Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Bagas Sakit
Hari ini hari minggu, Desi sekeluarga sedang bersih-bersih rumah. Anak-anak dengan suka cita ikut membantu membersihkan rumah. Bagas membantu ayahnya mencuci motor dan menyiram tanaman. Sedangkan Rafi membantu menyapu dan mengelap jendela. Desi merapikan barang-barang di bufet sehabis itu mengepel lantai. Tidak lupa Desi memasak juga untuk sarapan mereka. Selesai bersih-bersih semuanya mandi lalu sarapan bersama-sama.
"Mama, mbok nggak datang ya?" , tanya Rafi.
"Nggak sayang, mbok hari ini lagi ke rumah anaknya." , jawab Desi.
"Ooo...mbok punya anak juga ya ma?" ,tanya Rafi lagi.
"Ya iya, cuma suaminya mbok sudah meninggal, jadi mbok sendiri, anaknya sudah nikah semua." , jawab Desi lagi.
"O begitu. Aku baru tau." , ucap Rafi.
"Ayok cepat habiskan makanannya. Habis itu bantuin mama bikin es mambo." , jawab Desi.
"Ngapain sih jualan es mambo segala, malu-maluin aja?" , tiba-tiba Ridwan bicara.
"Nggak papa lah mas, kan cuma naruh di kantin bukan jual sendiri, lagian juga lumayan buat nambah-nambah uang belanja." , jawab Desi. Dalam hati sebenarnya dia kesal dengan omongan suaminya, bukannya bantuin malah matahin semangat. Yang seharusnya tidak perlu jualan, tapi bagaimana lagi, Ridwan malah mengurangi uang bulanan yang seharusnya diterima Desi. Saat ini, tidak ada lagi rasa malu yang penting halal, itu prinsip Desi.
Sore hari, setelah bangun tidur, Desi dikagetkan oleh tangisan Bagas. Setelah diperiksa ternyata Bagas demam tinggi. Tidak mau ambil resiko, Desi segera membawa Bagas ke klinik untuk berobat. Untunglah Bagas mempunyai kartu BPJS, jadi bisa berobat dengan gratis. Setelah diperiksa, dokter segera menuliskan resep.
"Bu, nanti kalau dalam waktu 3 hari panasnya belum turun, dicek darah ya bu.Ini saya buatkan resep untuk 3 hari, antibiotiknya jangan lupa dihabiskan." , ucap dokter.
"Baik dok. Terima kasih banyak." , jawab Desi.
"Sama-sama bu." , jawab dokter lagi.
Setelah itu, Desi pulang ke rumah. Kemudian Bagas langsung makan dan minum obat. Habis itu, Bagas istirahat.
"Kok bisa sih sakit begini Bagas? " , ucap Ridwan.
"Ya, namanya lagi musibah mas. Mungkin Bagas kecapean kali dan kondisi tubuhnya lagi kurang fit. Yang penting sudah berobat dan minum obat." , ucap Desi.
Esok nya Bagas tidak sekolah, namun Desi tetap masuk, tapi dia berencana mau ijin pulang cepat. Kebetulan ada pelajaran bidang studi di kelas nya. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolah, Desi segera pulang. Setelah sampai rumah, dia langsung mengecek kondisi Bagas.
"Bagas, gimana sayang, masih pusing nggak?" , tanya Desi.
"Masih ma, mulutku pait ma, nggak enak makan." , jawab Bagas.
"Iya bu, Bagas nggak mau makan. Tadi cuma makan 3 suap." , ucap mbok.
"Iya mbok. Tapi obatnya yang tadi pagi sudah diminum kan mbok?" , tanya Desi.
"Sudah bu." , jawab mbok.
"Iya mbok, makasih mbok sudah jagain Bagas." , ucap Desi.
"Sama-sama bu, sudah tugas mbok." , jawab mbok Muna.
Setelah sakit selama 3 hari, Bagas belum juga sembuh, panas nya masih naik turun. Akhirnya di hari ke-4, Desi membawa Bagas kembali ke klinik.
"Mbok, tolong jagain Aqilla dan Rafi dulu ya mbok. Saya mau bawa Bagas ke klinik dulu. Kebetulan ayahnya kerja mbok." , ucap Desi minta tolong ke mbok Muna.
"Iya bu, seandainya Bagas dirawat, boleh mbok bawa anak-anak ke rumah mbok?" , tanya mbok Muna.
