Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Vonis
"Dia tidak bisa hidup tanpaku. Beberapa hari lagi, dia pasti kembali."
Beberapa hari berlalu.
Keira tidak kembali.
Yang datang lebih dulu justru laporan dari Farel: kamera lobby apartemen menunjukkan Lilian Hartono pernah mengunjungi Keira sebelum Keira pergi. Waktu kunjungan itu cocok dengan hari saat Rayhan masih berada di Jerman, membawa sketsa cincin dan rencana yang belum sempat menjadi kata.
Rayhan berdiri di ruang kerja Hartono Estate, memegang tablet berisi rekaman lobby.
Lilian masuk dengan wajah masih pucat setelah keluar dari rumah sakit. Ia belum sempat duduk ketika Rayhan mengangkat tablet itu.
"Mama datang ke apartemennya?"
Lilian berhenti.
"Rayhan."
"Apa yang Mama katakan padanya?"
"Mama hanya bicara."
"Apa yang Mama katakan?"
Suara Rayhan tidak keras. Justru karena tidak keras, pelayan di luar pintu mundur tanpa diperintah.
Lilian menatap anaknya. "Mama menawarinya uang untuk pergi."
Tablet di tangan Rayhan hampir jatuh.
"Berapa?"
"Tiga miliar."
Rayhan tertawa sekali, pendek, kosong. "Mama membeli perempuan yang aku cintai dengan angka yang bahkan tidak cukup untuk satu proyek kecilku?"
Wajah Lilian berubah. "Dia menolak."
Rayhan terdiam.
"Dia menolak uang itu," lanjut Lilian, suara lebih pelan. "Dia bilang akan pergi bukan karena Mama. Karena sudah waktunya."
Kalimat itu lebih tajam daripada jika Keira menerima uang.
Rayhan mengirim pesan ke Keira saat itu juga.
Di layar, nama kontaknya tidak lagi muncul dengan foto kecil yang dulu ia simpan diam-diam. Chat lama masih ada, tetapi ketika ia mencoba menelepon, sistem hanya menampilkan nomor. Keira tidak memblokirnya.
Ia menghapusnya.
Rayhan menatap layar. Untuk orang seperti dia, diblokir masih berarti ada pintu yang ditutup. Dihapus berarti ia bahkan tidak lagi berdiri di depan pintu.
"Cari penerbangannya," katanya pada Farel.
Dalam beberapa jam, anak buahnya menemukan jejak awal: Keira berangkat dari Soekarno-Hatta dengan penerbangan ke Singapura. Setelah itu, jejaknya sengaja dibuat kabur lewat transit dan pembelian tiket terpisah ke beberapa negara kecil. Data penumpang tidak cukup untuk memastikan tujuan akhir. Nama Keira menghilang dari jalur yang bisa disentuh Hartono Group tanpa menabrak hukum terlalu jauh.
Steven, yang datang setelah ditelepon William, menatap laporan itu. "Dia memang niat hilang."
Rayhan tidak menjawab.
Di saat Rayhan memburu jejak yang sengaja dipatahkan, Indonesia mulai terbakar oleh satu thread.
Akun resmi kampanye Bu Farida Habibie mengunggah pernyataan tentang kekerasan di sekolah elite dan budaya impunitas anak keluarga berkuasa. Lima menit kemudian, tautan berisi dokumen pendukung muncul: video koridor sekolah, tangkapan layar chat, foto luka, catatan medis, kesaksian anonim, dan kronologi satu tahun perundungan sistematis terhadap seorang siswi bernama Safira Surya.
Rayhan melihat nama itu dari layar ponsel Steven.
Safira Surya.
Nama yang pernah keluar dari mulut Keira saat demam. Nama yang membuat Kevin menangis di rumah perawatan. Nama yang selama ini ia tempatkan di sudut kecil pikirannya sebagai masa lalu Keira yang belum siap diceritakan.
Kini nama itu berada di tengah layar nasional.
"Ray," Steven berkata pelan.
