Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pondok yang Dingin Kembali
Keheningan yang menjalar di Hutan Bambu Ungu pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada biasanya. Hujan lebat semalam telah reda, menyisakan dedaunan bambu yang basah berkilau tertimpa cahaya matahari pagi yang perlahan menembus celah kabut. Bau tanah basah dan sisa petir supernatural masih menguar tipis di udara fana.
Gu Jue berdiri diam di ambang pintu kamar yang terbuka.
Kamar itu kosong.
Sprei katun putih di atas ranjang kayu tampak tertata rapi, menyisakan sedikit lipatan halus di tempat Shen Liya merajut mimpinya beberapa jam yang lalu. Tidak ada lagi uap panas kemerahan yang mengerikan, tidak ada lagi rintihan kesakitan yang parau, dan tidak ada lagi sosok dewi langit anggun yang beberapa bulan ini memenuhi pandangan matanya.
Pondok ini telah kembali ke wujud aslinya: sebuah tempat pengasingan yang sunyi, dingin, dan mati.
Gu Jue melangkah masuk dengan santai. Pakaian rami abu-abu kasarnya masih melekat di tubuh tegapnya, menyamarkan jati dirinya dengan sangat sempurna sebagai Ah Jue sang tabib fana.
Namun, sepasang mata sehitam tintanya kini tidak lagi memancarkan ketenangan seorang tabib. Kilatan di matanya datar, sekaku es abadi yang membeku di puncak tertinggi Alam Kegelapan.
Ia berjalan mendekati meja kecil di samping ranjang. Di atas permukaan kayu yang kasar itu, cangkir tanah liat bekas tempat air akar manis semalam masih berdiri di sana.
Gu Jue mengambil cangkir itu, menatap sisa-sisa air obat yang telah mendingin di dasarnya.
Mantra Penidur Sukma.
Sudut bibir Gu Jue terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang dingin. Seorang dewi langit yang paling suci rela membuang harga dirinya untuk menggunakan mantra bius tingkat rendah pada seorang pria fana, hanya karena ia terlalu takut pria itu akan hancur tercabik-cabik oleh kemarahan pasukannya sendiri.
Kebodohan Shen Liya yang berniat mengorbankan diri demi menyelamatkannya benar-benar menorehkan kesan yang teramat dalam di relung jiwanya.
"Kau melarikan diri dariku demi melindungiku," gumam Gu Jue rendah, suaranya bergaung sepi di dalam kamar yang kosong.
"Benar-benar lelucon terbesar yang pernah kudengar sepanjang hidupku."
Ia meletakkan cangkir itu kembali dengan ketukan yang sedikit keras hingga retakan halus merayap di dinding tanah liatnya.
Tangan kanannya bergerak ke balik jubah rami, menyentuh permukaan kain selendang sutra putih yang semalam ditinggalkan oleh Shen Liya. Kain itu kini terasa dingin, namun wangi bunga Xian-Cao yang melekat kuat di serat-seratnya masih mampu mengusik ketenangan batin sang Raja Iblis.
Rasa rindu yang asing mendadak menyengat dada Mo Jue, disusul oleh riak amarah yang membara akibat fakta bahwa wanitanya harus hidup menggelandangan di dunia fana dalam kondisi mengandung darah dagingnya.
Langkah kaki yang tergesa-gesa tiba-tiba terdengar dari arah halaman depan. Kabut tebal di luar pondok koyak seketika saat sesosok bayangan melesat masuk menembus pagar bambu tanpa permisi.
Brak!
Pintu depan pondok didorong terbuka dengan kasar.
Sesosok wanita anggun berpakaian zirah kulit berwarna biru gelap bercampur perak melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Wajahnya cantik namun memiliki garis tegas yang sarat akan wibawa, sementara sepasang matanya berkilat cemas saat menyapu ruang tengah pondok yang sepi.
Di pinggangnya, sebilah belati kembar berhulu kristal es tergantung dengan kokoh.
Dia adalah Lan Shuo—atau yang lebih akrab disapa Lan Xi—Pelindung Kiri sekaligus sosok yang sudah merawat dan menasihati Mo Jue layaknya seorang kakak kandung sejak masa-masa awal sang Raja naik takhta di Alam Kegelapan.
