Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 # Kucing dan Tikus
Queena melambaikan tangan saat melihat Rafa berdiri di depan cap mobil, pemuda tersebut membalas lambaian tangan sahabat kecilnya. Seperti biasa senyum merekah menghiasi bibir gadis itu, hijab dusty pink yang di kenakannya selalu membuat gadis itu terlihat makin cantik. Kedatangan Rafa sepertinya memang bak oase di tengah gersangnya padang pasir. Saat-saat seperti ini siapa lagi yang bisa Queena andalkan selain Rafa, Queena bahkan tidak membalas pesan singkat yang di kirim Arlo tadi pagi.
“Sorry lama, Raf. Ada sedikit masalah,” Queena sedikit berlari menuju kearah Rafa, masih dengan ekspresi bahagianya.
“Aku sih santai, Ueena. Tidak tahu kalau dia,” tunjuk Rafa pada pemuda yang berdiri menyenderkan punggungnya pada pintu mobil.
Eskpresi Queena langsung berubah saat kedua netranya menemukan sosok yang membuatnya seharian ini hampir hilang fokus. Awan mendung seolah langsung berpindah menyelubungi diri Queena, tatapannya tajam menusuk.
Arlo bahkan kesusahan untuk sekedar menelan salivanya, baru kali ini dia merasakan aura yang begitu mendung menyelimuti Queena. Terlebih tatapannya tersebut sudah pasti tertuju pada dirinya, jika biasanya Arlo langsung menjahili gadis itu. Namun siang itu Arlo hanya berdiri diam menatap Queena, untung saja Arlo peka dengan situasi dan suasana yang menyelimuti Queena.
Rafa terkekeh melihat interaksi kedua sahabatnya tersebut.
“Sampai kapan kalian berdua mau diam di situ? Aku sudah lapar, guys. Masuk mobil!” titah Rafa dan anehnya, kedua manusia tersebut langsung mengiyakan.
Queena berjalan melewati Arlo begitu saja, dia lebih dulu masuk ke dalam kursi penumpang bagian tengah.
Blamp
“Buset,” Arlo berjingkat, Queena menutup pintu mobil cukup keras hingga membuat Arlo kaget di buatnya. “Tenaganya seram juga, pintu mobil orang bisa copot nih. Marah? Iya tahu kamu marah,” gerutu Arlo.
Rafa tertawa mendengar Arlo menggerutu. “Buruan masuk, bro! Sebelum calon istri makin ngamuk,” ledek Rafa.
“Ck … berisik,” sahut Arlo yang kembali membuat Rafa tertawa, keduanya lantas masuk ke dalam mobil. Masih dengan Rafa yang mengemudi, sedangkan Arlo duduk di samping kemudi.
Tanpa bertanya lagi, Rafa melajukan mobil menuju sebuah cafe yang sering mereka kunjungi. Suasana di dalam mobil terasa sunyi, padahal biasanya Rafa akan pusing mendengar Queena dan Arlo debat kusir. Namun siang itu keheningan menyelimuti suasana dalam mobil, kedua sahabatnya tersebut diam seribu bahasa.
“Kalian berdua ini sedang mogok bicara atau sedang pakai bahasa kalbu, sih? Ayolah, guys. Aku pulang karena merindukan kalian,” ucap Rafa.
“Huff…” Arlo dan Queena sama-sama menghela napas.
Rafa tergelak melihat kekompakan keduanya.
“Rafaaaa!” kesal Queena, dia mencebik karena merasa di ledek Rafa.
Rafa kembali tertawa. “Aku kenapa, Ueena? Aku hanya tertawa,” jawabnya.
“Kamu menertawakanku,” protes Queena.
“Rafa menertawakanku,” sahut Arlo.
“Aku tidak bicara denganmu,” ketus Queena.
“Ck … begini kalau cewe sudah ngambek,” gumam Arlo.
“Siapa yang ngambek?” tanya Queena dengan ketus.
“Alang-alang,” jawab Arlo.
“Kamu yang alang-alang,” balas Queena.
Rafa hanya bisa menahan tawa, dari pada gadis cantik yang duduk di kursi belakang kemudinya tersebut makin ngambek. Dia sih tidak apa-apa, karena sudah pasti yang menjadi sasaran amukan bukan dirinya, melainkan pemuda yang duduk di sampingnya alias Arlo.
Rafa kemudian menyalakan pemutar music untuk mengurangi ketegangan, setidaknya alunan merdu dari music yang menyala membuat suasana dalam mobil menjadi lebih kondusif.
“Kalian sudah memutuskan mau ambil penelitian apa?” Rafa mencoba mencairkan suasana.
Arlo menghela napas. “Aku masih belum memutuskan mengambil yang mana, Raf. Karena itu aku butuh saranmu,”
“Kalau kamu, Ueena?” lanjut Rafa bertanya pada putri papa Rega.
