NovelToon NovelToon
Identitas Yang Tertukar

Identitas Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Anak Genius
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.

Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di sisi lain , jauh dari hiruk-pikuk dan atmosfer tegang Kota Jakarta, mobil Van abu-abu milik Tania akhirnya meluncur pelan memasuki kawasan perdesaan yang tenang di kaki Gunung . Udara malam yang sejuk dan aroma tanah basah menyambut kedatangan mereka.

Mobil berhenti tepat di halaman sebuah rumah sederhana berarsitektur kayu yang asri. Pintu rumah langsung terbuka lebar, memperlihatkan Pak Harto dan Ibu Sumiati yang bergegas keluar dengan raut wajah sangat cemas bercampur haru.

Dias melangkah turun terlebih dahulu, lalu dengan penuh kehati-hati membuka pintu samping Van dan membantu Taniza keluar.

"Ya Allah.... Anakku..." isak Ibu Sumiati tak kuasa menahan air mata. Ia langsung merengkuh tubuh kurus Taniza yang terbungkus gamis ke dalam pelukannya.

Pak Harto mengusap puncak kepala Taniza dengan jemari tangannya yang gemetar, menahan gejolak duka saat mengingat laporan tentang luka-luka di tubuh putri angkatnya itu. "Mari masuk, Nak... Masuk. Di rumah ini kamu aman. Tidak ada satu pun iblis yang bisa menyentuhmu lagi di sini."

.Setelah dipapah masuk ke dalam kamar yang hangat dan tenang, Ibu Sumiati membantu melepaskan cadarnya. Wajah tirus Taniza yang pucat kini terlihat sepenuhnya. Meski matanya memancarkan rasa lelah yang amat sangat usai melewati peristiwa traumatis di tepi jurang, kelembutan dan kesucian alaminya tetap memancar sempurna.

Taniza menatap Pak Harto dan Ibu Sumiati dengan mata berbinar air mata haru. Ia merapatkan kedua tangannya di dada, lalu membungkuk penuh takzim.

"Terima kasih banyak, Ayah... Ibu..." bisik Taniza dengan suara yang sangat lembut, halus, dan sarat akan kepasrahan yang tulus. "Maafkan Taniza jika hadirnya Taniza di sini justru merepotkan dan membawa bahaya untuk keluarga Ayah dan Ibu..."

"Husss! Jangan bicara seperti itu, Nak!" potong Ibu Sumiati cepat seraya memeluknya kembali. "Kamu dan Niza itu satu jiwa. Rumah ini rumahmu juga."

Dias, yang berdiri di ambang pintu kamar sambil memegangi tas pakaian, terpaku membisu.

Selama bertahun-tahun, Dias sangat mengenal Niza , gadis tangguh, tegas, lincah, dan memiliki jiwa perisai pemberani yang kerap bertindak bagaikan seorang adik laki-laki baginya. Namun, sosok yang berdiri di depannya saat ini... adalah Taniza.

Suara Taniza yang begitu lembut bagaikan usapan angin sore, tatapannya yang polos, serta tutur bahasanya yang sangat santun dan pasrah mendadak menghantam kedalaman dada Dias.

DEG!...

Jantung Dias berdetak kencang yang tak biasa. Sebuah getaran aneh dan hangat menyergap ulu hatinya, membuat napas pria tegap itu mendadak tercekat.

Dias menyapu keringat dingin di dahinya. Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, menatap Taniza yang sedang disuapi sup hangat oleh Ibu Sumiati dengan penuh telaten.

Sensasi yang dirasakan Dias saat ini sama sekali berbeda dengan rasa sayang dan protektif seorang kakak angkat yang biasa ia limpahkan kepada Niza selama di desa. Ini bukan lagi rasa ingin melindungi seorang adik kecil yang serba bisa.

Getaran ini adalah sebuah ketertarikan mendalam seorang pria dewasa terhadap wanita, rasa kagum, kelembutan yang menyentuh jiwa, dan naluri alami seorang lelaki yang ingin menjadi pelindung sejati bagi wanita yang begitu rapuh dan berhati suci.

Saat Taniza secara tak sengaja menoleh ke arah pintu dan melempar senyum tipis nan tulus padanya sebagai tanda terima kasih, Dias seketika mengalihkan pandangannya ke samping dengan wajah yang mendadak merona merah.

