Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Ciuman Pertama
Kali ini, ia tidak menariknya kembali.
Meilan membiarkan ujung jarinya berada di dalam genggaman Reynard selama tiga detik. Hanya tiga detik, tetapi bagi mereka, waktu itu cukup panjang untuk membuat ruang konsultasi yang dingin terasa berubah napas.
Dr. Kelvin tidak pura-pura tidak melihat. Ia hanya menurunkan pandangan ke berkas medis dan mengetuk meja pelan.
"Saya perlu tanda tangan persetujuan tindakan dari ibu kandung," katanya. "Untuk ayah biologis, tanda tangan pendamping juga bisa dicantumkan. Secara hukum rumah sakit, keputusan utama tetap pada wali yang selama ini merawat pasien."
Meilan menarik napas. Kata ayah biologis masuk ke telinganya seperti jarum kecil. Tidak lagi bisa ditolak, tetapi tetap terasa sakit.
Reynard melepaskan tangannya lebih dulu.
"Keputusan ada pada Mei."
Kalimat itu membuat Meilan menoleh.
Tidak ada perebutan hak. Tidak ada kalimat soal darah Sutanto. Tidak ada paksaan agar namanya masuk ke dokumen. Reynard hanya duduk di sana, wajah lelah, mata merah, lalu menyerahkan pena kepada Meilan dengan kedua tangan.
Meilan mengambilnya.
Tanda tangannya rapi di baris wali utama. Di bawahnya, Reynard menandatangani sebagai pendamping keluarga. Tangannya tidak gemetar, tetapi rahangnya mengeras ketika membaca nama Bobo di dokumen.
Operasi dijadwalkan pukul sembilan pagi.
Sebelum Bobo dibawa masuk, Meilan mengganti bajunya dengan pakaian pasien kecil berwarna biru muda. Bobo sudah lebih sadar, tetapi wajahnya pucat. Ia melihat jarum infus di tangannya, lalu menatap Meilan.
"Mama tunggu?"
"Mama tunggu di luar pintu."
"Kalau Bobo tidur lama?"
"Mama tetap tunggu."
Bobo mengangguk pelan. Matanya bergeser ke arah Reynard yang berdiri agak jauh. Anak itu tidak memanggilnya. Namun ketika ranjang dorong mulai bergerak, tangan kecilnya keluar dari selimut dan menggenggam jari Meilan lebih kuat.
Reynard ikut berjalan di sisi lain ranjang, tetap menjaga jarak.
Di depan pintu ruang operasi, Bobo tiba-tiba berkata pelan, "Jaga Mama."
Meilan membeku.
Reynard juga berhenti.
Bobo menutup mata, seolah kalimat itu keluar tanpa sempat disaring oleh kemarahan kecilnya. Perawat mendorong ranjang masuk. Pintu otomatis tertutup, meninggalkan lampu merah menyala di atasnya.
Meilan berdiri diam beberapa detik, lalu kedua lututnya hampir terlipat.
Reynard menangkap lengannya tepat waktu. Pegangannya kuat, tetapi langsung longgar begitu Meilan bisa berdiri lagi.
"Duduk dulu."
"Aku baik-baik saja."
"Aku tahu." Suara Reynard serak. "Duduk tetap lebih baik."
Meilan ingin membantah, tetapi tubuhnya jujur. Ia duduk di kursi tunggu. Reynard duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Bima dan Bayu menunggu di ujung koridor. Sari mengirim pesan bahwa Lala sudah makan sedikit, tetapi masih memegang foto Bobo dan bertanya kapan Ko Bobo pulang.
Meilan membaca pesan itu berkali-kali sampai hurufnya kabur.
Jam pertama berlalu dengan suara langkah perawat.
Jam kedua berlalu dengan kopi yang menjadi dingin.
Jam ketiga, Dr. Kelvin keluar hanya sebentar untuk meminta satu hasil lab tambahan. Maskernya masih terpasang, matanya serius.
"Masih sesuai rencana. Jangan panik."
Kalimat itu tidak membuat Meilan tenang, tetapi setidaknya ia masih bisa bernapas.
