Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
Ruangan perawatan VVIP di Rumah Sakit Harapan Bangsa terasa begitu luas, namun bagi Arka, dinding-dinding putih berbalut cat steril itu terasa semakin menyempit, menghimpit dadanya hingga nyaris meremukkan tulang rusuknya. Bau disinfektan dan harum samar bunga lili dari vas di sudut ruangan gagal menetralisir atmosfer mencekam yang menggelayut di antara mereka berdua.
Arka masih bergeming di sisi ranjang. Kedua lututnya yang tadi sempat menumpu di atas lantai dingin kini telah ditarik naik, duduk di sebuah kursi plastik sederhana yang ditarik mendekat ke brankar. Tangannya yang gemetar terkulai di atas paha, sementara matanya menatap lekat-lekat sosok wanita di atas pembaringan.
Kirana tampak begitu rapuh di balik selimut rumah sakit yang ditarik hingga sebatas dada. Perban putih bersih masih melilit pelipis kirinya, menyembunyikan luka robek akibat hantaman pecahan kaca taksi malam itu. Kulit wajahnya pucat pasi, nyaris menyatu dengan warna bantal di bawah kepalanya. Namun, bukan luka fisik di tubuh istrinya yang membuat Arka merasa tersiksa setengah mati—melainkan dinding tak kasat mata yang kini berdiri di antara mereka. Dinding es yang jauh lebih tebal, lebih dingin, dan jauh lebih mematikan daripada apa pun yang pernah Arka bangun selama pernikahan mereka.
Sejak kejadian semalam di mana Kirana menarik tangannya dengan begitu tenang dan tanpa emosi, wanita itu tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak ada tangisan histeris yang menuntut penjelasan, tidak ada amarah yang meluap-luap, bahkan tidak ada keluhan kesakitan atas tubuhnya yang remuk redam.
Keheningan itu menghantam kewarasan Arka secara perlahan, menggerogoti jiwanya dari dalam.
"Kirana..." panggil Arka lirih. Suaranya serak, parau, dan begitu rapuh. Ia mencoba meraih kembali tangan Kirana yang tergeletak di atas selimut, berniat menghangatkan jemari dingin itu dengan telapak tangannya sendiri.
Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, Kirana sedikit menggeser tangannya ke samping, menariknya menjauh dengan gerakan yang begitu natural namun penuh ketegasan mutlak. Jemari itu kini terlipat rapi di atas kain selimut, menciptakan jarak fisik yang tidak bisa dijangkau oleh Arka.
Arka menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa seperti teriris beling. Ia menarik tangannya kembali dengan perlahan, menatap telapak tangannya sendiri yang kosong dengan rasa sesak yang luar biasa.
"Dokter bilang... kondisi fisikmu sudah mulai stabil," lanjut Arka terbata-bata, mencoba merajut percakapan di tengah keheningan yang membunuh. "Tapi kamu butuh istirahat total selama beberapa minggu ke depan. Aku... aku sudah mengatur semuanya. Perusahaan sudah kuhandle dari jarak jauh, dan aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan di sini, menjagamu, Kirana. Apapun yang kamu butuhkan..."
Arka menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya tercekat saat melihat respons yang diberikan istrinya.
Kirana tidak menoleh. Kepala wanita itu tetap menghadap lurus ke arah jendela kaca besar di sebelah kanan ranjang, di mana langit ibu kota tampak kelabu diselimuti sisa-sisa gerimis siang hari. Tatapan mata Kirana kosong, memantulkan bayangan dirinya sendiri di kaca dingin tanpa secercah nyawa atau emosi di dalamnya.
Detik demi detik merambat lambat, diisi oleh bunyi ritmis monitor detak jantung yang terdengar monoton.
Arka menunggu, berharap Kirana akan membalas ucapannya—bahkan sebuah makian atau cacian sekali pun akan ia terima dengan lapang dada asal istrinya sudi bersuara. Namun, yang terdengar hanyalah helaan napas panjang yang begitu tipis dari bibir Kirana.
