Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Insiden Kepergok
Apa yang ditakutkan Nara benar-benar terjadi. Begitu sampai di rumah, ibunya langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, buntut dari ucapan asal-asalan Sagara di rumah Pak RT tadi pagi. Ditambah lagi, mulut Nurlela cepat sekali menyebarkan berita. Entah bumbu-bumbu apa lagi yang wanita itu tambahkan. Yang jelas, nama Nara pasti makin jelek di desa ini.
"Benar itu, Nara? Sagara adalah calon suamimu? Lalu kenapa—"
"Ibuuuu ...." Wajah Nara memelas memotong perkataan ibunya, bingung harus menjawab seperti apa. Ia hanya berharap ibunya berhenti bertanya dan memberinya waktu untuk berpikir sejenak.
"Jawab pertanyaan Ibu, Nara! Ibu sampai menutup warung karena ini!" Ratna menatap lekat wajah sang anak yang tengah frustrasi.
Ting!
Sebuah pesan masuk di ponsel mengalihkan rasa panik Nara. Nah, ini dia si biang masalahnya! gumamnya dalam hati, mengutuk si pengirim pesan yang tak lain adalah Sagara. Keduanya memang telah bertukar nomor, Sagara yang memintanya agar memudahkan berkomunikasi dan bertanya satu dua hal yang tidak ia ketahui pada Nara.
"Bu, nanti dilanjut lagi. Sagara kirim pesan, kerannya rusak."
Tanpa menunggu balasan dari ibunya, Nara segera ke dapur untuk mengambil peralatan, lalu bergegas menuju kamar kos Sagara.
Gerimis yang mulai perlahan lebat membuat suasana kos-kosan agak ramai oleh beberapa warga yang berteduh di teras. Kamar kosan Sagara sendiri terbuka lebar di sana. Nara segera masuk mencari pria itu dan menemukannya sedang bersandar di dinding dekat kamar mandi sembari memainkan ponselnya.
"Gara-gara kamu, Ibu bertanya macam-macam sekarang! Dan belum lagi Bu Nurlela yang entah berita apa lagi yang dia sampaikan ke warga desa. Kamu harus bertanggung jawab dan menjelaskan semuanya pada Ibu!" Sagara mengangkat kepala, melihat kedatangan gadis yang langsung memarahinya itu.
"Tanggung jawab seperti apa? Aku kan sudah melamarmu, mengajak menikah. Kamu saja yang belum memberikan jawaban," lontar pria itu santai. Ia menyimpan ponselnya di saku celana, lalu kedua tangannya bersedekap di dada, menikmati raut wajah Nara yang berubah-ubah. Terkejut, bingung, lalu kembali marah.
"Kamu jangan bercanda, aku sedang serius!!!" ketus Nara, lalu melangkah masuk ke kamar mandi untuk memeriksa keran yang macet.
Sagara mengikuti Nara, membalikkan badannya dan kini bersandar di kusen pintu kamar mandi tersebut. "Siapa yang sedang bercanda? Aku sangat serius," jelas Sagara, terdengar begitu menyebalkan di telinga Nara.
Baginya, apa yang diucapkan Sagara adalah sesuatu yang tidak ada artinya, hanya main-main saja. Bagaimana bisa mengatakan hal seserius itu pada seseorang yang baru saja ditemui? Mereka bahkan belum saling kenal dengan baik.
Nara mendengus kesal. Ia memutar gagang besi keran yang macet itu dengan kasar. Namun, karena terlalu emosi dan bertenaga, gagang keran tersebut justru patah!
BYUUUR!
Air langsung menyembur kencang kemana-mana akibat tekanan pipa. Nara mengaduh dan berteriak, berusaha menghindar dari cipratan air. Sagara yang terkejut langsung maju untuk membantu, berusaha menutup laju semburan air yang liar itu dengan telapak tangannya.
Keadaan menjadi begitu kacau, baju keduanya basah kuyup terkena air. "Aku akan matikan mesinnya dulu!" ujar Nara panik, tetapi saat hendak berbalik, kakinya malah tergelincir akibat lantai yang menjadi sangat licin.
Nara berteriak panik, berusaha menggapai apa saja untuk berpegangan, namun gagal. Matanya terpejam rapat, bersiap merasakan hantaman dinginnya lantai kamar mandi. Tetapi satu detik, dua detik, ia tidak merasakan sakit apa-apa. Justru rasa hangat dari sesuatu yang menempel di bibirnya.
Mata Nara terbuka perlahan, kemudian terbelalak. Sama halnya dengan Sagara, gerakan refleksnya yang berniat menolong gadis itu agar tidak jatuh malah berakhir dengan bibir keduanya yang bertemu.
