NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Tatapan di Tengah Pesta

Kiara yang berdiri di samping Meilan langsung menegang.

Satu nama saja.

Keira.

Di ruang utama Rumah Kho yang penuh tamu penting, Ethan Kho tidak menyapa Kiara lebih dulu. Tidak melihat kotak hadiah di tangan Mama Kho. Tidak bertanya siapa saja yang sudah datang.

Ia melihat Keira.

Keira sendiri membeku sebentar. Ingatan masa kecil datang terlalu cepat: halaman sekolah, cat air yang tumpah, seorang anak laki-laki yang diam-diam menukar kertas gambarnya dengan kertas baru milik sendiri karena Keira takut dimarahi guru.

Ko Ethan.

Pria di tangga itu bukan lagi anak laki-laki yang dulu duduk di sebelahnya saat kelas seni. Bahunya lebih lebar, wajahnya lebih dewasa, dan ada lelah halus di matanya. Namun cara ia menyebut nama Keira masih sama, seolah nama itu disimpan rapi bertahun-tahun.

"Ethan," Mama Kho memanggil lembut, mencoba mencairkan suasana. "Turun juga akhirnya."

Ethan tersadar. Ia menuruni sisa tangga, lalu mencium tangan ibunya sebentar. "Ma."

Papa Kho menepuk bahunya. "Tamu sudah menunggu."

"Maaf, Pa."

Baru setelah itu Ethan menoleh kepada Meilan dan Fengky. "Tante Meilan, Om Fengky. Terima kasih sudah datang."

Meilan langsung tersenyum hangat. "Selamat ulang tahun, Ethan. Kamu makin gagah saja."

"Terima kasih."

Kiara maju setengah langkah, senyumnya kembali dipasang. "Selamat ulang tahun, Ko Ethan."

Ethan menatapnya sopan. "Terima kasih, Kiara."

Sopan.

Hanya sopan.

Keira melihat perbedaan itu, dan ia yakin Kiara juga melihatnya.

Kiara menyerahkan hadiah kepada Mama Kho untuk diberikan. "Ini dari keluarga kami. Semoga Ko Ethan suka."

Mama Kho tersenyum. "Kiara memilih dengan hati-hati."

Ethan membuka sedikit kertas pembungkus, melihat lukisan pemandangan di dalamnya. Matanya berubah sejenak.

"Ini gaya Pak Arman."

Kiara tersenyum cepat. "Iya. Aku ingat Ko Ethan dulu suka sekali kelasnya."

Keira menunduk, berharap tidak ada yang melihat.

Tetapi Ethan melihatnya.

Ia menatap Kiara lagi. "Kamu ingat?"

Pertanyaan itu tidak terdengar menuduh, tetapi Kiara kehilangan satu detik.

"Kak Keira bantu mengingatkan," jawabnya manis. "Dulu Kakak lebih sering ikut kelas seni."

"Begitu."

Ethan tidak memperpanjang. Ia menutup kembali lukisan itu, lalu berkata kepada Mama Kho, "Terima kasih, Ma. Hadiahnya bagus."

Kiara tersenyum, tetapi jari-jarinya meremas clutch kecilnya.

Acara berlanjut. Pelayan membawa makanan kecil. Tamu-tamu bergantian memberi ucapan selamat. Beberapa ibu memperkenalkan putri mereka kepada Ethan dengan cara halus yang terlalu jelas. Ethan menyambut semua dengan sopan, tetapi tatapannya selalu kembali ke arah tertentu.

Keira.

Setiap kali itu terjadi, Kiara makin kaku.

Dua tante dari meja minuman mulai berbisik sambil melirik keluarga Yanto. Salah satunya bertanya pelan kepada Meilan apakah Keira dan Ethan dulu teman sekolah. Meilan menjawab dengan senyum tipis, "Anak-anak memang pernah kenal," lalu segera menarik Kiara lebih dekat ke sisinya.

Meilan menyadarinya. Ia menyentuh siku Kiara, memberi isyarat agar tetap tenang. "Senyum," bisiknya.

Kiara tersenyum.

Senyum yang indah, tetapi lelah menahan marah.

Keira memilih mundur ke sisi ruangan. Ia tidak suka menjadi pusat sesuatu yang tidak ia minta. Apalagi setelah Rayhan. Hubungan barunya masih terlalu lembut untuk dicampur dengan masa lalu yang belum sempat diberi nama.

Ponselnya bergetar.

Ray.

Sudah makan?