“Secara umum berkaitan dengan bakteri atau virus. Tapi untuk fokusnya masih aku pikirkan, setidaknya sampai seminar Prof. Lucas selesai. Tergantung jadi ikut project dari Prof. Lucas atau tidak,” jawab Queena.
“Kamu sendiri bagaimana, Raf?” giliran Arlo yang bertanya pada sahabatnya tersebut.
“Memangnya om Leo belum cerita padamu, Ar?”
“Papi mana sempat cerita, Raf. Mi-mom saja selalu membahas soal…” Arlo melirik sejenak kearah rear vision, dia menatap Queena dari sana.
Rafa mengangguk, dia paham maksud Arlo. “Aku magang di Law and Firm salah satu anak perusahaan om Ael,”
Arlo mengangguk. “Mi-mom pernah cerita, kalau papa Ael memang punya perusahaan Law and Firm sendiri. Wijaya-Seanaya memang sehebat itu,” ucap Arlo, papa Ael adalah saudara bunda Kia. Dia memegang kerajaan bisnis keluarga Wijaya-Seanaya yang memiliki beberapa cabang bisnis berbeda, mereka bahkan sudah mempersiapkan Leon, Attar dan Zico sebagai penerus untuk kerajaan bisnis tersebut. Sedangkan Gavin? Dia yang akan memegang kendali perusahaan keluarga Pradipta. Sedangkan Arlo sendiri di siapkan untuk memegang kendali Hanapra yang merupakan bagian dari Pradipta Company.
Selama perjalanan menuju cafe, Arlo dan Rafa akhirnya mengobrol tentang bisnis yang di tekuni para tetua atau circle kurang setengah ons. Sedangkan Queena sibuk dengan jurnal-jurnal yang ada pada tabletnya, gadis itu memang tidak tertarik dengan dunia bisnis. Karena itu Queena memilih untuk tidak ikut dalam obrolan dua pemuda yang duduk di depan tersebut.
****
Ketiga sahabat dari kecil tersebut sudah sampai di cafe yang mereka tuju, Queena selalu memperhatikan nama cafe tersebut setiap kali mereka pergi ke sana. Dia masih diam berdiri di depan pintu masuk saat Arlo dan Rafa sudah masuk ke dalam.
“Ada yang kurang,” celetuk Arlo.
Rafa menoleh. “Tuh! Ada yang ketinggalan,” tunjuk Rafa dengan dagunya kearah gadis yang masih berdiri mematung menatap papan nama cafe.
“Kamu ini suka banget berdiri di sini, Queen. Ngehalangin orang yang mau masuk,” Arlo keluar, dia menarik sweater dusty yang di pakai Queena.
Kenapa setiap kali datang ke sini, aku merasa familier dengan mana itu. Queena masih menatap nama Saga’s Queen Cafe, dia bahkan tidak protes ketika Arlo menarik sweaternya hingga mereka masuk ke dalam Cafe.
Queen mengomel begitu sadar kalau Arlo menarik sweaternya. “Ngapain sih narik sweaterku? Lepasin!” ketus Queena.
“Sssttt … berisik benar ini perempuan satu,” Arlo menaruh jari telunjuknya di bibir Queena.
Krak
“Queena El-Meera!” Arlo langsung mencubit hidung gadis yang sedang menggigit jarinya tersebut. “Ck … sakit ogeb,” Arlo mengibaskan tangannya yang terasa sedikit nyeri.
“Itu belum seberapa,” ujar Queena.
Rafa kembali menghela napas. “Melihat kalian begini, aku setuju dengan usulan aunty Hana.” Rafa menarik sweater Queena dan kaos Arlo, dia membawa mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah di siapkan untuk mereka.
“Itu semua salah Arlo,” kesal Queena.
“Salahin bang Gavin sana! Dia yang minta aku ke rumahmu,” balas Arlo.
“Kamu yang manjat dinding balkon kamarku, kenapa jadi bang Gavin yang salah? Dasar si manusia red flag,”
Begitulah keduanya terus berdebat hingga mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Rafa bahkan sudah menopang dagu dengan tangan kirinya, dia sedang menikmati masa-masa melihat kedua sahabatnya tersebut berdebat. Rafa tidak pernah sekalipun merasa jenuh saat bersama Arlo maupun Queena, meskipun itu berarti dia harus selalu menjadi penengah diantara keduanya.
“Kalian ini mirip kucing dan tikus,” celetuk Rafa. “Aku lapar, mau pesan makan siang dulu. Kalian mau pesan apa? Berdebat juga butuh energi,” Rafa sedang membuka buku menu, dia memilih menu yang dia inginkan.
Queena dan Arlo menghentikan perdebatan mereka, keduanya ikut memesan makan siang karena sama-sama sudah merasa lapar.