"Mas... Mas Dias?" panggil Taniza pelan, heran melihat Dias yang tiba-tiba serba salah. "Mas Dias kenapa? Wajah Mas Dias tampak merah..."

"A-ah... tidak! Tidak apa-apa, Taniza," sahut Dias terbata-bata, merapikan kerah kemejanya untuk menutupi rasa gugup yang mendadak melumpuhkan ketenangannya. "Ha-hawa perdesaan sore ini agak hangat saja..."

Ibu Sumiati dan Pak Harto yang melihat gerak-gerik Dias hanya tersenyum tipis saling pandang, memahami betul getaran berbeda yang baru saja mekar di dalam hati pemuda itu.

_____

Di dalam kabin mobil mewah bertirai gelap yang melaju tenang menuju ibu kota, Tania menyandarkan kepalanya di bahu tegap Ameer. Garis rahang tegas, aroma maskulin bercampur bau mesiu tipis, serta ukiran paras blasteran Turki milik pria di sampingnya itu terus mencuri perhatian Tania.

Sebelum helikopter membumbung tinggi, Tania asli muntah-muntah hebat, mungkin karena seumur hidupnya, Tania belum pernah naik helikopter, akhirnya Ameer meminta kopilot untuk menurunkan kembali helikopter nya dan berpindah menaiki mobil mewahnya yang di bawa anak buah kepercayaan nya.

Di balik wajahnya yang dipasang sayu dan lemas bagaikan kepompong rapuh, batin Tania sebenarnya sedang riuh geleng-geleng kepala.

"Aduh, Taniza, Taniza..." rutuk Tania dalam hati, tak habis pikir pada polosnya saudara kembarnya." Pria seperti ini, tampan bak pangeran dongeng, gagah, kekayaannya melimpah, dan protektifnya setengah mati, bisa-bisanya cuma dianggap kakak? Dasar polos! Laki-laki sebagus ini kalau dilepas begitu saja di pasaran, bisa langsung jadi rebutan satu provinsi!"

Tania tersenyum amat tipis di balik selimut hangatnya. Balas dendam pada Tante Chana dan Filio adalah misi utamanya, itu pasti. Namun, merebut dan mengunci hati Ameer sepenuhnya? Anggap saja itu bonus manis yang siap ia menangkan.

Saat mobil mulai memasuki kawasan sibuk Jakarta Selatan, Tania perlahan menggerakkan jemarinya, berpura-pura meraba-raba saku Gamisnya yang baru dengan raut wajah kebingungan dan sedih yang dibuat-buat.

"Ada apa, Tania? Ada yang sakit?" tanya Ameer seketika, menghentikan ketikan tangannya di laptop kerja dan memutar tubuhnya penuh perhatian.

Tania menunduk dengan bibir melengkung ke bawah, menirukan gaya bicara Taniza yang pemalu. "Ponsel Tania... sepertinya jatuh waktu Tania diculik di halte kemarin, Kak... Kontak dan foto-foto Tania sudah pasti hilang semua..."

Ameer bahkan tidak berkedip. Tanpa ragu sedikit pun, ia meraih ponsel pribadinya dan menekan tombol panggilan cepat ke sekretarisnya.

"Pesan iPhone versi paling tinggi yang baru rilis minggu ini. Beserta nomor baru, sertifikat enkripsi khusus, dan seluruh perlengkapannya. Kirim ke Mansion Hasanuddin dalam tiga puluh menit," perintah Ameer dingin, lugas, dan tanpa beban.

Tania yang mendengar hal itu sedikit melotot di balik wajahnya yang pura-pura polos. "Astaghfirullah... cuma memancing ponsel hilang, langsung dibelikan ponsel keluaran terbaru yang harganya setara motor matic baru! Pria ini benar-benar tidak main-main soal memanjakan orang".

"Oh.... Ameer, pria seperti mu tidak boleh di lepaskan...., nanti bisa aku pamerin saat di desa " gumamnya dalam hati.

Mobil akhirnya melewati gerbang besi tempa yang menjulang tinggi saat tengah malam , memasuki pekarangan Mansion Hasanuddin yang megah bagaikan istana negeri dongeng. Pemandangan pilar-pilar putih raksasa, air mancur mengalir, dan deretan mobil mewah berjejer membuat Tania yang biasa hidup di rumah sederhana di desa sempat membelalakkan matanya.

