NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Penyelamatan Konyol

​Reno menatap layar ponselnya dengan tingkat kepanikan yang sudah sepenuhnya menembus ambang batas kewarasan logis manusia biasa.

​{Orang-orang suruhan Mr. X itu benar-benar tidak kenal ampun, mereka langsung menargetkan Luna di area kampus pada pagi buta begini.}

​Ia menoleh cepat ke arah meja tamu di depannya, menyambar kunci motor bebek butut milik Radit yang tergeletak begitu saja.

​"Aku pinjam motormu sebentar, nyawa Luna sedang berada dalam bahaya besar yang tidak bisa ditunda sedetik pun!"

​Seruan keras itu meluncur bebas dari mulut Reno tanpa menunggu jawaban persetujuan dari sahabat gempalnya yang masih mematung kebingungan di ruang tengah.

​Langkah kakinya dipacu sekuat tenaga berlari keluar dari pintu kontrakan, mengabaikan ujung celana jogger kebesaran yang terus menyapu lantai secara memalukan.

​Mesin motor tua berwarna hitam pudar itu berhasil dihidupkan dengan satu kali injakan tuas starter yang dilakukan menggunakan kekuatan penuh.

​Reno memacu kendaraan roda dua tersebut membelah jalanan perumahan menuju kompleks Universitas Megantara dengan kecepatan luar biasa ekstrem.

​Angin pagi yang dingin sama sekali tidak mampu meredakan keringat ketakutan yang kini membanjiri dahi dan pelipis pemuda kurus tersebut.

​Lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah di persimpangan jalan sengaja ia terobos dengan sangat berani, mengabaikan bunyi klakson panjang dari para pengendara mobil yang terkejut.

​Tangannya sesekali melepaskan sebelah kemudi kiri dengan ceroboh hanya untuk memeriksa layar sadapan di ponsel hitamnya yang terus menyala konstan.

​Teks merah menyala itu terus berkedip secara agresif, memompa hormon adrenalin Reno hingga membuat detak jantungnya terasa ingin meledak menghancurkan tulang rusuk.

​Ia segera mengambil keputusan nekat untuk memotong jalan melewati gang kecil berbatu di belakang fakultas teknik demi memangkas waktu tempuh secara signifikan.

​Reno sama sekali tidak memedulikan guncangan hebat yang menyiksa tulang ekornya saat ban motor usang itu menghantam berbagai lubang jalan perumahan yang tidak rata permukaannya.

​Pikirannya hanya terfokus pada satu tujuan mutlak tanpa kompromi, yaitu memastikan keselamatan gadis pujaannya dari cengkeraman mafia teknologi yang memiliki rekam jejak sangat mematikan tersebut.

​||||

​Ban motor bebek Radit berdecit sangat nyaring bergesekan dengan aspal saat Reno melakukan pengereman mendadak tepat di ujung koridor luar kampus.

​Pemuda berbaju pinjaman itu menjatuhkan kendaraan roda duanya begitu saja di atas susunan conblock, sama sekali tidak memedulikan bodinya yang mungkin akan mendapat lecet baru.

​Fokus utama dari sepasang matanya langsung terkunci rapat pada sosok Luna yang masih berjalan santai membelakanginya di ujung lorong sepi tersebut.

​Tepat di belakang punggung gadis cantik itu, mobil van hitam misterius yang ia lihat di layar tadi baru saja menghentikan putaran rodanya secara total.

​Seseorang dari dalam kabin pengemudi yang gelap tampaknya sedang bersiap untuk membuka pintu samping kendaraan itu dengan gerakan mencurigakan.

​{Aku tidak akan pernah membiarkan tangan kotor kalian menyentuh sehelai pun rambut Luna pada hari ini!}

​Reno berlari sekencang mungkin menyusuri koridor beton yang panjang, mengangkat ponsel misteriusnya tinggi-tinggi ke arah moncong mobil van tersebut.

​Udara pagi yang masih menyisakan hawa dingin terasa membakar rongga dadanya seiring dengan setiap tarikan napas panik yang ia lakukan secara tidak beraturan.

​"Siri-usly, kunci semua pintu mobil laknat itu dari luar dan hancurkan sistem pengereman mekanisnya sekarang juga!"

​Ia meneriakkan perintah itu dengan suara yang menggelegar, tidak memedulikan pita suaranya yang terasa perih akibat tarikan urat leher yang berlebih.

​Sebuah bunyi klik mekanis yang sangat keras dan serentak langsung terdengar menggema dari arah seluruh engsel pintu van hitam tersebut.

​Sistem keamanan kendaraan berukuran besar itu berhasil diambil alih sepenuhnya oleh kecerdasan buatan dari masa depan dalam hitungan kurang dari sedetik.

​Sopir yang berada di dalam kabin gelap itu tampak sangat kebingungan, memukul-mukul kaca jendelanya yang mendadak tidak bisa diturunkan atau dibuka sama sekali.

​||||

​Luna terlonjak kaget mendengar rentetan suara ribut dari arah belakang punggungnya, lalu memutar tubuh langsingnya dengan gerakan yang sangat cepat.

​Gadis berwajah ayu itu membelalakkan matanya melihat sosok Reno yang sedang berlari bak orang kesetanan menuju ke arah tempatnya berdiri.

​Napas pemuda berkemeja oblong hitam itu terdengar terengah-engah dari kejauhan, namun kakinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat sedikit pun.

​Reno menggunakan sisa momentum larinya yang luar biasa kencang untuk melompat tinggi ke udara, mengarahkan sebelah kaki kanannya lurus ke badan mobil.

​Sepatu kets usang yang baru saja ia pinjam dari rak sepatu Radit itu mendarat dengan sangat telak tepat di bagian tengah pintu samping van hitam.

