Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023: Panggung yang Diborgol
Riko akhirnya datang setelah pilihan lain tertutup.
Ia datang karena dua polisi mendatangi tempat kerjanya membawa surat.
Kabar itu menyebar lebih cepat daripada video pembelaannya. Pukul sebelas pagi, ia masuk Polres Waringin dengan jaket hitam, masker, dan topi. Tiga hari sebelumnya ia bicara tentang keberanian. Hari itu, ia berjalan menunduk di antara kamera wartawan.
Bima tidak menertawakan.
Orang seperti Riko tidak perlu ditertawakan. Cukup dibiarkan melewati lorong resmi yang selama ini ia tantang.
Di ruang pemeriksaan, Riko masih mencoba mempertahankan gaya. "Saya punya hak bertanya."
Aipda Raka meletakkan tiga lembar bukti di depan Riko.
Pertama: video Riko menuduh Bima menyuap polisi.
Kedua: unggahan Riko setelah putusan pengadilan yang menyebut keluarga Bima merekayasa bukti.
Ketiga: bukti Riko menggerakkan tagar Jangan Bungkam Warga melalui grup Gerakan Warga Sadar.
"Ini pertanyaan atau pernyataan?" tanya Raka.
Riko diam.
Pak Wisnu duduk di sisi Bima sebagai kuasa hukum pelapor. "Saudara Riko, hak bertanya tidak sama dengan hak menciptakan fakta palsu. Anda tidak menulis 'apakah'. Anda menulis 'Bima menyuap polisi'. Itu tuduhan."
Riko menatap Bima. "Kamu punya uang, kan? Semua orang tahu kamu tiba-tiba pakai pengacara."
Bima tersenyum tipis. "Saya punya pengacara karena Anda memberi saya pekerjaan hukum. Kalau Anda merasa punya bukti saya menyuap polisi, serahkan. Kalau tidak, kalimat itu kembali menjadi fitnah."
Pemeriksaan berlangsung panjang. Riko berputar-putar pada opini, kebebasan bicara, rakyat kecil, dan ketakutan publik. Namun setiap kali ia berputar, Raka mengembalikannya ke bukti: tanggal, kalimat, tautan, sumber dana iklan, grup koordinasi.
Menjelang sore, Riko mulai retak.
"Saya dibayar sedikit untuk menaikkan tagar," katanya akhirnya.
Ruangan diam.
"Oleh siapa?" tanya Pak Wanto.
"Akun MerdekaNet. Saya tidak tahu orangnya. Dia kirim materi, saya posting. Katanya kasus Bima bisa dipakai buat isu anti kriminalisasi."
"Berapa?"
"Dua juta lima ratus."
Ratna yang menunggu di luar mendengar kabar itu dari Dela dan hampir tertawa marah. "Harga bikin orang sekampung takut cuma dua juta lima ratus?"
Bima tidak terkejut. Banyak kejahatan memang murah. Yang mahal adalah akibatnya.
Di sela pemeriksaan, Aipda Raka memperlihatkan diagram alur uang. Sebagian jalur belum terbuka. Polanya sudah terlihat: beberapa unggahan berbayar muncul dalam rentang dua jam, memakai kata kunci sama, lalu didorong akun kecil yang sebelumnya ikut menyebarkan video Siska.
"Ini sudah kampanye kecil," kata Raka. Murah, tapi tetap kampanye."
Pak Wisnu menambahkan, "Kalau aktor MerdekaNet terungkap, beberapa orang yang mengaku cuma komentar bisa berubah status menjadi bagian dari distribusi terarah."
Bima menatap diagram itu. Ia merasakan peta perkara bergerak seperti papan catur. Siska adalah bidak pertama. Riko bidak yang terlalu percaya diri. MerdekaNet mungkin tangan yang mencoba memanfaatkan keributan untuk agenda lain.
"Jangan buru-buru," kata Bima. "Kalau tangannya masuk terlalu cepat, kita pegang pergelangannya, jangan bayangannya."
Pengakuan Riko mengubah arah perkara. Pak Wisnu segera menyiapkan laporan tambahan tentang koordinasi kampanye fitnah. Aipda Raka mengajukan permintaan data lebih dalam untuk MerdekaNet. Pak Wanto menyarankan Bima meningkatkan pengamanan rumah untuk sementara.
"Kalau ada aktor yang bayar, dia mungkin tidak suka namanya ditarik," kata Pak Wanto.
