NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 MALAM PERTAMA SETELAH SEMUANYA BERUBAH

Arkan membuka pintu rumah.

Udara malam Pontianak menyambutnya dengan lembap dan hangat. Di luar, gang masih hidup dengan suara orang mengobrol, motor lewat, dan lampu-lampu rumah yang menyala satu per satu.

Dunia lama masih di sana.

Tapi Arkan tahu, mulai besok, ia tidak akan berjalan di dalamnya dengan cara yang sama lagi.

Ia menutup pintu perlahan dari luar, lalu berhenti sebentar di teras. Dari balik jendela, suara Naya terdengar samar sedang bicara dengan ibu mereka. Tidak ada tawa besar, tidak ada kegembiraan berlebihan, tetapi suasananya lebih ringan daripada beberapa jam sebelumnya. Setidaknya malam ini Naya tidak lagi memeluk mimpinya dengan rasa takut sebesar tadi.

Arkan menggenggam kunci motor.

Motor tua itu terparkir di depan rumah dengan posisi sedikit miring. Lampu jalan yang redup memantul di bodinya yang kusam. Biasanya, Arkan tidak pernah benar-benar memperhatikan betapa lelahnya motor itu terlihat. Benda itu sudah terlalu lama menjadi bagian dari hidupnya—mengantar ibu berobat, menjemput Naya, membawa barang belanjaan, mengantarnya kerja serabutan, bahkan mengantar mimpi-mimpi kecil yang sering pulang dalam keadaan patah.

Namun setelah sistem beberapa kali menghina motor itu, Arkan mulai kesulitan melihatnya tanpa merasa bahwa benda itu memang sudah terlalu sering dipaksa bertahan.

[Sistem mendeteksi kontak visual dengan kendaraan.]

[Status kendaraan: masih memalukan.]

[Rekomendasi: jangan sentimental terhadap benda yang setiap kali dinyalakan terdengar seperti meminta izin untuk mati.]

Arkan menarik napas panjang.

“Ini motor yang bantu aku bertahan selama ini.”

[Benar.]

[Karena itu sistem menyarankan pensiun terhormat, bukan penyiksaan lanjutan.]

Arkan terdiam.

Untuk pertama kalinya, hinaan sistem terdengar sedikit masuk akal.

Ia memasukkan kunci ke lubang kontak, lalu menyalakan motor. Mesin meraung kasar, batuk dua kali, kemudian hidup dengan suara yang membuat seorang anak kecil di seberang gang menoleh sebentar.

[Sistem menahan komentar.]

Jeda satu detik.

[Gagal.]

[Suara kendaraan terlalu mengganggu martabat aset.]

Arkan hampir tertawa, tetapi ia menahannya. Malam ini ia tidak punya tenaga untuk berdebat panjang dengan suara di kepalanya.

Ia mulai menjalankan motor keluar dari halaman kecil rumah.

Belum sampai ujung gang, beberapa pasang mata sudah menoleh.

Di depan warung, Bu Lilis duduk bersama dua ibu lain. Mereka sedang memegang gelas teh dan piring kecil berisi kerupuk, tetapi perhatian mereka langsung pindah saat Arkan lewat. Di sisi lain, Riko berdiri di dekat tiang listrik bersama seorang lelaki seumurannya. Begitu melihat Arkan, percakapan mereka berhenti sepersekian detik.

Tidak lama.

Tapi cukup.

Arkan bisa merasakannya.

Dulu, kalau orang-orang menatapnya seperti itu, ia akan menunduk atau mempercepat motor. Bukan karena bersalah, melainkan karena sudah terlalu terbiasa menjadi bahan pandangan. Pemuda yang kuliahnya tertunda. Anak Bu Sari yang kerja tidak jelas. Abang Naya yang sok mau mengurus masa depan adiknya padahal dirinya sendiri belum selesai.

Malam ini, tatapan itu berbeda.

Bukan lagi sepenuhnya meremehkan.

Ada rasa ingin tahu.

Ada dugaan.

Ada perhitungan kecil di mata mereka.

Bu Lilis sempat mengangkat tangan sambil tersenyum terlalu ramah. “Kan, mau ke mana malam-malam?”

Arkan memperlambat motor hanya sedikit. Ia menoleh dengan wajah tenang.

“Beli makan, Bu.”

“Oh, beli makan di mana? Ibu kira tadi sudah makan.”

Pertanyaan itu terdengar ringan. Namun setelah hari yang terlalu panjang, Arkan bisa mendengar kait kecil di baliknya. Bu Lilis bukan bertanya karena peduli apakah mereka sudah makan. Ia ingin tahu Arkan membeli apa, sebanyak apa, dan mungkin dengan uang dari mana.

Di kepalanya, sistem langsung memberi catatan.

[Subjek Bu Lilis kembali mencoba menggali informasi.]

[Metode: pertanyaan sosial ringan.]

[Rekomendasi: jawaban pendek.]

Arkan mengangguk sopan. “Di depan saja. Permisi, Bu.”

Ia tidak berhenti.

Bu Lilis tidak sempat melempar pertanyaan kedua.

Motor Arkan bergerak melewati warung. Dari spion, ia melihat Bu Lilis langsung memiringkan tubuh ke arah ibu-ibu di sampingnya. Mulutnya bergerak cepat. Riko juga mengikuti motor Arkan dengan tatapan yang tidak sepenuhnya ramah.

Rumor itu sudah berjalan.

Cepat.

