NovelToon NovelToon
Jerat Tiga Sisi

Jerat Tiga Sisi

Status: tamat
Genre:Action / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

✦ JERAT TIGA SISI ✦

"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"

Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.

Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.

Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.

Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.

Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retaknya Sangkar Emas

Belum sempat, Azira membalas Kembali pelukan hangat yang semula ia kira tulus dari Gavin, suara derit sepatu yang melangkah cepat, dan beritme tegas di atas trotoar beton mengejutkan mereka berdua.

Sebelum Azira menyadari apa yang terjadi, sebuah cengkeraman tangan yang luar biasa kuat, dingin, dan kaku mencengkeram lengan atasnya.

Tubuh Azira tersentak hebat, ditarik menjauh dari dekapan Gavin secara paksa, hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.

Baskara Yudhistira Prayoga. CEO muda itu sudah berdiri di sana. Wajah tampannya menggelap total, seolah seluruh badai murka di dunia sedang berkumpul, di balik rona mukanya yang mengeras kaku.

Tatapan sepasang mata elangnya sedingin es kutub, memancarkan aura dominan, kepemilikan, dan intimidasi yang amat sangat pekat, hingga membuat atmosfer parkiran bawah tanah itu, terasa membeku.

"Bawa pergi, pria ini dari hadapanku. Pastikan dia tahu tempatnya di dunia ini," perintah Baskara dengan nada datar namun mematikan. Suaranya rendah, parau, namun membawa getaran otoritas yang sanggup membuat nyali orang biasa menciut dalam sekejap.

Dari balik bayang-bayang pilar beton, empat pengawal pribadi berbadan tegap dengan setelan jas hitam langsung muncul, mengepung Gavin dalam formasi barikade yang sangat rapat.

Tanpa menunggu balasan, protes, atau makian yang hendak keluar dari bibir Azira, Baskara langsung membalikkan tubuh. Ia menyeret Azira dengan langkah-langkah lebar nan dominan, menuju mobil sedan mewah hitam miliknya yang sudah terparkir darurat di lobi kantor, dengan pintu penumpang yang terbuka lebar.

"Lepaskan aku, Baskara! Kamu keterlaluan! Kamu kasar!" teriak Azira memberontak sepanjang lorong. Ia berusaha mati-matian menyentak pergelangan tangannya, namun jemari Baskara bagai borgol besi yang mustahil untuk diloloskan.

Dengan satu dorongan tegas namun penuh perhitungan agar tidak mencederainya, Baskara memasukkan tubuh Azira ke kursi penumpang depan.

Brak!

Detik berikutnya, Baskara menyusul masuk dari pintu kemudi dan membanting pintu mobil dengan sangat keras, hingga gaungnya memekakkan telinga.

Mobil mewah itu langsung melaju cepat, bannya berdecit keras membelah jalanan kota Jakarta, meninggalkan area Prayoga Tower dalam sekejap mata.

Di belakang mereka, Gavin Manzies yang sedang dikepung oleh para pengawal Baskara, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah ketakutan sedikit pun. Alih-alih gemetar atau memohon, sepasang mata layunya perlahan berubah menjadi kosong, dingin, dan hampa.

Begitu sedan hitam itu melaju menjauh dan hilang dari pandangan, Gavin menepis tangan pengawal yang mencoba memegang bahunya dengan satu sentakan tenang, namun sarat kekuatan tersembunyi yang mengejutkan para penjaga itu.

Ia merapikan kemeja katun usangnya yang sedikit kusut akibat pelukan tadi, lalu menyunggingkan sebuah senyuman puas yang sangat lebar, sebuah seringai mengerikan yang tak pernah Azira lihat seumur hidupnya.

Rencana manipulasinya sukses besar, berjalan tanpa cela di atas papan catur yang ia bangun sendiri. Gavin berhasil memicu singa cemburu di dalam diri Baskara, sekaligus menanamkan benih kebencian baru di hati Azira, terhadap calon suaminya.

Bagi Gavin, kemarahan Baskara hari ini bukan sebuah kekalahan, melainkan tanda kemenangan awal, untuk meruntuhkan sang CEO konglomerat.

Sementara itu, atmosfer di dalam kabin sedan mewah Baskara terasa begitu mencekik, pekat, oleh ketegangan emosi yang siap meledak kapan saja.

Azira menoleh ke samping, menatap profil tajam Baskara. Rahang pria itu mengatup begitu rapat, dan jemarinya mencengkeram kemudi mobil begitu kuat, hingga urat-urat tangannya menonjol putih di balik kulitnya.

Perdebatan sengit di antara mereka pun akhirnya pecah, memantul di antara dinding-dinding mobil yang melaju membelah jalanan.

"Kamu benar-benar egois, angkuh, dan tidak punya hati nurani, Baskara!" desis Azira. Air mata kemarahan dan frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur.