Rayhan mengambil ponsel itu. Semakin ia membaca, semakin wajahnya kehilangan warna. Bullying. Lantai enam. Kondisi vegetatif. Vanessa.
Kata-kata yang sebelumnya berdiri terpisah mendadak membentuk satu tubuh.
Ia akhirnya mengerti kenapa film Vanessa membuat Keira muntah.
Ia juga mengerti hal lain yang lebih menyesakkan: saat Keira menuntut penjelasan, ia berdiri mabuk di apartemennya dan hanya berkata tunggu. Pada luka sebesar itu, ia memberi Keira penundaan.
Nama Vanessa Tanujaya muncul di paragraf pertama.
Jessica Liem.
Brandon Oei.
Denny Kurniawan.
Empat nama yang dulu hidup aman di bawah uang keluarga dan popularitas kini berbaris di layar publik.
Video pertama membuat netizen membeku. Koridor putih. Sekelompok siswa menutup jalan. Seorang gadis berseragam mundur. Suara tertawa terdengar. Wajah Vanessa tidak selalu menghadap kamera, tetapi suaranya jelas saat berkata, "Kamu pikir ada yang percaya anak seperti kamu?"
Dalam satu jam, thread itu masuk trending nasional.
Dalam dua jam, media arus utama menghubungi Bu Farida.
Dalam tiga jam, korban lain mulai muncul.
Aku sekolah di sana. Mereka juga pernah mengunci adikku di toilet.
Aku ingat Safira. Setelah kejadian itu sekolah bilang kecelakaan.
Ada satu anak lain yang meninggal setelah dipukul di acara luar sekolah. Tolong buka juga.
Televisi menayangkan potongan pernyataan Bu Farida berulang-ulang. Psikolog anak, aktivis pendidikan, mantan guru, dan pengacara pidana masuk studio berita malam itu. Sekolah elite yang dulu menutup kasus dipaksa memberi klarifikasi. Kepala sekolah lama mengaku sudah pensiun dan tidak tahu detail. Jawaban itu membuat publik makin marah.
Di depan gerbang sekolah, karangan bunga untuk Safira muncul tanpa ada yang mengatur. Beberapa orang menaruh kartu kecil: Maaf kami baru tahu.
Keira membaca semua itu dari apartemen kecilnya di Surabaya.
Di meja sebelah, ada dokumen HEALER cabang Surabaya. Di layar lain, jadwal terapi Safira di rumah sakit baru terbuka. Safira sudah dipindahkan dengan aman. Kamarnya lebih kecil dari Jakarta, tetapi perawatnya baik, dan jendela menghadap pohon.
Keira tidak menangis saat melihat nama Safira menjadi trending.
Ia hanya duduk sangat tegak, kedua tangan di atas meja, seperti jika tubuhnya sedikit saja melengkung, delapan tahun yang ia tahan akan keluar sekaligus.
Di Jakarta, Lilian menonton berita dari ruang tamu Menteng.
Penyiar menyebut Vanessa Tanujaya sebagai tersangka utama dalam kasus perundungan berat yang menyebabkan satu korban dalam kondisi vegetatif dan membuka kembali penyelidikan dua korban lain. Foto Vanessa yang dulu anggun muncul berdampingan dengan cuplikan video koridor.
Lilian mematung.
"Perempuan seperti ini..." katanya, tetapi kalimatnya tidak selesai.
Ia teringat uang tiga miliar di meja Keira. Terngiang jawaban Keira: Vanessa Tanujaya bukan pilihan yang tepat untuk Rayhan.
Engkong duduk di kursi besar, wajahnya mengeras setiap detik. Keluarga Tanujaya bukan sekadar rekan bisnis. Ada sejarah lama, hutang budi lama, makan malam lama, foto lama dua keluarga tersenyum. Kini semua itu berdiri di atas tubuh seorang gadis yang jatuh dari lantai enam.
"Aku hampir menjodohkan Rayhan dengan..." Lilian menutup mulut.
