Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Arka masih bergeming di depan Sari, menikmati momen langka menyaksikan sang CEO angkuh mendengkur halus dengan begitu damainya.
Namun, melihat kepala Sari yang terkulai patah ke samping, rasa bersalah mendadak menyergap hatinya.
Posisi tidur seperti itu pasti akan membuat leher wanita itu sakit luar biasa saat terbangun nanti.
Arka melangkah maju setapak, lalu perlahan berlutut di samping kursi kayu tersebut.
Dengan gerakan selembut kapas, tangan kekarnya menopang tengkuk Sari, membenarkan posisi kepala wanita itu agar bersandar lebih nyaman ke sandaran kursi.
Saat itulah, pandangan Arka turun ke arah tangan Sari.
Ia tertegun mendapati sisa-sisa bungkusan plastik bening yang masih terikat di pergelangan tangannya.
Arka seketika sadar; wanita manja ini nekat membungkus tangannya dengan plastik demi bisa mencuci tumpukan wadah kotor di dapur.
Rasa kagum yang teramat dalam menyusup ke relung hati Arka, meruntuhkan sisa-sisa dinding pembatas di antara mereka.
Teng...
Suara jam dinding kuno berbunyi pelan sekali, menandakan waktu telah menginjak pukul setengah tiga siang.
Suara ketukan itu rupanya cukup untuk menyentak kesadaran Sari.
Matanya langsung terbuka lebar. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Arka yang berada sangat dekat di hadapannya, tengah menatapnya sembari menahan senyum geli yang amat kentara.
Sari refleks menegakkan tubuhnya, berdehem canggung.
"A-Arka? Sejak kapan kamu berdiri di situ?"
Arka bangkit berdiri, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan jenaka.
"Sejak suara mesin buldozer mini mulai menderu dan merusak ketenangan di ruang tengah saya, Mbak."
Pipi Sari seketika merona merah padam karena malu.
"M-mesin buldozer apa maksudmu?! Aku tidak mungkin mendengkur!" elak Sari cepat dengan sisa-sisa gengsi tingginya sebagai seorang Maheswara.
Arka terkekeh pelan, tidak berniat memperpanjang godaannya.
Ia menatap sekeliling ruangan dengan sorot mata yang berubah menjadi sangat tulus.
"Terima kasih ya, Mbak. Rumahnya jadi bersih sekali, piring-piring juga sudah rapi. Dan, terima kasih untuk selimut baru yang tiba-tiba ada di kamar saya."
Sari membuang muka, mencoba menyembunyikan senyumnya yang hampir terbit.
"Anggap saja selimut itu keajaiban siang hari. Sama seperti keajaiban seratus orang pembeli yang tiba-tiba memborong kuemu di pasar tadi pagi."
Arka hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar alasan diplomatis sang CEO.
Ia kembali duduk di samping Sari, meraih pergelangan tangan wanita itu dengan hati-hati.
Dengan perlahan, Arka membuka ikatan plastik bening dan mulai melepas balutan kain kasa yang sudah agak lembap.
Ia memeriksa telapak tangan Sari dengan saksama.
Kulit yang melepuh semalam kini sudah mulai mengempis dan tidak semerah sebelumnya, tanda bahwa luka itu mendapat penanganan yang tepat.
"Untung tidak infeksi meskipun dipakai kerja keras," gumam Arka lega.
Ia mengambil botol salep dari atas meja. "Aku kasih salep lagi ya, Mbak, biar lukanya lekas kering dan kulitnya cepat pulih."
Sari tidak menolak. Ia membiarkan Arka mengoleskan krim dingin itu ke telapak tangannya, menikmati keheningan sore yang kini terasa jauh lebih hangat dan bersahabat di antara mereka berdua.
Sambil membiarkan jemari kasar Arka mengoleskan salep dengan begitu telaten di atas kulitnya yang terluka, Sari menatap lekat-lekat wajah pria itu dari samping.
Sudut matanya menangkap bagaimana rahang Arka bergerak tenang, seolah setiap gerakannya dipenuhi dengan perhitungan dan kehati-hatian.
Suasana yang begitu hangat dan penuh perhatian ini mendadak memicu sisi percaya diri Sari yang biasanya tak pernah terbantahkan.
Dengan senyuman tipis yang penuh percaya diri, Sari sedikit memajukan wajahnya.
"Jadi, apakah kamu sudah mulai jatuh cinta sama aku?" tanya Sari dengan nada setengah menggoda, matanya berkedip jenaka menanti reaksi.
Cethak!
"Aw!" Sari refleks memegang dahinya yang barusan mendapat serangan mendadak.
Arka baru saja menyentil dahi mulus sang CEO dengan jari tengahnya tanpa ragu-ragu.