"Yang Mulia!" seru Lan Shuo, suaranya yang tegas terdengar sedikit bergetar karena kelegaan yang teramat sangat setelah berminggu-minggu mencari keberadaan rajanya.
Gu Jue tidak menoleh. Ia melangkah keluar dari dalam kamar dengan gerakan yang sangat tenang, sepasang tangannya terlipat di balik punggung saat berdiri di ruang tengah, menatap Pelindung Kirinya dengan pandangan yang datar.
"Lan Shuo. Siapa yang memberimu izin untuk mengotori lantai pondokku dengan debu luar?" ujar Gu Jue, suaranya terdengar sangat rendah namun memiliki tekanan intimidasi spiritual yang membuat Lan Shuo refleks menegakkan punggungnya dengan hormat.
"Mohon ampun, Yang Mulia," Lan Shuo segera berlutut dengan satu kaki di atas lantai kayu, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Hamba terpaksa turun ke dunia fana secara lancang karena merasakan riak energi kegelapan Anda yang bergejolak hebat tadi malam. Feng Wu menolak membongkar lokasi Anda, namun hamba berhasil melacak sisa aura pembatas dimensi yang Anda lepaskan di atas gunung ini."
Lan Shuo mendongak sekilas, menatap pakaian rami kasar yang dikenakan oleh Mo Jue dengan tatapan penuh ketidaksetujuan.
Sebagai sosok "kakak", ia selalu kesal setiap kali rajanya bertingkah impulsif dan membuang kemegahan takhtanya hanya untuk bermain-main menjadi manusia mortal yang rapuh.
"Alam Iblis sedang tidak stabil, Yang Mulia," lanjut Lan Shuo dengan nada menasihati yang berani.
"Faksi Lembah Jiwa Hitam mulai mempertanyakan hilangnya Anda secara misterius. Jenderal Chi Yan sudah hampir kehilangan kesabaran dan ingin menyerbu perbatasan langit sendirian. Dan di sini... Anda justru mengenakan pakaian pelayan fana dan tinggal di gubuk bambu yang reyot?"
Gu Jue menghentikan gerakannya di atas tungku arang.
Hawa dingin yang mematikan seketika meledak dari tubuhnya, membuat seluruh jubah rami abu-abunya seketika meleleh menjadi asap hitam tebal yang bergulung-gulung membungkus tubuh tegapnya. Dalam hitungan detik, pakaian rami itu telah berganti menjadi jubah zirah kegelapan yang megah dengan sulaman naga hitam yang mengerikan di bahunya.
Wujud Ah Jue sang tabib fana telah terkubur sepenuhnya. Yang berdiri di tengah gubuk itu kini adalah Mo Jue—sang Raja Iblis penguasa mutlak Alam Kegelapan yang ditakuti oleh langit dan bumi.
"Pondok ini sudah tidak memiliki alasan lagi untuk berdiri," ujar Mo Jue dingin.
Ia mengibaskan lengan jubah hitamnya ke udara. Seketika itu juga, kobaran api hitam pekat meledak dari lantai kayu, melahap rak-rak obat, meja, kursi, dan seluruh bangunan pondok bambu tersebut dalam hitungan detik, menghapus keberadaan pondok tersebut dari muka bumi tanpa sisa.
"Kita kembali ke Istana Kegelapan," perintah Mo Jue.
------------------------------
Begitu pusaran asap kegelapan membawa mereka melintasi gerbang dimensi bawah, Mo Jue tidak langsung menuju aula takhta utama untuk menemui para jenderal perangnya. Langkah tegap berzirah hitamnya justru berbelok memotong lorong istana, melangkah cepat menuju Paviliun Bayangan Sunyi—pusat arsip rahasia dan jaringan intelijen spionase terbesar di Alam Kegelapan.
Pintu batu paviliun bergeser terbuka memancarkan hawa dingin yang pekat. Di dalam ruangan yang dikelilingi oleh ribuan rak gulungan kitab kuno tersebut, Mo Jue duduk tegak di atas kursi giok hitamnya. Sepasang mata ungunya berkilat tajam membelah kegelapan.
"Buka lembaran rahasia tiga alam untukku," perintah Mo Jue rendah, suaranya dipenuhi otoritas mutlak yang tak terbantahkan.
