NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TARUHAN GILA DI SUDUT REMANG

Dentuman bas yang berat dari sistem suara kelas dunia menggetarkan dinding-dinding Illusion, salah satu club malam paling eksklusif di jantung ibu kota. Cahaya lampu neon berwarna biru dan ungu berputar malas, membelah kabut tipis dari kepulan asap rokok elektrik dan aroma alkohol mahal yang menguar di udara. Tempat ini adalah pelarian bagi mereka yang memiliki uang tak berseri, sebuah dunia malam yang tidak pernah tidur, di mana moralitas sering kali ditinggalkan di luar pintu masuk.

Malam itu, kepala Arga Dirgantara serasa ingin pecah menjadi berkeping-keping. Lembaran dokumen di kantor dan tumpukan tugas mahasiswa yang biasanya menjadi pelarian terbaiknya, sama sekali tidak mempan mengusir rasa muak yang bergejolak di dadanya. Beberapa jam yang lalu, sebuah pertengkaran dingin kembali pecah di rumah mewahnya. Keysha, dengan wajah tanpa dosa, kembali memutarbalikkan fakta, menangis seolah-olah dia adalah korban paling menderita ketika Arga memergokinya memesan barang mewah menggunakan kartu kreditnya untuk sang pacar. Kemunafikan wanita itu telah mencapai batas yang bisa ditoleransi oleh akal sehat Arga.

Muak. Arga benar-benar berada di titik kulminasi rasa muaknya terhadap kehidupan pernikahan sandiwara tersebut.

Kaki panjangnya melangkah dengan tegap menembus kerumunan orang yang sedang berdansa, mengabaikan tatapan-tatapan lapar dari beberapa wanita berpakaian minim yang mencoba menarik perhatiannya. Arga tidak peduli. Ia terus berjalan menuju area V.I.P yang terletak di sudut remang-remang club, tempat yang sedikit lebih tenang dan jauh dari jangkauan lampu sorot utama. Ia membutuhkan pelarian yang instan, sesuatu yang bisa mematikan fungsi otaknya sejenak dari kerumitan hidup yang mengikatnya.

Arga menghempaskan tubuh tegapnya ke atas sofa kulit berwarna hitam. Dengan gerakan kasar yang sarat akan frustrasi, ia melonggarkan ikatan dasi sutranya, lalu menariknya lepas dan melemparkannya begitu saja ke atas meja. Tidak cukup sampai di sana, jemari kokohnya bergerak membuka tiga kancing kemeja linen putih bagian atasnya. Tindakan sederhana itu seketika mengekspos garis lehernya yang tegas, jakun yang bergerak naik-turun seirama dengan napasnya yang berat, serta dada bidangnya yang sangat maskulin dan kokoh.

Seorang barista mendekat dengan sigap, meletakkan segelas whiskey dengan sebongkah es batu besar di dalamnya. Arga langsung menyambar gelas tersebut. Suara gemerincing es beradu dengan kaca terdengar samar di antara dentuman musik saat ia meneguk cairan amber itu dalam sekali tegak. Sensasi panas yang membakar tenggorokannya memberikan sedikit rasa lega yang ia cari. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak, membiarkan rahangnya yang tegas sedikit mengendur di bawah bayang-bayang lampu remang.

Tanpa sedikit pun Arga sadari, di sudut lain lantai V.I.P yang letaknya berseberangan, tiga pasang mata sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya sejak pertama kali ia melangkah masuk ke dalam club.

"Ehh, itu bukan dosen killer kita, ya?" ucap Alya tiba-kira. Matanya yang bulat menyipit tajam, mencoba menembus remang lampu club yang berputar-putar untuk memastikan penglihatannya.

Karin, yang sedang menyesap minumannya, langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh dagu Alya. Detik berikutnya, matanya melebar sempurna. "Ouh, iya! Itu Pak Arga!" Karin memekik tertahan, menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangan agar suaranya tidak tenggelam oleh dentuman musik. "Ganteng banget, hot lagi... Cuman sayang, dia kan sudah punya bini. Kenapa cowok sekelas dia bisa ke club malam-malam begini? Jangan-jangan dia mau jajan?"