Engkong mencoba berdiri, tetapi tongkatnya jatuh. Wajahnya pucat. Pelayan berteriak memanggil dokter. Dalam satu hari, keluarga Hartono kembali mengirim orang tua mereka ke rumah sakit, kali ini karena syok dan tekanan darah Engkong yang melonjak.
Sementara itu, Vanessa ditangkap.
Kamera media mengejar saat ia keluar dari rumahnya dengan masker dan kacamata hitam. Fans yang kemarin membelanya kini saling menyalahkan. Pengacara keluarga Tanujaya meminta publik menunggu proses hukum. Publik tidak menunggu. Publik sudah menunggu delapan tahun tanpa sadar.
Saat wartawan bertanya apakah ia mengenal Safira, Vanessa berhenti setengah detik. Hanya setengah detik, tetapi kamera menangkapnya. Ketakutan yang melintas di matanya lebih jujur daripada semua klarifikasi PR.
"Saya akan bicara melalui kuasa hukum," katanya.
Itu kalimat aman. Untuk pertama kalinya, kalimat aman tidak menyelamatkannya.
Proses hukum bergerak di bawah tekanan besar. Polisi membuka kembali berkas lama yang dulu dikubur sebagai kecelakaan sekolah. Saksi dipanggil. Mantan staf sekolah diperiksa. Bukti digital diverifikasi forensik. Kasus Jessica di penjara ikut disorot ulang. Brandon yang sudah ditahan dalam perkara Denny diperiksa sebagai bagian dari jaringan lama sebelum pengacaranya menutup akses media.
Berbulan-bulan kemudian, rangkaian sidang yang disiarkan media berujung pada vonis.
Vanessa Tanujaya dinyatakan bersalah atas perundungan sistematis, penganiayaan berat yang direncanakan, dan keterlibatan dalam rangkaian kekerasan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa serta Safira Surya berada dalam kondisi vegetatif.
Hukuman seumur hidup.
Vanessa tidak menangis keras. Ia hanya duduk, wajah putih di bawah lampu ruang sidang, seolah belum memahami bahwa hidup yang selama ini bisa ia atur lewat kamera, keluarga, dan uang baru saja dikunci oleh palu hakim. Ibunya pingsan di barisan keluarga. Ayahnya menutup wajah.
Ruang sidang pecah oleh suara tertahan. Ibu salah satu korban menangis. Bu Farida berdiri di luar gedung pengadilan dan berkata kepada media bahwa tidak ada nama keluarga yang boleh lebih tinggi daripada keselamatan anak.
Di Surabaya, Keira menonton vonis itu tanpa suara.
Kevin menelepon setelah berita vonis muncul. Keira membiarkan panggilan pertama lewat. Panggilan kedua juga. Pada panggilan ketiga, ia mengangkat.
"Selesai," kata Kevin.
Keira menatap layar berita yang menampilkan wajah Vanessa dalam mobil tahanan. "Ya."
"Kamu baik-baik saja?"
Keira ingin berkata iya. Namun di seberang layar kecil aplikasi rumah sakit, dada Safira naik turun dengan ritme mesin yang sama seperti kemarin.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
Kevin tidak memaksa.
Jessica di penjara.
Denny mati.
Brandon di penjara.
Vanessa seumur hidup.
Empat nama itu akhirnya berhenti bergerak.
Misi tujuh tahun yang ia bawa seperti batu di dada selesai.
Namun ketika Keira menoleh ke layar monitor rumah sakit Safira yang terhubung lewat aplikasi keluarga, napas Fira tetap stabil dan sunyi.
Keadilan tidak membangunkan orang yang tidur terlalu lama.
Malam itu, komentar tentang kasus Safira masih mengalir.
Satu komentar naik karena banyak yang menyukai.
Korban yang menjadi vegetatif... namanya Safira Surya. Ada yang tahu dia di mana sekarang?
Keira membaca komentar itu sampai huruf-hurufnya terasa menusuk mata.
Lalu ia menutup laptop.
Nama Safira tidak boleh menjadi tontonan lagi.