Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wangi parfum yang sama!
Pagi itu, setelah memastikan Arsen benar-benar berangkat ke kantor, Rindu berdiri cukup lama di teras rumah. Pandangannya mengikuti mobil sang suami hingga menghilang di tikungan kompleks.
Baru setelah kendaraan itu benar-benar lenyap dari pandangan, ia mengembuskan napas panjang.
Entah mengapa, sejak percakapan semalam, dadanya masih terasa sesak. Kata-kata Arsen yang terdengar begitu meyakinkan justru terus berputar di kepalanya. Seharusnya ia merasa tenang setelah mendengar penjelasan suaminya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak mampu ia jelaskan dengan logika.
Namun hati kecilnya masih belum bisa menerima semua penjelasan Arsen begitu saja.
Rindu meraih ponselnya. Jemarinya langsung mencari satu nama yang selama ini selalu menjadi tempatnya berbagi cerita.
Nia.
Sahabatnya sejak bangku kuliah, tanpa berpikir lama, ia menekan tombol panggil.
"Halo, Rin?" suara ceria Nia langsung terdengar dari seberang.
"Nia, kamu sibuk nggak?" Tanya Rindu.
"Nggak juga. Kenapa?" Jawab Nia.
"Aku pengin ketemu." Kata Rindu.
Nada suara Rindu membuat Nia langsung menangkap ada sesuatu yang berbeda.
"Kamu kenapa?"
"Nanti aja ya... ketemu saja."
"Oke. Tempat biasa?"
"Iya."
"Satu jam lagi aku sampai." Kata Nia.
"Terima kasih, Nia." Ucap Rindu.
Panggilan pun berakhir.
Rindu menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mematikannya. Awalnya ia benar-benar ingin mencurahkan semua kegelisahan yang sejak semalam memenuhi pikirannya. Hanya kepada Nia ia biasanya bisa berbicara tanpa harus menyembunyikan apa pun.
Satu jam kemudian, Rindu sudah duduk di sudut favorit sebuah kafe yang hampir setiap bulan mereka datangi.
Kafe itu tidak terlalu ramai, alunan musik akustik mengalun lembut, berpadu dengan aroma kopi dan roti yang baru dipanggang.
Rindu memesan segelas matcha latte hangat, minuman favoritnya setiap kali datang ke tempat itu.
Duduk di dekat jendela, ia memainkan sendok kecil di dalam cangkir sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk.
Tak lama kemudian, sosok Nia muncul dengan senyum lebar.
"Rin!"
Rindu langsung berdiri.
Mereka saling mendekat, lalu berpelukan singkat sebelum melakukan cipika-cipiki seperti kebiasaan mereka setiap kali bertemu.
Namun tepat ketika wajah mereka berdekatan, tubuh Rindu mendadak membeku.
Hidungnya menangkap aroma yang sangat dikenalnya.
Manis dan lembut. Dengan sentuhan melati dan vanilla yang hangat.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Aroma itu... Aroma yang sama.
Persis seperti wangi yang beberapa hari lalu menempel di kemeja Arsen saat ia hendak memasukkannya ke mesin cuci.
Dan aroma yang sama pula yang semalam masih tertinggal di kerah baju Arsen ketika lelaki itu memeluknya.
Rindu tanpa sadar menarik napas sedikit lebih dalam.
Apa ini pasti hanya kebetulan.
"Ih, kenapa?" tanya Nia sambil tertawa kecil melihat ekspresi Rindu yang tiba-tiba berubah.
Rindu buru-buru memaksakan senyum.
"Nggak, nggak apa-apa."
"Kok mukamu pucat?"
"Cuma kurang tidur." Alasan Rindu.
"Jangan kebanyakan begadang."
"Iya."
Beberapa saat kemudian pelayan datang mengantarkan segelas es kopi susu, pesanan favorit Nia.
"Kamu kelihatan capek banget," ujar Nia sambil mengaduk minumannya.
Rindu sempat membuka mulut, kalimat yang sejak tadi ingin ia ucapkan hampir saja keluar.
Aku curiga sama Arsen.
Aku takut dia menyembunyikan sesuatu.
Aku menemukan aroma parfum perempuan di bajunya."
Namun tepat ketika matanya kembali bertemu dengan wajah Nia, aroma parfum manis itu kembali menyapa indera penciumannya.
Dadanya mendadak terasa semakin sesak. Entah mengapa, semua niat untuk bercerita tiba-tiba menghilang.
Ia tidak tahu alasannya, mungkin karena merasa aneh.
