NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Ethan yang Tak Tersentuh

Tehnya masih mengepul, seolah seseorang baru saja meletakkannya di sana dan pergi sebelum ia membuka pintu.

Keira tidak pernah menemukan siapa pengirimnya.

Keesokan paginya, cangkir itu sudah tidak ada ketika staf membersihkan koridor. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mengaku. Di Kediaman Ciu, kebaikan kecil bisa bergerak diam-diam seperti bayangan, sama sulitnya dilacak dengan niat buruk.

Memasuki minggu ketiga, Keira belajar untuk tidak mengejar semua jawaban.

Ia punya terlalu banyak pekerjaan.

Stephanie mulai tidur lebih panjang. Bayinya bertambah kuat, tangisnya lebih penuh, kulitnya tidak sepucat hari pertama. Jayden masih sering marah, tetapi sekarang kalau ia melihat Keira, ia tidak langsung melempar barang. Kadang ia hanya memelototinya sambil memastikan Keira melihat mobil merahnya.

Itu sudah kemajuan.

Pagi itu, Stephanie memanggil Keira dari meja kecil dekat jendela.

"Keira, tolong antar ini ke Ko Ethan."

Keira melihat map hitam di tangan Stephanie.

"Ke lantai tiga?"

Stephanie mengangguk. Wajahnya tampak lebih segar, tetapi masih ada garis lelah di sekitar mata. "Aku butuh tanda tangannya untuk persetujuan akses rekaman lama. Soal Chenny. Gilbert minta semua dokumen rapi sebelum dia bicara lagi dengan keluarganya."

Nama Chenny membuat Keira langsung waspada.

"Bi Sari bisa mengantar?"

"Bi Sari sedang mendampingi Mama." Stephanie menatap map itu, lalu Keira. "Aku tahu kau tidak suka naik ke sana. Tapi kalau menunggu sore, Gilbert bisa berubah pikiran."

Keira mengambil map dengan dua tangan.

"Baik, Nyonya Stephanie."

Lantai tiga Kediaman Ciu berbeda bahkan sebelum Keira benar-benar sampai.

Tangga menuju area itu lebih sempit daripada tangga utama, tetapi karpetnya lebih tebal, menyerap suara langkah. Lampu dinding menyala lebih redup. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada lukisan ramai. Tidak ada vas bunga segar seperti di area Melissa atau aula kaca.

Hanya dinding warna abu, pintu tertutup, dan udara dingin yang terasa terlalu kering.

Keira berjalan pelan.

Di lantai dua, rumah ini terasa seperti panggung keluarga. Di lantai tiga, ia seperti masuk ke ruang kerja yang lupa menjadi rumah.

Jefri Tan berdiri di dekat ujung koridor, berbicara pelan lewat headset. Saat melihat Keira, ia mengangkat alis sedikit.

"Suster Keira?"

"Saya membawa dokumen dari Nyonya Stephanie untuk Ko Ethan."

Jefri melirik map itu, lalu pintu ruang kerja yang setengah terbuka. "Tunggu di sini."

Ia baru hendak mengetuk ketika suara Ethan terdengar dari dalam.

"Masuk."

Jefri memberi isyarat agar Keira mengikuti. Ia sendiri tetap di luar, seolah batas pintu itu hanya boleh dilintasi orang yang dipanggil.

Keira masuk.

Ruang kerja Ethan besar, tetapi tidak hangat. Meja hitam, layar komputer menyala tiga buah, tumpukan berkas, kopi yang tinggal setengah, dan tirai yang belum dibuka meski matahari sudah tinggi. Di sudut meja, sarapan dalam kotak porselen kecil belum disentuh. Roti panggangnya sudah keras, telur rebusnya dingin, dan segelas air putih masih penuh. Tidak ada foto. Tidak ada benda yang menunjukkan seseorang tinggal di sana selain bukti bahwa seseorang terlalu lama bekerja.

Ethan berdiri di dekat meja, lengan kemejanya digulung sampai siku. Dasi hitamnya longgar, rambutnya tidak serapi biasanya. Di bawah matanya ada bayangan tipis.

Namun saat melihat Keira, wajahnya langsung kembali dingin.

"Siapa yang mengizinkanmu naik?"

Keira menunduk. "Nyonya Stephanie meminta saya mengantar dokumen. Butuh tanda tangan Ko Ethan."

