NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arga Dan Fira Putus

Hari itu di kampus, Yena berjalan menyusuri koridor dengan langkah pelan dan wajah yang tampak lesu. Pikirannya masih saja terbayang-bayang wajah Juvan, namun ia berusaha menenangkan diri agar tetap menjalani harinya seperti biasa.

Belum sempat Yena melangkah jauh, tiba-tiba langkahnya diikuti oleh seseorang dari belakang. Tanpa sempat Yena menoleh, tangan gadis itu tiba-tiba ditarik kuat hingga tubuhnya berbalik seketika.

PRAK!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Yena. Bunyinya terdengar nyaring di koridor yang mulai sepi. Yena terhuyung mundur sedikit, pipinya seketika terasa panas dan perih. Ia menatap tak percaya ke arah sosok yang baru saja menamparnya—Fira. Wajah Fira tampak merah padam menahan amarah, matanya menatap tajam penuh kebencian.

"Kau puas sekarang?!" bentak Fira dengan suara melengking, tangannya masih mengepal erat menahan emosi yang meluap-luap.

"Aku putus dengan Arga! Semua gara-gara kau!"

Yena mengusap pelan pipinya yang memerah, menatap Fira dengan tatapan bingung sekaligus tak percaya.

"Apa maksudmu? Mengapa kau menamparku tanpa alasan yang jelas?"

"Jangan berpura-pura tak tahu!" Fira kembali membentak, melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari Yena.

"Ini pasti semua gara-gara kau! Kau yang menghasut Arga agar menjauh dariku! Kau yang merusak hubungan kami! Kau tak pernah rela melihat kami bahagia, bukan?!"

Fira bernapas memburu, menunjuk-nunjuk dada Yena dengan jari telunjuknya yang gemetar penuh amarah.

"Kau sengaja memutarbalikkan fakta, membisikkan hal-hal buruk tentangku kepada Arga, hingga Arga tiba-tiba memutuskan hubunganku begitu saja tanpa alasan yang jelas! Kau memang jahat, Yena! Kau tak pernah berubah! Kau ingin Arga kembali padamu, bukan? Itu sebabnya kau menghancurkan kebahagiaanku!"

Yena tersenyum sinis mendengar tuduhan itu, seketika melupakan rasa perih di pipinya. Ia melangkah mendekat, menatap lurus ke mata Fira dengan tatapan yang begitu tenang namun tajam. Tawa kecil lolos dari bibirnya, terdengar mengejek sekaligus menyakitkan.

"Haha... mungkin itu memang karma untukmu, Fira," ucap Yena pelan namun penuh penekanan.

"Dari awal Arga itu milikku. Kau seharusnya malu dengan kata-kata yang barusan keluar dari mulutmu."

Yena tersenyum lebar, senyum yang begitu menyiratkan penghinaan dan kebencian yang mendalam. Ia menatap Fira seakan menatap sesuatu yang tak berharga.

"Kau tahu sendiri... kau itu hanyalah mainan baginya. Kau hanya pelarian sesaat saat kami sedang bertengkar. Arga tak pernah benar-benar mencintaimu. Dan sekarang... sepertinya permainannya telah usai."

Yena menatap Fira yang terpaku mematung dengan wajah pucat pasi, lalu tersenyum sinis sekali lagi seakan merasa kemenangan ada di pihaknya.

Senyum mengejek di bibir Yena semakin melebar saat melihat wajah Fira yang memucat menahan amarah dan rasa sakit. Ia melangkah sedikit mendekat, menatap lurus ke manik mata Fira dengan tatapan yang tak kalah tajam.

"Bukankah dari awal kaulah yang merusak hubunganku dengan Arga?" ucap Yena dengan nada tenang namun menusuk hingga ke tulang.

"Kau yang datang merampasnya saat kami masih bersama. Jadi... rasakanlah sekarang bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang kau cintai."