Jam keempat, Reynard menerima telepon dari Jakarta. Adrian harus kembali ke Sutanto Group karena beberapa dokumen penting menunggu persetujuan. Reynard hanya berkata, "Tunda semua yang tidak menyangkut nyawa." Setelah itu ia mematikan ponsel.
Meilan mendengarnya.
"Kamu punya pekerjaan."
"Bobo di dalam."
"Sutanto Group tidak bisa berhenti hanya karena kamu duduk di koridor."
"Bisa."
Jawaban itu terlalu tenang, terlalu sederhana.
Meilan menoleh. "Kamu tidak boleh menganggap semua hal bisa tunduk pada kemauanmu."
Reynard menatap pintu ruang operasi. "Aku tidak sedang membuat dunia tunduk. Aku sedang memilih tempatku."
Meilan tidak punya kata untuk membalas.
Jam kelima, ia mulai menggigil karena AC koridor. Reynard melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran kursi di sampingnya, bukan di bahunya. Pilihan kecil itu membuat Meilan terdiam. Ia bisa menolak tanpa merasa disentuh. Ia juga bisa mengambilnya tanpa harus mengakui kelemahan.
Akhirnya ia menarik jas itu ke pangkuannya.
Jam keenam, Sari menelepon lewat video. Lala muncul dengan wajah bengkak menangis.
"Mama, Ko Bobo udah bangun?"
"Belum, Sayang. Dokter masih bantu Ko Bobo."
"Lala mau nyanyi buat Ko Bobo."
Meilan mengangguk, menggigit bibir.
Suara Lala terdengar kecil dari layar ponsel. Ia menyanyikan lagu anak-anak yang sering Bobo pura-pura tidak suka, tetapi selalu ia dengarkan sampai selesai. Di koridor rumah sakit yang dingin, suara itu membuat mata Meilan panas.
Reynard menunduk. Bahunya kaku. Ia tidak pernah mendengar Lala menyanyi sebelumnya. Ia tidak pernah menemani demam pertama, langkah pertama, kata pertama. Semua itu sudah lewat tanpa dirinya.
Jam ketujuh, Meilan akhirnya menangis.
Tangis itu tidak keras. Hanya air mata yang jatuh tanpa suara ketika layar ponsel sudah gelap. Reynard mengambil tisu dari meja kecil dan menyerahkannya.
Meilan menerimanya.
"Kalau sesuatu terjadi..." suaranya pecah.
"Tidak."
"Rey."
"Tidak," ulang Reynard. Kali ini suaranya lebih rendah. "Aku tidak akan mengatakan kemungkinan itu sebelum dokter sendiri mengatakannya."
Meilan menutup wajah dengan tisu. Untuk pertama kalinya sejak malam kebenaran di rumahnya, ia tidak merasa kalimat Reynard sebagai alasan. Ia tahu pria itu juga takut. Hanya saja ketakutannya berdiri tegak, memaksa dirinya menjadi dinding agar Meilan punya tempat bersandar.
Jam kedelapan, lampu merah padam.
Pintu ruang operasi terbuka.
Dr. Kelvin keluar lebih dulu. Maskernya ditarik turun. Wajahnya lelah, tetapi matanya tidak lagi setegang sebelumnya.
"Operasi berhasil."
Meilan berdiri terlalu cepat. Dunia berputar. Reynard menahan punggung kursinya agar tidak jatuh, tetapi tidak menyentuhnya.
"Bobo?" tanya Meilan.
"Stabil. Parasit utama berhasil kami bersihkan. Ia masih harus observasi ketat dan terapi obat beberapa minggu, tapi fase paling berbahaya sudah lewat."
Meilan menutup mulutnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia menunduk, menangis di tengah koridor tanpa peduli Bima, Bayu, perawat, atau keluarga pasien lain yang melihat.
Reynard menyodorkan tisu lagi.
Kali ini, tangan Meilan tidak sekadar mengambil tisu itu. Jari-jarinya menyentuh punggung tangan Reynard, lalu berhenti sebentar.
Reynard tidak bergerak.
