduk menghadapnya sepanjang waktu.
Itu kemajuan kecil yang tidak disebut siapa pun.
Eric mengulurkan tangan. "Eric Halim. Teman lama orang galak di sebelahmu."
Keira menjabatnya. "Keira. Istri orang galak itu."
"Akhirnya ada yang berani mengaku."
Darren mendorong daftar menu ke arah Eric. "Pesan makanan. Kurangi bicara."
Eric tertawa. Pewaris Halim Group itu tidak terlihat seperti orang yang terbiasa takut pada tatapan siapa pun. Kemejanya sederhana, arlojinya mahal tetapi tidak mencolok, dan cara ia berbicara mudah tanpa kehilangan perhatian pada orang lain.
Ia tidak bertanya tentang hotel.
Sebaliknya, ia bertanya tentang liputan pertama Keira di luar negeri dan benar-benar mendengarkan jawabannya. Ketika Keira menyebut masalah akses informasi bagi warga di wilayah bencana, Eric menawarkan nama yayasan media yang pernah bekerja sama dengan perusahaannya.
"Bukan tawaran kerja," katanya sebelum Keira salah paham. "Cuma kontak. Kamu putuskan sendiri apakah berguna."
Keira menyimpan kartu digital itu. "Terima kasih. Begini lebih nyaman."
Makanan datang. Percakapan bergerak dari berita, lalu ke lalu lintas Jakarta, kemudian berakhir pada perdebatan Lola dan Rangga tentang siapa yang paling buruk mengemudi.
"Dia pernah mengikuti mobilku tiga kilometer," kata Lola.
Rangga mengangkat alis. "Karena lampu belakang mobilmu mati."
"Kamu bisa menelepon."
"Nomormu diblokir."
"Karena kamu mengirim pesan satu kata. 'Berhenti.' Kedengarannya seperti ancaman."
"Itu instruksi keselamatan."
Eric membungkuk kepada Keira. "Mereka sudah begini sejak pertama bertemu?"
"Lebih buruk," jawab Keira.
Lola menunjuk meja biliar. "Kita main. Aku tidak mau duduk dekat polisi itu lagi."
Mereka membagi tim. Keira berpasangan dengan Eric, sedangkan Darren berdiri di sisi meja bersama Rangga. Lola menjadi wasit atas kehendaknya sendiri, meski tidak ada yang meminta.
Eric memberi tongkat kepada Keira. "Kamu bisa?"
"Sedikit."
Tembakan pertama Keira memasukkan dua bola sekaligus.
Eric bersiul. Darren hanya menyilangkan tangan, tetapi sudut bibirnya bergerak.
"Sedikit?" tanya Rangga.
Keira menahan senyum. "Aku pernah meliput turnamen antarkampus. Narasumber terlambat dua jam."
"Dan kamu belajar selama menunggu?" Eric bertanya.
"Daripada mengeluh."
Permainan menjadi lebih ramai. Eric sengaja menggoda Darren setiap kali Keira mendapat giliran. Darren membalas dengan memasukkan bola dari sudut sulit tanpa ekspresi. Lola memprotes semua aturan yang menguntungkan Rangga, sementara Rangga mencatat pelanggaran Lola di tisu seperti laporan resmi.
Di tengah permainan, ponsel Keira bergetar karena pesan dari nomor kantor. Senyumnya memudar sesaat. Lola langsung mendekat, tetapi tidak mengambil ponsel itu.
"Mau pulang?" tanyanya.
Keira membaca pesan singkat dari HR tentang jadwal pemeriksaan lanjutan. Dadanya menegang, lalu ia mengunci layar.
"Tidak. Aku jawab besok pada jam kerja."
Eric meletakkan tongkat. "Kalau topik malam ini harus dibatasi, bilang saja."
"Aku tidak mau membahas kasus."
"Baik," kata Rangga tanpa bertanya lebih jauh.
Lola menunjuk tisu di tangannya. "Kalau begitu kita bahas kejahatan sebenarnya. Dia menambah aturan saat permainan berjalan."
"Keberatan ditolak," jawab Rangga.
"Siapa yang mengangkatmu jadi hakim?"
Keira tertawa lagi. Tidak ada yang memaksanya menjelaskan kenapa suasana hatinya berubah. Mereka hanya menerima batas yang ia buat, lalu menjaga malam tetap biasa.
