Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Kerajaan Iblis
Setelah Haruto mempersilakan mereka masuk ke dalam area desa, Jenderal Varkas Vane tidak langsung melangkah maju. Ia berdiri sejenak di hadapan gerbang kayu, lalu menoleh ke belakang untuk menatap empat bawahannya satu per satu.
"Lepaskan senjata," perintah Vane tenang namun tegas.
Keempat pengawalnya sempat terkejut, saling bertukar pandang penuh keraguan. Namun, sebagai prajurit terlatih yang menjunjung tinggi perintah atasan, mereka tidak membantah. Satu per satu, pedang panjang, tombak berukir, dan busur silang dilepaskan dari punggung lalu diletakkan dengan hati-hati di dekat tiang gerbang. Baru setelah memastikan tangan mereka sepenuhnya kosong, Vane memimpin rombongannya melangkah melewati pintu gerbang.
Haruto, yang berdiri tidak jauh dari sana, mengamati setiap detail tindakan tersebut. Ia tahu bahwa rasa percayanya belum sepenuhnya terbentuk, namun gestur melepaskan senjata di depan wilayah asing adalah sebuah sinyal kuat tentang itikad baik yang sulit diabaikan.
Di sudut lain, tak jauh dari tempat Haruto berdiri, Luna mencondongkan tubuhnya ke arah Fina. Gadis kecil Ras Kelinci itu berbisik dengan nada penasaran yang tak tertahankan, "Fina... tanduk di kepala mereka itu asli, ya?"
Fina langsung panik, menutup mulut Luna menggunakan telapak tangannya agar suara kecil itu tidak terdengar oleh para tamu iblis. Meski begitu, ketegangan yang sempat menyelimuti udara desa sejak pagi perlahan mulai mencair, digantikan oleh rasa ingin tahu yang wajar.
Haruto kemudian mengajak rombongan Jenderal Varkas untuk duduk di bawah naungan pohon rindang di dekat rumah utamanya. Belum ada ruang tamu formal di desa kecil itu, jadi mereka hanya duduk di atas kursi dan bangku-bangku kayu sederhana yang dibuat sendiri oleh Haruto dan Brom.
Sambil menunggu Hana dan Kaelin menyiapkan air minum, Haruto mulai memperkenalkan seluruh penghuni desa satu per satu. Ia menyebutkan nama Elara, Mira, Fira, Fina, Kaelin, Hana, Luna, hingga akhirnya berhenti pada Brom.
Ketika nama sang pandai besi disebutkan, Jenderal Varkas sempat menatap Brom lekat-lekat selama beberapa detik. Tatapan itu bukan tatapan penuh ancaman, melainkan pandangan tajam seorang pengamat berpengalaman yang langsung mengenali jejak masa lalu seseorang. Brom sendiri menyadari tatapan tersebut dan menegang sejenak, namun Varkas memilih untuk tidak melontarkan pertanyaan apa pun. Sang jenderal sangat memahami batasan etika; masa lalu seseorang, entah itu pelarian atau rahasia kelam, bukanlah urusannya hari itu.
Setelah itu, Varkas ganti memperkenalkan anggota rombongannya dengan ringkas—hanya menyebutkan nama dan fungsi mereka tanpa embel-embel gelar yang berlebihan.
Dari percakapan singkat itu, Haruto akhirnya menyadari satu hal baru: "Ras Iblis" di dunia ini ternyata tidak jauh berbeda secara esensial dari manusia. Mereka tidak memiliki sayap kelelawar atau taring mengerikan seperti dalam kisah fiksi di dunia asalnya; perbedaan fisiknya hanya terletak pada sepasang tanduk di kepala, kapasitas mana alami yang jauh lebih besar, serta sedikit ketangguhan fisik. Pemikiran itu meruntuhkan sisa-sisa prasangka yang sempat hinggap di benaknya.
Setelah suasana terasa cukup cair dan cangkir-cangkir kayu berisi air segar dibagikan, Haruto langsung memotong ke inti permasalahan. Ia menatap Varkas dengan pandangan lurus. "Boleh aku tahu... apa sebenarnya tujuan kalian datang jauh-jauh ke tempat ini?"