Di sebelah mereka berdua, seorang gadis duduk dengan gaya yang teramat santai, bersandar pada sofa dengan satu kaki yang ditumpukan di atas kaki lainnya. Dia adalah Queen. Gadis berusia 20 tahun yang namanya selalu menjadi buah bibir di seantero universitas. Queen dikenal bukan karena prestasi akademiknya yang gemilang, melainkan karena kombinasi mematikan yang ia miliki: wajahnya yang luar biasa manis dengan sepasang mata yang memancarkan binar nakal, namun memiliki lekuk tubuh yang teramat seksi bak gitar spanyol yang terpahat sempurna di balik gaun ketat berwarna hijau zamrud yang dikenakannya malam ini.

Lebih dari itu, semua orang tahu siapa Queen. Dia adalah anak tunggal dari konglomerat raksasa pemilik universitas tempat Arga mengajar. Meskipun otaknya pas-pasan dan sering kali membuat para dosen mengelus dada saat memeriksa kertas ujiannya, tidak ada satu orang pun yang berani mengusiknya. Ditambah lagi dengan sifatnya yang terkenal cegil (cewek gila) dan bar-bar, Queen selalu mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Dan selama satu semester terakhir ini, target utamanya hanya satu: Pak Arga Dirgantara.

Saat Karin dan Alya sibuk bergosip, Queen hanya diam. Sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah Arga dengan pandangan yang penuh dengan rasa lapar yang tidak ditutup-tutupi. Di matanya, Arga malam ini terlihat sepuluh kali lipat lebih menggoda daripada saat pria itu berdiri kaku di depan kelas dengan kapur atau spidol di tangannya. Kemeja yang terbuka, rambut yang sedikit berantakan, dan aura frustrasi yang menguar dari tubuh sang dosen justru membuat insting liar di dalam diri Queen bergejolak hebat. Queen selalu mengejar dosen itu secara terang-terangan di kampus, mengabaikan semua sikap dingin dan penolakan mentah-mentah yang selalu ia terima. Bagi Queen, semakin Arga menjauh, semakin besar rasa penasarannya untuk menaklukkan pria itu.

Di sisi lain meja, Alya tersenyum miring, sebuah kilatan rencana melintas di kedua matanya yang cerdas. Faktanya, ada satu rahasia besar yang tidak pernah diketahui oleh Queen maupun Karin: Alya adalah adik kandung dari Arga Dirgantara. Alya sengaja menyembunyikan identitasnya di kampus agar bisa hidup normal tanpa embel-embel nama besar Dirgantara Group.

Sebagai adik yang tinggal satu atap dan melihat bagaimana hancurnya kehidupan rumah tangga sang kakak, Alya sudah berada di titik paling muak. Ia tidak tahan lagi menyaksikan kakaknya yang berhati emas itu selalu mengalah, ditekan oleh ambisi bisnis ayah mereka, dan dimanfaatkan secara menjijikkan oleh Keysha, si istri manipulatif yang terus bermain belakang dengan pacar miskinnya. Alya tahu betul bahwa Arga membutuhkan kejutan besar untuk keluar dari lingkaran setan pernikahan tanpa cinta itu. Dan saat matanya beralih menatap Queen yang sedang menatap kakaknya seperti singa mengincar mangsa, Alya tahu ia telah menemukan senjatanya. Hanya gadis bar-bar, nekat, dan tidak waras seperti Queen yang memiliki peluang untuk meruntuhkan tembok es tebal yang mengunci hati kakaknya.

"Eh, daripada kita bosen duduk doang di sini, gimana kalau gue tantang lo, Queen?" tantang Alya tiba-tiba, mencondongkan tubuhnya ke depan meja dengan nada memprovokasi yang kental. "Lo goda tuh dosen killer. Bila perlu, bikin dia sampai terangsang malam ini juga!"

Mendengar tantangan gila itu, Karin hampir saja menyemburkan minuman yang baru masuk ke dalam mulutnya. "Gila! Pikiran mu itu sange sekali ya!" sahut Karin setengah berteriak, menyenggol keras lengan Alya dengan wajah yang memerah karena syok. "Dia itu dosen kita, Alya! Lagian dia itu suami orang!"