​Bunyi benturan logam penyok yang sangat keras langsung memecah keheningan suasana koridor fakultas teknik yang biasanya selalu sepi pada pagi hari.

​Tendangan penuh tenaga adrenalin dari seorang pria putus asa itu sukses menciptakan sebuah lekukan cekung yang lumayan besar di permukaan pintu mobil.

​Reno mendarat kembali ke atas tanah dengan sedikit terhuyung kehilangan keseimbangan, namun ia segera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menutupi tubuh Luna.

​"Mundur perlahan ke belakang, Luna, jangan biarkan para penculik bayaran keparat ini membawamu pergi dari tempat ini!"

​Ia memberikan instruksi heroik itu dengan dada yang membusung bangga, merasa telah berhasil menjalankan tugasnya sebagai seorang pahlawan pelindung secara sempurna.

​Luna masih berdiri mematung di tempat asalnya, menatap punggung bergetar Reno dan mobil van penyok itu secara bergantian dengan raut wajah kebingungan tingkat tinggi.

​Kepanikan di hati Reno justru semakin memuncak ketika pintu kaca pengemudi yang tidak bisa dibuka itu tiba-tiba digedor dengan pukulan yang sangat beringas dari arah dalam.

​Seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan sebuah celemek masak bermotif bunga menempelkan wajahnya ke kaca dengan ekspresi amarah yang luar biasa.

​Pria bercelemek itu menunjuk-nunjuk tajam ke arah pintu samping yang baru saja ditendang Reno sambil meneriakkan kalimat protes yang suaranya teredam oleh ketebalan kaca.

​Reno perlahan mengerutkan keningnya, merasa ada sebuah kejanggalan logika yang sangat fatal dengan atribut penjahat bayaran dari komplotan Mr. X pagi ini.

​{Sejak kapan mafia teknologi elit tingkat dunia mempekerjakan algojo berbadan gemuk yang menggunakan celemek dapur untuk menculik seorang target operasi penting?}

​Pandangan matanya perlahan menyusuri badan mobil van hitam tersebut dengan teliti, mencari keberadaan logo atau tanda pengenal sindikat rahasia yang mungkin sengaja disembunyikan.

​Tepat di bawah lekukan penyok hasil tendangannya barusan, terdapat sebuah stiker promosi berukuran besar berwarna cerah yang sebelumnya sama sekali tidak ia perhatikan.

​Stiker persegi itu menampilkan ilustrasi gambar semangkuk nasi hangat dengan sepasang sumpit kayu, dihiasi oleh deretan huruf kapital yang warnanya sangat mencolok mata.

​Teks bertuliskan 'Katering Ibu RT - Melayani Pesanan Nasi Kotak Rapat Dosen' terpampang sangat jelas di sana, menghancurkan seluruh skenario heroik di dalam kepala Reno seketika.

​||||

​Reno perlahan menurunkan kedua rentangan tangannya dari udara, merasa seluruh persendian tulang di tubuhnya mendadak berubah menjadi selunak jeli.

​Wajah pemuda itu seketika memucat pasi kehilangan aliran darah, rasanya jauh lebih pucat daripada saat ia menerima ancaman pembunuhan dari bos mafia semalam.

​Rasa malu yang luar biasa besar mulai menggerogoti setiap sel di dalam tubuhnya, membuatnya berharap ada sebuah lubang hitam yang muncul untuk menelannya saat ini juga.

​Ia baru saja melakukan penyerangan fisik yang sangat berlebihan terhadap mobil katering kampus, serta menuduh pengantar nasi kotak sebagai bagian dari komplotan penculik internasional.

​"Reno, apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan pada mobil pengantar konsumsi untuk rapat panitia fakultasku pada pagi buta begini?"

​Suara Luna yang terdengar melengking pelan menembus tajam ke dalam telinga Reno, membawa nada ketidakpercayaan yang luar biasa tebal terhadap rentetan kejadian absurd barusan.

​Pemuda berbaju pinjaman itu menelan ludah kasarnya dengan susah payah, sama sekali tidak memiliki nyali untuk membalikkan badan guna menatap wajah gadis pujaannya.

​Ponsel hitam misterius di dalam saku celana joggernya mendadak bergetar pelan, memberikan sebuah komentar digital yang sangat tidak dibutuhkan untuk memperburuk suasana.

​Reno memejamkan kedua matanya erat-erat, merutuki nasib kesialannya yang seolah tidak pernah kehabisan ide gila untuk terus mempermalukannya di hadapan Luna tanpa ampun.

​Kesalahan analisis situasional yang dipicu oleh kepanikan berlebih ini terbukti menjadi senjata makan tuan yang jauh lebih mematikan daripada ancaman komplotan mafia itu sendiri.

​Sopir katering yang wajahnya memerah padam akibat amarah itu masih terus menggedor kaca mobilnya dari dalam, menuntut kebebasan dan ganti rugi atas kerusakan pintu operasionalnya secara paksa.

​Reno akhirnya menoleh kaku layaknya robot yang kekurangan pelumas ke arah Luna, melihat gadis pujaan hatinya itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut menuntut.

​Otaknya berputar sangat keras mencari alasan darurat paling masuk akal untuk menutupi aksi sabotase pintu elektronik dan tendangan konyolnya barusan.

​{Aku harus segera merangkai sebuah kebohongan baru yang jauh lebih spektakuler sebelum Luna benar-benar menganggapku sebagai orang gila yang baru kabur dari rumah sakit jiwa.}

​Baru saja bibirnya yang bergetar itu terbuka untuk merangkai kata pertama, suara decitan dari engsel pintu kaca lobi fakultas di sebelah mereka tiba-tiba menarik seluruh perhatian.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!