Yena terkekeh pelan, menatap Fira yang kini tampak gemetar menahan tangis.

"Haha... kasihan sekali kamu, Fira. Bukankah ini balasan yang pantas untukmu? Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. Sekarang kau baru tahu betapa perihnya ditinggalkan begitu saja, bukan?"

Wajah Fira seketika berubah merah padam menahan campuran rasa malu, marah, dan sakit hati yang meledak bersamaan. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh, kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan sendiri. Matanya menatap Yena dengan pandangan penuh kebencian, seakan ingin melahap gadis itu hidup-hidup.

"Kau... kau benar-benar kejam, Yena!" desis Fira dengan suara bergetar, air matanya mulai menumpah membasahi pipi yang memerah.

"Aku tidak pernah menyangka kau bisa sejahat ini padaku! Kau senang sekali melihatku hancur begitu, bukan?!"

Yena justru tetap tersenyum dingin, tak sedikit pun tersentuh melihat air mata Fira. Ia mengangkat bahu santai sambil melangkah melewati tubuh Fira yang gemetar hebat.

"Itu bukan kejahatan, Fira. Itu hanya keadilan," ucap Yena pelan di sela langkahnya, tanpa menoleh sedikit pun. "Sekarang kau paham betapa perihnya hati yang kau lukai dulu? Simpan rasa sakit itu baik-baik. Karena itulah yang kau berikan padaku dulu."

Yena terus melangkah pergi meninggalkan Fira yang terpaku gemetar di tengah koridor, menangis dalam keputusasaan yang kini baru sepenuhnya ia rasakan. Tak ada rasa kasihan di hati Yena. Baginya, apa yang Fira alami hari ini adalah bayaran yang pantas atas segala pengkhianatan yang dulu pernah dilakukan sahabatnya sendiri itu.

Flashback on: Saat Arga Memutuskan Fira

Malam itu, udara di taman kota terasa sejuk namun bagi Fira, semuanya seketika berubah dingin menusuk tulang saat Arga mengajaknya duduk di bangku kayu yang sepi. Fira tersenyum manis, menyangka Arga ingin memberikan kejutan atau sekadar ingin menghabiskan waktu berdua. Namun tatapan mata Arga begitu datar, dingin, dan tak memiliki sedikit pun kasih sayang—hal yang tak pernah ia rasakan selama ini.

Tanpa basa-basi, tanpa kata pembuka yang halus, Arga langsung melontarkan kalimat itu dengan tegas seakan tak ada beban sedikit pun di hatinya.

"Fira, aku mau mengakhiri hubungan kita malam ini."

Suara Arga terdengar datar, tak goyah sedikit pun. Fira tersentak kaget seolah baru saja dihantam benda keras tepat di dada. Senyum di bibirnya seketika membeku, matanya membelalak tak percaya menatap pria di hadapannya.

"A... Apa maksudmu, Sayang? Jangan bercanda begitu..." ucap Fira lemah, tangannya refleks ingin menggapai lengan Arga namun ditepis halus oleh pria itu.

"Aku tidak sedang bercanda," potong Arga dingin, menatap lurus ke manik mata Fira tanpa rasa bersalah.

"Mulai hari ini... jangan cari aku lagi. Kita sudah selesai."

"Kenapa?!" seru Fira, suaranya pecah seketika. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Apa kesalahanku? Bukankah kemarin kita masih baik-baik saja? Aku sudah melakukan apa saja demi kamu, Arga! Kenapa tiba-tiba begini? Apakah... apakah karena Yena?!"

Arga hanya mendengus sinis, lalu berdiri tegak membetulkan kerah kemejanya.

"Kau tak perlu tahu lebih jauh. Intinya, hubungan ini sudah tidak berguna lagi bagiku.aku harus kembali pada apa yang sebenarnya menjadi milikku."

Tanpa menunggu jawaban atau melihat Fira yang mulai terisak pilu, Arga langsung berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Fira yang terpaku hancur sendirian di tengah taman yang sepi, dibekap kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.

