NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: tamat
Genre:Single Mom / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 34- Pengadilan

Ep. 34- Pengadilan

Dua minggu telah berlalu dengan cepat. Drama perebutan hak asuh anak dan bayang-bayang warisan itu akhirnya resmi memuncak di ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Ruang sidang yang berarsitektur kayu hangat itu dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Di sisi kanan meja penggugat, Ibu Hasnah dan Rina duduk didampingi tim pengacaranya.

Ibu Hasnah mengenakan pakaian serba hitam dengan raut wajah yang sengaja dibuat layu dan sedih, bersiap memainkan peran sebagai seorang nenek yang terzalimi.

Sementara di sisi kiri meja tergugat, Kirana duduk dengan anggun. Ia mengenakan setelan blazer warna navy, rambutnya disanggul rapi, raut wajahnya tenang tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan. Sedangkan pengacara Wijaya duduk siaga di sampingnya.

Di kursi pembatas belakang, Mbok Darmi dan Mbak Yem duduk memangku Keisya dan Aura yang sengaja dibawa atas permintaan Majelis Hakim untuk pemeriksaan psikologis anak.

TOK! TOK! TOK!

Hakim Ketua mengetukkan palunya tiga kali.

"Sidang perkara gugatan hak asuh anak atas nama Aura diputus terbuka untuk umum," ujar Hakim Ketua dengan suara berat yang memenuhi ruangan.

Pengacara Ibu Hasnah langsung berdiri, membacakan poin-poin gugatannya dengan nada yang memojokkan Kirana.

"Yang Mulia Majelis Hakim," ujar pengacara lawan seraya mengarahkan telunjuknya ke arah Kirana. "Klien kami, Ibu Hasnah, adalah nenek kandung sah dari anak bernama Aura. Ibu kandung si anak telah wafat, dan ayah kandungnya juga. Klien kami menuntut hak asuh penuh karena Tergugat, Saudari Kirana, sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan anak tersebut!"

Pengacara lawan melanjutkan dengan nada yang meninggi. "Bahkan, Tergugat terbukti lalai dan menelantarkan anak tersebut hingga mengalami patah tulang parah beberapa bulan lalu! Apakah pantas seorang ibu tiri yang memiliki trauma pengkhianatan masa lalu diserahi tanggung jawab atas anak dari wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya?"

Gumam bisik-bisik sempat terdengar dari bangku penonton sidang. Ibu Hasnah menyunggingkan senyum kemenangan tipis di balik sapu tangannya.

Namun, Kirana tetap duduk tegap tanpa sedikit pun mengedipkan mata.

Saat giliran pihak tergugat diberi kesempatan menjawab, Pengacara Wijaya berdiri dengan tenang. Ia tidak membawa lembaran emosi, melainkan dua tumpuk bundel dokumen tebal bernomor registrasi resmi.

"Yang Mulia Majelis Hakim," pangkas Pengacara Wijaya mantap. "Pihak Penggugat menyatakan bahwa mereka adalah keluarga kandung yang peduli. Namun, mari kita buka fakta rekam jejak digital dan rekening perbankan selama tiga tahun terakhir."

Pengacara Wijaya melangkah mendekati meja Majelis Hakim seraya menyerahkan berkas-berkas tersebut.

"Sejak almarhumah Ayu menikah hingga melahirkan Aura, pihak Penggugat secara resmi telah memutuskan hubungan keluarga dan menolak mengakui keberadaan anak ini. Kami memiliki bukti pesan singkat dan surat pernyataan tertulis dari pihak Penggugat tiga tahun lalu yang menyatakan bahwa mereka tidak sudi menampung atau membiayai anak dari almarhumah Ayu."

Wajah Ibu Hasnah dan Rina seketika memucat pasi. Mereka tidak menyangka Kirana sanggup melacak arsip pesan-pesan lama tersebut!

"Tidak hanya itu, Yang Mulia," lanjut Pengacara Wijaya dengan intonasi yang kian menohok. "Alasan sebenarnya mengapa Penggugat tiba-tiba mendadak 'peduli' dan mengajukan gugatan ini bukan karena rasa kasih sayang, melainkan karena adanya rekening deposito dan aset warisan senilai belasan miliar rupiah atas nama anak Aura yang ditinggalkan almarhum Pak Rendra!"

DESSS!