"Rumah sudah punya SOP," jawab Bima.
"SOP tidak menahan batu."
"Tapi membuat orang yang melempar batu tahu dia akan masuk folder."
Pak Wanto menghela napas. "Kadang saya lupa Anda ini korban atau konsultan kasus."
Di luar Polres, wartawan kembali menunggu. Kali ini Riko keluar lebih dulu, wajahnya pucat. Seseorang bertanya apakah ia masih merasa dikriminalisasi.
Riko tidak menjawab.
Bima keluar beberapa menit kemudian. Ia hanya berkata, "Kebebasan bicara tidak termasuk kebebasan menjual fitnah dua juta lima ratus ribu."
Kalimat itu menyebar seperti api bersih.
Pak Harto menonton berita itu di rumah. Pak Harto asing dengan istilah kampanye berbayar. Angka dua juta lima ratus ribu langsung ia pahami. "Jadi orang bisa dibayar segitu untuk bikin hidup orang lain kacau?"
Bu Sri menjawab getir, "Murah sekali harga jahatnya."
Ratna menatap layar, lalu berkata, "Mahal nanti bayarnya."
Kalimat itu membuat Pak Harto dan Bu Sri menoleh. Bima sedang di luar rumah. Suaranya mulai hidup di cara keluarga itu membaca dunia.
Malamnya, akun-akun yang memakai tagar Jangan Bungkam Warga mulai menghapus unggahan. Beberapa mengaku tidak tahu ada bayaran. Beberapa menutup akun. MerdekaNet menghilang terlambat. Peretas Tingkat Tinggi sudah menyimpan jejak publiknya. Polisi kini punya pengakuan Riko sebagai pintu resmi.
SBE muncul.
[Aktor penggerak lapis pertama terungkap.]
[Riko Prasetya: mengaku menerima bayaran kampanye fitnah.]
[Poin +1.500]
[Perkara 1317: moral panic publik melemah]
Bima menatap panel itu. Di meja, daftar target berubah lagi. Sebagian orang tetap pelaku. Sebagian menjadi saksi. Sebagian naik kelas menjadi penggerak.
Itulah gunanya proses.
Riko juga mencoba menyeret Bima ke perdebatan ideologis. Ia berkata rakyat kecil selalu kalah melawan orang berduit. Bima membiarkannya bicara sampai selesai, lalu mendorong satu lembar bukti transfer iklan ke tengah meja.
"Rakyat kecil yang mana? Yang kamu wakili, atau yang kamu jual seharga dua juta lima ratus?"
Riko menggertakkan gigi. "Kamu tidak ngerti tekanan hidup."
"Saya mengerti tekanan hidup. Saya tidak mengerti kenapa tekanan hidup membuatmu berhak menuduh orang menyuap polisi tanpa bukti."
Pak Wanto menghentikan debat itu sebelum berubah menjadi panggung. "Cukup. Jawab pertanyaan penyidik."
Jejak MerdekaNet ternyata lebih licin. Akunnya memakai email cadangan, nomor sekali pakai, dan jaringan berpindah. Akun itu melakukan satu kesalahan kecil: pernah mengunggah bukti donasi palsu dengan watermark dompet digital yang belum sepenuhnya dipotong. Dari sana, Raka menemukan nomor merchant sementara. Belum cukup untuk menangkap. Data itu cukup untuk meminta data resmi.
Saat malam tiba, Pak Wisnu mengirim pesan singkat kepada Bima: Jangan rayakan dulu. Orang yang membayar Riko belum muncul.
Bima membalas: Saya tahu.
Ia memang tahu. Hari itu belum selesai. Hari itu hanya membuat satu pintu rahasia terlihat dari luar. Di balik pintu itu, mungkin ada orang yang lebih licin daripada Siska dan lebih sabar daripada Riko.
Justru karena itu, Bima merasa lebih tenang. Lawan yang licin biasanya meninggalkan jejak lebih halus. Dan jejak halus adalah makanan terbaik bagi pemburu yang sabar.
Ia menyalakan Drone Bayangan hanya untuk memastikan rumah tetap aman malam itu. Setelah semua yang terjadi, kewaspadaan menjadi kebiasaan. Itu kebiasaan baru keluarga yang pernah dijadikan target.
Ia juga mengirim pesan singkat kepada Ratna: kunci pagar sebelum tidur, jangan buka untuk tamu yang tidak dikenal.
Kerumunan tidak hanya dihukum. Kerumunan dibongkar.