Belum sempat Arga melangkah jauh, Fira tiba-tiba berlari dan memeluk erat tubuh Arga dari belakang. Pelukannya begitu kuat dan putus asa, seakan tak ingin membiarkan pria itu pergi menjauh darinya. Bahunya terguncang hebat menahan tangis yang kini meledak tanpa mampu ia tahan lagi.

"Tolong... jangan seperti ini, sayang..." isaknya parau, air mata membasahi punggung kemeja yang dikenakan Arga. "Aku tidak mau putus! Tolong jangan tinggalkan aku..."

Fira memeluk semakin erat, tubuhnya gemetar hebat.

"Aku minta maaf... katakan padaku, apa aku ada salah ke kamu? Apa yang kurang dari diriku? Aku akan memperbaikinya! Aku akan berubah! Tolong jangan akhiri hubungan kita begitu saja..."

Suaranya terdengar begitu memohon dan hancur, penuh ketakutan sekaligus keputusasaan yang mendalam. Namun Arga justru berdiri kaku di tempatnya, tak sedikit pun tergerak oleh tangisan dan permohonan Fira. Tangan Fira yang melingkar di dadanya perlahan ia lepaskan dengan kasar dan dingin, tanpa berbalik sedikit pun menatap wajah gadis yang kini hancur berantakan itu.

Arga melangkah maju menjauh, lalu perlahan menoleh sedikit ke samping. Wajahnya tetap datar dan dingin, tak tampak sedikit pun rasa iba atau tersentuh oleh tangisan gadis itu.

"Kau tidak salah apa-apa," ucap Arga singkat, nadanya begitu datar tanpa perasaan.

"Hanya saja... sejak awal kau memang tak pernah benar-benar ada di hatiku. Kau hanya pengganti sementara, sampai aku menyadari bahwa yang sebenarnya aku inginkan hanyalah Yena."

Arga berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tegas dan tak terbantahkan.

"Aku sudah bilang, jangan cari aku lagi. Segala sesuatu antara kita sudah berakhir malam ini. Terima kasih untuk semuanya, dan... maaf jika aku pernah menyakitimu."

Tanpa menunggu tanggapan Fira, Arga kembali melangkah pergi. Langkahnya tegap dan tenang, tak sedikit pun tergoyahkan oleh suara tangis yang kian memilukan di belakangnya. Ia terus berjalan menjauh, meninggalkan Fira yang terduduk lemas di tanah, menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian malam yang terasa begitu gelap dan dingin.

Flashback off:

Sejak diputuskan secara sepihak oleh Arga, kebencian Fira terhadap Yena membara tak tertahankan. Ia menyalahkan Yena atas segala luka yang ia rasakan, seakan lupa bahwa dari awal dialah yang pertama kali merusak hubungan itu. Fira lupa, dialah yang pertama kali menduakan persahabatan dan merampas kekasih sahabatnya sendiri. Namun benci telah membutakan matanya, menjadikan Yena satu-satunya sasaran kemarahannya.

Saat Yena melangkah masuk ke dalam kelas, kedua sahabatnya, Vivien dan Zara, sontak berdiri kaget. Matanya tertuju pada pipi kanan Yena yang tampak memerah.

"Yena! Pipi kau kenapa?!" seru Zara bergegas menghampiri, suaranya penuh kekhawatiran.

"Siapa yang berani melukaimu?"

Vivien pun ikut mendekat, menatap wajah Yena dengan tatapan tak percaya sekaligus marah.

"Iya, katakan padaku! Apa yang terjadi? Pipi ini jelas bekas tamparan! Siapa yang berani melakukan ini padamu di kampus?!"

Yena menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis berusaha menenangkan kekhawatiran kedua sahabatnya. Namun saat jari Zara menyentuh pelan pipinya yang memerah, ia tak kuasa menahan sedikit rona kesakitan yang melintas di wajahnya.