Lebih cepat dari yang Arkan harapkan.

Namun kali ini, ia tidak ingin memutar balik untuk menjelaskan apa pun.

Semakin dijelaskan, semakin mereka akan bertanya.

Semakin ia membuka celah, semakin banyak orang masuk.

Arkan keluar dari gang kecil menuju jalan yang lebih ramai. Lampu-lampu toko menyala di sepanjang jalan. Aroma sate, ayam goreng, nasi goreng, dan mi ayam bercampur di udara malam. Pontianak tidak pernah benar-benar sunyi pada jam seperti ini. Selalu ada motor yang lewat, warung yang buka, orang yang tertawa, anak muda yang nongkrong, dan pedagang yang masih menunggu pembeli terakhir.

Biasanya, Arkan akan memilih warung paling murah.

Membeli nasi secukupnya.

Menghitung apakah lauk ayam untuk tiga orang terlalu mahal.

Kadang ia membeli dua porsi lalu membaginya di rumah agar cukup. Kadang ia hanya membeli lauk untuk ibu dan Naya, lalu bilang dirinya sudah makan di luar.

Malam ini, ia berhenti di depan rumah makan sederhana yang dulu hanya ia lewati ketika aromanya terlalu menggoda.

Bukan restoran mewah.

Bukan tempat mahal.

Tapi bagi hidup lama Arkan, tempat ini termasuk pilihan yang harus dipikir dua kali.

Ia memarkir motor, melepas helm, lalu berdiri beberapa detik di depan etalase makanan. Ayam bakar. Ikan asam pedas. Sayur, sambal, telur, tempe, perkedel. Semuanya terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagi Arkan, daftar pilihan itu mendadak membuat pikirannya berjalan ke masa lalu.

Berapa harganya?

Cukup tidak uangnya?

Kalau beli ayam tiga porsi, besok masih ada uang?

Refleks itu muncul begitu saja.

Sistem langsung berbunyi.

[Gejala kambuh.]

[Tuan Rumah kembali menghitung harga lauk setelah mendapatkan akses aset Rp25.000.000.000.000.]

[Kesimpulan: mental ekonomi lama sangat keras kepala.]

Arkan memejamkan mata sebentar.

“Aku cuma terbiasa hati-hati.”

[Benar.]

[Namun hati-hati berbeda dengan memperlakukan ayam bakar seperti keputusan investasi strategis.]

Arkan menahan senyum tipis.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sepenuhnya kesal.

Mungkin karena sistem benar.

Mungkin karena ia sendiri mulai sadar bahwa jika ingin mengubah hidup keluarganya, perubahan kecil harus dimulai dari hal paling sederhana.

Makan malam yang layak.

Ia masuk ke rumah makan.

Seorang ibu penjual menyambutnya dengan senyum ramah. “Mau pesan apa, Bang?”

Arkan melihat daftar menu di dinding.

Biasanya ia akan langsung mencari yang paling murah.

Malam ini, ia menahan kebiasaan itu.

“Bungkus, Bu. Nasi ayam bakar tiga. Tambah ikan asam pedas satu. Sayur dua. Perkedel tiga. Sama teh hangat bungkus tiga.”

Ibu penjual itu mengangguk sambil mulai menyiapkan.

Arkan berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Sama buah potong kalau ada.”

[Sistem mencatat perkembangan.]

[Status: Tuan Rumah berhasil membeli makan malam tanpa negosiasi.]

[Level kemajuan: kecil, tetapi tidak memalukan.]

Arkan menunduk, pura-pura mengecek ponsel agar tidak terlihat seperti orang yang hampir tersenyum sendiri.

Saat menunggu pesanan, ia membuka layar ponsel. Pesan dari Olivia sudah masuk. Jadwal rumah sakit. Nama fasilitas. Instruksi singkat. Semua tertata rapi.

Besok pukul delapan pagi, Bu Sari dijadwalkan medical check-up lengkap di rumah sakit swasta rekanan. Olivia akan menunggu di sana. Pihak bank hanya boleh mendekat setelah Olivia memberi izin. Semua biaya ditanggung melalui struktur legal yang disebut “rekening layanan keluarga”.

Arkan membaca istilah itu dua kali.

Rekening layanan keluarga.

Sistem muncul dengan penjelasan singkat.

[Rekening layanan keluarga telah disiapkan.]

[Fungsi: membiayai kebutuhan keluarga tanpa memperlihatkan saldo utama.]

[Prioritas penggunaan: kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, kebutuhan hidup, keamanan.]

[Catatan: akhirnya Tuan Rumah memiliki jalur yang tidak terlihat seperti transfer panik dari orang baru kaya.]

Arkan menatap layar itu.

“Jadi besok semua bisa langsung berjalan?”

[Benar.]

“Rumah sakit, bank, Olivia…”

[Benar.]

“Rumah juga?”

[Sistem telah menyiapkan daftar properti transisi sesuai batas psikologis keluarga.]

Arkan mengerutkan kening.

“Batas psikologis keluarga?”

[Definisi: rumah yang cukup nyaman untuk membuat hidup membaik, tetapi tidak terlalu mewah hingga Ibu Sari mengira Tuan Rumah melakukan kejahatan internasional.]

Arkan hampir tertawa.

Ia menunduk lebih dalam, menahan ekspresi.

Ibu penjual datang membawa beberapa bungkus makanan. “Ini, Bang. Banyak juga ya pesannya.”

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!