Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Wah, Kira-kira mahal nggak? Besok saya akan datang mau cek tensi, soalnya saya sering sakit kepala," kata ibu-ibu yang memakai kerudung biru.
"Iya, kaki ku juga sering sakit-sakit," kata ibu yang lain.
Arka tersenyum ramah, mengangkat kedua tangannya pelan untuk menenangkan kerumunan warga yang mulai riuh dengan berbagai pertanyaan.
"Iya, Ibu-ibu, Bapak-bapak! Klinik ini resmi beroperasi hari ini. Tapi Besok pagi jam delapan, klinik sudah siap melayani pengobatan umum, cek tekanan darah, hingga pemeriksaan kesehatan berkala. Jadi, kalau ada keluhan, silakan langsung datang saja," ujar Arka dengan suara lantang namun tetap terdengar sopan.
"Wah, mantap betul! Pokoknya besok saya pasien pertama ya, Dok!" seru seorang bapak berkaus garis-garis yang disambut gelak tawa warga lainnya.
"Bisa saja Pak RT ini, menyela antrean saja!" timpal seorang ibu berdaster, membuat suasana gang di sore hari itu semakin hangat.
Setelah menyalami beberapa warga dan berjanji akan memberikan pelayanan terbaik, Arka perlahan memundurkan langkahnya kembali ke dalam klinik.
Begitu pintu kaca otomatis menutup rapat, suara bising warga langsung teredam sempurna oleh dinding kedap suara bangunan tersebut.
Arka menyandarkan punggungnya di pintu kaca, menghela napas panjang namun puas.
Eksplorasi Fasilitas Sistem
"Sistem. Tampilkan peta fasilitas bangunan ini," panggil Arka secara batin sembari menyusuri koridor klinik yang sangat bersih.
Ting!
Sebuah cetak biru 3D berbentuk hologram transparan langsung melayang di depan matanya.
[Peta Fasilitas Klinik - Level 1]
Lantai 1: Ruang Resepsionis, Ruang Tunggu Utama, Ruang Pemeriksaan Umum (1), Ruang Tindakan Darurat / Bedah Minor (1), dan Apotek Otomatis.
Lantai 2: Ruang Istirahat Dokter (Kamar Pribadi Arka), Ruang Sistem Utama, dan Area Sterilisasi Alat.
Status Bangunan: Murni Hak Milik Terdaftar secara Hukum.
Arka menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Ketika ia membuka pintu kayu mahoni di ujung koridor, matanya membelalak.
Kamar pribadinya luar biasa luas! Lengkap dengan kasur king-size, meja kerja minimalis, kamar mandi dalam dengan bathtub, serta jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota.
"Sistem benar-benar tidak main-main memberikan imbalan," gumam Arka takjub. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang sangat empuk, merenggangkan otot-ototnya yang tegang setelah serangkaian kejadian penuh tekanan sejak siang tadi.
Sambungan Telepon Tak Terduga
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di saku celana Arka bergetar nyaring. Saat ia melirik layarnya, nama "Clara Hartawan" tertera di sana.
Arka mengerutkan dahi sejenak sebelum menggeser ikon hijau. "Halo, Clara?"
"Arka? Maaf mengganggu waktumu sore-sore begini," suara Clara terdengar bening dan tenang di balik telepon, tetapi ada nada keseriusan di sana.
"Tidak apa-apa, Clara. Ada apa? Apakah ada masalah dengan Pak Hartawan?" tanya Arka refleks, khawatir kondisi kesehatan pebisnis kawakan itu mendadak menurun.
"Bukan, Ayah sehat-sehat saja. Justru Ayah tidak berhenti membicarakanmu sejak kami kembali ke kantor," Clara terkekeh pelan di ujung telepon. "Sebenarnya... Ayah ingin mengundangmu di sebuah acara bazar amal."
Arka menaikkan sebelah alisnya. "bazar amal, apa itu?" tanya Arka kebingungan.
"Ada pelelangan barang, siapa yang menawarkan harga tinggi, dia bisa memiliki barang tersebut, mungkin kau bisa berkenalan dengan orang-orang besar," kata Clara.
"Oh, seperti itu ya?" tanya Arka.
"Bagaimana, Arka? Kau tidak berniat menolak niat baik Ayahku, kan?" goda Clara, menyela lamunan Arka.
Arka tersenyum tipis, menegakkan posisi duduknya di tepi kasur.
"Tentu saja tidak, Nona Clara. Tawaran fantastis seperti itu sangat sulit untuk ditolak," jawab Arka mantap. "Sampaikan pada Pak Hartawan, saya pasti datang besok malam."
"Baguslah kalau begitu. Aku sendiri yang akan menjemputmu besok jam setengah tujuh," sahut Clara cepat.
"Eh? Kau menjemputku? Tidak perlu bersusah payah, Clara, aku bisa naik..."
"Tidak ada penolakan, Dokter Arka. Sampai jumpa besok malam," potong Clara tegas sebelum langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Arka menatap layar ponselnya yang kembali gelap sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Gadis itu... sifat dominannya benar-benar tidak bisa dilawan."