Yena menunduk sejenak, menarik napas panjang sebelum kembali menatap kedua sahabatnya dengan tenang.

"Itu Fira..." ucapnya pelan namun tegas. "Dia menamparku di koridor tadi."

Wajah Vivien dan Zara seketika berubah merah padam menahan amarah yang meledak.

"Apa? Fira berani melakukannya?!" seru Zara tak percaya, tangannya mengepal erat menahan gejolak amarah.

"Dia benar-benar sudah keterlaluan!"

"Dia datang menghampiriku lalu langsung menuduhku yang memutuskan hubungannya dengan Arga," lanjut Yena dengan nada datar, seakan tak ingin memperpanjang urusan.

"Dia bilang aku yang menghasut Arga agar menjauhinya. Padahal... siapa yang sebenarnya merusak hubungan itu dari awal? Bukankah dialah yang merebut Arga dariku duluan?"

Vivien menghentakkan kakinya kesal.

"Dasar tidak tahu diuntung! Dia yang mencuri kekasihmu dulu, dan sekarang setelah Arga meninggalkannya, dia malah menyalahkanmu! Benar-benar tak tahu diri!"

"Harusnya aku hadapi dia sekarang juga!" tambah Zara bersiap melangkah keluar, namun Yena segera menahan lengan sahabatnya itu.

"Sudah, Zara... biarkan saja," tahan Yena lembut sambil tersenyum tipis.

"Aku sudah membalasnya. Aku sudah bilang padanya... apa yang dia alami sekarang adalah karma. Dia harus tahu rasanya ditinggalkan seperti yang dulu pernah aku rasakan."

Mendengar itu, kedua sahabatnya pun perlahan menurunkan emosinya. Mereka menatap Yena dengan pandangan kagum sekaligus iba. Yena tampak begitu tegar, meski hatinya pasti masih terasa perih.

"Sudah... lupakan saja soal Fira," ucapnya lembut namun tegas. "Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku ceritakan pada kalian. Tapi... rasanya kurang nyaman bercerita di sini. Bagaimana kalau kita pergi ke kafe dekat kampus setelah jam kuliah selesai? Di sana lebih tenang dan nyaman untuk mengobrol."

Vivien dan Zara saling berpandangan sejenak, lalu serentak mengangguk setuju. Rasa penasaran mulai menyelimuti hati mereka. Melihat ekspresi Yena yang begitu serius, sepertinya hal yang ingin disampaikan itu sungguh penting dan tak sembarangan.

Setelah jam kuliah usai, ketiga sahabat itu pun melangkahkan kaki menuju kafe yang tak jauh dari gerbang kampus. Mereka memilih duduk di bangku paling pojok—tempat yang sepi dan tenang, jauh dari keramaian pengunjung lain.

Belum sempat pelayan datang menyajikan pesanan, Zara langsung membuka pembicaraan dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.

"Yena apa yang mau kamu bicarakan kita berdua udah penasaran banget ini."

"kalian masih ingat kan laki-laki yang kubawa saat pesta kemarin?" tanya Yena memulai.

"Ingat dong!" jawab Zara cepat."itu cowok ganteng banget gilak!"

Vivien pun ikut menyambar dengan senyum menggoda, "Iya iya, gantengnya bukan main! Buset... eh coba tanyain dong, dia punya teman yang masih jomblo nggak?"Zara tertawa kecil menyambung ucapan Vivien.

Namun tak lama kemudian, tatapan mereka berubah menjadi serius. Zara condong sedikit ke depan, menatap Yena dengan penuh tanda tanya.

"Tapi serius deh... kok bisa kalian ketemu dan menjalin hubungan secepat itu? Gimana ceritanya sebenarnya? Apalagi kemarin... kamu dengan santainya langsung mencium dia di depan banyak orang. Padahal sepertinya baru saja kenal, kan?" Vivien menyelipkan pertanyaannya dengan nada penasaran yang mendalam.