Pria itu menggelengkan kepala, lalu kembali fokus menutup tutup botol salep di tangannya tanpa merasa berdosa sedikit pun.
"Masih lama, Mbak," jawab Arka santai, suaranya terdengar datar namun ada ketegasan yang mutlak di dalamnya.
Ia menatap Sari lurus-lurus, menyisakan sorot mata yang mendadak berubah menjadi agak redup, seolah ada bayang-bayang masa lalu yang kembali melintas di sana.
"Hati saya sudah tertutup semenjak kejadian itu. Jadi, sabar ya, Mbak. Menaklukkan saya tidak semudah membalikkan telapak tangan atau memenangkan tender perusahaan Anda."
Mendengar penolakan yang begitu gamblang dan dingin, pesona angkuh Sari seketika mengempis.
Harapan kecil yang sempat melambung tinggi karena perhatian-perhatian Arka sejak tadi pagi rasanya langsung dihempaskan kembali ke bumi.
Sari mengerucutkan bibirnya dalam-dalam, melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut.
Ia memalingkan wajahnya ke arah selambu baru yang menjuntai di dekat pintu, merasa kesal karena pesona seorang Sari Maheswara yang biasanya dikejar-kejar oleh para pengusaha muda kelas atas, justru mentok di hadapan seorang perajin kue pasar subuh yang keras kepala ini.
Sementara atmosfer di rumah kontrakan Arka diselimuti kehangatan yang canggung, kondisi sebaliknya justru terjadi di kediaman mewah milik Sari di kawasan elit ibu kota.
Kediaman yang biasanya tenang itu mendadak dilingkupi ketegangan yang pekat menyusul kedatangan dua sosok yang membawa aura intimidasi: Tante Marta dan anak perempuannya, Diana, yang merupakan sepupu kandung Sari.
Keduanya melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang megah tanpa permisi, dengan dagu terangkat dan tatapan mata yang dipenuhi ambisi rakus.
Mereka datang untuk memanfaatkan sebuah celah besar dalam klausul warisan yang ditinggalkan oleh sang nenek, kepala keluarga besar Maheswara.
"Di mana Sari?!" tuntut Tante Marta tanpa basa-basi, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Katakan padanya, waktu yang diberikan Nenek sudah hampir habis. Kalau dia tidak bisa membawa calon suami dan menikah dalam waktu dekat, posisi pimpinan tertinggi Maheswara Group harus segera diserahkan kepada Diana!"
Diana yang berdiri di sebelah ibunya tersenyum sinis, menatap sekeliling rumah mewah itu seolah-olah semua aset ini akan segera menjadi miliknya dalam hitungan hari.
"Benar. Gadis workaholic seperti dia mana mungkin punya waktu untuk mencari pria. Kursi CEO itu memang sudah seharusnya jatuh ke tanganku."
Nanda, sang asisten pribadi yang terkenal setia dan cerdas, langsung berdiri menghadang mereka berdua tepat di tengah ruang tamu.
Sebagai orang kepercayaan yang tahu betul di mana Sari berada saat ini, Nanda harus memutar otak demi melindungi rahasia sang atasan.
Jika sampai keluarga besar tahu Sari sedang menyamar di rumah seorang perajin kue, posisi Sari akan langsung hancur.
Dengan wajah yang dibuat sedatar dan seprofesional mungkin, Nanda menatap kedua wanita itu tanpa gentar.
"Mohon maaf, Ibu Marta dan Mbak Diana. Ibu Sari saat ini sedang tidak berada di rumah. Beliau sedang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri untuk mengurus ekspansi bisnis penting perusahaan."
Mendengar jawaban itu, Tante Marta mendengus tidak percaya. Ia tertawa sumbang, melempar kalimat yang teramat tajam.
"Luar negeri? Jangan bercanda, Nanda! Atau jangan-jangan, keponakanku yang sok suci itu cuma sedang kelayapan tidak jelas untuk kabur dari tuntutan Nenek?"
Dihina sedemikian rupa, kilat kemarahan sempat melintas di mata Nanda.
Namun, dengan keberanian yang matang, ia maju satu langkah dan membalas dengan kalimat yang tak kalah menohok.
"Ibu Sari adalah seorang pimpinan yang selalu bekerja keras siang dan malam demi menjaga kejayaan Maheswara Group, Ibu Marta. Beliau mengorbankan seluruh waktu mudanya demi memastikan perusahaan tetap berdiri tegak—tidak seperti sebagian orang yang hanya tahu cara duduk manis dan datang saat mengincar harta warisan saja."
Wajah Tante Marta dan Diana seketika merah padam mendengar sindiran telak dari seorang asisten.
Suasana di ruang tamu mewah itu kini benar-benar memanas, mengisyaratkan bahwa waktu bagi Sari untuk menyelesaikan misinya bersama Arka kini semakin menipis.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