Keira menatap pesan itu, dan bahunya yang tegang sedikit turun.

Belum banyak. Acara keluarga.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Kalau tidak nyaman, kabari aku.

Keira menahan senyum kecil.

Tidak apa-apa. Aku bisa.

Ia baru memasukkan ponsel ketika suara Ethan terdengar di dekatnya.

"Keira."

Keira mendongak.

Ethan berdiri tidak terlalu dekat, cukup menjaga sopan santun di tengah ruangan ramai. Namun tatapannya begitu penuh sampai jarak itu terasa tidak cukup jauh.

"Ko Ethan," ucap Keira pelan.

Nama itu membuat ekspresi Ethan melunak. "Sudah lama."

"Iya. Selamat ulang tahun."

"Terima kasih."

Hening kecil muncul di antara mereka. Dulu, keheningan seperti itu mudah. Mereka bisa duduk berdampingan sambil menggambar tanpa harus bicara. Sekarang, ada terlalu banyak orang, terlalu banyak tahun, terlalu banyak hal yang berubah tanpa izin.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Ethan.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun dari mulut Ethan, Keira mendengar sesuatu yang sudah lama tidak ditanyakan orang dari dunia lamanya.

Bukan kamu sudah membantu Kiara?

Bukan kamu sudah tahu diri?

Bukan kamu bisa mengalah?

Kamu baik-baik saja?

Keira hampir menjawab refleks, baik. Tapi ia melihat mata Ethan yang menunggu sungguh-sungguh, lalu kalimat itu tersangkut.

"Aku baik," katanya akhirnya, lebih pelan daripada yang ia inginkan.

Ethan tidak terlihat percaya.

Dari seberang ruangan, Kiara menatap mereka.

Meilan melihat arah pandang putrinya, lalu segera mendekat kepada Mama Kho. "Lily, Kiara tadi cerita ingin sekali mendengar Ethan bercerita soal pengalamannya di luar negeri."

Mama Kho tersenyum. "Oh ya? Ethan memang jarang cerita."

Kiara langsung mengambil kesempatan, berjalan mendekat dengan langkah ringan. "Ko Ethan, nanti cerita ya? Aku penasaran."

Ethan menoleh. "Nanti."

Satu kata.

Tidak kasar, tetapi tidak hangat.

Kiara tetap tersenyum. "Aku tunggu."

Keira merasa dirinya seperti berdiri di antara benang-benang yang mulai kusut. Ia menunduk sedikit. "Aku mau ke taman sebentar."

Ethan menatapnya. "Aku antar?"

"Tidak perlu."

"Taman belakang agak gelap."

"Aku ingat jalannya."

Kalimat itu keluar sebelum Keira sempat menahan. Karena ia memang ingat. Dulu, saat keluarga Yanto masih sering bertamu ke Rumah Kho, ia pernah bersembunyi di taman belakang setiap kali orang dewasa sibuk memuji Kiara. Di sana ada satu ayunan kayu tua, di bawah pohon kamboja.

Ethan menatapnya lebih dalam. "Kamu masih ingat."

Keira tidak menjawab.

Ia keluar dari ruang utama sebelum percakapan itu berubah terlalu jelas.

Udara taman belakang lebih sejuk. Suara pesta menjadi jauh, berganti dengan desir daun dan air kolam kecil. Lampu taman menyinari jalur batu dengan cahaya keemasan.

Ayunan itu masih ada.

Kayunya sudah dicat ulang, tetapi bentuknya sama. Keira menyentuh rantainya perlahan. Dulu, di tempat ini, Ethan pernah memberikan saputangan karena ia menangis setelah Meilan memarahinya di depan keluarga lain.

Keira duduk.

Baru beberapa detik kemudian, langkah kaki berhenti di belakangnya.

"Aku tahu kamu akan ke sini," kata Ethan.

Keira menutup mata sebentar.

"Ko Ethan."

"Maaf. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman di dalam."

Keira menoleh. Ethan berdiri beberapa langkah darinya, tidak memaksa mendekat. Sama seperti dulu, ia selalu memberi ruang lebih dulu sebelum menawarkan tangan.

"Kamu tidak membuatku tidak nyaman," kata Keira.

"Lalu siapa?"

Keira tidak menjawab.

Ethan menatap wajahnya di bawah lampu taman. "Keira, selama aku pergi, apa yang terjadi padamu?"

Pertanyaan itu jatuh pelan.

Tetapi bagi Keira, suaranya lebih berat daripada seluruh pesta di dalam rumah.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!