"Boleh mbok, lagian kasihan kalau anak-anak tidur di rumah sakit mbok. Tolong siapin juga baju buat Bagas ya mbok, takut dirawat nanti. Biar saya tinggal bawa. Juga baju saya mbok 2 stel aja. Nanti biar ayahnya saya suruh pulang ambil baju." , jawab Desi.
"Iya bu, sudah ibu berangkat. Kasihan Bagas." , jawab mbok.
"Iya mbok, ini saya lagi pesan ojek online mbok. Sebentar lagi datang." , jawab Desi.
Sesampainya di klinik, Desi segera menuju ke bagian pendaftaran dan menunggu giliran dipanggil. Setelah gilirannya dipanggil, Desi segera masuk ke ruangan periksa.
"Bu, ini harus segera di cek darah ya bu untuk memastikan. Kalau dilihat dari tanda-tandanya sepertinya DBD. Ini saya kasih rujukan untuk cek darah. Laboratorium nya tidak jauh dari klinik ini." , ucap bu dokter panjang lebar.
"Baik dok, terima kasih banyak dok." , jawab Desi.
Dari ruangan dokter, Desi segera membawa Bagas ke laboratorium. Sesampainya di laboratorium, Desi segera menunjukkan surat yang dari dokter. Kemudian Bagas segera dipanggil oleh petugasnya untuk diambil sample darahnya untuk diperiksa.
"Mama, aku takut disuntik." , kata Bagas.
"Nggak papa sayang, nggak sakit kok, kaya digigit semut, kalau takut, Bagas merem aja ya jangan liat jarum nya." , ucap Desi menenangkan Bagas.
"Iya ma, mama pegangin ya." , jawab Bagas.
"Iya sayang." , ucap Desi.
Setelah selesai, Desi dan Bagas masih menunggu hasilnya sekitar 1-2 jam kata perawatnya. Kemudian Desi segera menelpon suaminya memberitahu keadaan Bagas.
"Assalamu'alaikum mas, ini mama lagi di lab, nunggu hasil cek darah. Habis ini ke klinik lagi kalau hasil nya sudah keluar. Seandainya harus dirawat, mas ijin dulu ya, antar kita ke rumah sakit terus ambil baju di rumah. Tadi sudah disiapin bajunya sama mbok. Soalnya tadi dokter bilang, tanda-tanda nya mengarah ke DBD." , ucap Desi di telpon.
"Iya ma. Terus Aqilla sama Rafi dimana? " , tanya Ridwan.
"Anak-anak ikut mbok sementara di rumah mbok, kasihan kalau nginap di rumah sakit." , jawab Desi.
"O iya, nanti kabarin aja." , jawab Ridwan.
"Iya mas, makasih." , ucap Desi.
Setelah hasilnya keluar, Desi segera ke klinik untuk menemui dokter lagi. Untung jarak dari klinik ke laboratorium tidak jauh, bisa berjalan kaki. Ya, Desi bukan tipe perempuan yang manja, apa-apa harus diantar dan ditemani. Dia mengerti suaminya juga sedang bekerja , Desi tidak ingin merepotkan jika tidak urgent.
"Bu, ini trombositnya rendah sekali. Masih jauh dibawah standart. Kurang dari 100.000. Bagas terkena DBD, harus segera dirawat di rumah sakit. Ini saya buatkan surat rujukan untuk rawat inap ya bu." , ucap dokter.
"Baik dok, terima kasih banyak dokter." , ucap Desi.
"Ya sama-sama bu." , jawab bu dokter.
Setelah keluar dari ruangan dokter, Desi segera menelpon suaminya agar segera menjemput dan mengantar ke rumah sakit karena jarak dari klinik ke rumah sakit lumayan jauh. Setelah Ridwan datang, barulah Desi dan Bagas menuju rumah sakit yang ditunjuk, rumah sakit 'Bunda'.
Sesampainya di rumah sakit Bunda, Bagas segera dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan sementara sebelum dapat kamar untuk rawat inap. Dokter segera memeriksa Bagas kemudian suster memasang infus di tangan kiri Bagas.
"Tunggu dulu ya bu, ibu bisa mengurus administrasinya dulu nanti kalau sudah siap kamar rawat inapnya akan diinfokan." , ujar suster.
"Baik sus, terima kasih." , jawab Desi.
"Sama-sama bu." , jawab suster.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.