Suara riuh seketika memecah ketenangan ruang sidang. Para pengunjung dan wartawan di belakang mulai saling berbisik heboh, hingga Majelis Hakim mengetukkan palu untuk menenangkan suasana.

"Ini tuduhan palsu, Yang Mulia! Kami murni sayang sama cucu kami!" teriak Ibu Hasnah panik dan lupa akan peran elegannya.

"Diam Saudari Penggugat! Harap jaga ketertiban sidang!" tegur Hakim Anggota tegas.

Pengacara Wijaya menyunggingkan senyuman tipis, lalu menoleh ke arah Kirana. Kirana pun perlahan berdiri dan meminta izin Majelis Hakim untuk memberikan kesaksian langsung.

Hakim Ketua pun mengangguk. "Silakan, Saudari Kirana."

Kirana membalikkan badannya sedikit dan menatap lurus ke arah Ibu Hasnah dengan mata yang jernih dan penuh keteguhan.

"Bu Hasnah," ujar Kirana, suaranya mengalun tenang namun memancarkan kekuatan yang menggetarkan ruangan. "Saya memang bukan wanita yang melahirkan Aura dari rahim saya. Saya memang tidak memiliki pertalian darah dengannya. Dan benar, dulu saya pernah membenci fakta kehadiran anak ini di dalam hidup saya."

Seluruh orang di ruang sidang terpaku pada Kirana.

"Tapi saat anak ini terpuruk, saat anak ini sakit dan menangis memanggil nama saya, darah atau bukan darah tidak lagi penting," lanjut Kirana, air mata menggenang tipis di sudut matanya namun tidak menetes. "Saya yang memeluknya setiap malam. Saya yang membawanya ke rumah sakit saat tangannya patah. Saya yang memastikan dia makan, tumbuh, dan merasa aman di bawah atap rumah saya."

Kirana menunjuk ke arah tumpukan berkas aset warisan di meja hakim.

"Jika Ibu Hasnah dan Rina menginginkan harta warisan belasan miliar milik Rendra itu... ambil semuanya!" seru Kirana lantang, hingga membuat seluruh orang di ruangan tersentak kaget.

Sedangkan Ibu Hasnah melotot tak percaya.

"Saya, Kirana, secara resmi menandatangani surat pelepasan pengawasan atas seluruh aset finansial warisan Aura untuk diserahkan ke balai harta peninggalan negara hingga anak ini berusia dewasa!" tegas Kirana tanpa ragu sedikit pun.

Kirana membalikkan badan sepenuhnya dan menghadap Majelis Hakim.

"Saya berdiri di sini bukan untuk mempertahankan harta peninggalan mas Rendra, Yang Mulia. Saya berdiri di sini untuk mempertahankan putri saya dari orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kepolosannya."

PROK! PROK! PROK!

Tanpa sadar, beberapa pengunjung sidang di bangku belakang memberikan tepuk tangan pelan karena terharu oleh ketegasan dan pengorbanan tanpa pamrih wanita tersebut.

Majelis Hakim berdiskusi singkat di balik meja tinggi mereka. Raut wajah ketiga hakim tampak tersentuh dan sangat yakin akan keputusan yang diambil.

Sepuluh menit berlalu. Hakim Ketua membetulkan letak kacamatanya, lalu mengetukkan palu dengan mantap.

"Berdasarkan bukti-bukti faktual, rekam jejak pengasuhan, pertimbangan psikologis anak, serta ketidakhadiran motif finansial dari pihak Tergugat... Majelis Hakim Pengadilan Agama memutuskan: Gugatan hak asuh dari pihak Penggugat ditolak sepenuhnya! Hak wali dan pengasuhan resmi anak bernama Aura tetap berada penuh di bawah naungan Saudari Kirana!"

TOK! TOK! TOK!

"Alhamdulillah... Ya Allah!" pekik Mbok Darmi di belakang seraya meneteskan air mata bahagia. Keisya pun langsung melompat gembira dan menyatukan tangannya.

Sementara Ibu Hasnah terduduk lemas di kursinya dengan wajah pucat bagaikan mayat. Rencananya untuk menguasai harta warisan belasan miliar itu hancur berantakan tanpa sisa. Sedangkan Rina menggeram frustrasi, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Sore harinya, langkah kaki Kirana saat keluar dari gedung Pengadilan Agama terasa begitu ringan. Sinar matahari senja berwarna keemasan menyiram pelataran parkir yang luas.