Varkas meletakkan cangkirnya di atas meja kayu, menjawab tanpa berbelit-belit. Ia menceritakan bagaimana seorang pengintai di pos pegunungan timur awalnya melihat kepulan asap tipis di tengah Hutan Kematian. Awalnya, mereka mengira itu hanyalah kebakaran akibat sambaran petir. Namun, asap itu terus muncul secara konsisten, disusul oleh pembukaan lahan, hingga akhirnya wujud bangunan-bangunan kecil mulai tertangkap oleh lensa sihir pemantau selama hampir dua bulan penuh.
Haruto mengangguk-angguk kecil, akhirnya memahami situasi yang terjadi. "Jadi... selama ini kami memang selalu diawasi."
Varkas mengangguk membenarkan. "Kami hanya memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam wilayah terlarang ini."
Kini giliran Varkas yang merasa penasaran, melayangkan pertanyaan balik yang sudah sejak lama mengganjal di benaknya. "Bagaimana mungkin kalian bisa bertahan hidup di tempat semengerikan ini? Hutan Kematian bukanlah tempat di mana makhluk hidup bisa membangun rumah dengan tenang."
Haruto menjawab seadanya dengan senyuman tipis. "Menebang pohon, membangun rumah, bertani, dan berburu." Ia sengaja menyembunyikan eksistensi Divine Shadow Tool miliknya; bagaimanapun, kekuatan misterius itu adalah kartu as yang tidak perlu diumbar ke sembarang orang. Varkas, di sisi lain, tidak mendesak atau memaksa untuk diberi tahu. Sebagai seorang pemimpin militer yang cerdas, ia tahu betul bahwa setiap orang berhak menyimpan rahasia pribadi.
Sebaliknya, Varkas menjelaskan sedikit mengenai perspektif kerajaan iblis terhadap wilayah tersebut. Bagi bangsa mereka, Hutan Kematian telah dicap sebagai zona terlarang selama ratusan tahun. Konsentrasi monster di dalamnya terlalu liar dan mematikan, bahkan untuk ukuran pasukan reguler. Itulah sebabnya mereka memilih untuk mengawasinya secara pasif dari kejauhan melalui pos pegunungan, alih-alih mengirim pasukan untuk menaklukkannya.
Seiring berjalannya waktu, suasana di bawah pohon itu semakin santai, hampir mirip obrolan sore di perdesaan biasa. Luna, yang rasa penasarannya sudah mencapai batas, perlahan memberanikan diri mendekati salah satu prajurit pengawal iblis yang berbadan tegap. Gadis kecil itu menunjuk tanduk melengkung di kepala sang prajurit dengan jari telunjuknya.
"Um... om iblis," tanya Luna polos tanpa rasa takut, "tanduk itu... kalau dipegang sakit nggak?"
Prajurit iblis yang garang itu sontak kebingungan setengah mati, tidak tahu harus merespons bagaimana di hadapan anak kecil. Rekan-rekan sesama pengawalnya kontan menahan tawa melihat ekspresi kaku sang prajurit.
Di sisi lain, salah satu prajurit iblis yang bertugas sebagai penyihir melirik ke arah Mira yang sedang berdiri berjaga, lalu memberanikan diri bertanya, "Kalau boleh tahu... bolehkah aku bertanya sesuatu tentang telinga kalian?"
Mira mengangguk kecil, dan percakapan-percakapan kecil yang hangat mulai tercipta secara alami di antara kedua belah pihak. Obrolan itu sama sekali tidak menyentuh urusan politik tingkat tinggi ataupun strategi perang; mereka murni membicarakan kebiasaan ras masing-masing, hal-hal sepele yang memicu tawa kecil.
Perlu diketahui bahwa keberadaan Ras Kelinci di dunia luar sangatlah langka. Di wilayah kerajaan manusia maupun kerajaan iblis, Ras Kelinci seringkali dipandang sebelah mata; mereka kerap diburu untuk dijadikan budak, atau menjadi korban rumor keji yang menyebutkan bahwa mereka adalah makhluk malam yang berbahaya. Kenyataan melihat mereka hidup mandiri, ceria, dan bermartabat di desa ini jauh membalikkan semua prasangka buruk tersebut.