Beberapa jam kemudian, Bobo tidur di ruang rawat. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya lebih teratur. Dr. Kelvin melarang terlalu banyak orang masuk, jadi hanya Meilan yang duduk di samping ranjang. Reynard menunggu di sofa kecil dekat jendela, matanya tetap terbuka meski tubuhnya jelas kelelahan.
Saat senja turun, Bobo sempat membuka mata. Pandangannya kabur, tetapi begitu melihat Meilan, sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
"Mama masih tunggu," bisiknya.
"Mama janji, kan?"
Bobo mengedip pelan. Lalu matanya mencari ke arah sofa. Reynard langsung berdiri, tetapi tetap tidak mendekat sebelum Meilan memberi isyarat kecil.
"Dokter bilang Bobo hebat," kata Reynard.
Bobo menatapnya lama. Wajah kecil itu masih lemah, tidak punya tenaga untuk marah. Setelah beberapa detik, ia berbisik, "Mama juga."
Reynard menunduk. "Iya. Mama paling hebat."
Meilan memalingkan wajah, pura-pura merapikan selimut agar air matanya tidak terlihat.
Menjelang malam, perawat meminta Meilan keluar sebentar saat mengganti balutan steril. Ia berjalan ke balkon kecil di ujung koridor. Surabaya malam itu lembap. Dari kejauhan, suara kendaraan samar bercampur dengan angin laut.
Meilan memegang pagar besi dingin. Tangannya masih menyimpan rasa tangan Bobo yang lemah, rasa kertas persetujuan operasi, rasa tisu yang diberikan Reynard.
Pintu balkon terbuka pelan.
Reynard masuk, membawa jaket tipis.
"Perawat bilang lima belas menit."
"Aku tahu."
Ia berdiri di samping Meilan, memberi jarak satu lengan. Tidak ada kata maaf kali ini. Tidak ada pembelaan. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama terlalu lelah untuk berbohong pada diri sendiri.
"Terima kasih," kata Meilan akhirnya.
Reynard menoleh. "Untuk apa?"
"Untuk tidak mengambil keputusan dariku. Untuk tetap ada. Untuk Bobo."
Ada sesuatu bergerak di mata Reynard, tetapi ia menahannya.
"Aku ayahnya."
"Aku tahu."
Kalimat pendek itu membuat udara di antara mereka berubah. Meilan menatap wajah Reynard. Di bawah cahaya balkon, pria itu tidak terlihat seperti dewa bisnis yang tidak tersentuh. Ia terlihat seperti laki-laki yang hampir kehilangan anaknya sebelum sempat dipanggil Papa dengan benar.
Meilan tidak tahu dorongan mana yang membuatnya bergerak.
Mungkin lega. Mungkin lelah. Mungkin rasa sakit yang terlalu lama ia pegang akhirnya menemukan celah.
Ia melangkah mendekat, mengangkat wajah, lalu mencium Reynard.
Reynard membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Baru setelah itu, napasnya terputus. Ia tidak merebut, tidak menekan, hanya mengangkat tangan perlahan dan memeluk Meilan dengan hati-hati, seolah perempuan itu adalah sesuatu yang paling berharga sekaligus paling mudah terluka.
Ciuman itu singkat.
Ketika Meilan sadar apa yang ia lakukan, wajahnya langsung panas. Ia mundur satu langkah, lalu memalingkan muka.
"Aku... aku harus lihat Bobo."
Ia berbalik cepat, tetapi Reynard menangkap pergelangan tangannya dengan lembut.
"Mei."
Meilan berhenti.
Suara Reynard rendah, hampir patah. "Terima kasih sudah melindungi satu-satunya darah dagingku."
Mata Meilan kembali panas.
Ia menarik tangannya pelan, bukan kasar, lalu masuk ke ruang rawat. Pintu tertutup di belakangnya.
Di balik pintu itu, Meilan bersandar dengan punggung menempel pada kayu dingin. Jantungnya berdetak terlalu cepat, seolah baru saja berlari jauh.
Di luar, Reynard masih berdiri di balkon.
Kali ini, tidak ada jarak yang benar-benar sama lagi.