Pak Jaka membukakan pintu mobil SUV hitam. Mbok Darmi menuntun Keisya dan Aura untuk mendekat.

Aura yang melihat Kirana melangkah menghampiri, mendadak melepaskan genggaman Mbok Darmi. Balita tiga tahun itu berlari kecil dengan kaki gempalnya menyebrangi pelataran dan melambaikan tangan kanannya yang mungil.

"Mama... Mama!" panggil Aura.

Kirana menyunggingkan senyuman paling indah dalam hidupnya. Ia berlutut di atas aspal parkiran dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Aura menghambur tepat ke dalam dekapan Kirana. Kirana merengkuh tubuh gempal balita itu erat-erat, dan mengangkatnya ke dalam gendongannya seraya mencium kedua pipi Aura hingga balita itu tertawa renyah.

Keisya menyusul berlari dan memeluk pinggang Kirana dari samping. "Mama menang kan, Ma? Aura tidak akan dibawa ibu-ibu galak itu kan?"

"Tidak, Sayang," bisik Kirana seraya mengusap lembut kepala kedua putrinya. "Aura akan tetap bersama Mama dan Keisya selamanya."

Bersambung...

1
Lisa
Wah udh ending y Kak Aurora..terimakasih y Kak utk karyanya yg sangat bermanfaat, byk pelajaran moral yg dpt kita ambil..semangat y Kak utk karya selanjutnya..sukses y Kak 🙏🤗
Lisa: Oke Kak..aku pasti mampir 👍🤗
total 3 replies
Lisa
Puji Tuhan rumah itu makin hangat karena lembaran baru sudah dibuka bahagia selalu y Kirana sekeluarga
Lisa
👍 Pak Hendra udh lulus ujian 100% nih..skrg raihlah kebahagiaanmu Kirana..
Lisa
👍 2 putri ini udh menyetujui niat baiknya Pak Hendra
Lisa
Wah ada tokoh baru nih..👍 banget Kak..apakah Hendra ini nantinya menjadi jodohnya Kirana 😊
Lisa: 😊 Oke Kak..terimakasih ya..
total 2 replies
Lisa
Puji Tuhan Kirana udh pulang ke rumah..salut deh sama Keisya & Aura..mereka dewasa banget 👍👍
Lisa: ya bener banget Kak tp Kirana mendidik Aura dgn sgt baik aplg setlh lulus dr pesantren dia jadi anak yg makin taat pd ortu.
total 2 replies
Lisa
Cpt pulih y Kirana..
Lisa
Congratz y utk Aura..maju terus y..cpt pulih y utk Kirana..
Lisa
Semangat Aura..jgn ragu kamu pasti bisa 💪👍
Lisa
👍👍 Wah Aura hebat bgt nih..semangat y Aura..sukses y di tingkat provinsi 💪
Aurora
serunya punya kakak lho...🤗🥰
Lisa
👍👍 nasihatnya Keisya bagus banget lo dan bijaksana..sekarang Aura jadi makin bijak juga dlm pergaulan di sekolahnya..
Lisa
Wah Aura sepertinya mulai merasakan jatuh cinta nih 😊
Lisa
Senengnya mereka sekarang rukun & kompak satu sama lain 👍
Lisa
Puji Tuhan Aura & Kirana saling menguatkan Keisya sehingga sekrg beban pikirannya berkurang..
Lisa
Skrg Keisya yg merasa jenuh..kasihan banget y..ya Tuhan berikan Keisya kekuatan spy ia dpt bangkit lg.
Lisa
Puji Tuhan Aura tetap sekolah di SMP Negeri 1..semangat y Aura kmu pasti bisa membawa dirimu di sekolah itu dgn bimbingan Kirana & Keisya..
Lisa
Kasihan juga y Aura..dia ingin kembali sekolah di pesantren tp dia jg g ingin mengecewakan Mamanya..
Lisa
Syukurlah Kirana dgn bijaksana membimbing kedua anaknya supaya saling membantu dan menyayangi.
Lisa: ya Kak..ibu tiri yg baik hati banget y
total 2 replies
Lisa
Aura msh blm terbiasa dgn lingkungan semacam itu
Lisa: ya juga y Kak..y mungkin karena terbiasa dgn lingkungan yg tenang Kak jdi begitu ke mall dia ngerasa aneh.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!