Ameer membopong Tania keluar dari mobil dengan penuh kehati-hatian, melewati barisan pelayan dan pengawal yang menunduk takzim.

Tania dibawanya ke dalam kamar pribadi milik Tania palsu yang berada di lantai dua. Begitu pintu kayu jati berukir itu dibuka oleh Ameer, Tania hampir saja lupa berpura-pura lemas.

Kamar itu sangat luas! Ada kasur king size , kamar mandi dalam berkaca buram, balkon pribadi yang menghadap ke taman bunga, serta karpet tebal yang sangat lembut di kaki.

Ameer meletakkan tubuh Tania di atas kasur dengan perlahan, merapikan selimutnya. "Istirahatlah di sini. Kalau butuh apa-apa, tekan bel di samping tempat tidur. Kakak ada di ruang kerja."

"Terima kasih banyak, Kak Ameer..." sahut Tania lembut.

Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki Ameer menjauh, Tania langsung menegakkan tubuhnya. Ia menepuk-nepuk kasur empuk itu, lalu memutar pandangannya mengedari sekeliling ruangan yang megah ini.

Tania menepuk jidatnya sendiri sambil terkekeh pelan tanpa suara.

"Astagfirullah hal 'adzim, Taniza... "desis Tania gemas dalam hati. Kamar sebesar dan semewah ini kamu anggap biasa saja? Malah kamu lebih memilih tidur di kamar sempit, Memang dasarnya jiwa sederhanamu itu melekat erat, Taniza... Kasur seempuk ini malah dianggurin."

Tania menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang dilapisi kain beludru, mengusap lebam buatan di tangannya sambil tersenyum penuh arti.

"Tapi tidak apa-apa, Taniza... Biar ruangan megah ini, fasilitas mewah ini, dan pria tampan bernama Ameer itu... aku yang urus dan nikmati mulai hari ini. Sementara kamu, nikmatilah kedamaian di desa bersama Mas Dias yang kulihat matanya sudah mau melompat keluar saat menatapmu tadi....Saatnya menuntut keadilan ".

1
Sri Supriatin
g sabar nunggu lanjutannya🤭👍👍👍
M⃟3💋AisyahRendra
Lihatlah Chana... Lihatlah Filio....
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆
Sri Supriatin
Tks thor upnya🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bravo Tania sy support mendekati 17 aug. Merdeka😍😍😍
Sri Supriatin
akhirnya menuju bahagia n cepat sehat Tanisa 🙏🙏🙏
suti markonah
suatu saat kakek akan mendapatkan dua tania yg sm persis kek..yg 1 nya lg ngungsi di desa kaki gunung
Sri Supriatin
tks upnya Thor semangat Agustus n mereka /Heart//Heart/
Sri Supriatin
lanjut thor dimulai dgn bau2 cinta di desa n masion 🤣🤣🤣
suti markonah
tania jangan lupa stempel setrika panas di tubuh filio ya..klo bisa di muka nya..klo yg di siksa filio aku rela..tp klo yg di siksa taniza hatiku sebagai pembaca mendidih..
Sastri Dalila
😅😅😅
Sastri Dalila
🤭🤭
suti markonah
bab nya salah ketik ya thor?.harus bab 22
Meiny Gunawan
selamat pagi othor semangaatt ya💪 semoga sehat selalu😍
M⃟3💋AisyahRendra
jadi kalau Tania asli nikah sm Ameer kuat plus kuat 🤭 dan Dias sm Taniza 😅 tapi klo kebalik yaa gapapalah krn jodoh ga akan lari kemana.. gaskuy lanjut lagi kak, baca beberapa bab ini bikin aku tegang tahan napas krn dag dig dug hmm 🤣🤣
Anonim
lanjuuutt thor
Sri Supriatin
lanjuuut thoor😍😍😍
Sri Supriatin
cerita dong Taniza...please👍👍
Sri Supriatin
kasian Ameer...Tanianya sdh slmt...semoga cepat dipertemukan 🙏🙏
Meiny Gunawan
semangaattt othor..lanjoottt trsss😍😍
suti markonah
nanti yg jd pasangan ameer jd tania asli dong thorr?.klo aku maunya pasangan ameer nantinya tetep taniza..
suti markonah: terserah yg punya lapak dan cerita dehhh💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!