Tangan kokohnya menghempaskan sekerat sisa energi suci milik Shen Liya—frekuensi energi yang semalam sempat ia serap selama malam penyatuan—ke atas sebuah altar cermin perunggu kuno di tengah ruangan. Cermin tersebut seketika bergetar hebat, merespons frekuensi energi emas murni yang teramat asing bagi Alam Kegelapan.
Asap hitam tipis mulai bergulung di atas permukaan cermin, membentuk gumpalan aksara gaib kuno yang menyusun informasi rahasia dari jaringan mata-mata iblis yang selama ribuan tahun menyusup di pinggiran gerbang langit sembilan tingkat.
Mo Jue membaca bait demi bait aksara tersebut dengan tatapan yang kian menggelap sepekat malam.
"Shen Liya..." gumam Mo Jue, nama itu mengalun berat di bibirnya.
Melalui catatan senyap tersebut, kebenaran tentang wanita yang semalam berbagi ranjang dengannya akhirnya terkuak secara mutlak. Shen Liya bukan sekadar dewi biasa yang melakukan pembangkangan politik.
Catatan spionase menyebutkan bahwa wanita itu lahir dengan berkah spiritual yang teramat langka; ia adalah pemilik tunggal dari Wadah Ilahi di generasinya—sebuah tubuh murni yang menyimpan esensi energi penciptaan langit terkaya.
Cermin gaib itu kembali memancarkan barisan kalimat yang membuat kepalan tangan zirah hitam Mo Jue mencengkeram lengan kursi gioknya hingga retak berkeping-keping.
“Dewa Tinggi Ling Cang... telah mengurung sang Dewi di aula utama Istana Surgawi... menyiapkan altar ekstraksi sukma demi merebut hak kepemilikan Wadah Ilahi... pelarian target memicu kepanikan massal di barisan dewa inti langit.”
"Jadi, kau dijadikan tumbal keserakahan oleh rajamu sendiri, Liya," desis Mo Jue, suara baritonnya bergaung penuh dengan kebuasan murka yang teramat dingin.
Sebagai musuh bebuyutan Alam Langit, ia tahu betul tabiat Ling Cang yang mengagungkan kebenaran palsu di depan publik, namun menghalalkan segala kekejaman di balik tirai emas istananya.
Fakta bahwa Shen Liya telah melarikan diri darinya semalam murni karena ketakutan jika kekejaman Ling Cang akan ikut menyeret nyawa suaminya yang dikira manusia fana, membuat hati Mo Jue dirayapi rasa sayang yang teramat pekat sekaligus penyesalan yang mendalam karena tidak membongkar identitas aslinya lebih awal.
Mo Jue mematikan pendaran cermin gaib tersebut dengan sekali lambaian lengan bajunya. Ia berdiri, jubah hitam berlogo naga kegelapannya berkibar ditiup hawa murka yang membara dari dalam inti sukmanya.
Ia melangkah keluar dari Paviliun Bayangan Sunyi, berjalan gagah menuju aula takhta utama di mana Lan Shuo telah menunggu bersama para jenderal perang lainnya.
"Panggil Jenderal Bai Ze dan Mei Ji untuk memperketat keamanan di setiap gerbang dimensi bawah," perintah Mo Jue dingin saat ia menduduki singgasananya kembali.
"Pastikan perbatasan kita tertutup rapat. Dan untukmu, Lan Shuo... bersiaplah. Waktu penantian fana ini akan dimulai hari ini."
Mo Jue menatap ke arah luar jendela aula istana yang menampilkan langit Alam Kegelapan yang merah keunguan.
Di balik jubah zirahnya, selendang sutra putih milik Shen Liya tersimpan dengan sangat aman dekat dengan detak jantungnya.
Penyelidikan rahasia ini telah mengunci sebuah ketetapan hati yang absolut di dalam jiwa sang Raja Iblis.
Selama delapan tahun ke depan, ia akan membiarkan wanitanya bersembunyi di dunia bawah demi kedamaian pikirannya, namun ia bersumpah akan merobek Ling Cang dan menghancurkan siapa pun kekuatan langit jika mereka berani mencoba menyentuh sehelai rambut wanita yang kini telah resmi memikul status sebagai satu-satunya ratu di dalam hatinya.
------------------------------