Perlahan, kepala Kirana menoleh ke samping.
Sepasang mata sayu itu akhirnya jatuh menatap Arka. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada kebencian yang menyala-nyala. Yang ada hanyalah sebuah kehampaan yang luar biasa luas, seolah-olah sosok di hadapannya bukanlah suaminya, melainkan seorang asing yang kebetulan lewat di dalam hidupnya.
Bibir Kirana yang kering dan pucat bergerak perlahan. Kalimat pertama yang keluar dari mulut wanita itu meluncur dengan suara yang sangat datar, tenang, dan tanpa getaran sedikit pun:
"Maaf saya merepotkan waktu sibuk Anda, Mas. Anda boleh kembali bekerja."
*Deg.*
Jantung Arka seolah berhenti berdetak. Kata "Mas" yang terlontar dari bibir Kirana terdengar begitu asing, jauh lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan keras di wajahnya. Panggilan akrab yang biasa diucapkan dengan kehangatan dan senyuman kini berubah menjadi sebuah formalitas berjarak yang menusuk langsung ke ulu hatinya.
"Kirana... jangan bicara seperti itu," rintih Arka, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang memerah. "Aku suamimu... Ini bukan kerepotan. Ini tanggung jawabku. Aku ingin menebus semua kesalahanku—"
"Tidak ada yang perlu ditebus," potong Kirana cepat. Suaranya tetap pada nadanya yang datar, dingin, dan tanpa cela. Tidak ada emosi naik turun; suaranya terdengar seperti angin lalu yang tidak membawa makna apa-apa. "Semua sudah selesai. Seperti yang kubilang semalam, hidup kita masing-masing sudah sampai di ujungnya. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu di ruangan ini untuk sesuatu yang sudah mati."
Arka menggelengkan kepalanya dengan panik, kedua tangannya mengepal di atas lutut. "Tidak! Pernikahan kita belum berakhir! Aku tidak akan menandatangani surat apa pun! Kita masih bisa memperbaiki ini, Kirana. Kita bisa mulai dari awal..."
Kirana kembali memalingkan wajahnya, mengabaikan sepenuhnya kepanikan dan ratapan di hadapannya. Ia kembali menatap ke arah jendela kaca luar, seolah keberadaan Arka di ruangan itu tidak lebih penting daripada debu yang berterbangan.
"Waktu Anda berharga, Arka," lanjut Kirana dengan nada bicara yang kini terdengar semakin formal, menggunakan kata ganti diri yang kian menjauhkan ikatan di antara mereka. "Proyek miliaran rupiah di kantormu, para investor asing, dan rapat-rapat penting menunggumu. Jangan biarkan urusan pribadi seperti saya merusak karier cemerlang yang selama ini kamu banggakan."
Setiap kata yang diucapkan Kirana adalah pisau bermata dua yang mengoyak-ngoyak harga diri Arka. Pria itu terdiam kaku di kursinya, air mata akhirnya tumpah menuruni pipinya, membasahi kerah kemeja putihnya yang kusut. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kalimat-kalimat itu bukanlah ancaman kosong atau gertakan kekanak-kanakan seperti yang biasa ia duga di masa lalu. Itu adalah vonis akhir dari seorang wanita yang jiwanya telah direnggut paksa oleh kebekuan suaminya sendiri.
Di dalam kesunyian ruang perawatan VVIP itu, Arka Pratama akhirnya memahami arti sesungguhnya dari kehancuran. Bukan karena kecelakaan maut di persimpangan jalan, bukan pula karena hilangnya janin sepuluh minggu yang mereka nantikan—melainkan karena ia telah berhasil membunuh cinta di dalam hati istrinya dengan tangannya sendiri, menyisakan sebuah kebisuan abadi yang tidak akan pernah bisa ia pulihkan kembali.