Eric mengusulkan taruhan kecil untuk babak terakhir: pihak yang kalah harus membayar makanan pencuci mulut. Keira dan Eric menang setelah Darren gagal memasukkan bola hitam karena Lola bersin tepat di belakangnya.
"Tidak sah," kata Rangga.
"Kamu bukan hakim," kata empat orang sekaligus.
Darren tetap membayar seluruh tagihan sebelum mereka sempat berdebat. Sebagai hukuman, Keira memilihkan es krim rasa stroberi untuknya.
"Aku tidak suka makanan manis," katanya.
"Peraturan pemenang."
Darren mengambil sendok. "Baik."
Eric menatap Rangga dengan wajah serius. "Catat tanggalnya. Darren Tanuwijaya baru saja kalah dan patuh."
Untuk dua jam, Keira tidak menjadi anak angkat, korban, atau istri seorang perwira yang identitasnya belum diketahui publik.
Ia hanya Keira.
Ketika Lola pergi ke toilet dan Rangga menerima telepon di luar, Eric berdiri di samping Darren dekat jendela. Keira masih merapikan bola di meja sehingga suara mereka tidak sepenuhnya terdengar.
"Dia cocok di sini," kata Eric.
Darren memandang Keira yang sedang menertawakan gambar pelanggaran buatan Rangga.
"Aku tahu."
"Jaga dia baik-baik. Perempuan seperti ini sekali seumur hidup."
Tatapan Darren beralih kepada Eric. "Aku tidak perlu diingatkan."
"Bagus. Berarti aku tidak perlu memukulmu kalau kamu bodoh."
"Kamu bisa mencoba."
Eric mengangkat kedua tangan. "Nah, itu sahabat yang kukenal."
Dalam perjalanan pulang, Keira bersandar ke kursi dengan senyum yang belum hilang.
"Teman-temanmu aneh," katanya.
"Lola temanmu."
"Karena itu aku tahu standar aneh."
"Kamu nyaman?"
Keira memikirkan pertanyaan itu sebelum menjawab. "Iya. Terima kasih sudah memberitahuku semua detail lebih dulu."
"Lain kali kamu pilih tempatnya."
"Lain kali?"
Darren meliriknya. "Kamu pikir mereka akan berhenti mengganggu setelah satu pertemuan?"
Di rumah, Darren membuka kancing manset dan memijat bahu kirinya. Keira melihat gerakan itu dari sofa.
"Sakit?"
"Kaku."
"Duduk."
Darren menurut. Keira berdiri di belakang sofa dan menekan otot bahunya perlahan. Bekas luka lama terasa di bawah kain kemeja, tidak rata tetapi hangat.
"Terlalu keras?" tanyanya.
"Tidak."
"Kalau sakit, bilang."
"Siap, Bu Terapis."
Keira berhenti. "Kamu baru bercanda?"
Darren menoleh. Jarak wajah mereka mendadak terlalu dekat.
"Mungkin."
Keira memegang bahunya agar tidak kehilangan keseimbangan. Mata Darren turun ke bibirnya, lalu kembali menatap matanya.
"Boleh?" tanyanya.
Keira menjawab dengan mencium lebih dulu.
Darren memutar tubuh dan menariknya duduk di sisi sofa. Ciuman pertama lembut, memberi ruang bagi Keira untuk mundur. Ketika jemarinya mencengkeram kerah Darren dan menariknya lebih dekat, ciuman itu berubah dalam.
Napas mereka saling bertabrakan. Telapak Darren berhenti di pinggang Keira, menunggu. Keira meletakkan tangan di atasnya sebagai izin.
Darren mencium sudut bibirnya, rahang, lalu berhenti sebelum membuka kancing pertama blus Keira.
"Kei."
"Aku baik-baik saja."
"Aku tahu." Ibu jarinya mengusap punggung tangan Keira. "Kita pelan-pelan."
Keira masih bisa merasakan detak jantungnya sendiri di bibir. "Pelan-pelan bukan berarti berhenti selamanya, kan?"
Untuk sekali ini, Darren yang kehilangan jawaban selama dua detik.
Kemudian ia mencium dahi Keira dan berkata, "Bukan."
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