"Stephanie bisa mengirim staf lain."

"Bi Sari sedang mendampingi Nyonya Besar."

"Jefri."

Dari luar, Jefri langsung menjawab, "Ya, Ko Ethan?"

"Kenapa dia masuk?"

Jefri tidak panik. "Dokumen dari Nyonya Stephanie harus ditandatangani hari ini. Saya sudah memeriksa mapnya."

Ethan menatap Keira beberapa detik, lalu mengulurkan tangan. "Sini."

Keira meletakkan map di meja, membuka halaman yang sudah diberi penanda. Ia sengaja tidak menyentuh barang lain.

Ethan mengambil pena dari sisi kanan.

Saat ia menandatangani halaman pertama, Keira melihatnya.

Jari Ethan bergetar.

Sangat kecil.

Kalau orang lain mungkin mengira itu karena marah atau terlalu banyak kopi. Tapi Keira sudah terlalu sering melihat tubuh orang kelelahan. Di klinik kecil Klaten, ia pernah melihat ibu muda tiga malam tidak tidur sampai tangannya gemetar saat memegang botol susu. Ia pernah melihat Kak Anisa menahan kantuk di depan kompor, jari-jarinya bergetar saat mengaduk bubur Kiara.

Getaran Ethan bukan ledakan.

Itu sisa tubuh yang dipaksa terus berdiri.

Ethan menandatangani halaman kedua. Ujung pena sempat menekan kertas terlalu kuat, meninggalkan garis hitam kecil di luar kolom tanda tangan.

Keira menurunkan pandangan, berpura-pura tidak melihat.

Ia tidak berhak melihat.

Ia hanya mengambil kembali map setelah Ethan menutupnya.

"Sudah."

"Terima kasih, Ko Ethan."

Keira berbalik.

Ia sudah hampir sampai pintu ketika kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahannya.

"Ko Ethan, Anda sudah lama tidak tidur ya."

Ruang kerja membeku.

Jefri yang berdiri di luar pintu langsung mengangkat kepala.

Keira sendiri juga berhenti.

Ia tahu itu salah.

Di rumah ini, memperhatikan majikan bisa dianggap lancang. Apalagi memperhatikan kelemahan majikan seperti Ethan.

Ethan tidak menjawab.

Keira tidak berani menoleh sepenuhnya, tetapi dari sudut mata ia melihat tubuh pria itu kaku. Tangannya masih berada di atas meja, jari-jarinya berhenti di dekat pena.

Beberapa detik berlalu.

"Keluar."

Suaranya sangat pelan.

Lebih berbahaya daripada bentakan.

Keira menunduk. "Maaf."

"Keluar."

Kali ini tidak ada ruang untuk kata lain.

Keira keluar membawa map, melewati Jefri yang tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi memilih diam. Saat pintu ruang kerja tertutup di belakangnya, ia baru mengembuskan napas.

Di dalam ruangan, Ethan tetap berdiri.

Kalimat itu masih menggantung di udara.

Anda sudah lama tidak tidur ya.

Tidak ada nada kasihan. Tidak ada rayuan. Tidak ada niat mengambil keuntungan.

Hanya observasi.

Justru itu yang membuatnya mengganggu.

Ethan menatap pena di atas meja.

Pena hitam itu baru saja ia pakai. Keira tidak menyentuhnya. Tapi ia melihatnya. Melihat tangan yang bergetar. Melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi urusan siapa pun.

"Jefri."

Pintu terbuka cepat. "Ya, Ko Ethan?"

Ethan tidak menoleh. "Dia tadi bilang apa?"

Jefri sempat diam, mungkin tidak mengerti pertanyaan itu. "Suster Keira bilang... Ko Ethan sudah lama tidak tidur."

Sunyi.

Lama.

Jefri menunggu tanpa bergerak.

Akhirnya Ethan mengambil pena itu dengan dua jari, seperti benda yang tiba-tiba menjadi kotor.

"Buang."

Jefri melihat pena itu. "Pena ini?"

"Buang."

"Baik."

Jefri mengambilnya.

Ethan menatap layar komputer yang masih menyala, tetapi angka dan kalimat di sana tidak lagi masuk ke kepalanya.

"Dan lain kali," katanya, suara kembali dingin, "jangan biarkan dia naik ke lantai tiga."

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!