Haruto mengawasi interaksi itu dari kejauhan, merasakan kelegaan yang hangat merayap di dadanya.
Menjelang sore hari, saat matahari mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya jingga keemasan, Brom mengajak Jenderal Varkas berjalan-jalan kecil menuju area bengkel. Bukan untuk memamerkan hasil kerja mereka, melainkan sekadar berbincang sebagai sesama kaum pekerja keras.
Begitu Varkas melangkah masuk ke area bengkel dan melihat struktur tungku batu serta tata letak perkakas di sana, ia langsung mengangguk paham. "Aku bisa melihat tangan seorang pandai besi sejati di tempat ini," puji Varkas tulus.
Brom mendengus pelan, meski ada sedikit rasa bangga di balik kumis lebatnya. Namun, pandangan Varkas kemudian beralih ke sudut meja, menatap sisa tumpukan bijih besi mentah yang jumlahnya sudah sangat menipis.
"Persediaan logam kalian hampir habis," kata Varkas pelan.
Haruto, yang baru saja menyusul ke area bengkel, ikut mendengar kalimat itu. Ia menghela napas panjang sambil menyandarkan bahunya ke tiang kayu. "Itulah masalah terbesar kami saat ini. Sumber daya di sekitar sini terbatas."
Brom menambahkan dengan nada berat, "Kalau cadangan besi ini habis... kami tidak akan bisa membuat alat-alat pertanian atau perkakas baru untuk memperluas desa."
Kalimat itu membuat suasana di sekitar bengkel mendadak kembali sunyi. Kebutuhan akan material dasar menjadi tembok pembatas yang nyata bagi perkembangan peradaban kecil mereka.
Ketika langit mulai berubah gelap dan bintang-bintang mulai bermunculan di atas kanopi Hutan Kematian, Jenderal Varkas bangkit berdiri dari tempat duduknya, merapikan pakaian militer resminya.
"Hari sudah malam, dan kami tidak ingin merepotkan keramaian di sini," ucap Varkas sopan. "Kami membawa perlengkapan tenda sendiri. Kami bisa memasangnya di luar batas desa."
Haruto terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran tersebut di dalam kepalanya. Ia melirik sekilas ke luar gerbang, lalu kembali menatap sang jenderal. Ia menunjuk sebuah lahan kosong yang cukup luas di dekat gerbang masuk, namun masih berada di dalam area perlindungan pagar kayu desa.
"Kalau kalian tidak keberatan... pasang saja tendanya di lahan itu," kata Haruto tenang. "Tenang saja, tempat itu masih berada di dalam pagar desa."
Varkas terpaku untuk beberapa saat. Bagi seorang jenderal militer yang terbiasa dengan kecurigaan dan intrik politik, tawaran untuk tidur di dalam wilayah pertahanan pihak asing—tanpa senjata dan tanpa jaminan keselamatan—adalah bentuk kepercayaan yang luar biasa besar. Ia menatap Haruto lekat-lekat, lalu mengangguk perlahan dengan senyuman hormat di wajahnya.
"Terima kasih atas kepercayaannya," jawab Varkas tulus.
Malam itu, Haruto berdiri seorang diri di depan lumbung desa, memandang sekeliling dalam keheningan malam. Ia melihat tumpukan hasil panen yang melimpah, melirik ke arah bangunan bengkel tempat bara api mulai meredup, lalu pandangannya jatuh pada tenda kecil tempat rombongan Varkas beristirahat di sudut halaman.
Untuk pertama kalinya sejak ia terlempar ke dunia ini, Haruto merasakan sebuah kepastian mutlak: desa kecilnya tidak lagi terisolasi atau terputus dari dunia luar.
Namun, bersamaan dengan kelegaan itu, kesadaran lain menusuk batinnya dengan tajam. Mulai hari ini dan seterusnya, setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap tindakan yang ia ambil tidak lagi hanya memengaruhi sembilan orang penghuni desa saja. Di luar sana, sebuah kerajaan besar kini mengetahui eksistensi mereka. Dan lembaran baru dalam sejarah hidupnya baru saja resmi dimulai.