Tanpa sadar, tangan Sagara mencengkeram pinggang ramping Nara untuk menahan beban, membuat posisi mereka menjadi semakin dekat.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Pertanyaan menggelegar itu membuat mata keduanya mengerjap dan tersadar. Baik Nara maupun Sagara buru-buru saling menjauhkan diri.
"Kan! Saya sudah bilang. Pria itu adalah calon suaminya Nara, dan tidak menutup kemungkinan keduanya ini akan kumpul kebo di kampung kita." Suara Nurlela terdengar melengking dari arah pintu kamar mandi. Bibirnya tersenyum miring penuh kemenangan.
Suara teriakan Nara rupanya langsung memancing warga yang sedang berteduh di luar untuk melihat. "Sebegitu tidak sabarnya kalian, ya ...! Jangan membawa kebiasaan kota kalian ke sini!!" lanjut Nurlela, berujar sinis.
"N-Naraaa ...." Suara Ratna yang ikut melihat dalam kerumunan itu tercekat, syok menyaksikan keadaan anaknya dan pemuda dari kota tersebut. Ia baru saja datang, dipanggil oleh salah satu tetangga.
"Ibu ... i-ini tidak seperti yang ibu lihat ... ini semua salah paham." Nara maju berusaha menjelaskan.
Begitu pula dengan Sagara yang segera berbalik dan berusaha menjelaskan pula, tetapi bibirnya malah terkatup melihat banyaknya warga di sana. Terlebih di dominasi oleh para pria yang juga menghuni kamar kosan, Sagara segera menarik Nara dalam dekapan dan membalikan badanya lagi tak kala menyadari baju Nara yang menerawang menampilkan bran hitamnya.
"Apa yang kamu lakukan, kamu akan membuat mereka semakin salah paham." Suara Nara naik, memberontak ingin segera di lepaskan. Tidak ingin warga desa semakin salah paham pada mereka.
"Diam lah, dalaman hitammu terlihat!" desis Sagara mengutuk mata para pria yang melotot pada Nara.
Nara terbelalak, baru menyadarinya. Ia pun pasrah dalam dekapan pria itu, dan tidak lagi memberontak.
"Ini tidak bisa dibiarkan!"
"Nama kampung kita bisa tercemar."
"Jangan sampai kampung kita terkena sial."
Desah-desus warga mulai tidak terkendalikan terutama dari kaum ibu-ibu yang kian membludak, Nurlela selaku pengompor, suaranya paling melengking.
Pak RT datang membelah kerumunan. "Tolong harap tenang semuanya, kita bicarakan ini baik-baik dan jangan dahulukan emosi," ujarnya berdiri di depan pintu kamar mandi dan menyuruh para warga untuk mundur. Kakinya terlihat berlumpur tanpa alas akibat terburu-buru datang, takut insiden yang tidak diinginkan terjadi.
Ratna datang dengan jaket Sagara dan memberikan pada pria itu untuk dipakaikan pada sangat anak.
"Nikahkan saja mereka Pak RT."
"Arak keliling kampung, biarkan semua warga lihat dan menjadi pembelajaran!" teriak Nurlela, kembali mengompori. Ia akan membalas perkataan Nara dan Sagara di rumah Pak RT tadi pagi deegan berkali-kali lipat.
"Benar! Arak keliling kampung," teriak yang lain mengikuti.
Tubuh Nara bergetar saat Sagara berusaha memakaikannya jaket, kepalanya menunduk dalam. Tidak ada yang lain yang ia pikirkan, selain tanggapan ibunya.
"Tenang, tenang semuanya," ujar Pak RT seraya keduanya tangannya di udara bergerak naik turun untuk menenangkan situasi yang ingin kembali ricuh.
"Pak RT harus mengambil keputusan yang bijak, mereka sudah melanggar norma desa kita dengan kumpul kebo di sini. Apa yang akan terjadi jika situasi ini tidak ditanggapi dengan serius, terlebih ini akan menjadi contoh untuk pemuda dan pemudi di desa kita." Warga yang lain membenarkan ujaran tersebut, sesekali yang lain menyuruh di arak saja.
"Tenang, semuanya akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi nanti, kita hadapi bersama-sama. Kamu tidak sendirian," bisik Sagara pada Nara setelah berhasil memakaikan jaket padanya.
Perlahan wajah Nara mendongak, dapat Sagara lihat wajahnya pucat dengan raut kekhawatiran yang nampak jelas. Manik hitam Sagara menatap intens manik coklat Nara, ia mengangguk meyakinkan.
Nara menghela napas, dan perlahan tubuhnya merasa lebih tenang. Ia membalas anggukan pria itu dan keduanya pun kembali menghadap ke arah para warga.
"Apa lagi yang di tunggu, arak, arak saja mereka!!!"
***
Bersambung ...
Satu kalimat untuk Bu Nurlela, dipersiapkan kakak-kakak 🗣️👇