"Gavin itu cuma teman masa kecilku, dia hidup menderita dan teraniaya di luar negeri, Dia datang murni untuk meminta maaf, atas kekacauan semalam, dan bercerita tentang betapa hancur hidupnya dia di sana. Kenapa, kamu harus memperlakukannya seperti kriminal? Kenapa kamu mengusirnya sekasar itu?!" Cecar Azira emosional.

"Tutup mulutmu!, dan simpan kenaifan bodohmu itu, Azira!" potong Baskara tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. Suaranya menggelegar dingin, berat, dan memenuhi kabin mobil seperti petir di siang bolong.

"Pria yang kamu peluk di pinggir jalan tadi bukan pria malang yang butuh belas kasihan!" Pekik Baskara penuh emosi. Matanya menyalang tajam, menatap lurus ke arah lawan bicaranya.

"Aku tidak peduli seberapa menderita dongeng masa lalunya, tapi aku tidak akan pernah membiarkan ada tikus jalanan yang mencoba menyentuh apa yang sudah menjadi hak milikku di depan umum!"

i

"Aku bukan milikmu! Pernikahan ini murni kontrak bisnis di atas kertas, ingat?!" balas Azira lantang dengan emosi yang ikut tersulut.

Ia memajukan tubuh, menantang langsung keangkuhan mutlak sang CEO dari samping. "Kamu tidak berhak mengatur dengan siapa aku bicara atau siapa yang boleh aku peluk! Kamu tidak ada bedanya dengan Papa ... kalian semua adalah monster egois yang mengira uang dan kekuasaan bisa mengontrol seluruh jalan hidup manusia!"

"Kalau begitu, cobalah bertindak cerdas menggunakan logikamu sesekali, Azira! Jika aku adalah monster yang mengontrolmu, maka pria panti asuhanmu itu adalah iblis yang sedang memasang perangkap manis untuk menelanmu hidup-hidup!" sahut Baskara tak kalah tajam.

Baskara menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin mobil menderu keras, melesat semakin kencang membelah jalanan di bawah kendali kemarahannya yang membakar dada.

Perang dingin di atas aspal ini memperlebar jurang kesalahpahaman di antara mereka.

Azira semakin tenggelam dalam manipulasi air mata palsu Gavin, sementara Baskara memilih membentengi dan melindungi Azira dengan cara kasarnya sendiri yang tak pernah dipahami wanita itu.

Mobil sedan mewah itu akhirnya berhenti dengan sentakan keras hingga membuat tubuh mereka terdorong ke depan. Mereka telah sampai di pelataran kediaman megah namun dingin milik keluarga Gunawan.

Baskara tidak langsung membuka kunci pintu otomatis. Pria itu mematikan mesin, memutar seluruh tubuhnya menghadap Azira, lalu menatapnya dengan sepasang mata elang yang berkilat tajam, mengunci pergerakan Azira sepenuhnya.

"Dengar baik-baik, Azira. Ini peringatan terakhir dariku," ujar Baskara. Suaranya kini merendah menjadi bisikan berat, sarat akan ancaman mutlak yang tidak bisa dinegosiasikan.

Dia memajukan tubuh, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya mendominasi indra penciuman Azira.

"Pria bernama Gavin itu bukan lagi teman masa kecilmu yang manis. Dia adalah bahaya nyata. Jika aku mendengarmu nekat menemuinya lagi secara sembunyi-sembunyi, aku tidak akan segan memajukan tanggal pernikahan kita menjadi minggu depan dan mengurungmu di apartemen pribadiku. Jangan pernah menguji batas kesabaranku."

Klik.

Tanpa menunggu jawaban atau makian dari Azira, Baskara membuka kunci pintu mobil. Azira menyentak pintu itu terbuka dengan kasar, melangkah keluar dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa marah, terluka, dan muak yang membuncah.

Belum sempat kakinya menapak sepenuhnya di teras, mobil Baskara sudah berbalik arah dan melesat pergi meninggalkan gerbang, menyisakan asap tipis di udara malam.

Namun, penderitaan Azira belum berakhir di sana. Neraka yang sesungguhnya justru sudah menunggu di dalam rumah.

Di balik pintu kaca teras, Tante Shafira dan Sendy ternyata sudah berdiri saling berbisik, mengintai jalannya keributan sejak tadi. Mereka berdua menyaksikan dengan mata berbinar puas bagaimana Baskara menurunkan Azira dengan kemarahan besar.

"Wah, hebat sekali ya Kak Azira kita ini," Sendy langsung menghardik dengan suara cemprengnya yang dipenuhi nada manipulatif begitu Azira melangkah masuk ke dalam ruang tengah.

"Baru juga merayakan pesta pertunangan megah kemarin malam, sekarang sudah pintar membuat calon suami sekaya Kak Baskara mengamuk di depan rumah. Mau ditaruh di mana muka Papah kalau sampai Prayoga Group membatalkan investasi raksasa mereka hanya karena kelakuan murahanmu?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!