Alya hanya terkekeh meremehkan, matanya tetap mengunci pandangan Queen yang kini mulai tertarik dengan ucapannya. "Hehe, itu mah untung di Queen. Lo lihat sendiri kan kondisi Pak Arga sekarang? Tubuhnya itu loh... ganteng sebadan-badan! Gak bakal rugi seandainya Queen bisa menyentuhnya. Lagian, Queen juga dari dulu ngejar-ngejar Pak Arga secara terang-terangan, kan? Ini kesempatan emas, Queen." hasut Alya lagi, menuangkan bensin ke dalam api keberanian sahabatnya.

Queen menyunggingkan senyum menantang yang sangat menawan. Sifat keras kepalanya langsung terpancing. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Alya dan Karin bergantian dengan binar nakal yang semakin menyala di kedua matanya.

"Oke, gue setuju dengan tantangan lo," jawab Queen, suaranya terdengar renyah namun penuh dengan nada kepercayaan diri yang tinggi. "Tapi... harus ada hadiahnya dong? Kan gue akan berperan jadi 'pelacur' gratisan untuk malam ini demi menghibur dosen kesayangan kita. Lagipula, jujur aja, gue juga udah lama penasaran banget sama gimana rasanya menyentuh tubuh sang dosen killer itu."

Alya tertawa puas di dalam hatinya. Umpannya telah dimakan mentah-mentah. "Oke, kesepakatan dibuat. Kalau lo berhasil membuat Pak Arga kehilangan kendali malam ini, tas Hermes limited edition koleksi terbaru gue yang harganya ratusan juta itu bakal jadi milik lo. Tapi ingat syaratnya, lo harus ganas ngegodanya. Kalau perlu, duduk langsung di pangkuannya, kasih dia ciuman paling hot, dan goyang pinggula seksi lo itu di atasnya agar dia benar-benar terangsang!" ucap Alya, sengaja mendiktekan skenario yang ia tahu akan membuat kakaknya kewalahan.

Karin menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Alya dengan pandangan tidak percaya. "Gila lo, Alya! Lo kebanyakan nonton film bokep ya sampai otaknya geser begini?" Namun, melihat binar mata Queen yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, jiwa kompetitif Karin ikut tersulut. "Tapi... ya sudahlah, gue juga penasaran seberapa kuat pertahanan Pak Arga. Kalau lo berhasil membawa pulang kemenangan malam ini, Queen, mobil Mini Cooper baru yang ada di garasi rumah gue bakal jadi buat lo. Tenang aja, di rumah gue stok mobil masih banyak, bokap baru beliin bulan lalu."

Queen tertawa remeh, suara tawa khasnya yang terdengar seksi menembus kebisingan club. Ia berdiri dari sofanya, merapikan sedikit bagian bawah gaun hijaunya yang super ketat, mempertegas lekuk tubuh "gitar spanyol"-nya yang bisa membuat pria mana pun menelan ludah dalam sekali lihat.

"Oke, gue setuju dengan taruhan ini," ucap Queen sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah kedua sahabatnya. "Meskipun sebenarnya gue gak butuh-butuh banget sama hadiah tas Hermes atau Mini Cooper dari lo semua—keluarga gue bisa beli pabriknya kalau mau—tapi gue setuju karena satu hal. Gue cuman penasaran... seberapa kuat es di dalam diri Pak Arga sebelum mencair di tangan gue."

Tanpa membuang waktu lagi, Queen melangkah meninggalkan meja mereka. Dengan langkah yang penuh percaya diri, pinggulnya bergoyang seksi mengikuti irama musik, berjalan lurus menuju meja remang-remang tempat Arga Dirgantara sedang duduk sendirian dengan segelas alkoholnya. Sementara di belakangnya, Alya menatap punggung Queen dengan senyuman misterius yang sarat akan harapan, berharap malam ini menjadi malam di mana kakaknya akhirnya bisa terbebas dari belenggu masa lalunya yang kelam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!