Mungkin juga karena dirinya sendiri belum memahami apa yang sedang dipikirkannya. Yang jelas, ia mendadak mengurungkan niatnya.
"Nah, sekarang cerita," kata Nia penuh semangat.
Rindu tersenyum tipis.
"Nggak ada cerita penting kok."
"Lho? Tadi katanya ada yang mau dibahas."
"Iya... tapi kayaknya nggak penting."
Nia menaikkan sebelah alis.
"Serius?" Tanya Nia, padahal dia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Rindu.
"Iya." Kata Rindu dengan senyum.
"Lalu kenapa ngajak aku ketemu?"
Rindu tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan.
"Kangen aja." Kata Rindu.
"Kangen?" Ulang Nia.
"Iya." Sahut Rindu.
Nia ikut tertawa.
"Kirain ada masalah besar."
"Enggak." Bohong Rindu.
Rindu mengaduk perlahan matcha latte di depannya.
"Lagi suntuk aja di rumah."
"Ya ampun, bikin aku deg-degan."
"Maaf." Ucap Rindu.
"Makanya sesekali keluar rumah."
"Iya juga."
Percakapan mereka pun berubah menjadi obrolan ringan.
Mereka membahas pekerjaan Nia yang belakangan semakin sibuk.
Kemudian berganti membicarakan drama Korea terbaru yang sedang ramai diperbincangkan.
Sesekali mereka tertawa ketika mengingat masa-masa kuliah dulu, saat sama-sama sering terlambat masuk kelas karena terlalu lama nongkrong di kantin.
Suasana terasa hangat, namun hanya di permukaan.
Di balik senyumnya, Rindu masih terus memikirkan aroma parfum itu.
Sesekali embusan pendingin ruangan membawa kembali wangi manis yang dikenakan Nia.
Semakin lama, semakin terasa akrab, ia bahkan bisa mengingat dengan jelas bagaimana aroma itu menempel di kerah kemeja Arsen.
Saat itu ia sempat bertanya dalam hati, dari mana asal wangi perempuan tersebut.
Kini aroma yang sama berada tepat di hadapannya.
Rindu berusaha mengusir pikiran buruk itu. Parfum adalah barang yang dijual bebas.
Banyak perempuan bisa memakai aroma yang sama, tidak ada yang aneh. Ia terus mengulang kalimat itu di dalam hati. Meski begitu, rasa penasaran tetap tumbuh.
Tanpa sadar, pandangannya tertuju pada sebuah botol kecil yang terlihat dari dalam tas Nia yang sedikit terbuka.
Botol kaca berwarna merah muda dengan tutup emas.
"Nia."
"Hm?"
"Itu parfum baru ya?"
Nia spontan menoleh ke arah tasnya.
"Oh, iya."
"Baru beli?"
"Iya, baru sekitar seminggu."
"Pantesan aku belum pernah cium aromanya."
Nia tersenyum bangga.
"Aku langsung jatuh cinta waktu nyoba."
"Wanginya enak." Puji Rindu.
"Iya kan? Manis, tapi tetap lembut." Nia setuju dengan wangi itu.
Rindu mengangguk.
"Belinya di mana?"
"Di butik kosmetik yang baru buka di mall itu."
"Oh..."
"Lagi diskon juga waktu itu." Kata Nia.
"Masih ada nggak ya?" Tanya Rindu.
"Harusnya masih. Kalau mau nanti kita bisa ke sana kapan-kapan."
Rindu tersenyum tipis.
"Boleh juga."
"Memangnya kamu mau ganti parfum?" Tanya Nia, karena biasanya, Rindu nika sudah menyukai sesuatu dia tidak akan pernah mau menggantinya.
"Siapa tau cocok sama aku." Jawab Rindu.
"Biasanya kan kamu sukanya yang fresh."
"Iya... cuma lagi pengin coba aroma baru."
"Kalau begitu nanti aku temenin."
"Oke."
Percakapan kembali berganti ke topik lain.
Mereka membahas rencana liburan singkat, makanan favorit, hingga teman kuliah mereka yang lain, yang kabarnya baru saja menikah.
Tidak ada lagi pembicaraan tentang Arsen.
Tidak ada lagi tentang rasa curiga, Rindu memilih menyimpannya rapat-rapat di dalam hati.
Semakin lama, ia justru merasa tidak siap mendengar pendapat siapa pun.
Ia ingin mencari jawabannya sendiri.
Setelah hampir dua jam mengobrol, keduanya memutuskan untuk pulang.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