Zara pun tak ketinggalan menyambung, suaranya terdengar penuh dugaan.

"Dan... jujur saja, aku sempat berpikir... itu pacar kamu yang sebenarnya, atau cowok yang kamu bayar hanya untuk membuat Arga cemburu saja?"

Pertanyaan demi pertanyaan terus meluncur dari mulut Vivien dan Zara, seakan tak habis-habisnya. Mereka menatap Yena lekat-lekat, menunggu penjelasan yang selama ini membuat mereka penasaran setengah mati.

Mendengar begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan secara bersamaan, Yena tersenyum tipis lalu menarik napas panjang. Ia pun mulai menceritakan semuanya dari awal—bagaimana pertemuan pertama mereka di toko buku, pertemuan-pertemuan berikutnya, kedekatan yang terjalin perlahan, hingga alasan mengapa ia akhirnya mengajak Juvan hadir ke pesta itu. Ia bercerita dengan jujur, tanpa menyembunyikan satu hal pun.

Saat Yena menyebutkan usia Juvan, kedua sahabatnya serentak melongo tak percaya. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka seakan tak mampu berkata-kata dalam waktu yang cukup lama.

"17 tahun? Masih duduk di bangku SMA?!" seru Zara dan Vivien hampir berbarengan. Keterkejutan mereka begitu nyata hingga membuat suara mereka sedikit meninggi.

Yena mengangguk pelan membenarkan.

"Iya, dia baru berusia 17 tahun. Masih sekolah."

Vivien dan Zara saling berpandangan tak habis pikir. Sungguh mustahil bagi mereka untuk percaya. Bagaimana mungkin pemuda yang tampak begitu dewasa, berwibawa, dan memiliki ketampanan yang memukau itu ternyata masih seorang anak SMA?

"Paras wajahnya tampak sangat dewasa dan matang. Siapa pun yang melihatnya pasti tak akan ada yang menyangka kalau dia masih berusia 17 tahun. Bahkan aku sendiri mengira dia sudah lulus kuliah atau seusia kita."guman zara yang masih tak percaya.

"Benar-benar tak terduga..." imbuh Vivien sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Wajah Yena perlahan berubah menjadi pucat seketika. Ia menatap kedua sahabatnya dengan sorot mata yang penuh keprihatinan sekaligus ketakutan yang mendalam.

"Dan kalian harus tahu..." ucap Yena pelan namun penuh penekanan, suaranya sedikit bergetar. "Arga sangat tidak menyukai kedekatanku dengan Juvan. Dia merasa terancam. Sampai-sampai kemarin... Arga menyuruh anak buahnya untuk mencelakai Juvan."

Mendengar itu, mata Vivien dan Zara seketika membelalak lebar. Mulut mereka terbuka sedikit tak percaya.

"Apa?!" seru Zara tak kuasa menahan keterkejutannya. "Arga berani melukainya?!"

Yena mengangguk pelan, menahan rasa perih di dadanya. "Iya... Juvan pulang dengan wajah penuh memar dan luka. Dan setelah itu... Arga datang menemuiku. Dia mengancamku dengan tegas. Katanya... jika aku tidak segera menjauhi Juvan, maka dia akan melakukan hal-hal yang jauh lebih buruk dan aneh lainnya terhadap Juvan."

Yena menunduk dalam, kedua tangannya saling meremas erat di atas meja. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Itulah sebabnya... sekarang aku terpaksa menjauhi Juvan. Aku harus bersikap seolah tak peduli padanya. Aku harus menyakitinya dengan kata-kata yang tajam... semata-mata karena aku tak mau sesuatu yang lebih buruk menimpanya. Aku tak ingin Juvan terluka lebih parah lagi... hanya karena dia berada di sisiku."

Vivien dan Zara terdiam mematung. Rasa marah bercampur iba meluap di hati mereka.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!